---Di mana pun adalah ruang kelas---

Minggu, 31 Januari 2021

,

 "Tidak peduli pupuk organik atau pupuk kimia, yang penting bisa menyuburkan tanah. Memupuk tanaman, sirami air."


"Mempertahankan kolektivitas, mempertahankan kemutlakan intelektual mempertahankan kepemimpinan pergerakan, mempertahankan Aswaja an-Nahdliyah."


"Kebodohan bukanlah kolektivitas. Menjadi pintar adalah mulia, bukan lebih baik bodoh di bawah kolektivitas daripada pintar di bawah kehendak pribadi."


"Mencari pengetahuan dan kebenaran berdasarkan kenyataan. Kenyataan adalah melihat dan mendengar secara langsung."


"Pengetahuan berdasarkan dari dua sumber, yakni pengetahuan yang didapat dari pengalaman kerja dan pengetahuan yang didapat dari buku. Pengalaman kerja adalah sumber pengetahuan primer, sedangkan buku adalah sumber pengetahuan skunder. Menjadikan yang skunder menjadi primer pasti akan mengakibatkan sesat pikir dan sesat kerja."


"Di atas tanah semi feodal dan semi taklukan, perlu menghela tali yang panjang untuk bisa menangkap sapi."


"Silakan ada sektor perseorangan, tapi keanggotaan kelompok tetap dominan."


"Kita sangat pandai dalam revolusi, tetapi kita tidak cukup kemampuan untuk mengelola ekonomi."


"Kami tidak banyak membaca buku. Kami hanya melaksanakan apa yang pimpinan katakan, bahwa mencari kebenaran berdasarkan kenyataan. Sebab membaca terlalu banyak buku hanya akan menghabiskan waktu untuk bisa melihat kenyataan."

,



Ia tidak banyak kata-kata dalam bicaranya. Ia lebih suka menyimpan pemikirannya dan mengekspresikan perasaannya dengan ungkapan berbeda.


Ia memiliki suara, yang meski tidak semerdu vokalis terkenal, tapi tidak fals. Bahkan ia pernah dipercaya, atau dapat dikatakan terpaksa, beberapa kali untuk menjadi vokalis.


Ia menganggap masa khidmat sebagai masa di mana ia menikmati hidup yang sesungguhnya. Ia mengaku kembali menemukan prestasi alternatifya selama menjalani berbagai penugasan. Di usia dua puluhan, ia menghabiskan lebih dari separuh waktunya dengan menganalisis tanggungjawab dan peran yang harus ia mainkan.


Ia menyadari kehidupannya sebagai penanggungjawab tidak bisa lepas dari penilaian orang banyak soal tanggungjawabnya. Tentu saja hal itu bertolak belakang dengan kepribadiannya yang introvert dan tidak suka berada di tengah keramaian apalagi menjadi pusat perhatian.


Karakternya yang kharismatik namun agak kaku saat menghadapi perempuan tertentu. Selain sulit ditebak, ia juga tidak banyak mengumbar kehidupan pribadinya. 

Jumat, 29 Januari 2021

,

Ksatria Senopati Mandhita Jadi Mahaguru, Momen Lengser Asmara, dan Akhir Kedigdayaan

Muhammad Qurrotul Aynan



Tersebutlah seorang ksatria, ia yang tak banyak orang mengenali wajahnya. Ia secara istikamah melakukan tirakat lahir berupa menyerap ajaran-ajaran yang tertulis di atas lontar-lontar warisan para pujangga terdahulu. Tirakat batinnya terutama menyucikan diri dari sifat tercela, didukung dengan wirid dan mantra.


Tak kalah terkenalnya adalah kejeniusannya dalam menaklukan wilayah untuk tunduk di bawah titah Ratunya, tanpa pertempuran, tanpa adu fisik. Hingga akhirnya, Sang Ksatria memutuskan untuk mandhita, menjadi salah seorang Mahaguru yang paling disegani seantero negeri. 


Penyebab utamanya tak lain tak bukan adalah oleh sebuah kejadian lengser asmara. Saat laga, tanding, siasat dan muslihat seolah sudah menjadi bagian organ dalam dirinya, sang senopati gagal dalam menjalankan misi asmara.


Misinya, Ksatria diminta untuk membujuk seorang Puteri Dewi untuk menjadi calon istri dan Ksatria senopati dikirim sendirian.


Ketika Ksatria sampai di tempat tujuan, ia dihalangi oleh kawanan orang. Ksatria awalnya menyangka orang-orang itu akan bersedia membantu keberhasilan misinya, namun ternyata justru menghalangi keberhasilan itu.


Ksatria memutar otak, mengadakan perundingan, agar misinya berhasil dan orang-orang itu bisa membantunya. menerima dirinya. Tapi perundingan berlangsung alot, dan mereka tetap bersikeras dan kedua pihak ini saling angkat senjata.


Meskipun Ksatria bisa memenangkan pertandingannya, tapi itu bukanlah nasib baik. Orang-orang lainnya kemudian mendengar kabar tentang kejadian itu, dan kejadian itu dianggap tabu atau bahkan aib karena Ksatria dikenal tidak pernah angkat senjata, selalu memilih untuk menyelesaikan urusan di meja perundingan.


Si Ksatria senopati sendiri kemudian pamit dari posisinya sebagai senopati dan tugas siasatnya. Dia lalu memilih meninggalkan istana dan memilih untuk menghuni gua di hutan.


Tak lama berselang, sesudah masyhur sebagai Mahaguru yang sering dikunjungi oleh para senopati lebih muda untuk dimintai fatwa, ia pindah tugas dan pindah alam. Seiring kepindahannya, secara perlahan kedigdayaan wilayahnya pun pudar.


Kisah yang sedikit diketahui orang ini sebelumnya hanya dituturkan lewan lisan, dituturkan bersama langkah kaki sang Ksatria Senopati untuk naik gunung, Mandhita menjadi Seorang Mahaguru, sembari keluar dari berbagai urusan istana, pindah masuk ke dalam gua. 

Kamis, 28 Januari 2021

,

Strategi, Taktik, dan Manuver, Menuju Kontestasi



Tulisan ini bukan hasil pembacaan buku-buku, melainkan lebih kepada hasil refleksi pribadi sependek bersinggungan dengan dinamika strategis di lingkungan sekitar.


Lingkungan strategis yang dimaksud baik lingkungan strategis internal dimana seseorang berada dan memiliki posisi, maupun lingkungan strategis eksternal baik yang diidentifikasi sebagai kawan maupun yang diidentifikasi sebagai lawan.


Sependek persinggungan pribadi, menghadapi lawan itu sulit. Akan tetapi, lebih sulit menghadapi kawan sendiri, sampai ada ungkapan bahwa musuh yang paling berbahaya adalah musuh dalam selimut. Oleh karena itu, tulisan ini akan lebih fokus membahas lingkungan strategis internal. Soal eksternal, bisa menyusul di kesempatan berikutnya.


Strategi dan taktik seringkali sulit dibedakan dengan jelas. Paling tidak, strategi biasanya menjawab pertanyaan "apa" dan sifatnya lebih umum. Selain itu, biasanya strategi diwakili oleh kata-kata meningkatkan, mengembangkan, menegakkan, menata, memberdayakan, mempercepat, dll. Untuk penjelasan lebih lanjut, bisa dibaca di berbeda rujukan sebab sekali lagi, tulisan ini bukan tulisan yang banyak mengandung konsep dan teori, melainkan hasil refleksi.


Sedangkan taktik biasanya menjawab pertanyaan "bagaimana" dan sifatnya lebih khusus. Itu perbedaannya dengan strategi. Sedangkan persamaan keduanya adalah sama-sama terencana dan tersusun. Secara umum, taktik biasanya dibagi antara penyerangan atau pertahanan. Sedangkan secara khusus, taktik dapat berbentuk beberapa macam, misalnya antara frontal atau gradual, ketat atau longgar, terbuka atau tertutup, cepat atau pelan, memusat atau menyebar, baku atau lentur, menghibur atau menyebalkan, menjemput atau menunggu, membuka atau mengunci, membiarkan atau menghalangi, dst.


Kata manuver tidak banyak dan jarang saya dengar di lingkungan sekitar entah karena kurang wawasan dan pengalaman atau faktor lain. Intinya, dari beberapa percakapan yang membahas tentang manuver ini, bisa dirangkum bahwa manuver seringkali spontan, bersifat cepat, tepat, tangkas, jangka waktu singkat, langkahnya kecil, bersiap di situasi sulit ditebak, dan peralihannya lincah. Manuver sangat mengandalkan momentum, sarat dengan muatan menikung, menipu, mengelabuhi, menghindar. Selain itu, penting juga memecah atau menyebar pasukan atau barisan.


Jadi, gerakan sebaiknya dirancang sedemikian rupa mulai dari yang sifatnya mendasar hingga yang rinci, mulai yang makro hingga yang mikro, dsb. Jika tidak dirancang dengan baik tapi acak, tanpa arah yang jelas, hanya mengandalkan emosional, tidak teratur dan rapi, lebih baik mundur atau urungkan maksud. Selamat menuju kontestasi. 

