---Di mana pun adalah ruang kelas---

Minggu, 21 Juni 2020

,
M. Q. Aynan

Saat saya merasa bahwa kepala saya pening dalam pengerjaan skripsi saya, saya diajak untuk keluar rumah. Saya rasa hal itu dapat membuat perasaan saya agak baikan. Kami pergi ke rumah seorang sahabat yang sekitar seminggu lalu saya kunjungi. Di situ, saya tertarik untuk menulis renungan singkat ini.

Saya telah mengamati beberapa tren mengkhawatirkan yang mendorong saya untuk menulis tentang pentingnya berpikir saintifik dalam relasi interpersonal di zaman pasca-kebenaran. Awalan "pasca-" berarti gagasan bahwa kebenaran sekarang tidak relevan.  Kamus Oxford mendefinisikan "pasca-kebenaran" sebagai "berkaitan dengan atau menunjukkan keadaan di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik daripada menarik emosi dan kepercayaan pribadi."  

Artinya, dalam konteks relasi interpersonal, fakta objektif tentang orang lain dapat dikalahkan oleh gosip murahan. Misalnya, fakta tentang seorang laki-laki bahwa ia tidak pernah menggoda perempuan dapat dikalahkan oleh gosip murahan bahwa ia "playboy". Jika hal itu terjadi, maka benar bahwa fitnah lebih kejam daripada kekerasa fisik.

Oleh karena itu, disinilah pentingnya berpikir saintifik dalam relasi interpersonal. Sains yang berasal dari bahasa Latin scientia yang  berarti "pengetahuan" atau "keahlian mengetahui" dan di kemudian hari digunakan untuk "pengetahuan, yang bertentangan dengan kepercayaan atau pendapat." Artinya, relasi interpersonal dalam hal ini penting untuk didasarkan pada fakta objektif sehingga teruji kebenarannya.

Ada banyak cara berpikir saintifik. Yaitu meliputi eksperimen laboratorium, peneliti survei, peneliti lapangan baik dari jenis eksperimen maupun non-eksperimental. Apa pun metode penyelidikan mereka, semua upaya untuk melakukan sains dalam mengejar kebenaran. Paling tidak, dalam konteks relasi interpersonal, jika ada suatu kabar tentang pribadi lain, perlu diuji dulu benarkah kabar itu. Pengumpulan bahan lalu selanjutnya dipastikan validitasnya. Setelah valid, baru diurai. Akhirnya, bisa ditarik kesimpulan. Bukan justru menerima kabar langsung disimpulkan. *Itu namanya, kalau istilahnya Direktur Ma'had, "lompatan logika".*

Ketika saya menulis tentang ini, saya  di saat yang sama memuji siapa saja yang melibatkan pengumpulan dan pengujian informasi sebanyak mungkin secara jujur ​​dan mencari cara untuk menggunakannya untuk kebaikan yang lebih besar dalam relasi interpersonal.

Sumberjambe, Juni 2020.
Bersama Alumni Annuqayah
*(Suhil dan Wildan)*

Sabtu, 20 Juni 2020

,
M. Q. Aynan

Sambil saya istirahat sejenak dari pengerjaan skripsi, baru saja saya berdiskusi dengan seorang teman yang suka membaca buku-buku yang berkaitan dengan manajemen, bisnis, dan pemasaran. Salah satu yang menarik dari pemaparannya adalah tiga set keterampilan dalam bisnis. Teman saya lupa membacanya di buku apa. Saya jelajahi peramban, ternyata ada di buku berjudul The E-Myth Revisited karya Michael E. Gerber. Saya pribadi belum membaca bukunya secara langsung, hanya membaca ringkasan dan ulasannya.

Singkatnya, gagasan utama dalam buku ini adalah bahwa membangun bisnis membutuhkan tiga set keterampilan unik:
1. Pengusaha/Visioner –- Ideal untuk meningkatkan bisnis

Visioner, pemimpi, inovator

Tinggal di masa depan

Kontrol keinginan & perubahan

2. Manajer - memasok pesanan dan sistem - Ideal untuk mempertahankan bisnis s

Pragmatis, perencana, penyelenggara

Hidup di masa lalu

Mendambakan ketertiban dan struktur

3. Teknisi - memasok output-Ideal untuk eksekusi

Tinggal di masa sekarang

Suka tenggelam dalam pekerjaan

Tidak tertarik dengan visi & sistem besar



Pengusaha/Visioner dapat menggerakkan bisnis, Manajer dapat memastikannya berkelanjutan, dan Teknisi dapat tetap berhubungan dengan mur dan baut dari pekerjaan yang sedang dilakukan.

