---Di mana pun adalah ruang kelas---

Selasa, 12 Juni 2018

Belum Tentu Pemikiran Terdalam


Oleh: M. Q. Aynan

Sebelum lebih jauh, saya ingin memperingatkan kalau tulisan ini mungkin tidak sistematis. Saya ingin memulai dengan perjalanan saya tanggal 27 Ramadan 1439 Hijriah yang bertepatan tanggal 11 Juni 2018 Masehi. Malam tadi saya menghadiri acara buka bersama dengan teman-teman semasa SD.  Meski tidak sampai sepuluh orang yang datang, saya senang sekali bisa bertemu apalagi hanya setahun sekali. Saya tidak mau ketinggalan. Tentu banyak yang diobrolkan . Salah satu obrolan pada saat itu berhasil membuat saya berpikir bagaimana masa depan para penulis.

Setelah dari sana, saya menghadiri acara salat malam karena diajak oleh bapak saya. Singkatnya, ada obrolan tentang sineas. Jika ingin menjadi sineas kira-kira lebih memilih membuat film atau sinetron. Beberapa orang menjawab bahwa mereka tidak suka terhadap sinetron. Di sisi lain, sangat mungkin tergiur membuat sinetron karena profitnya lebih menjanjikan. Himpitan ekonomi seringkali menjadi alasan utama dalam berkarya. Apalagi jika sudah berkeluarga, pastinya harus menghidupi anak dan istri. Idealisme bisa saja runtuh.

Saya juga jadi teringat beberapa guru saya di pesantren. Mereka terkadang dianggap nyeleneh atau malah menyimpang, padahal menurut saya, murid mereka sendiri, tidak ada yang aneh. Beberapa guru saya tersebut terampil dalam membaca kitab. Tentunya tidak akan sembarangan mengeluarkan pendapat. Yang menganggap nyeleneh seringkali mendengar obrolan kami sepotong-sepotong. Kalau mendengar secara utuh, justru kesimpulannya akan sama seperti apa yang diajarkan di pesantren pada umumnya. Kemungkinan lainnya adalah beberapa guru saya bermaksud merangsang atau mengusik orang lain agar tercipta dialog untuk mengembangkan pemikiran.

Itu semua bisa terjadi pada siapa saja, termasuk para tokoh. Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid adalah dua di antara orang-orang yang merupakan ikon pemikiran Islam di Indonesia. Bagi sebagian orang, keduanya merupakan tokoh kontroversial. Bagi sebagian lainnya, keduanya sering disalahpahami. Saya curiga, jangan-jangan tulisan Cak Nur dan Gus Dur tidak semuanya mencerminkan pemikiran keduanya. Bisa saja beberapa yang mereka tulis dimaksudkan untuk "mengusik" orang lain agar tergerak untuk berpikir. Saya juga kaget di suatu video haul Cak Nur , Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun mengatakan bahwa Cak Nur itu sebenarnya Nahdliyyin, padahal orang-orang menganggap bahwa Cak Nur Masyumi. Akan butuh waktu yang panjang untuk menyelaminya.

Dari obrolan itu semua bisa disimpulkan bahwa terkadang karya seseorang sangat bertolak belakang dengan idealismenya. Seringkali juga tidak sepenuhnya sama dengan pemikiran terdalamnya. Inginnya begini, karena ada alasan lain, dipaksa keadaan, kemudian jadi begitu. Mungkin begitu juga dengan para penulis. Yang mereka tulis belum tentu renjana mereka, namun karena mempertimbangkan audiens, atau bermaksud "mengusik" agar orang lain turut berpikir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar