---Di mana pun adalah ruang kelas---

Kamis, 29 April 2021

,

 

Saya, selaku penonton Pilpresma, dari rangkaian awal, debat kandidat, hingga penghitungan suara, cukup mengikuti perkembangannya, sedikit. Pilpresma ini, paling tidak, bagi saya, adalah momentum untuk menguji hipotesis dan asumsi yang selama ini mungkin dipercaya oleh sebagian orang, khususnya soal ketokohan dan pengaruh.


Ketokohan bukan hanya soal "figur", melainkan juga "personal branding" para pasangan calon. Begitu juga pengaruh, bukan hanya soal "otoritas/authority", melainkan juga soal "influence". Jadi, hal-hal semacam itu yang menurut saya, antara lain, yang mempengaruhi perilaku pemilih. Sekali lagi, antara lain, beberapa faktor, bukan satu-satunya. Apalagi, di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, dan gaya hidup yang serba hybrid dan blended, hipotesis dan asumsi lama sudah tidak sedikit yang tidak relevan.


Pertama adalah bahwa relasi personal itu menentukan. Sangat mempengaruhi proses keputusan pemilihan. Saya yakin bahwa mahasiswa pemilih sebelum memilih pasangan calon, ia terlebih dahulu menjalani proses pengambilan keputusan yang rumit & kompleks. Termasuk mengananalisi konsep, Visi-misi, gagasan yang ditawarkan pasangan calon. Selain itu juga menilai info tentang reputasi & kredibilitas masing-masing pasangan calon.


Relasi personal saya pikir lebih unggul daripada relasi institusional di aspek ini. Di tengah situasi dan kondisi parahnya ketidakpercayaan publik saat ini, yang dianggap sumber info paling terpercaya, adalah lingkaran pertemanan sekitar, meskipun mereka "bukan siapa-siapa" daripada figur yang "punya otoritas" tetapi jauh.


Daripada figur otoritas institusional, sahabat sekitar menurut saya bisa jadi dianggap lebih jujur. Pesan yang disampaikannya lebih otentik. Sahabat sekitar ini lebih dikenal akrab di lingkaran pergaulan masing-masing. Reputasi & nama baiknya dipertaruhkan, sehingga dianggap tidak mungkin bohong, Apalagi sampai mau menjerumuskan teman-temannya sendiri.


Sistem rekomendasi juga lebih bersifat personal, alih-alih institusional. Informasi lebih ditentukan yang sifatnya seperti ini sebab sistem rekomendasi sudah semakin tidak sentralistik, tetapi desentralistik. Penyebaran informasi dan rekomendasi sudah lebih terfragmentasi. Jadi, pemetaan (mapping) dan petanya, sudah bukan lagi bersifat tradisional konvensional.


Maka, relasi personal ketika berkumpul dengan relasi personal lainnya, menjadi "kolektif" bukan "institusional". Promosi dan rekomendasi memang masih dibutuhkan untuk mendongkrak perolehan suara. Akan tetapi, keputusan untuk memilih, tetap dipengaruhi pendapat orang-orang sekitar entah kenalan, teman, atau sahabat.


Kesimpulannya, bahwa sekali lagi, tidak sedikit pemikiran lama yang sudah tidak relevan lagi di dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan gaya hidup yang hybrid lagi blended. Perilaku pemilih berubah, pemetaan dan peta pun bergeser. Institusi memang masih penting. Akan tetapi, relasi personal lebih menentukan.

Senin, 26 April 2021

,

 

Keterasingan dan pencarian jati diri merupakan fenomena yang lumrah dialami oleh manusia, khususnya remaja atau pemuda. Tak jarang, untuk tidak menjadi terasing dan menemukan jati diri, seseorang memilih untuk bergabung dengan perkumpulan. Perkumpulan tersebut bisa bermacam-macam, entah asosiasi, federasi, ikatan, atau bahkan menggunakan istilah komunitas.

