---Di mana pun adalah ruang kelas---

Jumat, 21 Februari 2025

,

Kabari Aku: Syair Pujian Rindu Nabi Muhammad




Kabari aku, kabari, kabarilah


Berhembuslah angin membawa rinduku

Hatiku gelisah merindu Nabiku

Sepanjang malam kuharap berjumpa

Menatap wajahnya bercahya mulia


Kabari aku, kabari, kabarilah


Wahai Rosululloh cahaya hatiku

Namamu terukir di dalam jiwaku

Syafa’atmu nanti kuharap selalu

Di hari kiamat di sisi Tuhanku


Kabari aku, kabari, kabarilah


Siapa mencela rindu yang kupunya

Tak tahu pedihnya menahan nestapa

Sejak lama hati menanti bahagia

Mengharap bertemu kekasih tercinta


Kabari aku, kabari, kabarilah


Wahai yang mulia cahaya dunia

Penyampai risalah yang penuh rahmatnya 

Berikanlah aku syafa’at darimu


Agar hidup ini bahagia selalu 

Selasa, 18 Februari 2025

,

karangan saya, Muhammad Qurrotul Aynan

Selesai dikarang di desa Karangsengon kecamatan Klabang kabupaten Bondowoso

Selasa, 18 Februari 2025


Allahummaghfirli

Dzunubi wa liwalidayya

Warhamhuma kama

Robbayani shoghiro


Ya Allah rahmati

Ibu dan Bapak kami

Jadikanlah mereka

Hidup penuh cahaya


Ya Allah lindungi

Sekeluarga kami

Dari marabahaya

Agar aman sentosa


Ya Allah ampuni

Leluhur dari kami

Lapangkan kubur mereka

Tempatkanlah di surga

Minggu, 02 Februari 2025

,

Mengapa Saya Memilih WhatsApp sebagai Media Diskusi untuk Skripsi 



Pendahuluan


Sebagai seorang 'guru les' atau 'pembimbing belajar', khususnya untuk mahasiswa semester akhir yang sedang menghadapi skripsi, saya telah melalui berbagai pendekatan dalam memberikan bimbingan. Salah satu pendekatan yang kini saya terapkan adalah menggunakan WhatsApp sebagai media utama untuk diskusi. Keputusan ini bukan tanpa alasan—berdasarkan pengalaman, diskusi tertulis melalui WhatsApp memiliki manfaat yang jauh lebih efektif dibandingkan pertemuan langsung atau video call.  



Pengalaman dengan Pertemuan Langsung  


Sebelumnya, saya pernah memberlakukan pertemuan langsung dengan cukup banyak mahasiswa (puluhan orang). Kami berdiskusi panjang lebar, mendalami materi, menyelesaikan permasalahan, dan memberikan arahan langkah selanjutnya. Namun, ada satu pola yang sering terjadi: mahasiswa cenderung lupa apa yang sudah dibahas. Tidak jarang mereka kembali dengan pertanyaan yang sama, yang sebetulnya sudah dijelaskan saat pertemuan sebelumnya.  


Hal ini tidak sepenuhnya salah mereka. Dalam proses bimbingan, informasi yang disampaikan secara lisan memang mudah terlupakan, terutama jika mahasiswa tidak mencatat dengan baik. Akibatnya, waktu diskusi berikutnya sering kali habis hanya untuk mengulang pembahasan yang sebelumnya sudah dijelaskan.  



Kelebihan Diskusi via WhatsApp  


Melihat pola tersebut, saya memutuskan untuk beralih ke diskusi tertulis melalui WhatsApp. Ada beberapa alasan utama mengapa keputusan ini lebih efektif:  


1. Catatan yang Tersimpan

   Semua diskusi tertulis secara otomatis tersimpan di aplikasi. Jika mahasiswa lupa sesuatu, mereka tidak perlu bertanya ulang. Cukup membaca kembali percakapan sebelumnya, dan informasi yang mereka butuhkan dapat dengan mudah ditemukan.  


2. Mudah Dilacak

   Format tertulis memudahkan siapa saja untuk mencari topik tertentu menggunakan fitur pencarian dalam WhatsApp. Misalnya, jika mahasiswa ingin mencari penjelasan terkait "metode penelitian," mereka hanya perlu mengetikkan kata kunci tersebut.  


3. Efisiensi Waktu

   Dengan diskusi tertulis, waktu menjadi lebih efisien. Tidak ada lagi jeda panjang karena mahasiswa lupa materi, sehingga pembahasan dapat langsung fokus pada solusi atau langkah selanjutnya.  


4. Fleksibilitas dan Kenyamanan

   Diskusi lewat WhatsApp juga memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa (atau saya) yang mungkin memiliki jadwal padat. Mereka bisa bertanya kapan saja, dan saya pun dapat menjawab sesuai waktu yang memungkinkan tanpa tekanan pertemuan tatap muka.  



Hasil yang Terbukti  


Sejak menerapkan metode ini, saya melihat peningkatan efektivitas dalam bimbingan. Catatan diskusi selalu tersedia untuk dirujuk. Mereka juga lebih cepat memahami arahan karena tidak perlu mengulang pertanyaan yang sama.  



Penutup  


Setiap metode bimbingan memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, bagi saya, menggunakan WhatsApp untuk diskusi bimbingan skripsi adalah langkah yang tepat, terutama dalam memastikan informasi tersimpan dengan baik dan mudah diakses. Dengan cara ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan arahan yang mereka butuhkan, tetapi juga belajar untuk lebih bertanggung jawab terhadap proses belajar mereka sendiri.  


Metode ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar—bagi saya sebagai 'pembimbing', dan terutama bagi mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan skripsinya.