---Di mana pun adalah ruang kelas---

Senin, 19 Juli 2021

,

 



Seringkali, justru pertemuan yang meski tidak disengaja tapi tulus itu yang awet, bertahan lama. Saya baru sempat menulis surat ini setelah beberapa waktu ingin sekali menyimpan ingatan tentang perkenalan kita dari awal sampai sekarang.


Saya tertawa, lucu gimana gitu, saat ada yang bertanya, entah basa-basi atau memang penasaran ingin tahu, tentang mengapa saya sayang banget sama kamu. Tentunya jawaban awal dan paling sederhana karena kamu dari pertama sudah punya potensi daya tarik bagi saya, entah kesamaan, kemiripan, kedekatan, keakraban, kemampuan, dan timbal balik.


Dari latar belakang keluarga dan pendidikan, banyak persamaan antara kamu dengan saya. Secara intelektualitas misalnya, kamu punya tingkat kemiripan lebih dari lima puluh persen dengan saya. Itu semua membuat kita tak sulit untuk menemukan topik pembicaraan. Ada saja yang bisa kita bicarakan entah itu receh atau seperti bidang studi macam sejarah, pelajaran keagamaan, sains alam, atau lainnya. 


Kemudian potensi tadi dipupuk dengan komunikasi yang terbuka, hampir tanpa ada yang disembunyikan, hampir tak ada rasa sungkan. Lapar atau haus, tinggal bilang, mungkin bisa makan bareng entah beli atau masak. Uang habis, bisa saling pinjam atau kita cari pinjaman bareng. Betapapun rumit dan problematiknya, sampai kadang perlu untuk diam selama beberapa saat, ada waktu kemudian untuk berbagi keluh-kesah.  Jika ada yang keberatan dari salah satu pihak, bisa diselesaikan dengan penyampaian langsung, bukan malah curhat kepada orang lain. Sebab, mengetahui dari orangnya send masih lebih baik daripada tahu dari orang lain.


Pada perjalanannya, yang membuat perasaan itu menjadi sublim ialah, kita kemudian sama-sama menghendaki untuk menjadi dekat dan akrab satu sama lain. Itu hanya bisa dilakukan oleh kedua belah pihak, bukan hanya sepihak yang nantinya hanya searah. Kedekatan dan keakraban bukan karena momentum tertentu soal kepentingan tertentu pula, melainkan karena muatan manusiawi sebagai manusia, sebagai makhluk sosial. Jadi, tidak terkesan 'diambil butuhnya' saja.


Selain itu, ada satu yang membuat saya, mungkin kamu juga, hampir mustahil melupakan dan terlupakan adalah karena kamu, dengan kerelaan, sering berjuang bersama dan memperjuangkan sesuatu yang sama dengan apa yang saya perjuangkan. Walaupun mungkin ada beberapa yang kita tidak sependapat, tetapi alangkah baiknya lebih menaruh perhatian terhadap perhatian yang lebih besar dan lebih mendasar.


Apa lagi ya. Mungkin sementara itu dulu yang bisa saya tulis tentang ingatan perkenalan dan alasan mengapa saya sayang banget sama kamu. Entah sampai kapan kebersamaan kita. Entah sampai kapan kita dapat sering bertemu, sering bicara, sering melakukan sesuatu bersama. Ketika kita nanti sudah saling jauh secara jarak dan waktu, semoga yang telah berlalu tidak terlewatkan begitu saja. 


Satu lagi hampir lupa. Ada yang membuat saya sayang banget sama kamu, dan saya belum siap untuk berjauhan adalah, karena kamu sering memunculkan ungkapan, yang jarang sekali orang lain akan mengungkapkan, terutama ungkapan kecil seperti kebiasaan, gaya bicara, dan lainnya. Orang sering menyebutnya sebagai titen, berupa kepekaan terhadap tanda-tanda atau ciri-ciri khas yang muncul dari seseorang, dalam hal ini, saya. Itu adalah kumpulan pengamatan yang berulang-ulang. 