Dalam situs emyth.com, ditulis bahwa setiap pemilik bisnis memiliki tiga kepribadian berbeda dalam cara mereka berpikir — dan bekerja di dalam — bisnis mereka. Teknisi hidup di masa sekarang dan berfokus pada melakukan pekerjaan membuatnya, menjualnya, dan mengirimkannya. Manajer berfokus pada pencapaian hasil melalui orang dan sistem, dengan fokus pada saat ini dan menyusun strategi untuk masa depan. Dan Pengusaha mendefinisikan bisnis dan berfokus pada menutup kesenjangan antara di mana bisnis saat ini dan di mana mereka inginkan.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa agar seseorang dapat mengendalikan bisnisnya, ia harus terlebih dahulu memahami perbedaan antara Teknisi, Manajer, dan Pengusaha/Visioner. Dan cara termudah untuk melakukan ini adalah dengan melihat masing-masing kepribadian melalui lensa dari tiga sumber daya vital — pekerjaan, waktu dan uang.

Kerja

Pekerjaan wirausaha/visi bersifat strategis. Ini melibatkan bermimpi, berfokus pada masa depan dan mengembangkan visi ke mana bisnis bisa pergi. Visi ini spesifik dalam hal apa yang akan dilakukan perusahaan untuk melayani keinginan dan kebutuhan pemilik.
Kerja manajerial bersifat strategis dan taktis, dengan fokus pada saat ini dan untuk mencapai hasil melalui orang lain. Manajer adalah pragmatis, perencana dan penyelenggara yang mengubah visi menjadi tindakan.
Pekerjaan teknis adalah pekerjaan langsung dari bisnis — melakukan produksi dan pengiriman produk atau layanan. Teknisi hidup di masa sekarang dan bergantung pada struktur panduan sistem perusahaan untuk menyelesaikan pekerjaan. 
Waktu

Pengusaha/Visioner menyediakan waktu setiap hari untuk pekerjaan strategis untuk memastikan bahwa perusahaan berada di jalur yang tepat untuk memenuhi visi. Waktu ini sangat penting untuk masa depan Pengusaha.
Manajer melihat waktu dalam kaitannya dengan personil dan produksi, mengetahui pentingnya menggunakan setiap momen berharga untuk menghasilkan. Manajer mengambil visi strategis perusahaan dan merencanakan tindakan taktis momen demi momen untuk mencapai visi tersebut. Waktu untuk manajer memiliki pertimbangan jangka panjang dan pendek.
Teknisi melihat waktu sebagai momen saat ini dan berfokus pada apa yang dapat dilakukan hari ini . Teknisi berusaha untuk menyelesaikan sebanyak mungkin sekarang , mengakui bahwa lebih banyak produksi sama dengan lebih banyak uang.
Uang

Pengusaha/Visioner memberikan perhatian khusus pada neraca, mengetahui bahwa nilai riil bisnis tercermin dalam ekuitasnya. Semakin tinggi nilai ekuitasnya, semakin besar harga bisnis di pasar. Nilai ekuitas menentukan strategi keluar pengusaha — rencana untuk menjual bisnis dan terus maju.
Manajer berfokus pada pengendalian biaya dan peningkatan laba dengan menciptakan rencana pertumbuhan taktis melalui pekerjaan yang tepat untuk orang dan aset. Mereka tetap mengikuti informasi keuangan terkini sehingga mereka dapat melakukan penyesuaian cepat bila perlu. Tindakan taktis ini mengikat manajer dengan sasaran strategis perusahaan.
Teknisi memandang uang sebagai penghasilan untuk pekerjaan yang dilakukan. Teknisi selalu berusaha mencari cara untuk melakukannya dengan lebih baik dan lebih cepat untuk menghasilkan lebih banyak uang. Upaya Teknisi adalah sumber strategi kompetitif yang lebih baik yang memungkinkan posisi yang kuat dan menguntungkan di pasar.


Saya pikir, tiga set keterampilan tersebut tidak hanya terdapat dalam bisnis saja, tetapi juga bidang lain yang masih berkaitan dengan kerja tim dan relasi interpersonal. Untuk dapat efektif dan efisien, suatu pekerjaan bisa dilakukan tidak hanya oleh satu orang saja, tetapi oleh beberapa orang yang tergabung dalam satu tim. 

