---Di mana pun adalah ruang kelas---

Rabu, 21 November 2018

,
Rumah hanya tentang pondasi sampai atap
Betah menembus pintu dan jendela
Bumi tak pernah menjadi lebih gendut
Dunia lebih luas dari atmosfer
Saat itu semua
Cakrawala kita bertemu
Lalu melebur

Rabiul awwal 1440

Jumat, 19 Oktober 2018

,

Oleh : M. Q. Aynan

Mahasiswa yang tidak masuk kuliah, apalagi karena alpa, cenderung dipandang sebelah mata. Tentunya anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah juga tidak sepenuhnya benar. Saya termasuk orang yang pernah Alpa (yang penting tidak lebih 25 persen). Kealpaan saya sampai pernah membuat saya sangat merasa bersalah. Akan tetapi, setelah dipikir lagi, percuma hanya merasa bersalah saja. Lebih baik berusaha untuk mengelola keseharian di kemudian hari.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk melakukan pembelaan terhadap mereka yang absen dan atau alpa. Tulisan ini lebih merupakan kritik terhadap mereka yang mengentengkan hal-hal yang ada di dalam kelas. Bagaimanapun, presensi dan pertemuan tatap muka menurut saya adalah hal yang eksistensial. Tulisan ini juga hendak mengajak para mahasiswa dan-mungkin-dosen untuk meninjau ulang keputusan-keputusan dalam perkuliahan di kelas. Jika keputusan yang ada di dalam kelas mengabaikan kondisi yang tidak positivistik di luar kelas, maka bukan tidak mungkin virus absen dan alpa tetap menjangkiti sebagian mahasiswa.

Saya akui, perkuliahan di kelas memang tidak menjamin masa depan. Akan tetapi, bukan berarti hal itu mesti direduksi ke dalam lembaran kertas. Di sisi lain, saya menemukan sebagian mahasiswa yang absen karena alpa juga bermacam-macam. Ada yang memang tidak ingin masuk karena malas, ada yang sakit tapi tidak bisa mendapat surat dari puskesmas (karena sakitnya disantet misalnya), ada yang baru datang dari perjalanan jauh, dan lain-lain.

Ketika saya berbincang dengan teman-teman, terdapat peristiwa yang dilematis. Misalnya, baru datang dari perjalanan jauh,masih akan kuliah, atau melakukan kegiatan yang selesai dini hari. Terkait itu, beberapa orang memilih tidak masuk. Alasannya adalah khawatir sakit dan daripada membuat-buat surat. Tentu tiap orang punya alasan masing -masing.

Intinya, saya sangat tidak setuju jika ada orang yang mengatakan, " buat apa masuk kuliah?". Bagi saya, masuk kelas tetap penting meskipun bukan yang paling dan satu-satunya. Selain itu, kehadiran mesti dibarengi dengan keaktifan dan keseriusan agar tidak terjebak ke dalam penjara rutinitas.

Senin, 13 Agustus 2018

,


Oleh: M. Q. Aynan

Bencana alam kembali terjadi. Gempa bumi dua kali mengguncang Lombok. Kerugian materi tentu sangat besar. Banyak bangunan mulai dari rumah dan tempat ibadah rudak. Korban nyawa juga tidak kalah memprihatinkan. Sebagian besar korban gempa karena tertimpa bangunan. Seluruh Indonesia turut berduka cita.

,

Oleh: M. Q. Aynan

Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang semakin dekat membuat Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) mengadakan hajatan Ijtima Ulama. Dalam acara tersebut, GNPF dengan tanpa keraguan menyebut nama Prabowo-Abdul Somad dan Prabowo-Salim Segaf sebagai pasangan capres dan cawapres di Pilpres 2019. Di samping sangat berbau politik praktis, GNPF di saat yang sama juga membunuh makna dengan menyeret istilah Ulama.

Kamis, 02 Agustus 2018

,

Oleh: M. Q. Aynan

Salah satu perbedaan antara dulu semasa aliyah dan sekarang di kampus adalah tugas. Dulu semasa aliyah tidak ada tugas atau PR. Meski begitu, kami tetap belajar dengan musyawarah/diskusi. Kalau di kuliah, tiap pertemuan dalam suatu mata kuliah pasti ada tugas.

Sabtu, 28 Juli 2018

,

Oleh : M. Q. Aynan

Nahwu adalah ilmu tentang tata bahasa Arab. Ilmu ini disebut sebagai "bapak". Di pesantren nahwu merupakan materi wajib karena ia adalah "alat". Sepengalaman saya, ada dua model guru nahwu selama saya di pesantren. Pertama, model "yang penting ngerti ". Kedua, model "yang baik dan benar".
,


Oleh: Dasuki AF*

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini dengan system zonasi yang mewajibkan pihak sekolah untuk menerima calon peserta didik sedikitnya 90 persen yang berdomisili pada radius zona terdekat dari sekolah. Sistem ini akan lebih mempercepat pemerataan kualitas pendidikan. Anak yang kurang mampu secara ekonomi maupun secara akademik tetap dapat mengakses sekolah yang selama ini diperebutkan oleh peserta didik yang tinggal jauh. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 Tahun 2017 tentang PPDB yang ditunjukkan kepada pimpinan daerah seluruh Indonesia.

