---Di mana pun adalah ruang kelas---

Jumat, 31 Juli 2020

,
Oleh: M. Q. Aynan
Renungan Singkat
10 Dzulhijjah 1441 H pukul 03.00


QURBAN, sebagai ritual ibadah, memiliki kandungan relasi vertikal antara HAMBA dengan TUHANnya. Tidak hanya itu, QURBAN juga mengandung makna lain yakni soal relasi horizontal, khususnya antara ORANG TUA dan ANAK.

Kandungan makna relasi vertikal tentu jamak diketahui bahwa melaksanakan ibadah QURBAN berarti melaksanakan syariat Allah. Akan tetapi, makna tersebut bisa bertambah manakala dimunculkan oleh tiap-tiap pribadi. Makna tersebut bisa sangat beragam warnanya, berdasarkan pengalaman seseorang akan kehidupan pribadinya, khususnya menyangkut relasi antara ORANG TUA dan ANAK.

Seorang ANAK yang setiap hari bisa bertemu secara langsung dengan ORANG TUAnya, khususnya IBU, boleh jadi memaknai QURBAN dengan makna yang sedikit berbeda dengan seorang ANAK yang TIDAK setiap hari dapat bertemu dengan ORANG TUAnya. Sangat mungkin ANAK yang tidak setiap hari bertemu dengan ORANG TUAnya tersebut memaknai QURBAN dengan warna yang tampak indah dalam wujudnya yang lebih tinggi.

Kasih sayang  ORANG TUA kepada ANAKNYA diuji lewat peristiwa QURBAN. Nabi Ibrahim diuji lewat mimpi mendapat perintah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Begitu pula ORANG TUA, terutama seorang IBU yang berperan di ruang publik dengan profesi tertentu, diuji kasih sayangnya kepada ANAKnya lewat jarak dan waktu sehingga diharuskan terjadi perpisahan sementara selama beberapa jam atau beberapa hari.

Seorang IBU yang diuji lewat jarak dan waktu demi kesejahteraan bersama, boleh jadi memaknai QURBAN sebagai peristiwa pulang, bukan hanya dari tempat kerja menuju rumah, melainkan juga dari rutinitas menuju kehangatan bersama sang ANAK.

Apabila sebelumnya IBU tersebut diharuskan untuk mengorbankan kesempatan untuk bertemu dan mengasuh ANAKnya secara langsung, maka QURBAN, seperti arti katanya, mendekatkan kembali kehangatan itu, istirahat sejenak dari rutinitas pekerjaan sehari-hari. Sudah sewajarnya apabila semangat RELA BERKORBAN seorang IBU, menjadi sebuah PERAYAAN dalam momentum QURBAN.

Semoga HARI RAYA ini menjadi momentum bagi ORANG TUA dan ANAK untuk kembali merasakan KEHANGATAN, sebagai sublimasi dari semangat RELA BERKORBAN. Selamat HARI RAYA QURBAN. Selamat IDUL ADHA.

M. Q. Aynan,
Seorang Anak.

Selasa, 28 Juli 2020

,
M. Q. Aynan


Sebagai pribadi yang berada dalam struktur dalam lembaga pengkaderan, salah satu yang perlu dipikirkan dan direnungkan adalah tentang tipe pengkaderan yang diterapkan, khususnya oleh saya pribadi. Karena renungan ini singkat, saya tidak terlalu menelusuri literatur yang secara langsung berkaitan dengan pengkaderan. Selain itu, renungan ini muncul saat saya ikut bergabung dengan obrolan mahasiswa doktoral, sebagai 'anak bawang' saja.

Bass (1985) mengusulkan bahwa "untuk mencapai kinerja pengikut melebihi dari batas biasa, kepemimpinan harus transformasional". Di samping itu, Bass (1990) membagi kepemimpinan menjadi dua, yaitu kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan transaksional. Berikut ini adalah karakteristik-karakteristik yang dapat disimpulkan dari kedua kepemimpinan tersebut:

Kepemimpinan Transaksional
- Imbalan kontingensi, yaitu adanya kontrak pertukaran imbalan untuk berbagai upaya yang dilakukan bawahan, seperti menjanjikan imbalan untuk kinerja yang baik dalam menyelesaikan tugas-tugas.
- Manajemen dengan pengecualian secara aktif (active management by exception), yaitu kecenderungan pemimpin untuk mengamati dan mencari berbagai penyimpangan dari standar dan prosedur, dan untuk mengambil tindakan koreksi untuk kelompok yang dipimpinnya.
- Manajemen dengan pengecualian secara pasif (passive management by exception), yaitu kecenderungan dari pemimpin untuk turun tangan atau mengintervensi hanya ketika prosedur dan standar tidak terpenuhi.
- Laissez-faire, yaitu perilaku para pemimpin untuk menghindari pembuatan keputusan atau melepaskan tanggung jawab mereka.