Saya punya pengalaman pribadi soal ini. Yaitu pekerjaan yang cukup berat apabila dikerjakan sendiri. Saya tentu perlu mencari orang yang agak berbeda tipenya. Kekurangan saya adalah, kurang bertindak taktis dan berorientasi pada detail dalam pekerjaan. Sementara dalam waktu, kekurangan saya adalah kurang peka dalam memanfaatkan momen kecil, kurang fokus pada saat ini. Dalam hasil, kekurangan saya adalah pada pengendalian dan kompetisi. 

Jika sudah menemukan dan membentuk tim dengan tiga keterampilan di atas, saya pikir suatu pekerjaan baik akademik maupun yang lain akan menemukan momentumnya baik yang besar maupun yang kecil. Jika sudah begitu, tim yang meski kecil akan menjadi kunci kemenangan.



Jumat, 19 Juni 2020

,


Wildan Reza Hamami



Sense and sensibility (1995).

Adaptasi Novel mega hits jane austen. Emma thompson menyutradarai sekaligus jadi lead female sangat berhasil dlm banyak sisi (dibuktikan menyabet banyak award), semisal membangun atmosfer Inggris (kuno) yg menjunjung tinggi table manner bagi pria, serta banyak detil elemen ikonik lainnya.

Sebelum berperan sbg Rose di titanic kate winslet lebih dulu sbg Marianne dashwood di film ini. Cerita yang diusung agak elegan, penuh gengsi, namun masih membaur, sehingga cita rasa Asia Tenggara sy bisa berlabuh di daratan biru yang pekat itu. Di era yg jauh berbeda dg buku ori, tahun rilis film(1995) wardrobe dan make up nya sgt keren menurut sy yg amat tdk tahu menahu jungkir balik dunia bersolek, Klo liat pakaiannya kebayang terus cookies monde.

Dengan vibenya yg terasa otentik, bisa dipastikan bgmn director sgt menjaga orisinalitas background cerita, sehingga filmnya tidak terkesan pembaruan atau reborn dsb, secara, ini pendahulu pride and prejudice nya keira knightley #ulasngalorngidul

Selasa, 16 Juni 2020

,
Beberapa menit yang lalu, saya baru saja mengobrol dengan tiga orang yang punya pengalaman dalam hubungan interpersonal istimewa antar lawan jenis. Saya tidak berpengalaman, makanya saya hanya mendengar dan mencatat. Dan, mereka bertiga kebetulan laki-laki.

Jadi, persamaan dan penghubung antara mereka adalah memacari perempuan tanpa ada sedikit kemauan untuk menikahi. Saya tanya, bukankah seseorang lebih suka yang pasti, dijawab, iya di lidah tapi kenyataannya banyak kok yang bisa jadi objek seni, ya seni itu tadi.

Karena saya tidak berpengalaman langsung, saya kurang menyerap penjelasan mereka secara utuh. Saya hanya ingat sedikit, dan saya rangkum. Seni memacari tanpa menikahi menurut meteka, antara lain:


Mereka Tidak Memiliki Kesibukan Nyata Selain Rayuan atau Penampilan mereka. Kalau seseorang lebih sibuk dengan aktivitas dan pekerjaan, tidak terlalu sempat untuk memperhatikan rayuan atau bahkan cuek dengan penampilan. Sebaliknya, jika tidak ada kesibukan, rayuan sudah ditata dan penampilan bisa dipersiapkan bermenit-menit.

Mereka Memiliki Kisah yang Luar Biasa
Entah itu diceritakan sendiri atau teman sekomplotannya yang menceritakan. Kisahnya bisa betul tapi dilebih-lebihkan atau tidak seratus persen benar terjadi.

Mereka Hanya Memberi saran yang sama pada masalah yang berbeda.
Kalimat yang digunakan juga biasanya klise.

Mereka Mencitrakan bahwa punya kematangan.
Biasanya menonjolkan umur. Bila perlu, berfoto dengan orang penting.

Mereka Mencitrakan bahwa punya kendaraan mahal
Kendaraan mahal tidak harus mobil. Kalau biasanya motor yang dikendarai orang lain seharga delapan juta, mereka akan mengendarai motor seharga dua puluh juta.

Mereka Mencitrakan bahwa punya barang mahal yang banyak
Entah itu jam tangan, ponsel, atau barang lainnya.

