---Di mana pun adalah ruang kelas---

Kamis, 27 Februari 2020

,


‘Ada dua ruh yaitu ruh yang direlakan dan ruh yang bergentayangan.’

 “Golongan Ketepian dan Golongan Pedalaman”
Gagasan yang diusung oleh golongan ketepian terfokus pada masyarakat dan perkembangannya dari masa ke masa yang mengikuti sejumlah pola tertentu. Masyarakat di mana kita hidup tidak lain merupakan medan pertarungan antara golongan ketepian dengan golongan pedalaman.  Golongan ketepian terdiri dari kaum transformatif dan kaum revolusioner, sedangkan golongan pedalaman terdiri dari kaum reaksioner dan kaum agresor. Gerakan yang dilakukan golongan pedalaman tidak lain merupakan tindakan ‘melampaui batas’ karena akan datang saatnya ketika golongan ketepian memiliki kekompakan dan bergerak melawan sampai menang.

“Kaum Transformatif dan Kaum Revolusioner”
Hubungan kedua kaum tersebut seyogyanya tidak saling melawan, namun membantu mempertahankan dan memperjuangkan kepentingan bersama, secara independen dari kotak-kotak primordial. Kotak itu harus diganti dengan penerapan iuran kas, layanan kemanana dan pelatihan, dan pelarangan bertarung bagi anggota biasa.

“Pemikiran Transformatif dan Pemikiran Revolusioner”
Kedua aliran pemikiran dan gerakan tersebut memiliki nilai dan tujuan yang sama, meski pendekatannya berbeda. Kaum transformatif menghindari kontak fisik, sedangkan kaum revolusioner siap untuk kontak fisik.

“Pernyataan Sikap Golongan Ketepian”
Posisi golongan ketepian dalam gerakan yang terjadi bersifat kosmopolit, berbeda dengan golongan pedalaman yang dangkal dan meramalkan bahwa proses gerakan akan berhasil jika golongan ketepian di seluruh dunia bersatu, tidak lagi mementingkan dari bukit mana mereka berasal.

Golongan Ketepian, Bersatulah!

Minggu, 23 Februari 2020

,
Untuk bertahan hidup dalam suatu bentuk kehidupan, tidak cukup oleh sebagian orang, tetapi seluruh orang (Jamaah) dalam perkumpulan (Jam’iyah). 

Dalam masyarakat akademik (Civitas Akademika), kehidupan secara umum dan persaingan secara khusus bukanlah bersifat fisik, melainkan bersifat psikologis. Setidaknya, sifat psikologis memiliki dua cabang yakni moral yang kuat dan kemauan yang tinggi. 

Selain itu, ada sifat lain yang melekat di dalamnya: Politis dan Ekonomis.
Sifat politis terdapat pada kemampuan untuk mengelola stabilitas internal dan menjaga hubungan eksternal. Sifat ini membuat seseorang sulit untuk lepas dari keberpihakan tertentu dan klaim netralitas. Kemandirian justru bukanlah menutup diri, melainkan membuka diri bagi aliansi strategis.
 Sifat ekonomis terdapat pada kebutuhan mendasar, bisa berasal dari sumber tetap maupun sumber tidak tetap, dengan jalur milik pesaing atau jalur yang sengaja dibuat/diperoleh. Logistik sangat besar sumbangannya bagi pemertahanan dan pemrolehan.

 Kedua sifat itu tetaplah didukung kemauan yang tinggi dengan terus berdasar pada moral yang kuat.
 Persaingan bukanlah sesuatu yang dikehendaki, melainkan sebagai sebuah keniscayaan. Karenanya, meski tidak bersifat fisik, terkadang di momentum tertentu ada sebagian pihak atau golongan yang mengerahkan sejumlah orang semacam gerombolan adu otot untuk membuat kegaduhan, mengancam keamanan fisik maupun sarana.