Kepemimpinan Transformasional
- Karisma atau pengaruh ideal, di mana pemimpin memberi sense of mission dan sense of vision, menanamkan rasa bangga dan memperoleh rasa hormat dan kepercayaan.
- Kepemimpinan inspirasional, di mana pemimpin memberikan ide-ide yang jelas dan harapan yang tinggi, menyimbulkan upaya sebagai fokus, dan memiliki kemampuan untuk mengekspresikan tujuan-tujuan penting dalam berbagai cara yang sederhana.
- Stimulasi intelektual, di mana pemimpin mendorong kecerdasan, rasionalitas dan penyelesaian masalah.
- Pertimbangan individual, di mana pemimpin memberikan perhatian personal, melatih, menasihati para pengikut, dan memperlakukan setiap pengikut secara individual.

Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengkaderan transformatif/transformasional memperluas dan meningkatkan minat dari para kadernya, ketika mereka membangkitkan kesadaran dan penerimaan terhadap tujuan, visi dan misi organisasi, dan ketika mereka mengarahkan para kadernya untuk melihat melebihi dari kepentingan sempit menuju kepentingan lebih luas.

Sejalan dengan itu, pengkaderan transformatif/transformasional akan menimbulkan rasa bangga, rasa hormat, dan kepercayaan dari para kadernya. Pengkaderan tersebut juga akan menunjukkan perilaku yang memberikan arti dan tantangan bagi para kader, misalnya menyampaikan harapan-harapan dan menunjukkan komitmen yang jelas. Senior merangsang ide-ide baru dan daya inovatif para kader, mendorong penyelesaian persoalan secara kreatif, dan menstimulasi para kader untuk menghasilkan dan menggunakan pendekatan-pendekatan baru dalam penyelesaian persoalan. Perilaku yang ditunjukkan oleh senior yang mau mendengarkan para kadernya dengan penuh perhatian, memperlakukan mereka sebagai pribadi, dan memberikan perhatian khusus bagi pencapaian prestasi dan pemenuhan berbagai kebutuhan pengembangan diri.

Senin, 20 Juli 2020

,


Oleh: M. Q. Aynan


Salah satu faktor para mahasiswa, khususnya semester akhir, kurang lancar dalam prosesnya dikarenakan komunikasi yang macet dengan beberapa dosen. Mengapa komunikasi tersebut bisa macet?

Setelah saya melalukan pengamatan baik kepada diri sendiri maupun ke beberapa teman, komunikasi macet tersebut terjadi baik ketika lewat pesan elektronik maupun secara tatap muka.

Sampel yang diambil adalah 12 mahasiswa dan 8 dosen. Itu inputnya, kemudian saya olah secara sederhana. Dari pengolahan tersebut, ditemukan beberapa tren atau kecenderungan.

Dari 8 dosen tersebut, dalam kategori jenis kelamin, dosen laki-laki cenderung responsif dan lebih tidak macet dalam komunikasi. Sebaliknya, dosen perempuan cenderung macet.

Dalam kategori tipe pertanyaan, ada dosen yang lebih suka tidak bertele-tele dalam komunikasi, yaitu pesan atau pertanyaan tersebut adalah yes/no question atau pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban antara ya atau tidak. Ada juga dosen yang lebih suka pesan atau pertanyaan WH question atau pertanyaan yang memerlukan penjelasan banyak.

Dalam kategori tempat komunikasi, ada dosen yang tidak mempersoalkan apakah komunikasi itu terjadi di kampus atau di rumahnya. Ada juga yang tidak berkenan apabila urusan kampus diselesaikan di rumah.

Dalam kategori jabatan, ada dua juga. Ada dosen yang menjabat di struktural dan ada juga yang tidak menjabat di struktural.

