Oleh: M. Q. Aynan
Pelaku pengeboman di Surabaya membuktikan bahwa mereka memiliki keterampilan kontra intelijen yang sangat kuat. Demikian disampaikan Prof Ach Muzakki, yang juga Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UIN-SA) Surabaya. Menurut Prof Zaki, pola mereka bisa dilihat dan dibuktikan dengan pelaku yang tidak diprediksi aparat. Dulu, pelakunya laki-laki dewasa. Begitu aparat menyasar mereka, maka sekarang ini pelaku merupakan perempuan dewasa dan anak-anak.
Karena perempuan, tentunya pelaku tidak mengebom karena iming-iming bidadari di surga. Akan tetapi, bisa jadi dengan alasan taat kepada suami. Dengan alasan itu, pelaku digiring untuk melakukan tindakan yang tidak hanya mencelakakan orang lain melainkan juga dirinya sendiri. Keterlibatan itu harusnya membuat perempuan, utamanya, untuk memikirkan kembali kedudukan istri bagi suami.
Selain berjenis kelamin perempuan, pelaku juga memakai simbol keagamaan yang menunjukkan identitas keislaman. Busana yang dikenakan oleh pelaku bom bunuh diri memberikan ciri khas khusus yang mengarah pada satu golongan. Niqab dan cadar hitam yang sangat mencolok menandakan bahwa agama si pelaku beragama Islam. Dalam syariat Islam terdapat ketentuan menutup aurat bagi wanita yakni seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Sedangkan memakai cadar tidak wajib hukumnya.
Pakaian tertutup sangat efektif untuk menyembunyikan bom. Tak sopan rasanya jika perempuan, apalagi mengenakan pakaian tertutup, digeledah. Hal itu kemudian dimanfaatkan oleh kelompok teroris untuk melancarkan aksinya. Dengan itu, tingkat keberhasilan akan lebih tinggi karena jarak dengan sasaran lebih dekat daripada laki-laki.
Majlis taklim dan mushalla memiliki peran penting dalam hal ini. Keduanya berinteraksi langsung dengan masyarakat. Tetangga utamanya, sebagai orang-orang yang dekat mesti memberi dukungan untuk mencegah aksi teror. Semua orang berpotensi menjadi teroris jika tidak ada bimbingan untuk melawan orang-orang yang mengatasnamakan agama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar