---Di mana pun adalah ruang kelas---

Kamis, 14 Juni 2018

,
Oleh: M. Q. Aynan


Saya mengikuti salat malam yang diadakan di masjid Riyadlus Solihien Gebang Jember. Ini Kali kedua saya mengikutinya setelah kemarin lusa. Acara tersebut diselenggarakan pada tanggal ganjil setiap sepuluh hari terakhir ramadan. Itu berarti tadi adalah salat yang terakhir karena hari ini adalah tanggal 29 Ramadan. Salat yang dikerjakan ada tiga yakni salat tahajjud, tasbih, dan hajat. Kegiatan itu berlangsung mulai sekitar pukul 1 hingga sekitar pukul 3.

Rabu, 13 Juni 2018

,

By: M. Q. Aynan

Someone said, "Moderate is standing in the middle, not tilted to the right or to the left. If italic, it's called fake moderate."

Discussions on moderation in Islam are not new. because of the running of time, there are shifts in both practical realms and moderate shifts of meaning. The phenomenon of this century has made us need to reinterpret the so-called moderate Muslims. New issues that did not exist in the past such as democracy, freedom of religion, gender equality, secularization, human rights, and also the formalization of shari'a, became very interesting talks. These issues are interesting to talk.
,
Oleh: M. Q. Aynan

Ada orang bilang, "Moderat itu berdiri di tengah, tidak miring ke kanan atau ke kiri. Kalau miring, itu moderat gadungan namanya."

Diskusi tentang moderasi dalam Islam sebenarnya bukan hal yang baru. Namun karena berlarinya waktu, terdapat pergeseran-pergeseran baik dalam kenyataan praktis maupun pergeseran makna moderat. Fenomena di abad ini membuat kita perlu untuk menafsirkan ulang apa yang disebut muslim moderat. Isu-isu baru yang tidak terdapat di masa lalu seperti demokrasi, kebebasan beragama, kesetaraan gender, sekularisasi, HAM, dan juga formalisasi syariat, menjadi pembicaraan yang sangat menarik. Isu-isu tersebut tentu sarat dengan kepentingan.

Selasa, 12 Juni 2018

,

Oleh: M. Q. Aynan

Saya sendiri termasuk orang yang kurang tertarik bergabung di forum-forum yang bertemakan nikah. Namun bukan berarti saya tidak tertarik dengan lawan jenis. Saya tentu masih normal. Ketidaktertarikan itu semakin menguat salah satunya saat saya sadar bahwa konten-konten tentang suatu hubungan dimaksudkan untuk menghibur. Dengan kata lain, sebagai tontonan saja, bukan untuk menjadi tuntunan.

Yang membuat saya sering cengengesan sendiri dengan beberapa kawan saya adalah bagaimana bisa hubungan antar lawan jenis dalam bingkai pernikahan yang sudah universal baru-baru ini saja terdapat seminarnya. Meskipun bertema nikah muda sebenarnya bukan hal yang baru. Istilah nikah muda pun saya kira problematis. Kalau yang dimaksud muda adalah umurnya, maka generasi kakek-nenek kita lebih hebat karena sudah penerapan tanpa harus ada seminar. 

Kemungkinan lainnya adalah istilah itu tidak bisa keluar dari lingkungan urban. Di daerah perkotaan seringkali orang-orangnya sangat sibuk sehingga tidak ada niatan untuk berkeluarga, sebab jika tak pandai mengatur waktu, keluarga bisa tak terurus. Kalau ini yang melatarbelakangi, mungkin cukup masuk akal. Itu artinya wacana nikah muda atau apapun itu, terbatas berdasarkan teritorialnya.

Bagi sebagian orang, terutama para pemudi, seminar atau artikel tentang nikah muda memang digandrungi. Sepengalaman saya, seminar keilmuan yang tiket masuknya hanya lima ribu seringkali sepi peminat. Namun pemandangan yang berbeda dapat kita lihat jika ada seminar nikah muda. Tak jarang tiket masuknya bisa puluhan ribu bahkan ratusan ribu. Yang penjadi pembicara juga muda.

Bisa saya pastikan jika pembicaranya masih muda maka pengalamannya masih sedikit. Tentu berbeda andaikan pembicaranya memang nikah muda tetapi usia pernikahannya sudah 20 atau 30 tahun dan masih harmonis. Kalau masih usia pernikahannya dua pekan, lalu mengisi seminar, bukankah itu berarti menawarkan khayalan?
,

Oleh: M. Q. Aynan

Sebelum lebih jauh, saya ingin memperingatkan kalau tulisan ini mungkin tidak sistematis. Saya ingin memulai dengan perjalanan saya tanggal 27 Ramadan 1439 Hijriah yang bertepatan tanggal 11 Juni 2018 Masehi. Malam tadi saya menghadiri acara buka bersama dengan teman-teman semasa SD.  Meski tidak sampai sepuluh orang yang datang, saya senang sekali bisa bertemu apalagi hanya setahun sekali. Saya tidak mau ketinggalan. Tentu banyak yang diobrolkan . Salah satu obrolan pada saat itu berhasil membuat saya berpikir bagaimana masa depan para penulis.

Minggu, 10 Juni 2018

,
Oleh: M. Q. Aynan

Mengharapkan harga-harga akan turun mungkin akan menjadi mimpi belaka. Kita sudah terlalu sering mendengar berita tentang kenaikan harga BBM. Uang Kuliah Tunggal (UKT) pun tak ketinggalan naik. Kenaikan UKT dan beasiswa termasuk yang paling sering diperbincangkan dalam dunia kampus.

Sabtu, 09 Juni 2018

,
Oleh: M. Q. Aynan

Tulisan ini adalah tentang saya dan teman-teman saya yang gondrong. Tentunya, tiap perkumpulan punya ciri khas masing-masing. Mungkin tulisan ini bisa digolongkan sebagai antropologi mahasiswa. Saya menulis tentang kami.