Yang saya sesalkan adalah, kamu peka sekali dengan ungkapan-ungkapan kecil dari saya, tapi saya tidak bisa melakukan sebaliknya. Akhirnya, saya akan mengungkapkan ini. Saya tahu kalau kamu mengetahui dan menyadari ungkapan ini. Tapi saya mau mengungkapkannya sekali lagi. Saya sayang banget sama kamu.


Sabtu, 10 Juli 2021

,


Pengembangan diri harus diusahakan. Selain untuk peningkatan kecakapan, pengembangan diri juga akan memberi seseorang kebermaknaan dalam berproses. Sehingga tahapan yang dilalui tidak bergerak begitu-begitu saja.


Banyak versi saran atau nasihat untuk melalui tahapan-tahapan itu. Salah satunya, nasihat 4 tahapan yang akan saya bagikan:


1. Di tahun pertama berproses, fokus belajar, fokus ikut kajian, kepada 1 senior yang dianggap layak dan patut dijadikan mentor. Jangan malas mengambil kesempatan dan menimba ilmu darinya. Jangan malas belajar, mencari tahu, atau bertanya. Berproses tidak hanya berarti ikut acara formal atau seremonial. Manfaatkan baik-baik untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman darinya. Karena nanti setelah seseorang memasuki tahun berikutnya, waktu yang dimiliki untuk belajar tentunya tidak sebanyak saat seseorang masih belum terlibat di kepanitiaan. Saat seseorang di tahun pertama ini sering bertemu dengan orang yang lebih tua secara umur dan lebih senior secara pengalaman, ia jadi punya pandangan yang berbeda dari kebanyakan orang yang seumuran.


2. Di tahun kedua, pengalaman di kepanitiaan adalah kesempatan besar. Terlibat di kepanitiaan bisa dipertimbangkan sebelum menjadi pengurus. Setelah menimba banyak pengetahuan di tahun pertama, tahun kedua adalah masanya untuk mempraktikkan pengetahuan yang didapatkan sebelumnya, sambil sekaligus juga menambah pengetahuan dari sumber-sumber lainnya. Cobalah banyak hal. Tidak perlu khawatir berbuat kesalahan teknis. Membuat kesalahan tak jadi masalah karena seseorang di tahun kedua biasanya belum terlalu dianggap senior.


3. Di tahun ketiga, berlatih berpikir strategis dan mengambil keputusan. Setelah dua tahun berproses dengan bimbingan, pendampingan, dan arahan orang yang lebih senior, bekal seseorang sudah cukup banyak. Kondisi psikologis seseorang juga jauh lebih matang, apalagi setelah mengalami berbagai dinamika.


4. Di tahun keempat, biasanya seseorang sudah dianggap senior, hampir menjadi seperti sesepuh. Tidak perlu mencoba-coba hal baru, bukan waktunya eksplorasi. Membangun persepsi dan menjaga reputasi tidaklah mudah. Daripada mencari nama baru, lebih baik menjaga nama baik yang sudah ada. Tidak ada waktu untuk memulai dari awal lagi.



Setelah semuanya, di tahun kelima, seseorang bisa saja sudah lulus atau masih belum lulus. Bagaimanapun, seseorang di tahun kelima itu sudah renta. Saatnya memberi layar dan panggung kepada yang lebih muda, biarlah di tahun kelima cukup memberikan konsultasi saja.


Wariskan saja pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, dan mendukung gagasan-gagasan cemerlang yang junior itu programkan. Di tahun kelima sudah bukan lagi waktunya untuk memikirkan proses pribadi atau mengubah situasi dan kondisi. 


Keberhasilan dalam berproses tidak muncul dalam waktu sebentar. Semoga terinspirasi. 

