---Di mana pun adalah ruang kelas---

Jumat, 01 Mei 2026

,

Selera Saya Soal Puisi

Ada saatnya saya menyadari bahwa selera bukanlah sesuatu yang sederhana. Ia bukan sekadar “suka” atau “tidak suka”, bukan pula preferensi spontan yang berdiri sendiri. Selera, khususnya dalam puisi, adalah jaringan halus—terdiri dari cara berpikir, cara merasa, cara memahami manusia, bahkan cara saya memaknai keberadaan itu sendiri. Dan anehnya, saya mulai memahaminya ketika menyadari mengapa saya begitu tertarik pada puisi-puisi dari para penyair tertentu, tapi kurang tertarik pada lainnya.

Awalnya, saya hanya merasa bahwa puisi-puisi tersebut “kena”. Ada sesuatu yang pas—tidak terlalu rumit, tetapi juga tidak dangkal. Tidak terlalu terang, tetapi juga tidak gelap. Namun semakin saya menelusuri rasa itu, semakin saya sadar bahwa yang saya sukai bukan hanya gaya mereka, melainkan struktur pengalaman yang mereka tawarkan.

Dalam hal kognitif, saya tidak tertarik pada kompleksitas yang kosong. Saya tidak mencari puisi yang sekadar sulit dipahami, seolah kesulitan itu sendiri adalah nilai. Sebaliknya, saya tertarik pada makna yang berlapis—yang sederhana di permukaan, tetapi dalam di dasar. Puisi yang bisa dibaca sekali untuk dirasakan, lalu dibaca ulang untuk dipahami, dan dibaca lagi untuk direnungkan.

Saya juga menyukai ketegangan makna. Puisi yang terlalu jelas terasa cepat selesai, sementara yang terlalu gelap kehilangan pijakan. Yang saya cari adalah wilayah di antaranya: cukup jelas untuk disentuh, cukup samar untuk dikejar. Dalam ruang itu, saya tidak hanya membaca, tetapi ikut membangun makna.

Secara emosional, selera saya bergerak dalam spektrum yang tenang. Saya tidak mencari euforia yang meledak-ledak, juga tidak tertarik pada kesedihan yang menghancurkan. Yang saya sukai adalah emosi yang telah “diproses”: rindu yang sadar diri, luka yang tidak lagi berteriak, cinta yang tidak perlu membuktikan apa-apa. Ada kehangatan, tetapi juga jarak reflektif yang membuatnya matang.

Saya tertarik pada intensitas yang terkendali—emosi yang tetap kuat tanpa kehilangan bentuk. Ia tidak liar, tetapi juga tidak kaku. Ia mengalir, dan justru karena itu terasa lebih dalam.

Dalam hal naratif, saya tidak membutuhkan cerita yang lengkap. Saya tidak selalu memerlukan awal, tengah, dan akhir yang jelas. Saya lebih tertarik pada fragmen—satu momen, satu keadaan batin, satu perjumpaan yang tidak selesai. Puisi bagi saya bukan tempat untuk mengetahui apa yang terjadi, tetapi untuk merasakan apa yang sedang terjadi.

Fragmen itu hampir selalu berbentuk relasi. Ada “aku” dan “kamu”. Ada kedekatan yang intim, meskipun tidak dijelaskan secara rinci. “Kamu” bisa berarti banyak hal: seseorang yang dicintai, masa lalu, dunia, bahkan sesuatu yang lebih transenden. Ambiguitas itu tidak mengganggu—justru membuka kemungkinan.

Dalam bahasa, saya menemukan kecenderungan yang cukup jelas: saya menyukai kesederhanaan yang elegan. Bukan bahasa yang terlalu kasual, tetapi juga bukan yang terlalu akademik. Ada kejernihan, tetapi juga ada rasa yang mengendap di dalamnya. Kata-kata tidak berusaha mengesankan, tetapi tetap meninggalkan jejak.

Metafora, bagi saya, bukan hiasan. Ia harus bekerja—membuka sesuatu, bukan sekadar memperindah permukaan. Saya tidak tertarik pada metafora yang hanya “cantik”, tetapi pada metafora yang membuat sesuatu yang samar menjadi terasa.

Lalu, di lapisan yang lebih dalam—lapisan eksistensial—saya menyadari bahwa yang saya cari bukanlah jawaban. Saya tidak membaca puisi untuk menemukan kepastian, tetapi untuk mengalami pemahaman. Ada kenyamanan dalam ketidakselesaian. Ada ketenangan dalam teks yang tidak benar-benar menutup dirinya.

Puisi yang saya sukai biasanya berakhir tanpa benar-benar berakhir. Ia meninggalkan ruang. Dan di ruang itulah, saya tinggal lebih lama daripada di kata-kata itu sendiri.

Dalam lapisan ideologis, saya tidak alergi terhadap gagasan besar, tetapi saya tidak menyukai cara penyampaiannya yang memaksa. Saya tidak ingin diyakinkan melalui pernyataan langsung. Saya lebih tertarik pada ide yang hadir sebagai pengalaman, sebagai rasa, sebagai sesuatu yang perlahan saya sadari sendiri.

Mungkin karena itu saya cenderung pada pendekatan yang reflektif, bukan dogmatis. Saya ingin berpikir bersama teks, bukan diperintah oleh teks.

Namun ada satu lapisan lain yang mungkin bisa saja tidak tercium bagi orang lain: latar belakang geopolitik.

Pada titik ini, saya melihat bahwa ketertarikan saya pada Nizar Qabbani dan Pablo Neruda, misalnya, bukan hanya karena gaya bahasa atau kedalaman emosi, tetapi juga karena mereka menulis dari dunia yang sedang bergejolak.

Qabbani lahir dan menulis dalam konteks Timur Tengah—ruang yang penuh ketegangan antara tradisi dan modernitas, antara kekuasaan politik dan kebebasan individu. Puisi cintanya tidak pernah benar-benar netral; ia membawa gema perjuangan melawan patriarki, kritik terhadap stagnasi sosial, dan kekecewaan terhadap realitas politik Arab, terutama setelah peristiwa seperti Perang Enam Hari. Bahkan ketika ia menulis tentang perempuan atau tubuh, yang bekerja di baliknya bukan hanya estetika, tetapi juga keberpihakan.

Sementara itu, Neruda menulis dari lanskap Amerika Latin—wilayah yang sarat sejarah kolonialisme, eksploitasi, dan pergulatan ideologi. Keterlibatannya dalam politik kiri, posisinya sebagai senator, serta keterlibatannya dalam peristiwa seperti Perang Saudara Spanyol, menjadikan puisinya tidak bisa dilepaskan dari kesadaran sejarah. Bahkan dalam puisi cintanya yang paling lirih, terasa ada bayang-bayang dunia yang lebih luas—ketidakadilan, perjuangan, dan solidaritas.

Di sini saya menyadari bahwa keduanya berbagi sesuatu yang sama: mereka menulis dari wilayah yang tidak pernah benar-benar tenang. Dunia mereka bukan dunia yang selesai, tetapi dunia yang terus bernegosiasi dengan luka, kekuasaan, dan harapan.

Barangkali inilah yang secara tidak sadar menarik saya.

Saya tidak hanya menyukai puisi yang indah, tetapi puisi yang lahir dari ketegangan nyata. Puisi yang tidak hanya berbicara tentang perasaan, tetapi juga membawa jejak sejarah. Puisi yang, meskipun berbicara secara personal, tetap terhubung dengan dunia yang lebih besar.

Ini bukan berarti saya mencari puisi yang politis secara eksplisit. Justru sebaliknya: saya tertarik pada puisi di mana geopolitik tidak hadir sebagai slogan, tetapi sebagai atmosfer. Ia tidak selalu terlihat, tetapi terasa.

Dan mungkin di situlah letak kedalaman yang saya cari—
bahwa di balik satu baris tentang cinta,
ada dunia yang sedang berjuang untuk menemukan bentuknya sendiri.

Jika semua ini diringkas, maka selera saya bukanlah soal estetika semata, melainkan soal cara mengalami. Saya menyukai karya yang:

  • memberi pengalaman, bukan sekadar informasi,

  • mengajak, bukan memaksa,

  • membuka, bukan menutup,

  • dan menghadirkan keseimbangan antara kejelasan dan kedalaman.

Saya menyukai sesuatu yang bisa saya pahami perlahan, rasakan dalam, dan tidak pernah benar-benar selesai.