Sabtu, 21 Juli 2018

,

Kamis, 19 Juli 2018

,
Oleh: M. Q. Aynan

Legenda, salah satu kata favorit saya. Teringat akan kata tersebut, saya mencoba mengajukan pertanyaan kemudian berusaha menjawabnya sendiri: Mengapa latar tempat, waktu, dan suasana dalam sebuah cerita penting untuk dikaji? Salah satu jawabannya adalah jika latarnya berbeda maka bisa jadi tokoh yang semula antagonis berubah menjadi protagonis. Bukan hanya itu, latar penulisan juga penting untuk dikaji.
,

Oleh: M. Q. Aynan

Piala Dunia 2018 menghasilkan Perancis sebagai pemenang. Sebagian besar pemain timnas Perancis adalah imigran yang berasal dari dunia Arab. Bukan hanya dalam sepakbola, persinggungan dunia Arab dan Perancis juga terjadi dalam dunia Intelektual. Dunia Intelektual Arab sudah lama bersinggungan dengan dunia intelektual Perancis. Kita bisa menyebut beberapa nama di sini, antara lain adalah Hassan Hanafi, Muhammad Abid al-Jabiri, dan yang menetap di Perancis yakni Mohammed Arkoun.

Sabtu, 14 Juli 2018

,

Oleh: M. Q. Aynan

Beberapa kawan bertanya kepada saya tentang jurusan bahasa asing di kampus. Ada yang bertanya memang penasaran, ada juga yang sekedar basa-basi. Pertanyaan seperti itu bisa dijawab dengan cara mempersilakan penanya untuk mengalami sendiri. Tentu tidak semua orang berminat. Oleh karenanya, saya akan mencoba untuk menjawabnya dengan kata-kata.

Kamis, 14 Juni 2018

,
Oleh: M. Q. Aynan


Saya mengikuti salat malam yang diadakan di masjid Riyadlus Solihien Gebang Jember. Ini Kali kedua saya mengikutinya setelah kemarin lusa. Acara tersebut diselenggarakan pada tanggal ganjil setiap sepuluh hari terakhir ramadan. Itu berarti tadi adalah salat yang terakhir karena hari ini adalah tanggal 29 Ramadan. Salat yang dikerjakan ada tiga yakni salat tahajjud, tasbih, dan hajat. Kegiatan itu berlangsung mulai sekitar pukul 1 hingga sekitar pukul 3.

Rabu, 13 Juni 2018

,

By: M. Q. Aynan

Someone said, "Moderate is standing in the middle, not tilted to the right or to the left. If italic, it's called fake moderate."

Discussions on moderation in Islam are not new. because of the running of time, there are shifts in both practical realms and moderate shifts of meaning. The phenomenon of this century has made us need to reinterpret the so-called moderate Muslims. New issues that did not exist in the past such as democracy, freedom of religion, gender equality, secularization, human rights, and also the formalization of shari'a, became very interesting talks. These issues are interesting to talk.
,
Oleh: M. Q. Aynan

Ada orang bilang, "Moderat itu berdiri di tengah, tidak miring ke kanan atau ke kiri. Kalau miring, itu moderat gadungan namanya."

Diskusi tentang moderasi dalam Islam sebenarnya bukan hal yang baru. Namun karena berlarinya waktu, terdapat pergeseran-pergeseran baik dalam kenyataan praktis maupun pergeseran makna moderat. Fenomena di abad ini membuat kita perlu untuk menafsirkan ulang apa yang disebut muslim moderat. Isu-isu baru yang tidak terdapat di masa lalu seperti demokrasi, kebebasan beragama, kesetaraan gender, sekularisasi, HAM, dan juga formalisasi syariat, menjadi pembicaraan yang sangat menarik. Isu-isu tersebut tentu sarat dengan kepentingan.

Selasa, 12 Juni 2018

,

Oleh: M. Q. Aynan

Saya sendiri termasuk orang yang kurang tertarik bergabung di forum-forum yang bertemakan nikah. Namun bukan berarti saya tidak tertarik dengan lawan jenis. Saya tentu masih normal. Ketidaktertarikan itu semakin menguat salah satunya saat saya sadar bahwa konten-konten tentang suatu hubungan dimaksudkan untuk menghibur. Dengan kata lain, sebagai tontonan saja, bukan untuk menjadi tuntunan.

Yang membuat saya sering cengengesan sendiri dengan beberapa kawan saya adalah bagaimana bisa hubungan antar lawan jenis dalam bingkai pernikahan yang sudah universal baru-baru ini saja terdapat seminarnya. Meskipun bertema nikah muda sebenarnya bukan hal yang baru. Istilah nikah muda pun saya kira problematis. Kalau yang dimaksud muda adalah umurnya, maka generasi kakek-nenek kita lebih hebat karena sudah penerapan tanpa harus ada seminar. 

Kemungkinan lainnya adalah istilah itu tidak bisa keluar dari lingkungan urban. Di daerah perkotaan seringkali orang-orangnya sangat sibuk sehingga tidak ada niatan untuk berkeluarga, sebab jika tak pandai mengatur waktu, keluarga bisa tak terurus. Kalau ini yang melatarbelakangi, mungkin cukup masuk akal. Itu artinya wacana nikah muda atau apapun itu, terbatas berdasarkan teritorialnya.

Bagi sebagian orang, terutama para pemudi, seminar atau artikel tentang nikah muda memang digandrungi. Sepengalaman saya, seminar keilmuan yang tiket masuknya hanya lima ribu seringkali sepi peminat. Namun pemandangan yang berbeda dapat kita lihat jika ada seminar nikah muda. Tak jarang tiket masuknya bisa puluhan ribu bahkan ratusan ribu. Yang penjadi pembicara juga muda.