,

 


Saya barusan, di tengah obrolan ringan, tiba-tiba sampai kepada obrolan tentang sebagian orang yang tidak bertahan (atau tidak dipertahankan) dalam sebuah organisasi, padahal, mereka dinilai berpotensi, bahkan sangat memiliki potensi. Terlepas dari dinamika organisasi dan persaingan antar individu, banyak faktor, banyak variabel, yang menyebabkan tidak bertahannya sebagian orang tersebut. Salah satunya yang paling saya ingat adalah soal kerjasama tim.


Sebagian orang yang berpotensi, entah secara intelektual yang dapat diamati setidaknya dari bagaimana mereka berpendapat dan mengajukan argumentasi, atau berpotensi karena mereka terlibat aktif dalam setiap kegiatan, tentu memiliki daya tarik tersendiri bagi orang lain. Daya tarik itu sekaligus menjadi semacam daya tawar mereka, untuk nantinya memainkan peran dan fungsi dalam organisasi. Akan tetapi, entah sebelum distribusi atau penempatan, atau di tengah jalan, sebagian dari mereka justru dianggap sebagai pihak yang menghambat kinerja organisasi.


Dalam perspektif kerjasama tim, fenomena tersebut, berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi saya, bukan karena mereka kurang membaca, kurang pintar, kurang cerdas, atau kekurangan intrapersonal mereka, yang hanya berkaitan dengan diri mereka sendiri, melainkan yang berkaitan dengan interpersonal, dengan orang lain. Sebab, berorganisasi berarti tidak hanya tentang pribadi, tetapi juga persoalan bersama.


Ada sebagian orang yang memiliki potensi, cerdas, aktif berpartisipasi. Di sisi lain, mereka independen, teguh memegang prinsip. Bahkan, tak jarang, terlalu independen dan terlalu teguh memegang prinsip. Padahal, seringkali berorganisasi bukan persoalan yang sifatnya independen pribadi, melainkan kolektif bersama, bukan sifatnya prinsipil, melainkan strategis.


Selain itu, dalam berorganisasi, tidaklah sempurna jika seseorang itu konseptor murni tanpa potensi eksekutor, atau eksekutor murni tanpa potensi konseptor. Perlu sama-sama dimiliki potensi keduanya meski tentu saja biasanya lebih dominan salah satunya. Sebab, eksekutor murni tanpa potensi konseptor hanya akan memiliki daya gertak tanpa antisipasi jangka panjang. Konseptor murni tanpa potensi eksekutor hanya akan fokus membangun tanpa pelaksanaan langkah nyata.


Karena berorganisasi seringkali berhadapan dengan yang sifatnya bukan prinsipil melainkan strategis, maka butuh kalkulasi konkret kerjasama tim melalui koordinasi. Di sinilah celah dari sebagian orang yang entah tidak mampu bertahan atau tidak bisa dipertahankan. Bahkan jika itu terjadi pada saya sendiri. Beda soal ketika bicara setelah selesai periode apakah akan melanjutkan atau berhenti di titik tertentu. Ini konteksnya adalah sebelum pemfungsian atau di tengah jalan.


Seseorang yang tidak bisa diatur, hampir mustahil bisa mengatur. Seseorang yang tidak bisa diperintah, hampir mustahil bisa memerintah. Seseorang yang tidak bisa diajari, hampir mustahil bisa mengajari. Yang terbiasa disiplin tidak akan betah dengan yang maunya membangkang. Namanya struktur atau hierarki, bukan tanggungjawab dan atas nama pribadi, melainkan tanggungjawab dan atas nama bersama. Meski dilema dan berat hati, tentu akhirnya melepaskan yang membangkang dan mempertahankan yang disiplin. Kepentingan internal bersama lebih diutamakan daripada kepentingan independensi pribadi.

Rabu, 07 Juli 2021

,

Kepada Junior Kami,

Seorang berbintang Libra


Dik, sekarang saya mau cerita perjalanan kami. Barusan kamu nyinggung soal Libra, kebetulan suami saya Libra. Jadi, bisa dibilang, saya istri dari seorang Libra.