Di era dimana identitas bersifat cair, cairnya identitas bisa memunculkan asumsi bahwa situasi terkini telah meruntuhkan “soliditas”. Tidak ada yang lebih kokoh atau tegas. Semuanya bersifat sementara, sementara dan dapat diubah. Dan salah satu serangan terbesarnya adalah fenomena media sosial. Media sosial, salah satu, atau bahkan faktor utama yang mencairkan identitas..

Inisiatif tentang komunitas mampu mengumpulkan banyak orang di satu ruang, di satu wadah, mengobati seseorang dari ketakutan akan kesepian. Baik komunitas itu merujuk ke pertemuan langsung maupun juga melalui media sosial.

Komunitas sosial dapat dianggap sebagai teknologi sosial baru. Bahkan, bisa jadi ia adalah kekuatan yang hampir tak tertahankan. Ia memiliki kekuatan “komunitas” yang mengesankan. Belum pernah terjadi sebelumnya. Akan tetapi, sebagaimana dikatakan Zygmunt Bauman juga bahwa tidak pernah banyak komunikasi dilakukan tanpa dialog atau hasil nyata.

Zygmunt Bauman mengatakan bahwa di Facebook dan sejenisnya, yang dilakukan orang adalah “bergema”. Mereka hanya mendengar apa yang ingin mereka dengar. Baginya, media sosial ibarat cermin besar, tempat kita bertemu orang tapi tidak berdialog.

Mitos Soliditas dapat diilustrasikan dengan ungkapan bahwa ada pertukaran pesan, tapi tidak ada dialog. Ada perbedaan pendapat, tetapi tidak ada perdebatan konstruktif yang nyata. Ini menciptakan ilusi berhubungan dengan orang lain ketika kita tidak benar-benar berkomunikasi.

Sekolompok orang membentuk komunitas yang dikelola sesuai keinginan. Kemudian menjadi semacam “diktator kecil” dalam tata kelola internal, dan mereka adalah orang-orang yang memutuskan siapa yang harus berada di sana, dipertahankan, dan siapa yang tidak, dikeluarkan. Itu tidak akan mempengaruhi seseorang jika ia “tidak berteman” dengan siapa pun.

Hal itu memiliki pengaruh yang menentukan pada apa yang Bauman sebut sebagai “cair/liquid”, bukan “padat/solid”. Di dalamnya, terjadi hubungan manusia yang tidak menentu. Hubungan tanpa status dan tanpa komitmen. Gelombang pengalaman dan gagasan ada di sini hari ini dan hilang besok. Ini menghibur orang, menciptakan kenyamanan, memunculkan kenikmatan, tetapi pada saat yang sama semakin mengontrol seseorang. Seseorang tidak menyadari kekuatan politik dan ekonomi yang memikatnya.

Dengan mitos Soliditas itu, maka bisa saja ada gelombang baru yang bersifat alternatif, berupa jaringan. Seperti kata Bauman, lagi-lagi, bahwa perbedaan antara Komunitas dan Jaringan adalah, seseorang bagian dari komunitas, tetapi jaringan adalah milik tiap orang. Seseorang merasa memegang kendali.

Tiap orang mengendalikan orang-orang penting yang berhubungan dengan masing-masing. Sebagian orang tidak diajari untuk berdialog karena sangat mudah untuk menghindari kontroversi. Sebagian lainnya berada di komunitas sosial atau jaringan sosial bukan untuk bersatu, bukan untuk membuka wawasan mereka lebih luas, tetapi sebaliknya, untuk memotong zona nyaman di mana satu-satunya suara yang mereka dengar adalah gema suara mereka sendiri, di mana satu-satunya hal yang mereka lihat adalah pantulan wajah mereka sendiri.

Persoalannya adalah, tetap berada di zona nyaman, atau keluar. Menghindari kontroversi, atau menerimanya sebagai bagian dari dinamika.