Bisa saya pastikan jika pembicaranya masih muda maka pengalamannya masih sedikit. Tentu berbeda andaikan pembicaranya memang nikah muda tetapi usia pernikahannya sudah 20 atau 30 tahun dan masih harmonis. Kalau masih usia pernikahannya dua pekan, lalu mengisi seminar, bukankah itu berarti menawarkan khayalan?
,

Oleh: M. Q. Aynan

Sebelum lebih jauh, saya ingin memperingatkan kalau tulisan ini mungkin tidak sistematis. Saya ingin memulai dengan perjalanan saya tanggal 27 Ramadan 1439 Hijriah yang bertepatan tanggal 11 Juni 2018 Masehi. Malam tadi saya menghadiri acara buka bersama dengan teman-teman semasa SD.  Meski tidak sampai sepuluh orang yang datang, saya senang sekali bisa bertemu apalagi hanya setahun sekali. Saya tidak mau ketinggalan. Tentu banyak yang diobrolkan . Salah satu obrolan pada saat itu berhasil membuat saya berpikir bagaimana masa depan para penulis.

Minggu, 10 Juni 2018

,
Oleh: M. Q. Aynan

Mengharapkan harga-harga akan turun mungkin akan menjadi mimpi belaka. Kita sudah terlalu sering mendengar berita tentang kenaikan harga BBM. Uang Kuliah Tunggal (UKT) pun tak ketinggalan naik. Kenaikan UKT dan beasiswa termasuk yang paling sering diperbincangkan dalam dunia kampus.

Sabtu, 09 Juni 2018

,
Oleh: M. Q. Aynan

Tulisan ini adalah tentang saya dan teman-teman saya yang gondrong. Tentunya, tiap perkumpulan punya ciri khas masing-masing. Mungkin tulisan ini bisa digolongkan sebagai antropologi mahasiswa. Saya menulis tentang kami.

Gondronger diidentikkan dengan pelbagai anggapan entah itu yang baik atau malah yang buruk. Yang jelas, akan selalu ada orang yang sinis ketika memandang para gondrongers. Kalau di sekitar saya, berikut adalah hal-hal yang digemari para gondrongers.

Jumat, 08 Juni 2018

,

Oleh : M. Q. Aynan

Pernah mendengar nama Sokrates? Atau Imam asy-Syafii? Kita tidak mungkin tahu Sokrates tanpa Platon menuliskan riwayat hidupnya karena Sokrates sendiri tidak punya karya tulis. Begitu pula asy-Syafii. Madzhabnya bisa sangat berkembang dan menyebar tidak lain karena dibawa oleh para muridnya. Para murid asy-Syafii juga tidak selalu sepakat dengan pendapat gurunya.

Kamis, 07 Juni 2018

,
Oleh: M. Q. Aynan

Sering sekali ingin bertemu walau sebentar saja
Demi mengobati rasa rindu yang ada di dalam dada
Ayo kemari dengarkan ini suara di hati 
Agar kau tahu ini benar-benar telah terjadi

Sejak kita lulus terasa sepi terasa sekali
Ku tinggal sendiri di kamar sendiri makan juga sendiri
Sering bermimpi  ke masa lalu apakah kau tau
Lalu ku bertanya kapan terwujudnya kapankah itu

Coba katakan apakah jawabmu
Katakan Padaku

Ku ingat kita sekamar tinggal bersama
Ku ingat kita sekelas belajar bersama

Semua telah sangat berbeda
Waktu tak sama
Semua telah semakin tua
Ingin ku jaga

 23 Ramadan 1439 H

Rabu, 06 Juni 2018

,


Oleh: M. Q. Aynan

Tadi malam, pagi sebenarnya, saya menghadiri kajian yang membahas tokoh Yunani Kuno, Aristoteles. Kajian itu tidak formal, santai saja. Kadang juga diselingi pembicaraan lain. Ketika membahas yang umum-yang khusus dan yang universal-yang partikular, pembicaraan juga mengarah kepada "hewan". Yang dimaksud adalah ayam kampus dan anjing kampus.

Selasa, 05 Juni 2018

,

Oleh: M. Q. Aynan

Saya tertarik untuk menulis tentang ini setelah saya pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Saya sebenarnya tidak terlalu suka pergi ke pusat perbelanjaan. Sebelum berangkat, seorang teman berkata bahwa tumben sekali saya ke pusat perbelanjaan. Saya diajak teman saya ke pusat perbelanjaan. Saya tidak membawa uang yang banyak karena tidak bermaksud untuk berbelanja. Saya tertarik karena saya pergi dengan teman saya sesama gondronger.
,
Oleh:M. Q. Aynan

Kehidupan di kampus bukan hanya tentang memasuki ruang kelas tetapi juga memasuki episode pemilihan umum. Pemilihan umum dilaksanakan untuk mencari pemimpin dari tingkat program studi sampai mencari presiden mahasiswa. Tentunya hak setiap mahasiswa apakah mau ikut terlibat atau apatis dengan pemilihan tersebut.