Mereka Mencitrakan bahwa mengerjakan lebih dari 1 aktivitas
Kalau di depan target, ada saja yang mau dilakukan. Contohnya, menyapu sambil menghafal. Pokoknya mengerjakan lebih dari satu aktivitas secara bersamaan.

Mereka Mencitrakan bahwa sering melakukan perjalanan
Bisa melalui foto di media sosial atau verbal seperti menyatakan bahwa baru datang dari satu tempat atau mau ke satu tempat, terutama tempat wisata.

Mereka  Mencitrakan bahwa hari ini menghabiskan banyak uang
Entah mentraktir makan banyak orang atau mentraktir rokok. Masalahnya, tidak ada sisa untuk tabungan atau perencanaan keuangan masa depan.

Mereka punya target cadangan
Jadi tidak hanya mentarget satu orang saja.

Selain itu, mereka kalau ditanya kapan mau lebih serius, selalu saja ngeles. Entah memberi alasan atau mengalihkan pembicaraan. 


Mereka tidak bekerja sendiri melainkan dengan anggota komplotan lain yang dapat mendukung merekadmereka mengatakan hal-hal indah tentang Anda. Kekuatan dalam keroyokan

Terdapat juga kepura-puraan bahwa mereka orang yang paling berjasa bagi beberapa orang meskipun mereka belum pernah benar-benar melatih siapa pun dalam hidup mereka. Hanya bisa klaim

Senin, 15 Juni 2020

,
Tulisan ini tidak benar-benar dari pikiran saya. Saya hanya menelaah bacaan-bacaan tentang membangun persahabatan, lalu merangkumnya menjadi sebuah tulisan.
.
.

Kegiatan manusia tidak akan berjalan baik tanpa ada manusia lain. Yang dimaksud adalah orang yang dikenal melalui proses perkenalan, mulai dari tahap pencarian sampai pengujian dan latihan, sehingga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari persahabatan, yang secara sadar memberikan interaksi melalui komunikasi guna memenuhi kebutuhan permintaan karena tidak dapat diperoleh semua dengan mudah. Selain itu, sahabat adalah orang yang melaksanakan kegiatan tertentu bersama-sama dan bersedia menerima pengarahan dan perjanjian tertentu.

Prosedur Penerimaan Sahabat
Prosedur dimaksudkan untuk mengurangi kerugian yang mungkin timbul jika persahabatan gagal. Prosedur ini mencakup langkah langkah yang berurutan yang disebut daur.

1. Pencarian adalah kegiatan yang dilakukan untuk menghimpun dan membuktikan fakta-fakta nyata tentang orang yang potensial. 
2. Penyelidikan merupakan proses yang berkesinambungan mulai dari tahap pengamatan dan harus berlanjut sampai kepada pertalian persahabatan, bahkan sampai tahap pemutusan hubungan.
3. Pengukuran adalah analisis motivasi dan kualifikasi untuk menentukan kecocokan dan kerawanannya.
4. Pembinaan adalah penggarapan yang dilakukan dalam waktu yang relatif panjang terhadap pertalian persahabatan.
5. Pengakraban merupakan suatu proses perorangan antara dua individu untuk memupuk suatu hubungan yang menyenangkan, saling meyakini dan mempercayai. 

Hal-hal yang perlu diperhatikan:
a) Perhatian yang sungguh-sungguh terhadap permasalahan dan pandangan-pandangannya.
b) Menjadi pendengar yang baik dalam arti memperlihatkan bahwa selalu tertarik kepada sahabatnya sebagai pribadi, dengan memberi perhatian sepenuhnya pada pembicaraannya
c) Bertenggang rasa dan penuh perhatian (menyampaikan selamat hari lahir, sukses yang telah dicapai. atau menyatakan simpati atas kemalangan yang menimpa).
d) Membantu ketika dia membutuhkannya.
e) Memberikan dorongan agar mau berbagi pikiran dan pandangannya yang bersifat pribadi secara timbal balik serta saling terbuka.
f) Hindari memberi tanggapan yang bersifat menilai dan mengecam, sekalipun terhadap pengakuannya karena melakukan kesalahan.
g) Harus turut merasakan dan bersedia membantu mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi sahabatnya.
h) Jika perlu membangun hubungan dengan orang tua sahabat.