Maka, ketika saya kembali pada puisi-puisi yang saya sukai, saya mulai memahami bahwa ketertarikan itu bukan kebetulan. Ia adalah refleksi dari cara saya sendiri berada di dunia.

Saya tidak hanya membaca puisi.

Saya mencari cara untuk:

  • memahami tanpa menyederhanakan,

  • merasakan tanpa kehilangan bentuk,

  • dan hidup tanpa harus selalu selesai.

Dan mungkin, di situlah letak sebenarnya dari selera saya soal puisi—
bukan pada apa yang saya baca,
tetapi pada bagaimana saya ingin mengalami kehidupan itu sendiri.

,

Nizar Qabbani dan Pablo Neruda adalah termasuk penyair favorit saya, dan mereka adalah diplomat

Ada hal-hal dalam hidup yang kita sukai tanpa pernah benar-benar tahu mengapa. Ia hadir bukan sebagai keputusan rasional, melainkan sebagai semacam pengakuan diam-diam dari dalam diri. Demikian pula dengan kecenderungan saya pada puisi-puisi Nizar Qabbani dan Pablo Neruda. Pada awalnya, ketertarikan itu terasa sederhana: kata-kata mereka indah, emosinya kuat, dan puisinya mudah diingat. Namun semakin direnungkan, semakin terasa bahwa kesukaan ini tidak sesederhana itu. Ada lapisan-lapisan yang bekerja—sebagian tampak, sebagian tersembunyi.

Yang menarik, keduanya bukan hanya penyair. Mereka adalah diplomat. Dan justru di titik inilah, sesuatu yang tampaknya tidak berhubungan—puisi dan diplomasi—bertemu dalam cara yang sangat halus namun menentukan.


Sebagai diplomat, mereka hidup di antara dunia-dunia. Mereka menyaksikan perbedaan budaya, bahasa, dan cara manusia memaknai kehidupan. Mereka tidak hanya melihat cinta sebagai pengalaman personal, tetapi sebagai fenomena yang berubah-ubah tergantung ruang dan waktu. Mungkin di sinilah salah satu akar kekuatan puisi mereka: cinta tidak lagi menjadi sempit, tetapi meluas tanpa kehilangan kedalaman.

Pada Nizar Qabbani, pengalaman itu menjelma menjadi keberanian. Ia menulis cinta dengan bahasa yang terang, langsung, bahkan terkadang seperti menantang. Namun di balik keterusterangan itu, ada sesuatu yang lebih dalam: sebuah sikap ideologis yang memperjuangkan kebebasan, terutama dalam hal perempuan, tubuh, dan perasaan. Ia tidak sekadar menulis tentang cinta; ia menulis tentang hak untuk mencintai secara bebas. Maka, ketika ia berbicara tentang perempuan, sebenarnya ia sedang menggugat struktur sosial yang membatasi.

Sebaliknya, Pablo Neruda menempuh jalan yang berbeda. Ia tidak menyerang secara langsung, tetapi mengalir. Puisinya seperti lanskap: luas, simbolik, dan penuh gema. Alam menjadi bahasa, malam menjadi ruang kontemplasi, dan cinta menjadi sesuatu yang lebih besar dari sekadar relasi dua individu. Dalam dirinya, pengalaman sebagai diplomat—yang juga bersentuhan dengan politik dan sejarah—tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga memperdalam kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari arus yang lebih besar. Maka, cinta dalam puisinya sering terasa seperti bagian dari semesta, bukan hanya pengalaman pribadi.


Di sinilah terlihat bahwa diplomasi tidak sekadar profesi, melainkan latihan kepekaan. Seorang diplomat harus memahami konteks, memilih kata dengan hati-hati, dan menyampaikan maksud tanpa selalu mengatakannya secara langsung. Keterampilan ini, ketika dibawa ke dalam puisi, melahirkan dua gaya yang berbeda namun sama kuatnya.

Qabbani menjadi penyair yang retoris—bahasanya terasa seperti pidato cinta yang menggugah. Ia persuasif, komunikatif, dan dekat dengan pembaca. Sementara Neruda menjadi penyair yang kontemplatif—bahasanya berlapis, simbolik, dan sering kali ambigu. Ia tidak selalu ingin dimengerti secara langsung; ia ingin dirasakan.