Selasa, 26 Januari 2021

,



Masalah hubungan antarpribadi cuma melibatkan 2 orang yang, meskipun secara jumlah sedikit, memang sangat pelik, apalagi melibatkan perasaan. Tak jarang, yang seperti ini lebih membuat kepala cenat-cenut dan dada berdebar-debar, gamang dengan pilihannya, melebihi penggarapan LPJ. 


Apakah akan menanggapi Melati yang perasaannya memang sudah tumbuh, berkembang, terpupuk, bahkan bunganya condong ke arahnya, atau mencoba pepet terus sang Mawar dengan resiko tertusuk durinya, menjadi luka, dan berdarah nantinya, sampai berurai air mata?


Bahkan, orang-orang yang dihinggapi rasa gamang ini bisa lebih absurd daripada orang-orang yang baca pemikiran Nietzsche dan Sartre. Meski absurdnya tingkat tinggi sampai melewati atmosfer, perlu lah kiranya makhluk di planet bumi ini tidak perlu mengkoloni planet Mars, tanpa berfilsafat ala Heidegger atau ala Kierkegaard atauh hal rumit lainnya yang pokoknya berkaitan dengan Ada dan Mengada, untuk menyelesaikan masalah yang sudah seperti banjir di ibukota ini. 


Tanpa berluas-luas lagi, langsung saja, apakah sampean adalah mahasiswa laki-laki yang kebetulan menjadi senior di sebuah organisasi dan sedang asyik-asyiknya memiliki adik-adik, terutama yang menggemaskan? Pernah sebegitu perhatiannya kepada adik mahasiswi, tapi dianggap biasa saja sehingga terjebak dalam Cakzone atau Dikzone?


Siapa tau ada kemungkinan salah dalam usaha meraih perhatian Mawar. Saya, yang entah jenis kelaminnya apa ini, mengamati bahwa perempuan itu memang senang diperhatikan, tapi Cak-Cacak juga harus sadari, kalau Cak-Cacak terlalu dekat dengan Mawar, malah itu bisa menjadi sebuah kesalahan. Mungkin Cak-Cacak ini terlalu nyaman dengan kedekatan yang sangat dengan Mawar, sampai akhirnya Cak-Cacak ini, di mata Mawar, dianggap hanya sebagai orang yang lebih tua atau senior, jadi Cakzone.


Pentingnya pemain cadangan bukan hanya dalam sepakbola, melainkan juga dalam urusan begini ini. Ajaran ini sudah terbukti tokcer dan cespleng, Cak! Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak cukup Mawar, Melati pun juga mari. 


Silakan buktikan sendiri khasiatnya.   

Minggu, 24 Januari 2021

,


Pada tanggal 23 Januari 2021 saya dipercaya sebagai narasumber dengan topik pembahasan keindonesiaan. Sepengetahuan saya sejak saya masih menjadi peserta masa penerimaan anggota baru di tahun 2016, panitia organizing committee di tahun 2017, panitia steering committee di tahun 2018, sampai fasilitator di tahun 2019, biasanya pembahasan ini fokus pada sejarahnya. Jadi, yang dikehendaki dengan keindonesiaan adalah sejarah Indonesia.


Untuk pelaksanaannya, saya sengaja merencanakan pembahasannya tidak langsung kepada pembahasan inti. Menurut saya, belajar topik apapun itu, perlu dimulai dari pembahasan yang paling mendasar. Karena ini bisa dibilang pembelajaran sejarah, maka saya dengan pengalaman pribadi yang telah saya sebutkan tadi, merancang pembelajaran sejarah Indonesia sebagai kumpulan fakta sekaligus kausalitas.


Dua kecenderungan ini dapat diterapkan semua dalam satu kali pertemuan. Yang dimaksud pembelajaran sejarah Indonesia sebagai kumpulan fakta adalah melihat keseluruhan pembahasan tersebut sebagai kumpulan fakta-fakta sepertinya tanggal pertempuran, nama-nama tokoh dan kota, dan seterusnya. Sementara sebagai kausalitas atau hubungan sebab-akibat melihatnya lebih umum seperti penyebab yang mendasari peristiwa, kesamaan antara peristiwa-peristiwa historis, dan hal-hal semacamnya. 