Mengendalikan Persahabatan

Pengendalian persahabatan adalah pengawasan dan pengelolaan persahabatan serta kegiatannya dengan maksud mengurangi akibat yang mungkin berbahaya dari persoalan-persoalan pribadi. Pengendalian persahabatan merupakan seni saling mengarahkan, saling membimbing, menguji, motivasi, mendukung, membantu, memberi penghargaan, berkomunikasi, dan jika perlu menegakkan disiplin atau memutuskan hubungan dengan sahabat.

Tanggung jawabnya antara lain:
1) Menjaga keamanan dan keselamatan, berusaha dengan segala kemampuan untuk membatasi pengetahuan pihak luar terhadap hubungan persahabatan.
2) Memelihara semangat dengan memberi motivasi kepadanya, memberi pengakuan atas hasil yang telah dicapai (bila perlu dengan hadiah tertentu)
3) Membantu menanggulangi masalah hati/perasaan dalam menanggulangi masalah yang menyangkut hati, serta mengatasi setiap keraguan terhadap pantas tidaknya apa yang diperbuat sahabatnya.
4) Komunikasi yang cermat dan aman


Pengujian Persahabatan
Pengujian persahabatan dimaksudkan untuk menentukan potensi, daya guna dan kesadaran keamanan serta motivasinya. Apabila sahabatnya dicurigai, dapat diadakan penyelidikan melalui orang lain apakah ia lebih cenderung ke lawan. Bertanya secara langsung juga merupakan pengujian akan kemampuan untuk mengerti dan menyepakati.

Pemutusan Hubungan
Pemutusan hubungan dengan sahabat adalah pemutusan terhadap tali persahabatan.
Dasar-dasar pemutusan hubungan:
a) Tidak dapat menyimpan rahasia.
b) Senang membual.
c) Adanya kemungkinan melakukan perbuatan terlarang.
d) Loyalitas berkurang atau beralih ke pihak lain, atau tidak jujur.

Sabtu, 13 Juni 2020

,
 *Tulisan ini adalah versi Bahasa Indonesia dari versi asli Bahasa Inggris di tautan
https://iheartintelligence.com/characteristics-of-deep-thinkers/



Apakah Anda pikir Anda adalah seorang pemikir yang mendalam?


Orang yang berkeliaran di dunia mencari kebijaksanaan tanpa henti dengan menyaring pengetahuan, pengalaman, sifat, dan pemahaman? Seseorang yang akan tetap diam daripada berkontribusi tidak perlu untuk percakapan?


Jika ini terdengar familier, Anda mungkin memiliki sifat-sifat yang baik, seperti yang kita jelajahi di sini, yang merupakan karakteristik dari para pemikir mendalam:



1. Mereka adalah beberapa orang yang berpikiran terbuka yang akan Anda temui.

Mata uang pemikir yang mendalam adalah kebijaksanaan mereka, sehingga mereka jarang membuang ide atau gagasan tanpa mempertimbangkan seluruh karakternya terlebih dahulu. Dari perang nuklir dan genosida hingga pola iklim global hingga seperti yang dirasakan hujan ketika jatuh ke wajah seseorang, para pemikir yang dalam adalah yang paling mungkin untuk mempertimbangkan semua hal itu sebelum menghapus salah satu dari itu jika mereka melakukannya.


2. Pemikir mendalam menganalisis semua pengalaman mereka.

Menyebutnya sebagai berkah atau kutukan, tapi itu benar: pemikir yang mendalam cenderung berkeliaran di ranah pikiran mereka, dengan mudah menghindari gosip dan hal-hal sepele yang paling banyak diduduki. Mereka lebih suka menghabiskan waktu mereka dalam analisis mendalam tentang hal-hal di masa lalu, sekarang dan masa depan, menemukan semua hubungan yang mungkin dengan pengalaman mereka saat ini. Mereka bahkan dapat menjadi nostalgia karena mereka memikirkan masa lalu, tetapi mereka lebih memilih untuk juga mempersiapkan masa depan.



3. Mereka terkadang hidup dalam isolasi.

Para pemikir yang mendalam menghabiskan sebagian besar waktu mereka di kepala mereka, tidak berkeinginan atau membutuhkan orang lain. Mereka cenderung tertutup dan seringkali hidup sendiri. Itu semua karena mereka cenderung memproses informasi secara mendalam, dan mereka juga membutuhkan waktu dan ruang di mana mereka dapat melakukan itu.