Namun, di balik perbedaan itu, ada kesamaan mendasar: keduanya sadar bahwa kata-kata bukan sekadar alat, tetapi kekuatan. Kata-kata bisa membebaskan, bisa menyembuhkan, bisa juga mengguncang.


Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah perjuangan ideologis mereka terasa dalam puisi?

Jawabannya: ya, tetapi dengan cara yang berbeda.

Pada Qabbani, ideologi sering hadir sebagai kritik sosial yang jelas. Dalam puisi seperti Bread, Hashish and Moon, ia menggambarkan masyarakat yang terjebak dalam ilusi—antara kebutuhan dasar, pelarian semu, dan romantisme kosong. Simbol-simbol yang biasanya indah dibalik menjadi alat kritik. Bulan, yang dalam tradisi sering melambangkan keindahan, justru menjadi simbol eskapisme. Di sini, puisi menjadi semacam gugatan: terhadap stagnasi, terhadap kesadaran yang lumpuh, terhadap ketidakmampuan untuk berubah.

Pada Neruda, ideologi tidak selalu tampak di permukaan, tetapi tetap bekerja. Dalam puisi seperti Tonight I Can Write the Saddest Lines, yang tampak sebagai puisi cinta sederhana, terdapat kesadaran yang lebih luas. Subjek “aku” tidak stabil; ia mencintai, meragukan, dan melepaskan dalam satu tarikan napas. Alam tidak sekadar latar, tetapi turut “berbicara”. Ada kesan bahwa pengalaman pribadi tidak pernah benar-benar terpisah dari arus waktu dan semesta. Ideologi di sini bukan berupa slogan, melainkan cara memandang realitas.


Namun, jika semua itu adalah alasan yang bisa dijelaskan, ada pula alasan yang tidak disadari.

Barangkali saya menyukai mereka karena mereka mengatakan apa yang tidak bisa saya katakan. Ada perasaan-perasaan yang terlalu halus untuk dirumuskan, terlalu jujur untuk diucapkan secara langsung. Ketika membaca mereka, muncul sensasi seolah-olah sesuatu dalam diri saya akhirnya menemukan bahasa.

Barangkali juga karena mereka memberi izin untuk merasa. Dalam kehidupan yang sering menuntut rasionalitas, kekuatan, dan kontrol, puisi mereka membuka ruang lain: ruang di mana kerinduan tidak perlu dijelaskan, di mana luka tidak perlu dibela, di mana cinta tidak perlu disederhanakan.

Atau mungkin karena mereka menghadirkan keseimbangan yang jarang: antara kekuatan dan kelembutan, antara keberanian dan keheningan. Qabbani dengan keberaniannya yang terang, Neruda dengan kedalamannya yang sunyi—keduanya, tanpa disadari, menyentuh dua sisi dalam diri yang sering terpisah.

Ada pula kemungkinan bahwa ritme puisi mereka selaras dengan ritme batin manusia. Pengulangan, jeda, dan aliran emosinya seperti mengikuti detak jantung atau gelombang pikiran. Maka, membaca mereka bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga pengalaman fisik—sesuatu yang dirasakan, bukan sekadar dipahami.

Dan mungkin yang paling dalam: puisi mereka memungkinkan kita memproyeksikan diri. Karena tidak selalu spesifik, tidak terlalu terikat pada detail, kita mengisi sendiri ruang-ruang kosong itu dengan pengalaman pribadi. Akibatnya, puisi mereka terasa sangat personal, seolah-olah ditulis khusus untuk kita.


Pada akhirnya, menyukai Qabbani dan Neruda bukan hanya tentang menyukai dua penyair besar. Ia adalah pertemuan antara teks dan diri, antara kata dan pengalaman, antara yang diucapkan dan yang selama ini terpendam.

Mereka adalah diplomat yang terbiasa berbicara dengan batasan, tetapi dalam puisi, mereka berbicara dengan kebebasan. Mungkin justru karena itulah puisi mereka terasa begitu jujur—karena ia lahir dari seseorang yang tahu bagaimana rasanya tidak bisa sepenuhnya berkata-kata.

Dan mungkin juga, tanpa sepenuhnya saya sadari, saya menyukai mereka bukan hanya karena siapa mereka—tetapi karena melalui mereka, saya menemukan sesuatu tentang diri saya sendiri.

Sesuatu yang selama ini ada, tetapi belum pernah benar-benar diberi nama.