Oleh: M. Q. Aynan
Beberapa kawan bertanya kepada saya tentang jurusan bahasa asing di kampus. Ada yang bertanya memang penasaran, ada juga yang sekedar basa-basi. Pertanyaan seperti itu bisa dijawab dengan cara mempersilakan penanya untuk mengalami sendiri. Tentu tidak semua orang berminat. Oleh karenanya, saya akan mencoba untuk menjawabnya dengan kata-kata.
Menurut saya, ada dua model belajar bahasa asing. Pertama adalah bahasa asing sebagai ilmu. Kedua adalah bahasa asing sebagai kebiasaan. Mungkin ini terjadi pada semua bahasa. Akan tetapi, saya akan membatasi kepada bahasa Arab dan bahasa Inggris karena saya pernah mempelajari kedua bahasa ini sebagai ilmu dan sebagai kebiasaan.
Pertama, bahasa sebagai ilmu, bertujuan mencetak ilmuwan bahasa/linguis. Ada sebuah ungkapan,”linguists are not necessary polyglot”. Seorang ilmuwan bahasa Inggris atau Arab, misalnya, tidak selalu lancar ketika berbicara dalam bahasa Inggris atau Arab. Akan tetapi, ia mahir dalam kajian bahasa Inggris atau Arab baik secara mikro seperti analisis gramatika, morfologi, sintaksis, dll. maupun secara makro seperti kajian sosiolinguistik, psikolinguistik, atau mengkaji ideologi yang membentuk teks, kajian intertekstualitas, kajian teks dan konteks.
Contoh konkretnya bisa dilihat baik ketika saya di pesantren dulu maupun di kelas di kampus. Orang-orang yang punya kecenderungan ini biasanya tidak terlalu cerewet. Ketika di pesantren dulu, ada orang-orang yang tidak terlalu lancar berbicara dalam bahasa Arab. Akan tetapi, mereka mahir dalam membedah kalimat bahasa Arab. Ini dikarenakan materi yang diajarkan meliputi nahwu (Alfiyah Ibnu malik), shorof (Amtsilatut Tashrifiyah dan nazham Maqshud), serta tak lupa balaghah (Husnus Siyaghah). Produk dari model ini bisa dilihat di lomba MQK. Kalau bahasa Inggris di kampus, ada orang-orang yang pronunciation-nya sering keliru atau berbicara terbata-bata. Akan tetapi, dia akan menulis berlembar-lembar jika ada tugas grammar atau morphology.
Yang kedua, bahasa asing sebagai kebiasaan. Tujuan dari belajar model ini adalah mencetak “bule”. Seseorang akan lancar dan fasih ketika berbicara bahasa Inggris atau Arab. Yang namanya “bule”, seseorang akan seperti penutur aslinya. Lancar berbicara dalam bahasa Inggris, baik yang resmi maupun bahasa slang, namun grammar-nya tidak terlalu baik. Lancar berbicara dalam bahasa Arab baik yang fushha maupun yang haditsah, namun tidak kenal shorof. Orang-orang model ini biasanya belajar lewat lagu atau video, intinya cenderung visual. Akan tetapi, ia akan pusing jika disuruh membaca buku-buku yang “berat”.
Contoh konkretnya bisa dilihat. Kalau bahasa Arab, nahwu yang dipelajari hanya sebatas an-Nahwu al-Wadlih, namun ketika berbicara, seperti asli orang Arab. Orang model ini biasanya tahu beberapa dialek yang tidak “resmi”, seperti kata “Qalb” dibaca “Alb” atau kata “Maqadir” dibaca “Magadir”. Lomba yang biasanya diikuti seperti Khitobah, dsb. Kalau bahasa Inggris,seseorang akan seperti native speakers. Ia tahu para penyanyi yang berada di tangga lagu dan belajar dari mereka. Umumnya yang digunakan adalah bahasa sehari-hari. Ketika disuruh membaca buku yang “berat”, ia akan kesulitan saat bertemu dengan kata-kata yang ilmiah dan filosofis.
Itu semua berdasarkan pengalaman saya, bukan telaah pustaka. Bisa saja seseorang belajar dengan kedua-duanya dan mahir baik dalam berbicara maupun membaca. Jika ada pengalaman lain, itu di luar alam saya.
Realistis
BalasHapus