---Di mana pun adalah ruang kelas---

Minggu, 13 Februari 2022

,


Membangun relasi, dalam hal ini bukan hubungan atau relationship antara laki-laki dan perempuan untuk kepentingan asmara, melainkan untuk kepentingan seperti pekerjaan, bisnis, organisasi, dan lainnya, kemungkinan besar tidak diajarkan di kelas akademik. Selain itu, saya sering mendapat nasehat, saran, masukan, soal pentingnya membangun relasi, entah secara lisan atau dari artikel-artikel di internet.


Yang jadi persoalan bagi saya adalah, nasihat, saran, masukan, tips, atau apapun itu, bisa dibilang cenderung normatif, cenderung tidak aplikatif, atau semacam bukan panduan strategis atau teknis begitu. Salah satu yang menurut saya lebih bisa menggambarkan adalah hubungan kekeluargaan atau kekerabatan, hubungan alumni atau almamater, dan seperti MoU di dinas pemerintah atau perusahaan.


Hanya saja, sebelum yang bersifat teknis itu, tentu ada yang sifatnya lebih mendasar, seperti pertanyaan relasi seperti apa yang mau dibangun? Relasi untuk kepentingan apa? Bagaimana membangunnya secara strategis dan teknis?


Tulisan ini bisa dibilang hanya akan menyentuh soal konsep dasar, atau pola pikir dasar, soal membangun relasi. Itupun hanya sebatas kegelisahan, pengalaman, dan renungan pribadi. Sebab bagaimanapun, saya belum bisa dikatakan sebagai orang yang sudah betul-betul hebat.


Saya menggunakan istilah relasi untuk menyebut hubungan secara umum, hubungan apapun itu. Soal bagaimana yang sedikit lebih rinci, saya membagi relasi tersebut, setidaknya, menjadi network (jejaring/jaringan) dan connection (koneksi/keterhubungan). 


Relasi menurut saya, sudah bisa dibilang relasi, apabila 2 orang saling kenal. Lebih dari itu, pertemanan misalnya, juga termasuk relasi. Entah itu atas nama pribadi, mewakili individu secara personal, atau atas nama posisi, mewakili kelompok secara kolektif.


Soal apa saja, berapa banyak, seberapa sering, 2 orang itu dipertemukan, dipersatukan, tunggu dulu. Perlu pembahasan lebih dari relasi. Perlu dibahas, setidaknya, apakah relasi atau relation itu merupakan network atau connection. Kalau sekedar relation tanpa network atau connection, bisa saja hubungan itu sekedar "ada", tapi tidak "hidup" atau tidak "bekerja".


Saya melakukan penelusuran soal network dan connection ini dalam bahasa Indonesia, tetapi saya rasa kurang memuaskan. Jadi saya melakukan penelusuran dalam bahasa Inggris, dan berikut rangkuman dari hasil penelusuran saya


Network: lebih aktif

Connection: lebih pasif


Network: cenderung bekerja

Connection: cenderung tidur


Network: lebih sedikit

Connection: lebih banyak


Network: cenderung mendalam

Connection: cenderung permukaan


Network: lebih sempit

Connection: lebih luas


Network: lebih sering

Connection: lebih jarang


Network: Interaksi-Transaksi

Connection: Interaksi-Asosiasi


Network: Profesional

Connection: Personal


Network: Terarah

Connection: Acak


Network: waktu kerja

Connection: waktu santai


Network: bertugas

Connection: berlibur


Antara lain seperti itu perbandingan yang saya dapatkan dari sumber bacaan dalam bahasa Inggris. 


Membangun relasi, sekedarnya saja, bisa dengan semua orang, tanpa terkecuali. Hanya saja, menurut saya pribadi, dari relasi ala kadarnya menjadi jejaring yang terhubung, perlu perencanaan sampai evaluasi, karena bagaimanapun manusia memiliki keterbatasan. 