Agenda tahunan itu semestinya menjadi momentum untuk kontestasi, adu program, dan mengasah kepemimpinan. Mobilisasi massa juga penting untuk menarik orang lain agar berpartisipasi entah mencalonkan diri atau memilih pasangan calon. Dalam kenyataannya, hampir seluruh pasangan calon yang terdaftar pada pemilihan Ketua dan Wakil Ketua HMPS IAIN Jember adalah paslon tunggal. Artinya, para calon dipastikan akan menjabat tanpa ada pesaing. Para calon tidak perlu mengikuti debat kandidat, hanya cukup menyampaikan visi dan misinya. 

Senin, 04 Juni 2018

,
Oleh: M. Q. Aynan

Sebelumnya, saya ingin berterima kasih kepada teman saya Misbahul Wani karena mengingatkan saya tentang hal ini. Ia sekarang aktif berorganisasi salah satunya Youth Interfaith Peacemaker Community (YIPC). Baik, mari kita lanjutkan.

Saya dulu sangat suka menonton video atau membaca buku tentang debat agama, khususnya kalau debat Islam-Kristen. Dengan semangat membabi-buta, seperti ada kepuasan tersendiri ketika menyimak hal tersebut. Belakangan, perasaan itu semakin redup disebabkan munculnya pertanyaan besar: Mengapa debat seperti itu narasumbernya orang-orang yang pendidikan akademiknya bukan teologi, justru para ahli atau profesor di bidang teologi tampaknya tidak berminat?

Minggu, 03 Juni 2018

,

Oleh : M. Q. Aynan


Dalam beberapa tulisan yang saya temukan di internet terdapat diskusi tentang pelajar muslim Indonesia yang justru belajar keislaman di kampus-kampus Barat. Fenomena tersebut dimulai sejak tahun 1970-an yakni ketika Menteri Agama masa itu yakni Munawir Sjadzali, memiliki program pengiriman sarjana dan dosen IAIN untuk belajar Islam ke Barat. Kebijakan ini kemudian dilanjutkan oleh penggantinya Tarmidzi Taher. Keduanya telah mengirim sekitar 200 sarjana IAIN ke berbagai universitas di Barat. Pada akhir Pelita saat itu, Indonesia diharapkan mempunyai 34 doktor dan 88 master di bidang keagamaan. Hal itu merupakan pergeseran mengingat sebelum itu tujuan pelajar muslim Indonesia bukan ke Barat melainkan ke Mesir dan negara-negara Timur Tengah.

Senin, 28 Mei 2018

,

Oleh: M. Q. Aynan

Sekarang sedang ramai-ramainya perbincangan tentang Bumi Manusia yang akan difilmkan. Saya jadi tergoda untuk menuliskannya. Saya hanya mau berbagi pengalaman di sini.

Jumat, 25 Mei 2018

,
Oleh: M. Q. Aynan
Tulisan ini hanya sebuah syarah dari kiriman yang saya pernah bagikan di Facebook. Kiriman itu berasal dari halaman Contento Days pada tanggal 6 April 2018 dan Sadcasm pada tanggal 22 Mei 2018. Isinya adalah bahwa ada empat tipe mahasiswa datang ke kampus, khususnya ke ruang kelas. Pertama, Mahasiswa Anak-anak. Kedua, Mahasiswa Pria Dewasa. Ketiga, Mahasiswa Legendaris. Keempat, Mahasiswa Amat Legendaris.
,

Oleh:Dasuki, Af
🌾Aku adalah istilah yg menggambarkan konsep Subjek berkesadaran dalam konteks kehidupan manusia yang telah menjadi perdebatan panjang para Filosof. Aku dibahas secara jeli Oleh Rene Descartes dalam cogito ergo sum, Sigmund Freud dalam PSIKOANALISNYA (EGO, Super EGO, ID), Jean Paul Sartre dalam eksistensialismenya, Roland Barthes dalam the Death of Author, Nietzche dalam the Will to power, Derrida dalam dekonstruksinya dan Michel Foucault dalam archaeology of knowledgenya. Serta pemikir-pemikir lain yang konsen mengeksplorasi aku. Betapa aku telah menjadi primadona  dalam bangunan analisis para pemikir Barat modern tersebut. Di dunia Islam Aku juga dibahas secara kritis oleh Ibnu Arabi, Al-Ghazali, dan  dipraktikkan langsung oleh Al-Junaid Al-Baghdadi, syekh Abdul Qodir Al-Jailani, Robi'ah Al-Adawiyah, Abu Yazid Al-Bustami dan Alhallaj. Di tanah air ada syekh siti jenar, Nuruddin Arraniri dan hamzah Fansuri serta banyak pelaku AKU yang lain. 

Kamis, 24 Mei 2018

,
Oleh: M. Q. Aynan

      Rambut panjang adalah simbol intelektualitas, bagaimana bisa? Siapapun boleh tidak sepakat. Akan tetapi, izinkan saya bertutur. Saya tidak sedang ingin mengampanyekan rambut panjang. Rambut panjang atau pendek itu soal pilihan. Namun, dari orang-orang yang saya kenal sejak dulu hingga sekarang, paling tidak rambut panjang adalah semacam eksperimen pada dirinya sendiri. Apa yang akan terjadi setelah rambutnya panjang. Kira-kira begitu.
,


Beberapa hari lalu ada pesan masuk ke nomor saya. Inti dari pesan itu adalah, saya diminta untuk menyampaikan mengenai teori kritis (atau lebih tepatnya filsafat kritis) dalam acara teman-teman mahasiswa fakultas Ushuluddin IAIN Jember. Terus terang saya bertanya-tanya apakah panitia tidak salah alamat. Lalu dalam pesan selanjutnya panitia meminta saya untuk menyampaikan hal itu karena saya ditunjuk seseorang, dimana yang menunjuk saya ini menganggap saya mengerti dan paham hal ihwal persoalan tersebut. Reaksi saya adalah; waduh apakah saya bisa?. Tetapi karena ini amanah, maka sedapat mungkin saya tunaikan kepercayaan tersebut sebaik-baiknya. Dan yang pertama kali saya lakukan setelah meminta kisi-kisi materi dari panitia adalah segera membongkar lemari buku, membaca lagi bermacam bahan bacaan yang ada dalam komputer saya. Tak lupa sebagai bagian dari zaman now, internet juga saya ubek-ubek untuk mengumpulkan lagi remah-remah pengetahuan saya yang sudah hilang mengenai teori kritis.

