,
M. Q. Aynan
Saat saya merasa bahwa kepala saya pening dalam pengerjaan skripsi saya, saya diajak untuk keluar rumah. Saya rasa hal itu dapat membuat perasaan saya agak baikan. Kami pergi ke rumah seorang sahabat yang sekitar seminggu lalu saya kunjungi. Di situ, saya tertarik untuk menulis renungan singkat ini.
Saya telah mengamati beberapa tren mengkhawatirkan yang mendorong saya untuk menulis tentang pentingnya berpikir saintifik dalam relasi interpersonal di zaman pasca-kebenaran. Awalan "pasca-" berarti gagasan bahwa kebenaran sekarang tidak relevan. Kamus Oxford mendefinisikan "pasca-kebenaran" sebagai "berkaitan dengan atau menunjukkan keadaan di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik daripada menarik emosi dan kepercayaan pribadi."
Artinya, dalam konteks relasi interpersonal, fakta objektif tentang orang lain dapat dikalahkan oleh gosip murahan. Misalnya, fakta tentang seorang laki-laki bahwa ia tidak pernah menggoda perempuan dapat dikalahkan oleh gosip murahan bahwa ia "playboy". Jika hal itu terjadi, maka benar bahwa fitnah lebih kejam daripada kekerasa fisik.
Oleh karena itu, disinilah pentingnya berpikir saintifik dalam relasi interpersonal. Sains yang berasal dari bahasa Latin scientia yang berarti "pengetahuan" atau "keahlian mengetahui" dan di kemudian hari digunakan untuk "pengetahuan, yang bertentangan dengan kepercayaan atau pendapat." Artinya, relasi interpersonal dalam hal ini penting untuk didasarkan pada fakta objektif sehingga teruji kebenarannya.
Ada banyak cara berpikir saintifik. Yaitu meliputi eksperimen laboratorium, peneliti survei, peneliti lapangan baik dari jenis eksperimen maupun non-eksperimental. Apa pun metode penyelidikan mereka, semua upaya untuk melakukan sains dalam mengejar kebenaran. Paling tidak, dalam konteks relasi interpersonal, jika ada suatu kabar tentang pribadi lain, perlu diuji dulu benarkah kabar itu. Pengumpulan bahan lalu selanjutnya dipastikan validitasnya. Setelah valid, baru diurai. Akhirnya, bisa ditarik kesimpulan. Bukan justru menerima kabar langsung disimpulkan. *Itu namanya, kalau istilahnya Direktur Ma'had, "lompatan logika".*
Ketika saya menulis tentang ini, saya di saat yang sama memuji siapa saja yang melibatkan pengumpulan dan pengujian informasi sebanyak mungkin secara jujur dan mencari cara untuk menggunakannya untuk kebaikan yang lebih besar dalam relasi interpersonal.
Sumberjambe, Juni 2020.
Bersama Alumni Annuqayah
*(Suhil dan Wildan)*