Pertama kali saya kenal dengan suami saya, saya sudah sadar kalau suami saya itu beda banget dari orang lain, dari teman-temannya, bahkan dari semua laki-laki yang pernah saya kenal.


Waktu itu, alat komunikasi tidak secanggih sekarang. Jadi, kami bisa komunikasi, bisa ngobrol, paling bisa itu lewat ketemu langsung. Ketemu saja susah. Jadi, kami tidak sesering orang lain ketemunya. Lebih jarang.


Bahkan mungkin, seandainya kami di jaman ini masih muda, mungkin kami akan tetap jarang komunikasi satu sama lain, tidak se-intens orang lain. Sekarang saja, belum tentu dalam satu hari kami saling kirim pesan. 


Suami saya itu sering bepergian, sering menghilang. Saya tidak tau persisnya apa yang suami saya kerjakan. Tapi, saya sama sekali tidak merasa bahwa saya, yang disebut oleh anak sekarang sebagai di-ghost-ing. Sama sekali tidak. Karena memang, dari awal saya sudah sadar dan siap hidup bersamanya. Kami juga saling percaya satu sama lain.


Dia sering mengorbankan waktu bertemu orang-orang yang dia disayangi, terutama keluarganya sendiri, demi melakukan pekerjaan yang belum tentu bisa dilakukan orang lain. Namanya juga orangnya beda dari orang kebanyakan, mungkin pekerjaannya juga beda dari pekerjaan orang kebanyakan. Pekerjaan istimewa bagi orang istimewa. Mungkin sejenis itu.


Pergi sering tanpa pamit, pulangnya juga belum tentu bisa dipastikan kapan. Tidak hanya satu atau dua hari, bisa seminggu atau bahkan paling lama sebulan tidak ada kabar. Waktunya tidak ketemu kapan. Tempat atau lokasinya juga tidak ada pemberitahuan dimana. Bisa dalam satu kabupaten, luar kota, atau bahkan luar provinsi, luar pulau.


Tapi saya yakin, ia sangat ingin bisa sering berkumpul bersama kami, keluarganya. Ketika dia berkumpul bersama kami, dia jarang bicara dengan anak-anaknya. Dia memang jarang bicara kepada orang lain, hanya seperlunya saja. Hanya kepada saya, dia membahas tentang apa saja, kecuali pekerjaannya.


Intinya, kata-kata terakhir yang bisa saya tulis dalam surat ini adalah, bahwa kehidupan dua orang tidak semua bisa bertemu setiap hari. Ada, bahkan mungkin banyak, sebagian orang yang tidak setiap hari bisa bertemu. Hidup mereka seperti dilalui dengan gemuruh. Gemuruh yang berkecamuk, seringkali menyisakan perasaan ganjil yang mengganjal. Walaupun demikian, jangan pernah melepaskan mereka yang tinggal bersamamu, yang setia bertahan.

Senin, 05 Juli 2021

,

 Kepada

Yts.

Salam ruang



Kepergian seseorang seringkali tanpa rencana. Seseorang tidak jarang pergi secara tiba-tiba Kepergian seseorang juga seringkali bukan kemauan sendiri. Seseorang acapkali pergi sebab dituntut keadaan. Saya sadar akag hal itu, tetapi sulit betul-betul menerimanya. Saya masih terkejut dengan itu


Terlebih kepergianmu. Entah kamu pergi atau sekedar jauh. Pokoknya, saya merasa kehilangan. Kenapa jika memang saya akan kehilanganmu, saya enggan saja dulu untuk kenal kamu. Atau, kamu yang tidak perlu menanggapi saya. Kalau sudah begini, saya jadi lunglai. Tekanan darah rasanya menurun.


Kalau dipikir-pikir, masih lebih baik kita saling kenal, bahkan pernah akrab, pernah dekat. Kalau tidak begitu, kita tidak mungkin saling belajar. Sudah telanjur banyak pelajaran yang saya ambil dari kamu. Sudah telanjur banyak kamu mengisi pikiran saya, mau itu disebut kognisi atau sebentuk memori.