Jumat, 16 April 2021

,


Sebagai seseorang yang lebih "tua", atau yang biasa disebut dengan "senior", daripada mahasiswa semester 1-8, itu bukan berarti saya lebih tau segalanya daripada mereka. Saya hanyalah lebih dulu dan lebih lama berproses.


Oleh karena itu, ketika ada sesi perundingan (consulting) atau pendampingan (mentoring) dengan adik-adik mahasiswa S1, saya berusaha untuk menjelaskan, menggambarkan, apa adanya, tidak lebih dan tidak kurang, dari nilai yang terkandung dalam pengamatan dan pengalaman langsung saya sebelumnya. Semakin tinggi hasil pengamatan dan pengalaman langsung tersebut, semakin tinggi pula nilai yang terkandung di dalamnya.


Pelayanan yang apa adanya, terbuka, dan berusaha memberikan gambaran seobjektif mungkin dengan menghindari bias pribadi, tentu itu dalam rangka mempermudah dan supaya ada percepatan dalam proses mereka. Bukan sebaliknya, yaitu hendak menjerumuskan terhadap kegagalan, kelambanan, atau sentimen kelompok tertentu.


Alasannya, jika dilihat dari sudut pandang fisika kuantum, sependek dan sedekat yang saya tau, interaksi interpersonal, utamanya persahabatan, bisa dilihat sebagai pertukaran energi. Jadi, yang diharapkan adalah sekiranya kepuasan dan kesan mendalam lebih besar manfaatnya daripada pertemuan fisik itu sendiri. Ketika itu terjadi diiringi dengan niat yang tulus, saya yakin bahwa keberhasilan bersama dalam proses bukanlah sesuatu yang jauh untuk dicapai, melainkan segera makin dekat untuk sampai.


Energi yang positif dan afirmatif dalam sesi konsultasi akan merambat, kerap, bergelombang, dan menarik, mirip seperti frekuensi gelombang elektromagnetik. Jika ada kepuasan dan kesan mendalam, tentunya hal itu akan menarik orang lain untuk berinteraksi juga.


Semoga cukup mencerahkan 

Jumat, 09 April 2021

,

 Latihan Soal Metode Penelitian Kualitatif


- Jelaskan definsi metode penelitian kualitatif

- Jelaskan sejarah penelitian kualitatif

- Jelaskan ruang lingkup penelitian kualitatif

- Jelaskan paradigma penelitian kualitatif

- Jelaskan jenis-jenis penelitian kualitatif

- Jelaskan konteks penelitian pada penelitian kualitatif

- Jelaskan pengertian dan fungsi perumusan masalah dalam penelitian kualitatif

- Jelaskan kriteria-kriteria perumusan masalah dalam penelitian kualitatif

- Jelaskan teknik merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan

- Rumuskan masalah penelitian dalam bentuk pertanyaan

- Jelaskan pengertian teori

- Jelaskan kegunaan teori dalam penelitian

- Berikan contoh penggunaan landasan teori dalam penelitian

- Jelaskan pengertian populasi

- Jelaskan pengertian sampel

- Jelaskan macam-macam sampel

- Uraikan pengertian dan contoh masing-masing sampel

- Jelaskan pengertian sumber data

- Jelaskan konsep dan pengertian teknik pengumpulan data

- Jelaskan pengertian dan contoh masing-masing teknik pengumpulan data

- Jelaskan konsep validitas, macam-macam validitas, beserta masing-masing contoh validitas

- Jelaskan dan berikan contoh analisis data kualitatif, meliputi mengumpulkan data, triangulasi data, mereduksi data, dan memaparkan data

- Berikan contoh penarikan kesimpulan berdasarkan rumusan masalah/fokus penelitian

- Berikan contoh penarikan kesimpulan berdasarkan temuan di lapangan

- Buatlah contoh sistematika pelaporan hasil penelitian

- Tuliskan contoh laporan hasil penelitian

- Pesentasikan contoh laporan hasil penelitian