Membangun relasi, dalam hal ini bukan hubungan atau relationship antara laki-laki dan perempuan untuk kepentingan asmara, melainkan untuk kepentingan seperti pekerjaan, bisnis, organisasi, dan lainnya, kemungkinan besar tidak diajarkan di kelas akademik. Selain itu, saya sering mendapat nasehat, saran, masukan, soal pentingnya membangun relasi, entah secara lisan atau dari artikel-artikel di internet.
Yang jadi persoalan bagi saya adalah, nasihat, saran, masukan, tips, atau apapun itu, bisa dibilang cenderung normatif, cenderung tidak aplikatif, atau semacam bukan panduan strategis atau teknis begitu. Salah satu yang menurut saya lebih bisa menggambarkan adalah hubungan kekeluargaan atau kekerabatan, hubungan alumni atau almamater, dan seperti MoU di dinas pemerintah atau perusahaan.
Hanya saja, sebelum yang bersifat teknis itu, tentu ada yang sifatnya lebih mendasar, seperti pertanyaan relasi seperti apa yang mau dibangun? Relasi untuk kepentingan apa? Bagaimana membangunnya secara strategis dan teknis?
Tulisan ini bisa dibilang hanya akan menyentuh soal konsep dasar, atau pola pikir dasar, soal membangun relasi. Itupun hanya sebatas kegelisahan, pengalaman, dan renungan pribadi. Sebab bagaimanapun, saya belum bisa dikatakan sebagai orang yang sudah betul-betul hebat.
Saya menggunakan istilah relasi untuk menyebut hubungan secara umum, hubungan apapun itu. Soal bagaimana yang sedikit lebih rinci, saya membagi relasi tersebut, setidaknya, menjadi network (jejaring/jaringan) dan connection (koneksi/keterhubungan).
Relasi menurut saya, sudah bisa dibilang relasi, apabila 2 orang saling kenal. Lebih dari itu, pertemanan misalnya, juga termasuk relasi. Entah itu atas nama pribadi, mewakili individu secara personal, atau atas nama posisi, mewakili kelompok secara kolektif.
Soal apa saja, berapa banyak, seberapa sering, 2 orang itu dipertemukan, dipersatukan, tunggu dulu. Perlu pembahasan lebih dari relasi. Perlu dibahas, setidaknya, apakah relasi atau relation itu merupakan network atau connection. Kalau sekedar relation tanpa network atau connection, bisa saja hubungan itu sekedar "ada", tapi tidak "hidup" atau tidak "bekerja".
Saya melakukan penelusuran soal network dan connection ini dalam bahasa Indonesia, tetapi saya rasa kurang memuaskan. Jadi saya melakukan penelusuran dalam bahasa Inggris, dan berikut rangkuman dari hasil penelusuran saya
Network: lebih aktif
Connection: lebih pasif
Network: cenderung bekerja
Connection: cenderung tidur
Network: lebih sedikit
Connection: lebih banyak
Network: cenderung mendalam
Connection: cenderung permukaan
Network: lebih sempit
Connection: lebih luas
Network: lebih sering
Connection: lebih jarang
Network: Interaksi-Transaksi
Connection: Interaksi-Asosiasi
Network: Profesional
Connection: Personal
Network: Terarah
Connection: Acak
Network: waktu kerja
Connection: waktu santai
Network: bertugas
Connection: berlibur
Antara lain seperti itu perbandingan yang saya dapatkan dari sumber bacaan dalam bahasa Inggris.
Membangun relasi, sekedarnya saja, bisa dengan semua orang, tanpa terkecuali. Hanya saja, menurut saya pribadi, dari relasi ala kadarnya menjadi jejaring yang terhubung, perlu perencanaan sampai evaluasi, karena bagaimanapun manusia memiliki keterbatasan.
Kalau misalnya ditambah lagi dengan kata kunci, saya sementara ini menemukan dua kata kunci, selain soal strategi dan teknik dalam networking atau connecting, yaitu "kepercayaan" dan "keberuntungan". Kepercayaan bukan tentang seberapa hitungan orangnya, tetapi makna dan kualitas dari suatu hubungan. Selain itu, seringkali, hubungan itu berjejaring dan terhubung, "tiba-tiba" saja, bukan aneh, melainkan berarti itu adalah keberuntungan.