Kalau misalnya ditambah lagi dengan kata kunci, saya sementara ini menemukan dua kata kunci, selain soal strategi dan teknik dalam networking atau connecting, yaitu "kepercayaan" dan "keberuntungan". Kepercayaan bukan tentang seberapa hitungan orangnya, tetapi makna dan kualitas dari suatu hubungan. Selain itu, seringkali, hubungan itu berjejaring dan terhubung, "tiba-tiba" saja, bukan aneh, melainkan berarti itu adalah keberuntungan.

 

,



Untuk alumni saya

Dari saya, sekolahmu



Pernahkah kamu merasa bahwa aroma, dan suasana, dari sudut sekolah, itu mirip-mirip, bahkan nyaris sama? Jika tidak atau belum pernah, maka lupakan saja, abaikan saja. Jika pernah, beberapa kali, atau sering, atau bahkan hampir setiap hari, maka itu berarti saya tidak sendirian.


Ya, memang saya jarang sendirian, apabila itu berkaitan dengan kamu. Hampir sulit menemukan sesuatu, entah ingatan atau apalah itu, yang hanya saya, orang yang memiliki atau mengalaminya. Kita, maksud saya adalah kamu dan saya, hampir tidak pernah menghabiskan waktu bersama, hanya berdua saja. Kebersamaan kita yang hanya berdua saja, dan itu terekam, sepertinya hanya berjumlah satu saja, saat tiba-tiba muncul inisiatif untuk ambil gambar bersama.


Selain kamu dan saya seringnya menghabiskan waktu dengan teman-teman lainnya, kebersamaan kamu dan saya, bukan dipenuhi oleh kepastian-kepastian dan kejelasan-kejelasan yang sudah terjadwal, melainkan dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan dan kebetulan-kebetulan.


Sekolah, dan peserta didiknya, bersifat akademik, ilmiah atau saintifik, sekaligus sendu, sedu sedan, haru, dan melankolis. Bagaimanapun sulitnya mata pelajaran dan konflik antar individu, tetap akan menyisakan romantisme-romantisme, seromantik narasi heroik prosa atau puitis yang berasal dari sastra Abad Pertengahan dan Romantik, atau revolusioner romantik dengan kegetiran skala besar seperti seratus bunga mekar yang melompat jauh ke depan.


Sekolah adalah tempat terjadinya peristiwa-peristiwa, dimana para pelakunya mengaku rindu, tapi enggan kembali bertemu. Entah kamu atau saya yang lebih mirip sekolah. Tapi, mungkin yang lebih mirip sekolah itu saya, kamu peserta didiknya. Meski begitu, saya lah yang mungkin lebih banyak mendapatkan pelajaran dari kamu. Dan ya, kamu sudah lama lulus, sekarang jadi alumni. Jadi alumni saya, sekolahmu.


Karena saya adalah sekolahmu, bukan rumahmu, saya memang tempat untuk kamu belajar, bukan tempat kamu untuk pulang. Bisa belajar bareng, tapi tidak bisa pulang ke rumah yang sama. Bisa terhubung, tapi tidak bisa terikat dengan perjanjian hidup yang sama. Bisa bertemu, tapi tidak bisa bersatu. Saya bukan rumah, adalah sekolah, yang pernah, untuk singgah. 


Terkadang dalam pelepasan, pisah kenang, ada pelajaran-pelajaran perih yang mesti dilakukan untuk jadi dewasa. Kelulusan, mungkin adalah salah satu perpisahan yang dirayakan. Termasuk kelulusanmu, yang berarti saya berpisah dengan kamu, malah saya merayakannya. Barangkali, itulah kedewasaan, kedewasaan adalah bersukacita merayakan perpisahan karena kelulusan. Kamu adalah kata benda, sekaligus kata kerja, juga kata sifat, yang berarti semakin jauh. Selamat, ya, alumni. Setelah ini hanya ada kelanjutan-kelanjutan, dari perjalanan, dari petualangan. 