4. Mereka secara alami empatik.

Hanya karena mereka introvert, tidak berarti pemikir yang dalam bersikap dingin dan membuat orang lain keluar atau turun. Pemikir yang dalam menghabiskan waktu mereka mempertimbangkan begitu banyak hal yang terjadi. Karena itu, mereka cenderung bersifat empatik. Mereka sangat emosional, pendengar aktif dan sabar, memberi Anda perhatian penuh mereka.


5. Mereka memiliki perspektif berbeda tentang dunia di sekitar mereka.

Alih-alih terikat pada ideologi tertentu, agama atau pendapat lain, para pemikir yang mendalam melihat dunia dari berbagai sudut dan dapat menarik perspektif dari semua sudut itu, mengamati orang dan interaksinya serta menggunakannya untuk memperkuat pemahaman mereka. Melakukan hal itu mengarah pada semacam pencerahan; kita cenderung menyebutnya kebijaksanaan.
Alih-alih terikat pada ideologi tertentu, agama atau pendapat lain, para pemikir yang mendalam melihat dunia dari berbagai sudut dan dapat menarik perspektif dari semua sudut itu, mengamati orang-orang dan interaksi mereka serta menggunakannya untuk memperkuat pemahaman mereka. Melakukan hal itu mengarah pada semacam pencerahan; kita cenderung menyebutnya kebijaksanaan.


6. Mereka sering pelupa.

Ini mungkin tampak aneh, karena Anda akan berpikir siapa pun yang menghabiskan begitu banyak waktu di kepala mereka setidaknya bisa ingat untuk membeli susu dan kertas toilet. Namun pada kenyataannya, para pemikir yang mendalam cenderung begitu fokus pada perenungan mereka sehingga mereka menjadi cukup pelupa dari tugas-tugas dan tugas-tugas sehari-hari yang mudah atau sehari-hari.


7. Mereka selalu bersemangat untuk belajar.

Mempelajari sesuatu yang baru meningkatkan pemahaman pemikir mendalam tentang dunia pada level subjek atau item atau motor atau interaksi tersebut. Pemikir yang dalam adalah pembelajar yang tajam; jika tidak, di mana mereka akan mendapatkan minat mereka untuk meneliti dan merenungkan?


Anda dapat mempercayai pemikir yang mendalam untuk mendengarkan Anda dengan pikiran terbuka lebar.

Kamis, 11 Juni 2020

,

M. Q. Aynan

"Kamu beneran sayang sama saya?"
"Iya, terus?"
"Berapa liter air mata yang kamu rela alirkan demi saya?"
"Kok gitu pertanyaannya?"
"Memang gitu pertanyaannya. Kalau sayang sama saya, yang perlu kamu perlu pertimbangkan bukanlah berapa senyuman yang akan kamu keluarkan sebab saya, melainkan berapa liter air mata yang kamu rela alirkan demi saya. Air mata tidak selalu berarti kesedihan. Seringkali air mata berarti kekuatan karena kelemahan kadang berwujud pengabaian dan pelarian."

Apakah pembaca pernah menyaksikan fenomena yang berbeda satu sama lain? Misalnya, ada orang yang proses hubungannya cepat dan segera kepastiannya, sementara lainnya, prosesnya lambat dan tidak menentu kepastiannya? Misalnya lagi, ada yang lamaran dan akadnya dengan satu orang langsung, sementara yang lainnya, lamarannya awalnya dengan seseorang, lalu tiba-tiba ganti, setelah akad ganti orang lagi? Ada yang seperti itu?

Terdapat beberapa sudut pandang yang bisa digunakan dalam melihat fenomena tersebut. Sebelum saya lanjutkan, saya punya satu hipotesis bahwa hubungan interpersonal, apalagi antar lawan jenis yang bersifat istimewa, itu adalah sebuah seni dan bergantung pada penempatan waktu. Art based on timing. Karena itu, rentan ada keretakan, atau crack. Disinilah kemudian risikonya. Karena berisiko, maka seperti di atas tadi, pertanyaannya bukan seberapa senyumnya, melainkan seberapa air matanya. Sebab air mata adalah bentuk risiko.

Kembali kepada sudut pandang. Dalam ilmu pendidikan, ada pembahasan tentang evaluasi.  Evaluasi yang paling dikenal adalah tes baik lisan maupun tulis. Ada pula yang non-tes.

Evaluasi non-tes meliputi observasi, wawancara, penugasan, dan portofolio. Dalam tulisan ini hanya akan dibahas portofolio. Tiga lainnya mungkin di lain kesempatan saja. 

