---Di mana pun adalah ruang kelas---

Minggu, 26 Juni 2022

,

 Geser "Bagaimana" menjadi "Siapa"


Ada satu ingatan, satu pengalaman, satu renungan, tentang pergeseran dari "bagaimana" ke "siapa" ini, yang bagi saya, perlu ditulis, baik manfaatnya untuk diri saya sendiri, secara pribadi, maupun untuk orang lain. Mumpung sempat juga, mumpung ada waktu dan energi untuk menuliskannya. Meskipun ada waktu tapi energinya tidak ada, juga tidak mungkin ini tertuliskan.


Saya beberapa kali menjadi narasumber atau instruktur dalam kegiatan diklat yang diselenggarakan oleh ormawa dan pesertanya juga mahasiswa, adik-adik tingkat saya. Perbedaan saya dengan narasumber atau instruktur yang lain adalah, salah satunya adalah jika saya memiliki kecenderungan untuk tidak terlalu menyampaikan atau melatih isi pelatihan yang sifatnya teknis, melainkan yang sifatnya non-teknis, seperti mindset atau pola pikir, seperti mental, seperti paradigma. Jadi, yang saya sampaikan atau saya latih adalah, bukan untuk menjawab pertanyaan "bagaimana", melainkan menjawab pertanyaan "mengapa".


Akan tetapi, selama sekitar setahun terakhir, pergeserannya lebih dari biasanya. Bukan hanya pergeseran dari "bagaimana" ke "mengapa". Lebih dari itu, pergeserannya dari "bagaimana" ke "siapa". Ada ungkapan yang dalam bahasa Inggris itu kurang lebih berbunyi, "It is not what or how you know, it is who you know". Sejak saya mendapatkan kesadaran baru mengenai hal ini, saya kemudian menjadi menekankan setiap kali saya diminta untuk menjadi narasumber atau instruktur dalam kegiatan diklat, bahwa bukan soal "bagaimana" melainkan "siapa".


Biasanya, pertanyaan dari peserta menggunakan kata tanya "bagaimana". Misalnya, ada pertanyaan,

"Bagaimana cara memperbaiki kalimat?"

"Bagaimana cara menyusun paragraf?"

"Bagaimana cara menemukan ide dalam menulis artikel?"

dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.


Ketika ada beberapa peserta yang bertanya, dan pertanyaannya sama-sama menggunakan kata tanya "bagaimana", saya memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu satu persatu. Saya memilih untuk menjawab semua pertanyaan sekaligus dengan satu jawaban,

"Bukan tentang bagaimana, melainkan siapa"

Sebelum saya masuk ke pembahasan teknik menulis atau teknik apapun itu, saya hendak menggeser pola pikir atau mindset, menggeser mental, menggeser paradigma, terlebih dahulu.


Begini,


Daripada beberapa pertanyaan yang dimulai dengan kata tanya "bagaimana" tadi, masih lebih powerful ketika pertanyaannya, 


"siapa yang bisa saya 'tempel' tiap hari untuk menjadi seorang jurnalis atau penulis artikel ilmiah yang kompeten?"


Sebab bagi saya, menemukan satu orang yang bisa saya tempel, menjadi mursyid saya dalam suluk akademik atau suluk apapun itu, jauh lebih berharga dan powerful daripada menemukan tulisan panduan hasil browsing, atau menemukan video tutorial di YouTube, atau membaca banyak buku bertema kesuksesan dalam bidang tertentu.


Dalam manajemen, faktor manusia (Man) atau sumber daya manusia (human resource/human capital) selalu lebih penting daripada money atau machine. Dalam pendidikan, thoriqoh lebih penting daripada maddah, tetapi mudarris lebih penting daripada thoriqoh.


Meskipun, misalnya, seseorang tiap hari membaca banyak buku, membaca banyak artikel panduan di browser, menonton banyak video di YouTube, tentang bagaimana cara menjadi penulis andal, tetapi, tiap hari ngumpulnya dengan orang-orang, yang baca buku saja, malas, apalagi menulis, tambah malas. Ketika konteksnya seperti itu, maka menurut saya, akan sulit untuk mencapai target.


Saya ada cerita, dan ini kisah nyata, bukan hasil imajinasi karangan saya. Saya betul-betul menemukan di dalam kenyataan. 


Ada 2 perempuan. sebut saja Mawar dan Melati.


Mawar, sejak semester 1 sampai 4, dia rajin baca buku, rajin nulis juga. Bahkan dia pernah menjuarai lomba menulis esai. Mau mulai semester 5, dia dekat dengan seorang laki-laki yang menurut saya "nggak banget". Saya amati tampaknya laki-laki itu tidak akan mau dan bisa mendukung bakat dan minat menulis Mawar. Lalu saya prediksi, si Mawar bakal 'redup'. Dan betul, sejak semester 5 sampai semester 8, Mawar mulai jarang baca buku, mulai jarang posting tulisan, tidak pernah ikut lomba menulis lagi. Semakin 'hilang' dari 'peradaban'. 