Jika sebuah perkumpulan diserang oleh pihak lain yang sengaja membuat ulah, maka perkumpulan itu akan membela diri. Dalam membela diri sebisa mungkin ancaman ditiadakan.
Pembelaaan diri itu pun juga tidak dilakukan dengan hasrat, tetapi dilakukan dengan keterpaksaan. Mereka bukanlah yang memulai lebih dulu. Kaum Agresor yang memulainya. 

Persaingan tidak digerakkan oleh alasan yang ilmiah dalam arti objektif. Ia digerakkan oleh alasan yang ideologis, baik ideologi pendidikan, geografis, golongan, maupun aliran pemikiran.
Hanya ideologi yang terkuatlah yang akan mengantarkan kepada kemenangan. Akan tetapi, bukanlah akhir sejarah berupa ideologi tunggal yang kemudian memunculkan pemenang tunggal pula. Pada akhirnya, tidak ada yang nomor satu. Satu kelompok yang terlalu mendominasi akan meunculkan perlawanan dari pihak lain.

Yang bersaing bukan semua orang. Sebagian bersaing, sebagian lainnya mendukung. Yang mencari makanan sebagian, yang menikmati makanan semua.
Efektifitas dan efisiensi dalam disiplin, pandangan, regulasi, pelatihan, perencanaan hingga evauasi.
1. Perkumpulan dipimpin oleh seseorang pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab terhadap tindakan bawahannya.
2. Memiliki struktur yang jelas.
3. Memiliki perlengkapan/inventaris.
4. Melakukan pelaksanaan sesuai dengan hukum tertulis maupun tidak tertulis.
Yang tidak dapat bertahan sebab kelelahan baik secara fisik maupun psikologis akan tumbang dengan sendirinya.

Kesatuan koordinasi pimpinan bukan saja pada struktur antar fungsionaris melainkan juga pada kultur anggota terbawah.
Serangan balik tidak dilaukan secara sporadis, tetapi sistematis ditutup dengan serangan kejutan dan kritikal saat kondisi sudah setara dengan pesaing.
Profesional adalah anggota biasa tidak dimasukkan ke dalam tim inti, tetapi hanya pendukung tim inti. Perlengkapan dan pelatihannya tidak sama.

Sabtu, 22 Februari 2020

,

M. Q. Aynan

Terdapat beberapa macam alam berpikir yang dianut oleh penduduk Lembah Air Mancur, menjadi tindakan dalam kehidupan persilatan dan hadir dalam teknik masing-masing. Orang-orang biasa, baik yang dilemahkan maupun mereka yang membiarkan dirinya lemah,  yang belum pernah melihat atau menyadari, atau pura-pura tidak melihat keberadaan pendekar pun dalam hidupnya, misalnya, setidaknya pernah mendengar tentang dua golongan besar, yakni golongan hitam dan golongan putih. Disebut golongan, karena keduanya tidaklah bersifat warisan. Bisa saja seorang kakak yang termasuk golongan putih, memiliki adik yang masuk ke dalam golongan hitam. Keduanya memang selalu berhadapan, karena masing-masing saling menganggap musuh satu sama lain, bukan hanya persaingan, tetapi di atas itu, yakni rivalitas. Akan tetapi, bagi yang sudah mengembara lama, mereka akan menemukan bahwa, di permukaan terdapat dua golongan besar tadi ditambah satu yang tidak termasuk ke dalam kedua golongan, yaitu golongan abu-abu. Akan tetapi, lebih dari itu, terdapat lima golongan: golongan putih moderat, golongan putih ekstrem, golongan hitam moderat, golongan hitam ekstrem, golongan abu-abu. 

Secara umum, Golongan Putih menjunjung tinggi nilai-nilai yang dianggap mewakili kebenaran, kejujuran, keadilan bagi seluruh warga Lembah. Sebaliknya, Golongan Hitam memilih nilai yang berbeda. Berbohong, menipu, dan memutarbalikkan fakta menjadi pekerjaan sehari-hari mereka untuk mencapai kemenangan. Bahkan, pemotongan, penjagalan, dan pembunuhan terkadang perlu untuk memuluskan kepentingan. Itu semua dapat dilihat dari doktrin yang ada di kitab pedoman masing-masing, hingga teknik yang digunakan dalam pertarungan. Sementara, golongan abu-abu hanya berpikir untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tanpa ada tambahan nilai tertentu.