Penilaian portofolio merupakan suatu pendekatan atau model dalam penilaian kinerja, dalam konteks ini, calon mitra dalam jenjang hubungan selanjutnya. Tujuannya adalah untuk mengukur kemampuan si calon dalam membangun dan merefleksi suatu hubungan melalui pengumpulan bahan – bahan yang relevan dengan tujuan dan keinginan yang dibangun dalam hubungan sehingga hasil nantinya dapat dinilai apakah layak atau tidak.

Ada dua portofolio yaitu proses dan produk. Portofolio proses yaitu menunjukan kegiatan hubungan untuk mencapai semacam target dan sekumpulan indikator yang telah ditetapkan bersama dalam rencana serta menunjukan semua perkembangan dari awal sampai dengan akhir selama kurun waktu tertentu. Tentu saja kurun waktu tertentu, bukan digantung tanpa kepastian.

Sedangkan portofolio produk adalah menunjukan bukti konkret paling baik tanpa memperhatikan bagaimana dan kapan bukti tersebut diperoleh. Contoh portofolio produk adalah portofolio penampilan, misalnya kunjungan, dan portofolio dokumentasi, misalnya surat tertentu. 

Jadi, ada dua pilihan, mau yang berisiko tinggi atau momen yang tepat. Sebaiknya, perlu dipertimbangkan lagi air mata yang akan mengalir.
,
"Kalo sama aku, mau?"
"Saya pernah ditanya seperti itu. Begini, saya tidak ingin, saya mau. Ada tapi-nya."
"Tapi apa?"
"Saya minta pentunjuk dulu. Saya khawatir. Mengenai kekhawatiran itu, saya jadi ingat surat al-Ma'un."
"Apa hubungannya?"
"Kekhawatiran saya mungkin agak bisa tergambarkan. Kita hafal kan surat itu. Kalo dialihbahasakan ke kekhawatiran saya, pertama, saya khawatir termasuk orang yang yukadzdzibu biddin, yang mengkhianati komitmen. Siapakah ia? Yaitu orang yang yadu'ul yatim dan la yahudldlu 'ala tha'amil miskin. Saya menerjemahkan ini, orang menyakiti hati pribadi lainnya dengan lisannya, kurang peduli, terlebih jika pribadi lainnya itu sudah tidak punya tambatan hati lagi. Selain itu, berbuat sembarangan kepada pribadi lainnya itu dan kurang mempunyai kecukupan untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari si pribadi lainnya itu.
 Kalau yang pertama ini, saya pikir, saya tidak perlu terlalu khawatir ya. Yang kedua ini. Saya khawatir saya menjadi seorang yang lalai dalam hubungan istimewa ini. Yaitu kurang memenuhi ketentuannya, mengerjakannya di luar waktunya, bermalas-malasan, lalai akan tujuan pelaksanaanya, kurang tulus, dan ini lagi, saya khawatir kurang memberikan dukungan, masih ada peluang untuk mematahkan mimpimu."

"Saya juga dikasih surat Al-Baqarah ayat 286. Kan begini,

Lā yukallifullāhu nafsan illā wus'ahā, lahā mā kasabat wa 'alaihā maktasabat, rabbanā lā tu`ākhiżnā in nasīnā au akhṭa`nā, rabbanā wa lā taḥmil 'alainā iṣrang kamā ḥamaltahụ 'alallażīna ming qablinā, rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih, wa'fu 'annā, wagfir lanā, war-ḥamnā, anta maulānā fanṣurnā 'alal-qaumil-kāfirīn

Artinya, 
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".

Kalau dalam hubungan interpersonal istimewa antar lawan jenis mungkin jadi begini, 

Allah tidak akan menyatukan dua orang kecuali layak dan sanggup. Kemudahan bagi yang sanggup dan hambatan bagi yang tidak. Mohon kamu tidak menghukum saya jika lupa atau keliru. 

Di ayat itu kan rabbanā wa lā taḥmil 'alainā iṣrang kamā ḥamaltahụ 'alallażīna ming qablina. Aslinya kan umat sebelum kami. Kalo diterjemahkan jadi begini, mohon tidak membebankan saya sebagaimana engkau membebankan kepada mantan2mu. Maafkanlah saya, kasihilah saya. Kamu adalah penolong saya, dari orang2 yang ingkar."