Senin, 21 Mei 2018

,

Oleh:Dasuki, Af
🔥Tidak ada acara yang istimewa dalam peringatan 20 Mei sebagai hari kebangkitan Nasional selain ucapan-ucapan selamat yg berbeda dengan hari-hari Nasional lainnya. Tanggal 20 Mei 1908 menjadi hari penting dalam sejarah panjang bangsa Indonesia. Pada tanggal itu, organisasi pemuda Boedi Oetomo didirikan oleh para pelajar di sekolah kedokteran STOVIA di Batavia yang kini dikenal dengan nama Jakarta. Meski awalnya hanya organisasi di bidang pendidikan dan kebudayaan, serta pergerakannya sebatas di Jawa dan Madura, namun Boedi Oetomo didirikan karena adanya kesadaran akan pentingnya persatuan oleh generasi muda yang terdidik dan tercerahkan untuk bangkit melawan kolonialisme. 
🔥saat ini Gelora kebangkitan setidaknya harus ditanamkan pada generasi muda, terutama pada generasi yg hidup di era mellinial.Tantangan mereka jauh lebih berat dibandingkan dengan Boedi oetomo saat itu, Generasi muda Indonesia berhadapan dengan Neokolonialism, Narkoba, Korupsi, kebodohan, kemiskinan, Radikalisme dan Terorisme.Mereka ada yg mampu bertahan, terinfeksi bahkan terbunuh baik jiwa dan Raganya. 
🔥Neokolonialisme berhasil masuk pada pagar-pagar Budaya,pendidikan dan struktur sosial yg ada,sehingga budaya lokal Nusantara sebagai warisan dari leluhur, lambat laun mulai terkikis habis dengan budaya yg mereka sebut modern dan dengan ideologi yg disebut transnasional.Virus-virus kolonialism dan transnasionalism yg dicangkokkan baik lewat Budaya, lembaga pendidikan, media sosial dan medium lainnya telah meruntuhkan bangunan nilai-nilai luhur dan jati diri bangsa sebagaimana bangsa Timur lainnya. Anehnya mereka bukan orang yg tidak berpendidikan tinggi seperti para koruptor, penikmat Narkoba dan para teroris.mereka pada umumnya berpendidikan tinggi, namun masih kalah dengan ranjau-ranjau ideologis yg ditanamkan pada seluruh lapisan kehidupan. 
🔥Bangsa besar ini harus Bangkit melawan. Melawan segenap upaya-upaya pembodohan yg bertujuan untuk merebut kendali bangsa dan negara. Indonesia menjadi Incaran banyak Bangsa karena kekayaan alamnya. Karena itu salah satu yg dianggap strategis untuk melululantahkan benteng pertahanan Bangsa adalah para kaula muda. Mereka diracun oleh sains dan teknologi yg membabi buta, diracun narkoba dan diracun oleh ideologi transnasional sehingga banyak dari mereka lupa diri dengan jati diri Bangsanya. Momentum 20 Mei sebagai bahan refleksi Bangsa Indonesia untuk bangkit melawan dari segala bentuk  penjajahan. Bukan karena bisa makan minum, bisa sekolah, ibadah,naik motor dan main android serta aktivitas lainnya,dianggap tidak ada penjajahan. Penjajahan Gaya baru dunia global dengan menghisap sekaligus mengeksploitasi seluruh tatanan kehidupan melalui saluran-saluran yg dibuatnya,hanya saja banyak orang yg sudah lupa diri dengan penjajahan global tersebut karena dianggap tidak berdarah darah-darah. Refleksi, 20/5/2018
,

Oleh : M. Q. Aynan

      Sebelum peradaban modern ada, telah banyak peradaban yang ada di bumi.  Peradaban itu identik dengan keanekaragaman sistem kepercayaan dan kemajuan bidang kehidupan misalnya intelektual, militer, sastra, dll. Yang bisa dilacak misalnya, antara lain Mesir, Babilonia, dan Mesopotamia.

      Peradaban-peradaban tersebut selain bisa dijumpai dalam buku sejarah modern, kita juga bisa menemukan di teks kitab suci. Salah satu kandungan dalam Alquran adalah kisah, baik kisah masa lampau, saat itu, maupun masa sesudah Alquran diturunkan. 

Minggu, 20 Mei 2018

,

M. Q. Aynan

      Libur semester genap sudah hampir tiba. Itu adalah pertanda sudah empat bulan atau hari-hari aktif kuliah akan berakhir. Hal itu juga menjadi pertanda akan ada mahasiswa baru. Tentu, mahasiswa lama akan mempunyai adik tingkat yang siap menjadi penerus pengabdian. Pengurus lama juga akan diganti oleh pengurus yang baru. Tantangan regenerasi dan kaderisasi menunggu untuk dihadapi. 