Apalagi, perasaan dan kesan saya sudah terlalu dalam Timbunan makna sudah sangat bertumpuk untuk diangkut. Emosi saya, jika di depan kamu atau banyak orang, akan mengambil rupa tawa. Kita mungkin, entah pada dasarnya begitu atau mendadak, menjadi sangat humoris, entah humor berat, humor gelap, atau humor receh.


Berbeda jika situasinya hening, di malam hari, dan di suatu ruangan. Sunyi gelap, dan sepi, membangun emosi menjadi menara, yang mengalirkan air sehingga pipi menjadi mirip tanah lapang saat habis turun hujan. Kenangan menggenanginya. Masih saja belum siap menerima. Ditambah, genangan kenangan itu seakan mengalir ke sungai, hanyut bersama bayangan tentang kamu.


Tidak ada, bukan, kehilangan itu indah. Kehilangan tentulah luka. Memang cepat atau lambat, tiap orang akan merasakan kehilangan. Itu soal waktu. Hanya saja, saya belum siap kalau kehilangan kamu sekarang. Seperti apapun luka itu, saya masih ada rasa syukur, pernah dititipi, pernah dipanggil, pernah ditugasi, untuk jaga kamu. Sekarang mungkin adalah semacam momen pindah tugas.

Sabtu, 03 Juli 2021

,

 Kepada

Yth.

Mantan Tunanganku


Aku kadang dihampiri kalimat tanya, baik tentangku maupun tentangmu. Kalimat tanya itu adalah, mengapa aku bisa penasaran, tertarik, hingga selanjutnya aku memutuskan untuk melanjutkannya ke jenjang yang lebih serius. Begitu pula sebaliknya, apa yang membuat kau bisa merelakan dirimu untuk menerimaku.


Aku masih ingat bahwa salah satu busana kesukaannmu, yang sering kamu kenakan adalah kerudung berwarna coklat pastel. Orangnya sudah manis, ditambah dengan kerudung yang tampak rasanya manis, seperti es krim saja. Bisa dibayangkan kamu itu seperti es krim, apalagi ditambah dengan campuran vanilla dan keju.


Tapi itu dulu. Sekarang tidak lagi sama. Entah esok, atau lusa, atau kapan di masa depan. Apakah kita bisa kembali menjadi sepasang kekasih yang diikat oleh suatu hubungan, tidak hanya menghubungkan kita berdua saja, tetapi juga menghubungkan keluarga kita. Atau kita masing-masing menemukan pengganti. Aku menemukan penggantimu, kau menemukan penggantiku.


Jika kita tak bisa lagi bersama, tak perlu ada penyesalan yang berlebih. Bagaimanapun, kita pernah saling memilih dan saling menerima. Itu artinya, sudah banyak yang dilalui bersama. Sudah banyak pula kebersamaan, entah itu sekedar berbagi cerita lelahnya berkegiatan, ataupun bertukar pendapat mengenai urusan yang menjadi hajat orang banyak.


Aku banyak belajar darimu, mungkin kamu juga banyak belajar dariku, salah satunya tentang menghadapi banyak orang. Setelah pertunangan kita batal, aku fokus pada kehidupan akademikku, profesiku, serta pengabdian sosialku terutama soal anak-anak dan perempuan, dan bisa dikatakan jejakmu masih bisa ku lihat dan ku dengar di dalam tema kesejahteraan sosial. Semoga aku bisa tetap berkomitmen penuh dalam tema itu, meskipun tanpa kamu.


Kini, kita tak lagi bersama, sampai terasa seperti orang asing. Padahal sebelum ini, kita termasuk orang-orang yang paling dekat satu sama lain. Tertawa bersama sambil saling melempar candaan. Ingatan tentangmu mungkin tak akan pernah sepenuhnya hilang. Bagaimanapun, kamu adalah salah satu orang yang paling membentukku menjadi seperti sekarang. Bagaimanapun selanjutnya, semoga yang terbaik untuk kita.