Perbedaan tersebut juga tampak dalam evaluasinya. Kecenderungan pertama menjawab pertanyaan-pertanyaan obyektif, yang berfokus pada ingatan terhadap informasi baik nama maupun angka, sementara kecenderungan kedua lebih kepada menjawab pertanyaan bagaimana dan mengapa. Jika hendak singkat, maka kecenderungan pertama dapat lebih ditekankan, apalagi jika post test hanya sebentar waktu yang tersedia. Kecenderungan kedua dapat lebih ditekankan nanti setelah kegiatan berakhirnya dan akan ditindaklanjuti.


Jika waktunya lama dan kesempatannya memungkinkan, saya yakin siapapun narasumber atau yang terlibat di dalam pembahasan ini akan menikmati kedua kecenderungan tadi. Hanya saja, sebagian besar jumlah narasumber tidak punya waktu yang cukup untuk merencanakan, melaksanakan, dan menilai masing-masing individu dalam cara yang betul-betul sesuai dengan gaya mereka bahkan jika mereka adalah pengajar yang cukup andal untuk melakukannya.


Demikianlah sedikit catatan yang saya hadapi di balik pengalaman tersebut. Terlepas dari segala keterbatasan, tiap peserta belajar dengan caranya masing-masing. 

Jumat, 15 Januari 2021

,


Mungkin pembaca pernah mengalami suatu kondisi dimana pembaca dulunya sering berkomunikasi, sering berkumpul bersama dengan orang-orang di lingkaran pembaca, entah teman main, teman sekolah, atau semacamnya. 


Akan tetapi, berbeda kondisinya dengan saat ini dimana pembaca jarang berkomunikasi, sulit bertemu secara tatap muka, merasa makin jauh, atau malah mulai merasa asing dengan orang-orang di lingkaran pembaca yang dulu pernah dekat. 


Hal itu wajar dalam perjalanan kehidupan. Tidak perlu terlalu dipikirkan. Pertanyaannya, mengapa kondisi tersebut bisa terjadi? Mengapa orang-orang di sekitar kita berubah?


Saya mencari berbagai tawaran jawaban, dan menemukan beberapa di antaranya. Namun, jika dirangkum ke dalam satu kalimat atau satu kata, maka kata yang menurut saya paling mewakili adalah: KEPENTINGAN.


Kita mungkin sering melihat tulisan yang tertera di pintu "DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK BERKEPENTINGAN". Atau mendengar kabar ada yang tidak masuk sekolah, tidak masuk kuliah, tidak masuk kantor, dengan alasan "ADA KEPENTINGAN KELUARGA".


Kepentingan bisa bermacam-macam, namun saya batasi ke dalam tiga kepentingan yaitu kepentingan aktivitas/kegiatan tertentu, kepentingan politik, dan kepentingan ekonomi/bisnis.


Kepentingan aktivitas/kegiatan berarti mengerjakan sesuatu yang sama, entah merawat anak bagi pasangan suami istri, bermain permainan yang sama, belajar di tempat yang sama, bekerja di tempat yang sama, menjadi panitia acara, dan kegiatan lainnya. Begitu aktivitas atau kegiatannya berbeda, ada kemungkinan untuk hubungan itu renggang atau bahkan terputus.


Kepentingan politik berarti berada di keberpihakan yang sama, entah mengusung calon yang sama, berada di satu partai politik yang sama, memperjuangkan isu yang sama, atau apapun yang sifatnya adalah memilih suatu keberpihakan.


Kepentingan ekonomi/bisnis seperti terlibat di suatu transaksi yang sama, entah sebagai produsen atau jual-beli antara penjual dan pembeli, atau apapun yang disitu ada nilai keuntungan ekonomis atau bisnis. Lebih dari itu, dua kepentingan sebelumnya yang disebutkan tadi juga tak jarang sarat dengan nilai ekonomis, bisnis, atau transaksional.


Teman sekolah atau teman kuliah tidak bisa bertemu atau berkumpul di kelas atau lembaga yang sama apabila tidak membayar biaya SPP atau UKT.


Pasangan suami istri jika tidak ada mahar, nafkah, biaya pangan, biaya sandang, biaya papan, sangat mungkin terjadi perceraian.


Koalisi politik jika salah satu pihak merasa tidak kebagian posisi atau anggaran, bisa jadi ada pecah kongsi.


Kalau bicara kepentingan, semua mengandung kepentingan. Persoalannya adalah kepentingannya itu apakah bersifat duniawi saja atau juga ukhrowi, pribadi atau bersama, sempit atau luas, jangka pendek atau jangka panjang.


Maka, tawaran saya jika hendak mempertahankan hubungan maka pertahankan dengan kepentingan. Untung jika hubungan itu bisa dipertahankan oleh kepentingan bersama, luas, jangka panjang, dan bernilai ukhrowi.