Sabtu, 19 Mei 2018

,
Oleh: M. Q. Aynan

      Pada tahun 1960-an di belahan bumi yang lain, muncul band yang di kemudian hari punya pengaruh yang besar di dunia musik, The Beatles. The Beatles viral di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Saat itu Indonesia dipimpin oleh Presiden Sukarno. Bagi Sukarno, musik The Beatles adalah musik ngak ngik ngok. 
,


M. Q. Aynan

Mengutip tulisan yang dirilis Time.com, Merril Fabry mencoba menyingkap alasan rambut yang dapat merepresentasikan gender dan nilai. Mundur jauh ke belakang ke era Yunani dan Roma Kuno, berdasarkan penuturan arkeolog Elizabeth Bartman, sekalipun dengan munculnya tren filsuf Yunani berjanggut tebal dan berambut panjang, di zaman tersebut wanita memiliki rambut yang lebih panjang dibandingkan pria. Sementara itu di Roma, para wanita memelihara panjang rambutnya dan para pria terlalu takut apabila rambutnya dicemooh seperti banci.
,

Oleh: M. Q. Aynan

      Pelaku pengeboman di Surabaya membuktikan bahwa mereka memiliki keterampilan kontra intelijen yang sangat kuat. Demikian disampaikan Prof Ach Muzakki, yang juga Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UIN-SA) Surabaya. Menurut Prof Zaki, pola mereka bisa dilihat dan dibuktikan dengan pelaku yang tidak diprediksi aparat. Dulu, pelakunya laki-laki dewasa. Begitu aparat menyasar mereka, maka sekarang ini pelaku merupakan perempuan dewasa dan anak-anak. 
,

Oleh :Dasuki, Af
🔥Buah radikalisme telah dirasakan bersama dengan aksi-aksi teror belakangan ini. Teror sudah menjadi paham perlawanan terhadap Negara dengan segala simbol-simbolnya. Penggunaan doktrin agama di vis aviskan dengan Negara yg menganggap negara dengan ideologinya sebagai Negara kafir, bagi teroris memeranginya adalah jihad fisabilillah. Agama diligitimasi untuk membenarkan aksi-aksi teror, sehingga saat ini berkembang phobia pada Islam yg sebenarnya simbol-simbol yg dipakai oleh para teroris atau para radikalis tidak mewakili ruh Islam.

Kamis, 17 Mei 2018

,

oleh: Dasuki, Af (Moh. Dasuki)


      Hal yg paling mendasar dari puasa adalah menahan, menahan rasa lapar dan dahaga. Ini menurut ulama', adalah puasa yg dilaksanakan oleh level bawah atau golongan awam dari umat Islam, yg puasanya hanya untuk menjalankan kewajiban dengan menahan rasa haus dan lapar.golongan ini hanya sebatas menggugurkan kewajiban dan memburu pahala sebanyak-banyaknya. Karena bagaimanapun puasa model ini pretensinya terletak pada relasi kepatuhan agama dan pengorbanan Biologis atau basis material yg menjadi dasar kebutuhan primer manusia. Sehingga ukuran kepatutan keberagamaan seseorang hanya diukur seberapa besar dan kuat ia bertahan secara biologis. Disini sebagian golongan awam memaknai puasa sebagai perintah tuhan dengan perjuangan pada pengorbanan Raga atau material,yang memversus antara hegemoni perintah tuhan dan hegemoni material, antara takut neraka dan mendapat surga. Jika seseorang sejak dini tidak dilatih melawan kuasa material, maka besar kemungkinan ia akan selalu memandang remeh perintah-perintah tuhan yg berhubungan dengan basis material,seperti sholat  yg dianggap melelahkan, zakat mengurangi kekayaan, ngaji Alquran buang-buang waktu dan aspek-aspek material lainnya yg dianggap hilang secara matematis dalam aktivitas hidupnya.

Rabu, 16 Mei 2018

,
Oleh: M. Q. Aynan

      Berbahasa tulis seringkali membuat kepala pening. Semakin dilanjutkan, seakan-akan semakin pusing rasanya. Mengeksekusi ide ke dalam bahasa tulis bukan hal yang mudah. Tulisan buruk, berantakan, masih kental bahasa lisan, merupakan hal yang lumrah dalam menghasilkan karya tulis.

Selasa, 15 Mei 2018

,
Oleh: M. Q. Aynan

    Setiap bagian dari hidup kita memiliki warnanya sendiri. Tak terkecuali saat menjadi mahasiswa. Terdapat banyak perbedaan dengan bagian sebelumnya baik dari segi tempat, waktu, suasana, dan lingkungannya.

Kamis, 10 Mei 2018

,
    Oleh: M. Q. Aynan
    Meski sebutan "aktivis" sangat "wah" di mata masyarakat dan mahasiswa, namun tidak sedikit yang bernada sinis tatkala bicara tentang aktivis. Tentu hal ini dilatarbelakangi oleh fenomena nyata. Misalnya karena banyak dari kawan "aktivis" yang tidak lulus tepat waktu. Ada juga kejadian lainnya. Kejadiannya adalah ada orang-orang yang mengaku sebagai "aktivis" namun ia tidak percaya diri ketika berbicara di depan umum. Bahkan, menurut beberapa kesaksian ada yang pingsan ketika disuruh berbicara di depan umum. Muncullah sebuah ungkapan, " Katanya aktivis, kalau urusan demo ada di depan. Disuruh begini, pingsan."