Hiburan saja
,

M. Q. Aynan

Saya, sebagai teman, sudah seharusnya mendukung teman yang punya bisnis, paling tidak membuatnya bertahan, atau malah berkembang. Namanya teman, sebagai salah satu pihak terdekat, yang bahkan bisa jadi sudah kenal lama, wajar apabila saling bantu.

Saya punya kegelisahan pribadi terhadap fenomena pertemanan yang disadari atau tidak, secara perlahan justru tidak mendukung terhadap kebertahanan, apalagi perkembangan usaha atau bisnis seseorang. Makin banyak teman justru makin membuat khawatir, bukan malah menjadi peluang untuk mengembangkan bisnis. Saya pikir, itu berasal dari pola pikir yang kurang tepat hingga akhirnya memunculkan sikap yang kurang tepat pula.

Saya secara pribadi berusaha bersikap seperti ini jika ada teman yang punya usaha atau bisnis. Antara lain:

Pertama, Tidak ada yang gratis. Sekecil apapun pelayanan dan barangnya. Misalnya saya sedang buru-buru untuk desain selebaran, sementara saya masih kerepotan. Akhirnya saya minta tolong ke orang lain. Meski menurut orang lain mungkin desainnya "cuma begitu", sederhana sekali, tetap saya pikir harus ada rupiah yang keluar.

Kedua, Harga teman justru lebih mahal. Orang lain mungkin berpikiran bahwa harga teman itu lebih murah. Kalau itu dari sisi penjual atau pemilik jasa mungkin iya. Tapi dari sisi pembeli atau pelanggan, justru harga teman lebih mahal. Pola pikirnya, kalau kepada orang lain saja berani bayar, kepada teman bisa bayar lebih mahal.

Ketiga, Ada ongkos kirim meski dekat. Mengantarkan barang pastinya menghabiskan bahan bakar. Kalaupun dibilang tidak usah, paling tidak tetap membayar ongkos kirim meski cuma seribu rupiah.

Keempat, Tidak berutang. Kalau terpaksa berutang, saya minta teman saya untuk menagihnya. Kalau perlu, jika utangnya lima puluh ribu, saya bayarkan lima puluh satu ribu, sebagai tanda terimakasih, untuk tidak disebut bunga.

Kelima, Membeli untuk memuji. Wajar bila usaha atau bisnis, apalagi yang baru merintis, ada kekurangan. Tapi prinsipnya adalah, kritik secara pribadi, puji di depan umum. Kalau sedang berdua saja dengan si penjual atau pemilik jasa, saya tidak segan untuk berpendapat apa adanya. Tidak ada orang lain lagi. Kalau sedang bersama orang lain, maka saya berupaya untuk memuji, tapi tidak berlebihan.

Keenam, Harga pas. Saya meski bukan kepada teman, apalagi kepada teman, berupaya untuk tidak perlu mencari potongan harga. Saya juga malas kalau masih menawar harga. Lebih suka langsung berapa harga pasnya. 

Siapa tahu, sikap saya yang seperti itu bisa berkontribusi kepada teman untuk bertahan hidup, membayar tagihan listrik atau air, terlebih menjaga pertemanan agar awet.

Selasa, 02 Juni 2020

,
Wildan Reza Hamami

Weathering with you (2019) Setelah kimi no nawa dg sangat sukses menjual value nya dan terlegitimasi oleh hukum perwibuan internasional, makoto shinkai kembali muncul dg tenki no ko setelah 3 tahun. Bgmn jadinya jika hujan bertahun-tahun, musim panas tiada, matahari tdk mmberi pelukan hangat?, tema besar inilah yang menjadi magnet film ini, pun bumbu mitos2 kuno yg bertaburan di altar modern yg apa2 scientific first. Untuk scoring musik tetap ngandelin RADWIMPS yang memang mujarab, mbantu nge build up emosi, lewat vokal yoji noda yg genuine dan notasi nada syurgawi yang mungkin muncul satu dekade sekali. Dan yg paling mencuri atensi tentunya kemunculan taki kun dan mitsuha sbg cameo di bbrp scene. Keputusan tepat sebelum menonton ialah mendowngrade ekspektasi, ga berharap segemerlap kimi no nawa. Namun hasilnya diluar dugaan, meski mengenyampingkan kompleksitas ato kedalaman relasi antar tokoh, keunikan film ini tetep bisa terhubung dg cara yg makoto sinkai banget(sedikit bias).

#curhat,ulas,kesan