Gondronger diidentikkan dengan pelbagai anggapan entah itu yang baik atau malah yang buruk. Yang jelas, akan selalu ada orang yang sinis ketika memandang para gondrongers. Kalau di sekitar saya, berikut adalah hal-hal yang digemari para gondrongers.

Jumat, 08 Juni 2018

,

Oleh : M. Q. Aynan

Pernah mendengar nama Sokrates? Atau Imam asy-Syafii? Kita tidak mungkin tahu Sokrates tanpa Platon menuliskan riwayat hidupnya karena Sokrates sendiri tidak punya karya tulis. Begitu pula asy-Syafii. Madzhabnya bisa sangat berkembang dan menyebar tidak lain karena dibawa oleh para muridnya. Para murid asy-Syafii juga tidak selalu sepakat dengan pendapat gurunya.

Kamis, 07 Juni 2018

,
Oleh: M. Q. Aynan

Sering sekali ingin bertemu walau sebentar saja
Demi mengobati rasa rindu yang ada di dalam dada
Ayo kemari dengarkan ini suara di hati 
Agar kau tahu ini benar-benar telah terjadi

Sejak kita lulus terasa sepi terasa sekali
Ku tinggal sendiri di kamar sendiri makan juga sendiri
Sering bermimpi  ke masa lalu apakah kau tau
Lalu ku bertanya kapan terwujudnya kapankah itu

Coba katakan apakah jawabmu
Katakan Padaku

Ku ingat kita sekamar tinggal bersama
Ku ingat kita sekelas belajar bersama

Semua telah sangat berbeda
Waktu tak sama
Semua telah semakin tua
Ingin ku jaga

 23 Ramadan 1439 H

Rabu, 06 Juni 2018

,


Oleh: M. Q. Aynan

Tadi malam, pagi sebenarnya, saya menghadiri kajian yang membahas tokoh Yunani Kuno, Aristoteles. Kajian itu tidak formal, santai saja. Kadang juga diselingi pembicaraan lain. Ketika membahas yang umum-yang khusus dan yang universal-yang partikular, pembicaraan juga mengarah kepada "hewan". Yang dimaksud adalah ayam kampus dan anjing kampus.

Selasa, 05 Juni 2018

,

Oleh: M. Q. Aynan

Saya tertarik untuk menulis tentang ini setelah saya pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Saya sebenarnya tidak terlalu suka pergi ke pusat perbelanjaan. Sebelum berangkat, seorang teman berkata bahwa tumben sekali saya ke pusat perbelanjaan. Saya diajak teman saya ke pusat perbelanjaan. Saya tidak membawa uang yang banyak karena tidak bermaksud untuk berbelanja. Saya tertarik karena saya pergi dengan teman saya sesama gondronger.
,
Oleh:M. Q. Aynan

Kehidupan di kampus bukan hanya tentang memasuki ruang kelas tetapi juga memasuki episode pemilihan umum. Pemilihan umum dilaksanakan untuk mencari pemimpin dari tingkat program studi sampai mencari presiden mahasiswa. Tentunya hak setiap mahasiswa apakah mau ikut terlibat atau apatis dengan pemilihan tersebut.

Agenda tahunan itu semestinya menjadi momentum untuk kontestasi, adu program, dan mengasah kepemimpinan. Mobilisasi massa juga penting untuk menarik orang lain agar berpartisipasi entah mencalonkan diri atau memilih pasangan calon. Dalam kenyataannya, hampir seluruh pasangan calon yang terdaftar pada pemilihan Ketua dan Wakil Ketua HMPS IAIN Jember adalah paslon tunggal. Artinya, para calon dipastikan akan menjabat tanpa ada pesaing. Para calon tidak perlu mengikuti debat kandidat, hanya cukup menyampaikan visi dan misinya. 

Senin, 04 Juni 2018

,
Oleh: M. Q. Aynan

Sebelumnya, saya ingin berterima kasih kepada teman saya Misbahul Wani karena mengingatkan saya tentang hal ini. Ia sekarang aktif berorganisasi salah satunya Youth Interfaith Peacemaker Community (YIPC). Baik, mari kita lanjutkan.

Saya dulu sangat suka menonton video atau membaca buku tentang debat agama, khususnya kalau debat Islam-Kristen. Dengan semangat membabi-buta, seperti ada kepuasan tersendiri ketika menyimak hal tersebut. Belakangan, perasaan itu semakin redup disebabkan munculnya pertanyaan besar: Mengapa debat seperti itu narasumbernya orang-orang yang pendidikan akademiknya bukan teologi, justru para ahli atau profesor di bidang teologi tampaknya tidak berminat?

Minggu, 03 Juni 2018

,

Oleh : M. Q. Aynan


Dalam beberapa tulisan yang saya temukan di internet terdapat diskusi tentang pelajar muslim Indonesia yang justru belajar keislaman di kampus-kampus Barat. Fenomena tersebut dimulai sejak tahun 1970-an yakni ketika Menteri Agama masa itu yakni Munawir Sjadzali, memiliki program pengiriman sarjana dan dosen IAIN untuk belajar Islam ke Barat. Kebijakan ini kemudian dilanjutkan oleh penggantinya Tarmidzi Taher. Keduanya telah mengirim sekitar 200 sarjana IAIN ke berbagai universitas di Barat. Pada akhir Pelita saat itu, Indonesia diharapkan mempunyai 34 doktor dan 88 master di bidang keagamaan. Hal itu merupakan pergeseran mengingat sebelum itu tujuan pelajar muslim Indonesia bukan ke Barat melainkan ke Mesir dan negara-negara Timur Tengah.