Selera Saya Soal Puisi
Ada saatnya saya menyadari bahwa selera bukanlah sesuatu yang sederhana. Ia bukan sekadar “suka” atau “tidak suka”, bukan pula preferensi spontan yang berdiri sendiri. Selera, khususnya dalam puisi, adalah jaringan halus—terdiri dari cara berpikir, cara merasa, cara memahami manusia, bahkan cara saya memaknai keberadaan itu sendiri. Dan anehnya, saya mulai memahaminya ketika menyadari mengapa saya begitu tertarik pada puisi-puisi dari para penyair tertentu, tapi kurang tertarik pada lainnya.
Awalnya, saya hanya merasa bahwa puisi-puisi tersebut “kena”. Ada sesuatu yang pas—tidak terlalu rumit, tetapi juga tidak dangkal. Tidak terlalu terang, tetapi juga tidak gelap. Namun semakin saya menelusuri rasa itu, semakin saya sadar bahwa yang saya sukai bukan hanya gaya mereka, melainkan struktur pengalaman yang mereka tawarkan.
Dalam hal kognitif, saya tidak tertarik pada kompleksitas yang kosong. Saya tidak mencari puisi yang sekadar sulit dipahami, seolah kesulitan itu sendiri adalah nilai. Sebaliknya, saya tertarik pada makna yang berlapis—yang sederhana di permukaan, tetapi dalam di dasar. Puisi yang bisa dibaca sekali untuk dirasakan, lalu dibaca ulang untuk dipahami, dan dibaca lagi untuk direnungkan.
Saya juga menyukai ketegangan makna. Puisi yang terlalu jelas terasa cepat selesai, sementara yang terlalu gelap kehilangan pijakan. Yang saya cari adalah wilayah di antaranya: cukup jelas untuk disentuh, cukup samar untuk dikejar. Dalam ruang itu, saya tidak hanya membaca, tetapi ikut membangun makna.
Secara emosional, selera saya bergerak dalam spektrum yang tenang. Saya tidak mencari euforia yang meledak-ledak, juga tidak tertarik pada kesedihan yang menghancurkan. Yang saya sukai adalah emosi yang telah “diproses”: rindu yang sadar diri, luka yang tidak lagi berteriak, cinta yang tidak perlu membuktikan apa-apa. Ada kehangatan, tetapi juga jarak reflektif yang membuatnya matang.
Saya tertarik pada intensitas yang terkendali—emosi yang tetap kuat tanpa kehilangan bentuk. Ia tidak liar, tetapi juga tidak kaku. Ia mengalir, dan justru karena itu terasa lebih dalam.
Dalam hal naratif, saya tidak membutuhkan cerita yang lengkap. Saya tidak selalu memerlukan awal, tengah, dan akhir yang jelas. Saya lebih tertarik pada fragmen—satu momen, satu keadaan batin, satu perjumpaan yang tidak selesai. Puisi bagi saya bukan tempat untuk mengetahui apa yang terjadi, tetapi untuk merasakan apa yang sedang terjadi.
Fragmen itu hampir selalu berbentuk relasi. Ada “aku” dan “kamu”. Ada kedekatan yang intim, meskipun tidak dijelaskan secara rinci. “Kamu” bisa berarti banyak hal: seseorang yang dicintai, masa lalu, dunia, bahkan sesuatu yang lebih transenden. Ambiguitas itu tidak mengganggu—justru membuka kemungkinan.
Dalam bahasa, saya menemukan kecenderungan yang cukup jelas: saya menyukai kesederhanaan yang elegan. Bukan bahasa yang terlalu kasual, tetapi juga bukan yang terlalu akademik. Ada kejernihan, tetapi juga ada rasa yang mengendap di dalamnya. Kata-kata tidak berusaha mengesankan, tetapi tetap meninggalkan jejak.
Metafora, bagi saya, bukan hiasan. Ia harus bekerja—membuka sesuatu, bukan sekadar memperindah permukaan. Saya tidak tertarik pada metafora yang hanya “cantik”, tetapi pada metafora yang membuat sesuatu yang samar menjadi terasa.
Lalu, di lapisan yang lebih dalam—lapisan eksistensial—saya menyadari bahwa yang saya cari bukanlah jawaban. Saya tidak membaca puisi untuk menemukan kepastian, tetapi untuk mengalami pemahaman. Ada kenyamanan dalam ketidakselesaian. Ada ketenangan dalam teks yang tidak benar-benar menutup dirinya.