Dalam kategori rekam jejak, ada dua juga kecenderungannya antara dosen itu pernah aktif di organisasi kemahasiswaan dan yang dulunya tidak aktif di organisasi kemahasiswaan.

Dari sampel dan pengolahan tersebut, ditemukan bahwa dosen laki-laki yang menjabat di struktural dan pernah aktif di organisasi kemahasiswaan lebih suka pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban ya atau tidak, serta tidak mempersoalkan apakah komunikasi atau pelayanan akademik terjadi di kampus atau di rumahnya. Sementara, dosen perempuan yang tidak menjabat di struktural serta dulunya tidak aktif di organisasi kemahasiswaan lebih suka pesan yang membutuhkan jawaban.

Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kelompok kategori yang pertama lebih tidak senditif. Sementara kelompok kategori kedua lebih sensitif. Bahkan, jika ada mahasiswa yang tidak sesuai denga selera kelompok kategori yang kedua, mahasiswa tersebut bisa dianggap kurang sopan atau menjengkelkan.

Jumat, 10 Juli 2020

,
Ada 4 orang yang bisa menjadi komposisi dalam tim. Tim ini bisa dalam pekerjaan baik yang berorientasi laba maupun yang berorientasi nirlaba.

Perancang
Tipe perancang posisinya sebagai perencana induk dan pandangan secara global. Jika tipe ini mau mengatakan dan melakukan sesuatu maka dia akan mengatakan atau melakukannya dan jika ada sesuatu yang dia tidak ingin katakan dan lakukan, dia tidak mengatakan dan melakukannya. Tipe ini memiliki potensi kepemimpinan dan pengambilan keputusan yang kuat.

Pengarah
Tipe ini adil, tenang, dan hangat. Dengan karakteristik tenang dan rasionalnya, ia mengarahkan, mengeksekusi, mengelola dan menumbuhkan tim. Kepemimpinan diaktualisasikan olehnya dan ia mendaratkan keputusan kepada tim untuk dilaksanakan di lapangan 

Sekretaris
Tipe ini cerah, bahagia, dan keren. Dia tidak peduli tentang kejiwaan atau pikiran. Dia hanya melanjutkan keputusan dengan langkahnya sendiri. Langkahnya berhubungan dengan logistik dan pencatatan.


Pengembang
Tipe ini berspesialisasi dalam hal teknis komputer dan menghabiskan waktunya untuk pengerjaan proyek, serta memperhatikan setiap detail tentang pekerjaan.

Rabu, 08 Juli 2020

,
Terkadang, atau bahkan seringkali, hidup tidak berjalan linier. Termasuk dalam hal ini kehidupan akademik. Contohnya, ada beberapa pelajar yang menghindar dari interaksi yang rapat dengan pendidiknya, tidak terlalu penurut, kurang tepat waktu dalam mengumpulkan tugas, agak cuek, tidak sengaja menonjolkan diri di kelas, nilainya bukan angka tertinggi, namun tetap dianggap sebagai pelajar kesayangan para pendidik. 

Pelajar yang tidak pernah mengalami itu mungkin melihat fenomena ini secara negatif dan menggambarkannya sebagai hubungan pengistimewaan antara pengajar dan pelajar yang menghargai dan memuaskan gurunya, baik secara akademik maupun non-akademik. Bisa saja rasa iri melingkupi para pelajar lain yang merasa kurang disayang. Sebagian pelajar kesayangan dijauhi teman-teman sekelasnya, kecuali jika si kesayangan ini mau "berbagi".

 Citra kesayangan sebagai orang paling menguasai materi dari yang lain membuatnya jadi dituntut lebih daripada yang lain juga. Anak kesayangan, dalam pikiran banyak orang harusnya tinggi nilai-nilai akademisnya juga selalu bisa mendapat tempat belajar lanjutan yang bergengsi. Saat lulus, ada ekspektasi mereka bisa lulus ujian masuk jurusan bergengsi di perguruan tinggi favorit. Perguruan tinggi di luar negeri misalnya. Tidak jarang, mereka bisa “terpukul” jika gagal memasuki jurusan di kampus yang diinginkannya, sementara siswa yang dianggap biasa-biasa saja berhasil masuk ke kampus yang lebih "bergengsi" di dalam negeri maupun di luar negeri.