Berbeda dengan Mawar, si Melati lain ceritanya.


Melati, sejak semester 1 sampai 4, seperti orang 'linglung' kalau dalam istilah saya. Malas gerak, tidak tau atau tidak mengerti arah dan tujuan hidupnya, bingung soal banyak hal dalam hidupnya, pokoknya hari-harinya seperti 'suram' ke depannya. Mau masuk semester 5, dia mulai dekat dengan seorang laki-laki. Si laki-laki ini, meskipun ya bukan berasal dari latar belakang keluarga yang kaya raya dan berkuasa istimewa, tetapi laki-laki ini, ganteng, cerdas, pintar, rajin, pekerja keras. Sejak semester 5 sampai semester 8, Melati makin hari, makin meningkat rasa ingin tahunya, makin rajin baca buku, makin sering lihat postingan tentang akun-akun akademik dan lomba, makin sering nonton video inspiratif di YouTube.


Artinya, tetap, bahwa bukan tentang "bagaimana", melainkan tentang "siapa". Meskipun begitu banyak "bagaimana" yang bisa terjawab, tetapi sehari-hari berteman atau berpasangan dengan orang yang justru menghambat tujuan, target, atau impian, ya kemungkinan besar sulit sekali tercapai.


Coba sudah dipikir dan direnungkan,


Antara "orang yang kuliah 4 tahun di prodi Pendidikan Bahasa Arab atau Pendidikan Bahasa Inggris" dengan "orang yang belajar 2 tahun di asrama Bahasa Arab atau Asrama Bahasa Inggris", mana yang cenderung lebih menguasai keterampilan berbahasa Arab atau Inggris?


Antara "orang yang 6 tahun kuliah S3 Ilmu Politik" dengan "orang yang 3 tahun menjadi istri Bupati", mana yang lebih berpeluang untuk dicalonkan dan kemudia terpilih untuk menjadi bupati di periode setelahnya?


Lagi, bukan tentang "bagaimana" melainkan tentang "siapa"


Tapi memang, ada beberapa kasus, meski sudah terjawab kata tanya "siapa", tetapi nihil peningkatan kompetensi. Saya menyebutnya, "nempel tapi ndak nular"

Ada yang tiap hari ketemu, atau bahkan tinggal bersama di sebuah bangunan, tapi tidak ada korelasi positif. Misalnya, tinggal bareng seorang penulis selama setahun, tapi sekedar nulis paragraf saja ndak bisa. Tidak menular kan istilah saya. 


Jadi, pertanyaan, "mengapa tidak ada peningkatan kompetensi?" Jawabannya, "karena sekedar nempel tapi ndak nular"

Kalau ada pertanyaan lagi, "mengapa sudah nempel tapi ndak nular?" Jawabannya, "karena tidak memanfaatkan atau memfungsikan fasilitas"

Fasilitas yang saya maksud bukanlah sarana alat atau bangunan. Fasilitas yang saya maksud adalah kesempatan untuk sesi konsultasi, coaching, mentoring, yang seperti itu. Meskipun selama setahun tinggal sekontrakan dengan seorang jurnalis atau dosen, tetapi tidak pernah ngobrol atau konsultasi tentang penulisan, ya jadinya menulis satu paragraf saja kesulitan. Bahkan, ada kemungkinan, ketika "siapa" itu sudah ditemukan, fasilitas yang bisa tersedia, sampai "full back up". Full back up ini, setidaknya ada beberapa arti, 2 di antaranya, sampai tujuan atau target atau impian itu betul-betul terwujud, atau arti lainnya adalah yang biasa diistilahkan dengan "orang dalam". Full back up juga berarti termasuk full trust atau kepercayaan penuh.


Apa lagi ya, yang mungkin bisa menjadi penjelasan? Mungkin segini saja dulu.


It is not what you know

It is who you know


It is not what you do

It is who you do with


It is not what you get

It is who you get





Minggu, 05 Juni 2022

,

 tak ada yang lebih lega

dari bujang bulan Juni

dipublikasikannya kebiasaannya

kepada publik yang menaruh atensi itu


tak ada yang lebih bijak

dari bujang bulan Juni

tak dihapusnya kenangan-kenangan indahnya

yang diambil sebagai pelajaran itu


tak ada yang lebih berhasil

dari bujang bulan Juni

dibiarkannya transaksi jasa dan barang

terus mengalir di arus kas itu