Secara khusus, golongan putih moderat menggunakan langkah dan teknik yang selalu benar, baik, dan pantas. Mereka tidak pernah melanggar prinsip hukum baik hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis. Ditambah, mereka adalah orang-orang yang pemaaf. Golongan putih ekstrem menggunakan langkah dan teknik yang selalu mematuhi prinsip hukum, tetapi terkadang mengabaikan rinciannya. Misalnya, salah satu anggota golongannya diserang oleh golongan hitam, maka mereka tidak segan-segan untuk menyerang balik, bahkan lebih parah dari serangan awal. Meski menjunjung tinggi keadilan, namun dalam pelaksanaannya sering menindak sendiri, sebab kurangnya tanggapan dari aparat yang berwenang. Satu nyawa ditukar satu nyawa. Atau, satu nyawa ditukar sepuluh nyawa. Golongan hitam moderat tidak selalu melakukan hal kotor dengan sukarela, terkadang karena takut ancaman dari golongan hitam ekstrem. Mereka terkadang melakukan gencatan serangan dengan golongan putih. Ketika gencatan itu selesai, tetap saja mereka yang melakukan serangan duluan. Golongan hitam ekstrem seakan sudah hampir tidak punya nilai kebaikan. Tiada hari tanpa melakukan serangan, baik mengobarkan kebencian atau serangan fisik. Kawannya sesama golongan hitam pun sering hampir terkena serangan. Mereka selalu memulai serangan duluan, bahkan ketika terjadi gencatan atau perjanjian damai. Golongan abu-abu, tidak peduli dengan semua itu. Ketika terdapat pertarungan, mereka memilih untuk menghindar.

Golongan abu-abu, tidak perlu ditanya lagi, tak pernah membuka penerimaan murid baru. Tanpa itu, akan selalu ada orang-orang yang tidak peduli. Golongan Putih dan Golongan Hitam setiap tahun, bahkan setiap hari, mencari murid-murid baru untuk menambah kekuatan. Secara khusus , golongan putih ekstrem, golongan hitam moderat, golongan hitam ekstrem  merekrut murid sebanyak-banyaknya, bahkan hingga ribuan. Sedangkan, guru-guru golongan putih moderat  hanya menerima sedikit murid, tetapi tidak sampai seratus. Bahkan, beberapa murid, tak sampai sepuluh, dididik dan dilatih secara rahasia. Para guru ini memang menghindar untuk sering bertemu secara langsung, atau memang sudah menulis kitab yang ditulis secara rahasia untuk dibaca secara rahasia pula. 

Golongan putih ekstrem dan golongan hitam moderat merekrut murid baru agar kekuatan fisik mereka bertambah. Jumlah sebanyak-banyaknya, urusan kualitas seni bela diri dan ilmu persilatan, itu nomor berapa. Golongan hitam ekstrem merekrut murid bukan karena jumlahnya, melainkan karena bayarannya. Golongan putih moderat merekrut murid demi kesempurnaan ilmu dan keindahan seni. Karenanya, selain dilatih dengan seni dan ilmu tersebut, murid golongan putih moderat diuji sifat pribadinya, memegang rahasia, dan menambah keterampilan persilatan dengan keterampilan persuratan. Tidak banyak yang bisa mencapai taraf murid paripurna.

Para murid paripurna lebih suka menjauh dari keramaian, tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Mereka peduli dengan nasib orang lain, tetapi lebih perhatian kepada diri sendiri, dan bagi sebagian murid itu semakin tinggi ilmu silat yang mereka miliki, semakin mereka harus mengasingkan diri. Sampai-sampai ada pepatah bahwa kesempurnaan hidup pernah asing dahulu, dan akan kembali asing kemudian.