Rabu, 09 Mei 2018

,
Oleh : M. Q. Aynan

      Saya mulai menulis tentu sejak saya TK. Setelahnya, menulis dimaksudkan untuk menjawab soal pada lembar jawaban. Di pesantren, saya mulai menulis aksara Arab pegon utawi-iki-iku. Hingga saat Aliyah pun kegiatan menulis masih minim. Terdapat kegiatan musyawarah/diskusi di daerah /asrama E, tempat saya tinggal di pesantren. Meski sebelum berargumen saya dan teman-teman saya telah melakukan perbandingan khususnya menelaah kitab kuning, menyampaikan pendapat hanya secara lisan saja, sehingga saya dan teman-teman saya sudah terlatih berbicara di depan umum.

Kamis, 03 Mei 2018

,

  Sohib adalah mahasiswa semester dua jurusan inggris. Di pagi yang agak gelap, ia terbangun dari tidurnya. la membuka smartphone-nya. Ada pesan di aplikasi chatting. Isinya bahwa beberapa nilai sudah muncul. Ketika Sohib melihat daftar nilai, ia menyoroti mata kuliah speaking. Itu disebabkan hanya pada mata kuliah speaking Sohib mendapat nilai B.
,

Di bulan-bulan ini, entah kenapa, bertebaran ungkapan Halalin Bang baik di Facebook, Instagram, Whatsapp, dan lain-lain. Itu agak mengganggu sebenarnya apalagi jika ungkapan itu ditujukan kepada saya.
,

Saya pernah tanya apa itu move on?
Pertanyaan itu bukan muncul di ruang hampa melainkan lahir dari rahim konteks historis yang cukup panjang. Saya pernah-bahkan masih berlangsung- memblokir pertemanan.
,

Seorang mahasiswa bersama pamannya melakukan perjalanan ke suatu tempat yang akan dibangun toko yang akan menjadi sumber penghasilan mereka. Di tengah perjalanan tiba-tiba si mahasiswa kebelet untuk buang air kecil. Singgahlah mereka di sebuah masjid untuk menunaikan hajat sekaligus shalat ashar.
,


Saya tidak bermaksud untuk mengeluh karena dilahirkan dari keluarga yang bukan lingkungan pesantren. Bagi masyarakat tradisional, sosok kiai dan keluarganya adalah panutan. Perkataan mereka tentu akan lebih didengar daripada perkataan orang lain karena mereka dianggap lebih 'alim daripada yang non pesantren. Masyarakat menaruh rasa takdzim yang besar pada mereka. Di pesantren-pesantren tradisional diajarkan kitab-kitab kuning dengan pengajaran ilmu alat untuk bisa menguasai kitab kuning tersebut. Kiai tentu harus kompeten dalam hal tersebut daripada yang bukan kiai. Pesantren umumnya didirikan pada abad ke 19 masehi. Sebut saja Pesantren Zainul Hasan Genggong yang didirikan pada tahun 1839. Dalam kurun abad ke 19 sampai sekarang abad ke 21 pesantren mengalami dinamika mulai dari era pra kemerdekaan hingga era reformasi. Tentu juga banyak alumni yang dihasilkan dalam kurun waktu tersebut. Para alumni tentunya punya loyalitas tinggi terhadap pesantren tempat menimba ilmu mereka sehingga pesantren mempunyai pengaruh yang besar dalam masyarakat khususnya masyarakat tradisional. Keturunan kiai juga mempunyai kesempatan yang lebih untuk menjadi the next kiai daripada yang bukan keturunan kiai.
,

Berhala tidak lagi berupa patung tapi sudah menjelma menjadi materialisme. Segala sesuatu diukur dengan materi. Pembangunan adalah tentang seberapa tinggi gedungnya. Kesejahteraan adalah seberapa mentereng mobilnya. Bahkan, keshalehan adalah seberapa banyak jumlah sedekah, berapa tempat ibadah yang sudah dibangun walaupun banyaktempat ibadah yang sepi meski tampilan yang instagramable.
,


M. Q. Aynan

Indonesia adalah salah satu negara yang dilintasi Garis Khatulistiwa. Oleh karena itu, Indonesia dijuluki sebagai Zamrud Khatulistiwa. Indonesia adalah negeri yang kaya akan sumber daya alam maupun budayanya. Indonesia terkenal sebagai Negara yang heterogen dan majemuk. Indonesia mempunyai semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
,

      Kita mungkin sudah sering mendengar ungkapan don't judge book by its cover. Kalimat itu mempunyai maksud jangan hanya menilai seseorang dari luarnya saja. Sekilas ini kalimat yang membuat kita terbuai dan sering dijadikan "senjata". Kalau kalimat itu diterjemahkan secara harfiah maka hasilnya adalah jangan menilai buku dari luarnya. Itu mungkin benar jika: Pertama, sampul buku itu tidak mencerminkan atau mewakili isi buku. Kedua, pembaca buku itu tidak bisa membaca simbol. Simbol yang dimaksud adalah gambar yang ada pada sampul buku. Kita tidak mungkin menemukan gambar wanita yang mengumbar aurat pada buku tentang pendidikan pesantren. Yang akan kita temukan adalah mungkin seperti gambar beberapa santri yang berkopyah dan membawa kitab kuning.
,
      Ayyuhal Walad-(ingatiah) Hei, Nak
      Ayyuha(iling-iling) adalah lafadz penekanan yang menunjukkan betapa besar perhatian Abu Hamid al-Ghazzali kepada para muridnya. la juga tidak lupa mendoakan mereka sebagai adab seorang guru. Selain itu, ia juga bertanya tentang pencapaian murid-murid.