Secara pribadi, saya merasa bahwa saya tidak pernah pelit. "Berbagi ilmu" bukan hal yang terlalu diperlukan untuk irit. Keistimewaan hubungan  baik secara akademik maupun non-akademik juga merupakan hal yang wajar. Wajar karena tidak dibuat-buat. Mendapat nilai tertinggi juga bukan faktor yang paling menentukan untuk disayang lebih daripada yang lain. Faktor yang lebih menentukan menurut saya adalah keunikan. Keunikan dalam kelas misalnya dalam bertanya dan menjawab. Pertanyaan dan jawaban yang hampir mustahil diungkapkan orang lain.

Selain itu, sebelum lulus memang ada ekspektasi yang agak terlalu tinggi. Misalnya ketika mengerjakan tugas, baik itu tugas harian, semester, bahkan tugas akhir. Tugas tersebut tidak terlalu dibaca, atau tidak dibaca sama sekali lantaran dianggap sudah pasti seleranya tinggi. Padahal, sepintar apapun pelajar, tetap masih sangat perlu bimbingan dari pengajarnya.

Dalam hal setelah lulus, kecenderungannya tidaklah tunggal. Setidaknya, ada dua kecenderungan utama. Pertama, pengajar akan menyarankan pelajar kesayangannya untuk tidak melanjutkan di luar lembaganya, tetap di lembaga tersebut karena agar tetap bisa berinteraksi dengan pelajar kesayangannya. Namanya kesayangan, ada orang-orang yang sulit beranjak apabila berjarak jauh.

Kecenderungan kedua adalah pengajar menyarankan pelajar kesayangannya untuk melanjutkan ke lembaga yang "bergengsi" baik di dalam negeri apalagi di luar negeri. Alasannya sama, sama-sama sayang, hanya saja sedikit berbeda yaitu sayang sekali apabila pelajar kesayangannya melanjutkan di lembaga yang kurang "bergengsi".

Intinya, menurut saya menjadi kesayangan tidak perlu dikejar. Pelajar kesayangan itu bonus, bukan sesuatu yang disengaja, tapi lebih kimiawi yang tanpa sengaja. Menuntut ilmu itu tujuannya cari ilmu, bukan cari perhatian. Kalau telanjur jadi kesayangan, artinya berhasil menjadi satu diantara sedikitnya orang terpilih yang berkesan di mata pengajar, makanya pelajar kesayangan itu disebut "PUPIL". Bagi pengajar, punya ekspektasi tinggi terhadap pelajar kesayangannya itu boleh saja, asal tidak perlu terlalu tinggi. Dan lagi, melanjutkan studi di lembaga "bergengsi" itu bukan segalanya. Bukan tempatnya dimana, melainkan orangnya bagaimana.

Senin, 06 Juli 2020

,
Menulis skripsi pada dasarnya wajar, normal, biasa. Bagaimana tidak, menulis skripsi sampai sidang atau munaqosyah seperti menulis makalah dan presentasi biasanya. Apalagi, menulis ilmiah setingkat itu tidak terlalu memerlukan kreativitas laiknya menulis esai atau cerpen. Susunannya sama mulai dari latar belakang atau konteks penelitian hingga menghasilkan kesimpulan.

Kalau pertanyaannya apakah menulis skripsi itu mudah atau sulit, maka jawabannya adalah mudah. Terlebih jika seseorang dimintai tolong untuk membantu dalam pengerjaan skripsi orang lain.

Sekali lagi, pada dasarnya menulis skripsi itu mudah. Hanya saja, cukup memakan waktu. Jadinya lama. Lebih mudah merancang 10 skripsi daripada mengetik 1 saja hingga rampung. Yang membuat lama, salah satunya adalah teknis tulisan. Memeriksa ejaan, catatan kaki, parafrase, dll. Itu yang membuat lama.

Lebih dari itu, yang paling membuat lama adalah urusan administrasinya. Alur persuratan, bolak-balik ke staf akademik, minta tanda tangan, dan lainnya, kalau bisa dibilang, menyiksa.

Untungnya, masih ada para pribadi yang bersedia meluangkan waktu untuk membantu saya. Waktu untuk bertukar pikiran, waktu untuk bantu ngetik, atau mempersiapkan berkas. Entah apa jadinya jika semua saya lakukan sendiri, tanpa bantuan orang lain.

Kesimpulannya, menulis skripsi itu mudah tapi lama. Administrasinya menyiksa. Sidangnya biasa, para pribadi yang membantu luar biasa.