Puisi yang saya sukai biasanya berakhir tanpa benar-benar berakhir. Ia meninggalkan ruang. Dan di ruang itulah, saya tinggal lebih lama daripada di kata-kata itu sendiri.
Dalam lapisan ideologis, saya tidak alergi terhadap gagasan besar, tetapi saya tidak menyukai cara penyampaiannya yang memaksa. Saya tidak ingin diyakinkan melalui pernyataan langsung. Saya lebih tertarik pada ide yang hadir sebagai pengalaman, sebagai rasa, sebagai sesuatu yang perlahan saya sadari sendiri.
Mungkin karena itu saya cenderung pada pendekatan yang reflektif, bukan dogmatis. Saya ingin berpikir bersama teks, bukan diperintah oleh teks.
Namun ada satu lapisan lain yang mungkin bisa saja tidak tercium bagi orang lain: latar belakang geopolitik.
Pada titik ini, saya melihat bahwa ketertarikan saya pada Nizar Qabbani dan Pablo Neruda, misalnya, bukan hanya karena gaya bahasa atau kedalaman emosi, tetapi juga karena mereka menulis dari dunia yang sedang bergejolak.
Qabbani lahir dan menulis dalam konteks Timur Tengah—ruang yang penuh ketegangan antara tradisi dan modernitas, antara kekuasaan politik dan kebebasan individu. Puisi cintanya tidak pernah benar-benar netral; ia membawa gema perjuangan melawan patriarki, kritik terhadap stagnasi sosial, dan kekecewaan terhadap realitas politik Arab, terutama setelah peristiwa seperti Perang Enam Hari. Bahkan ketika ia menulis tentang perempuan atau tubuh, yang bekerja di baliknya bukan hanya estetika, tetapi juga keberpihakan.
Sementara itu, Neruda menulis dari lanskap Amerika Latin—wilayah yang sarat sejarah kolonialisme, eksploitasi, dan pergulatan ideologi. Keterlibatannya dalam politik kiri, posisinya sebagai senator, serta keterlibatannya dalam peristiwa seperti Perang Saudara Spanyol, menjadikan puisinya tidak bisa dilepaskan dari kesadaran sejarah. Bahkan dalam puisi cintanya yang paling lirih, terasa ada bayang-bayang dunia yang lebih luas—ketidakadilan, perjuangan, dan solidaritas.
Di sini saya menyadari bahwa keduanya berbagi sesuatu yang sama: mereka menulis dari wilayah yang tidak pernah benar-benar tenang. Dunia mereka bukan dunia yang selesai, tetapi dunia yang terus bernegosiasi dengan luka, kekuasaan, dan harapan.
Barangkali inilah yang secara tidak sadar menarik saya.
Saya tidak hanya menyukai puisi yang indah, tetapi puisi yang lahir dari ketegangan nyata. Puisi yang tidak hanya berbicara tentang perasaan, tetapi juga membawa jejak sejarah. Puisi yang, meskipun berbicara secara personal, tetap terhubung dengan dunia yang lebih besar.
Ini bukan berarti saya mencari puisi yang politis secara eksplisit. Justru sebaliknya: saya tertarik pada puisi di mana geopolitik tidak hadir sebagai slogan, tetapi sebagai atmosfer. Ia tidak selalu terlihat, tetapi terasa.
Dan mungkin di situlah letak kedalaman yang saya cari—
bahwa di balik satu baris tentang cinta,
ada dunia yang sedang berjuang untuk menemukan bentuknya sendiri.
Jika semua ini diringkas, maka selera saya bukanlah soal estetika semata, melainkan soal cara mengalami. Saya menyukai karya yang:
memberi pengalaman, bukan sekadar informasi,
mengajak, bukan memaksa,
membuka, bukan menutup,
dan menghadirkan keseimbangan antara kejelasan dan kedalaman.
Saya menyukai sesuatu yang bisa saya pahami perlahan, rasakan dalam, dan tidak pernah benar-benar selesai.
Maka, ketika saya kembali pada puisi-puisi yang saya sukai, saya mulai memahami bahwa ketertarikan itu bukan kebetulan. Ia adalah refleksi dari cara saya sendiri berada di dunia.
Saya tidak hanya membaca puisi.
Saya mencari cara untuk:
memahami tanpa menyederhanakan,
merasakan tanpa kehilangan bentuk,
dan hidup tanpa harus selalu selesai.
Dan mungkin, di situlah letak sebenarnya dari selera saya soal puisi—
bukan pada apa yang saya baca,
tetapi pada bagaimana saya ingin mengalami kehidupan itu sendiri.