Selasa, 01 Mei 2018

,

M. Q. Aynan

      Di era modern, identitas seseorang berkaitan dengan pilihan pakaian, gaya, dan citra. Namun, identitas tersebut dibatasi oleh batas gender yang membedakan apa yang seharusnya dipilih dan apa yang seharusnya ditinggalkan. Oleh karena itu, menjadi penting untuk menabrak batas yang telah dibentuk tersebut.
,

M. Q. Aynan

      Sudah hampir delapan belas purnama kita meninggalkan kelas paling timur di lantai dua. Rasanya baru kemarin karpet itu masih terasa hangat. Namun, detik juga tak lelah untuk berlari kencang. Kadang, kehangatan itu rasanya menghilang. Tetapi alhamdulillah terobati. Masih ada yang pernah berada di jurusan yang sama saat aliyah.
,

M.Q.Aynan

      Di dalam kelas para mahasiswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang punya kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Mahasiswa yang memiliki kemampuan tinggi minimal telah mampu membedakan part of speech dan peka terhadap tenses dalam grammar, tidak terlalu lama berpikir dalam speaking, dan bisa menulis paragraf yang bagus serta memilih diksi dalam writing. Dengan kemampuan itu, mereka aktif dalam perkuliahan di kelas. Di sisi lain, tidak sedikit mahasiswa yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata. Lalu, mereka mengeluh entah karena dosennya kurang bersahabat atau materi yang dirasa sulit. Hal itu menyebabkan jarak antara mahasiswa yang pintar dengan yang biasa-biasa saja semakin jauh. Padahal, dua pertiga mahasiswa bukan termasuk mahasiswa yang pintar. Mereka mungkin adalah mayoritas secara kuantitas tetapi minoritas secara kualitas.
,
M. Q. Aynan


      The Gondrongers group won sing a song contest on English Olympiad 2017 few weeks ago. There were some different views on that contest. Viewers looked more intrested at sing a song contest than other contest such as speech contest. It show that music has language which is able to be accepted by everyone.


      In the first section of his essay, Theodor Adorno addresses the difference between “popular” and “serious” music. For Adorno, the hallmark of popular music is “standardization.” It is the fact that across vastly different genres, you find the “verse-chorus-verse-chorus” pattern, and many other patterns in which “nothing fundamentally novel will be introduced.” These songs are recognizable for details like the entrance into the chorus (we call it “the hook”), rather than for the abstract whole of the song — because all of these songs are identical in abstract.
,

M. Q. Aynan

      Di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesatnya, robot sudah seharusnya menjadi perhatian. Semakin lama, robot semakin mirip dengan manusia. Robot telah mampu melakukan pekerjaan dari yang sederhana hingga pekerjaan yang rumit.

      Robot berasal dari bahasa Ceko "Robota" yang berarti pekerja atau kuli yang tidak kenal lelah dan bosan. Sesuai namanya, robot tidak membutuhkan istirahat/tidur dan karbohidrat. Ketika robot telah kehabisan daya, maka cukup dengan mengisi ulang dayanya atau mengganti baterainya. Bentuk robot bermacam-macam, dari yang sederhana hingga menyerupai binatang atau manusia. Umumnya, robot terbuat dari logam. Tujuannya agar mempunyai fisik yang kuat supaya memudahkan pekerjaan manusia.
,
Melawan Hoax

M. Q. Aynan




      Media sosial telah menjadi sebuah gaya hidup di kehidupan modern. Banyak aktifitas yang telah pindah ke media sosial. Media sosial menyediakan kemudahan seperti layanan obrolan/chatting dan berita. Masyarakat sudah tidak perlu menulis surat dan membeli koran seperti dua puluh tahun lalu. Selain itu, media sosial juga menawarkan kebebasan untuk semua orang. Orang-orang bisa berbagi apa saja yang mereka inginkan seperti foto dan video.

Minggu, 22 April 2018

,

Oleh: Moh. Dasuki*

          Modernisme yang lahir dari rahim ideologi dominan telah membawa perubahan bagi terciptanya tatanan masyarakat dan dunia baru, tatanan dunia yang penuh dengan topeng-topeng kepalsuan serta rumus-rumus penindasan. Masyarakat didesain dan dikonstruksi untuk kepentingan kolonialisasi. Mereka dijajah dengan simtom bahasa, pengetahuan, regulasi, dan kebijakan pada seluruh struktur kehidupan sehingga melahirkan ketergantungan tingkat tinggi. Kata Vandana Shiva, kolonialisasi lama hanya merampas tanah sedangkan kolonialisasi baru merampas seluruh kehidupan. Memang benar, mereka tidak merampas tanaman dan menyuruh tanam paksa namun mereka merampas selera, merampas hobi, dan merampas cara pandang masyarakat melalui kuasa pengetahuan yang dijalankan oleh bahasa-bahasa kepalsuan. Mereka ciptakan bahasa pengangguran, sampah masyarakat, penyakit sosial, jorok, bodoh, terbelakang, raskin, pelacur, dan bahasa peyoratif lainnya semata untuk menjalankan praktik penindasan.