Kamis, 10 Februari 2022

,



Kepada yang pernah berjasa

Salam keajaiban


Tadi malam itu, saya kan barengi sahabat saya di lokasi jualan. Saya barengi sampai selesai, sampai pulang lah. Sahabat saya yang saya barengi itu, kalau ikut lomba penataan, kayaknya kandidat kuat juara 1. Gimana ndak gitu, kalau urusan beres-beres, bersih-bersih, rapi-rapi, top banget dah. Saya jadi ingat sama kamu. Itu satu.


Selain itu, kami juga ngobrol-ngobrol, ada beberapa lah. Cuma di tulisan ini, saya mau berbagi soal kisah salah seorang ulama' yang diceritakan oleh sahabat saya itu, namanya Muhammad Ismail al-Bukhari, Ulama Hadits terkenal itu yang nulis kitab Shahih Bukhari, atau di dalam riwayat lain yang saya terima, ulama yang dikisahkan itu adalah Imam Ahmad bin Hanbal, Ulama Hadits juga, dikenal sebagai pendiri Madzhab Hanbali juga. Yang inti dari cerita itu adalah, Alim tersebut tiba-tiba ingin sekali pergi ke suatu kota, dan akhirnya diketahui bahwa keinginan yang tiba-tiba muncul itu disebabkan oleh doa yang terus-menerus dipanjatkan oleh seorang penjual Roti yang ingin sekali bertemu dengan beliau. Kata kuncinya di sini salah satunya adalah keajaiban.


Jadi, ada dua kata kunci di surat ini, pertama kamu, kedua keajaiban.


Nah, dalam perjalanan pulang, kan masih ada sisa gerimis tuh. Secara, di atas motor, ada sisa gerimis, di jalan banyak genangan, muncul dong ingatan soal kenangan. Bukan kenangan soal mantan tapi ya. Kamu kan bukan mantan saya. Kamu kan saya anggap "alumni". Ngomong-ngomong, kapan nih kita bisa reuni? Skip dulu ya.


Kita kembali ke dua kata kunci tadi.


Kalau diingat-ingat, lima sampai tiga tahun lalu, mungkin saya termasuk manusia yang paling cuek ya di hidup kamu. Cuek bebek kayak es batu. Eh, tunggu bentar. Bebek kan unggas, kok nyampe ke es batu? Garing ya? Ya intinya itu dah.


Sambil ngingat itu, dan untungnya saya ndak pernah hapus pesan, saya cari tuh pesan-pesanmu di tahun-tahun segitu. Saat kamu sering nanya-nanya, dari nanya tugas sampai remeh-temeh. Kalau dipikir-pikir, kamu lumayan perhatian juga ya ke saya. Cuma ya kok saya dulu kurang peka, atau ndak peka sama sekali. Saya bahkan curiga, jangan-jangan pas dulu kamu sering curhat juga ke saya, entah lewat pesan elektronik atau pas ketemu di warung kopi, respon saya terlalu datar. Jadinya kurang menarik.


Kayaknya dulu itu, selain mungkin karena saya terlihat cerdas nan pintar, ndak ada lagi kelebihan yang tampak. Sudah rambutnya gondrong jarang disisir, kurang peduli juga sama penampilan. Kalau sekarang kan sudah agak beda.


Saya juga, entah buruk sangka atau baik sangka ini, bisa saja pas kamu dapat respons yang datar gitu saja dari saya, kamu sempat berdoa buat saya. Siapa yang tau kan, kalau keajaiban-keajaiban yang saya alami sekarang, sebagiannya berasal dari doa kamu yang dulu, yang baru terkabul sekarang.


Doa penjual roti saja bisa membuat seorang 'Alim tiba-tiba ingin pergi ke suatu kota. Dan, kalau benar kamu sempat berdoa buat saya, dan baru terkabul sekarang, berarti bisa dong saya berdoa sekarang, biar kapan-kapan bisa ketemu sama kamu lagi.


Pokoknya terima kasih banyak atas jasa-jasamu yang dulu. Beruntung sempat ketemu sama kamu. Semoga kita bisa ketemu lagi. Sudah itu dulu sementara sekarang. Besok-besok sambung lagi. Tunggu saja keajaiban datang ke kamu.