---Di mana pun adalah ruang kelas---

Kamis, 24 Mei 2018

Kembali Mengantarkan Kepada Teori Kritis



Beberapa hari lalu ada pesan masuk ke nomor saya. Inti dari pesan itu adalah, saya diminta untuk menyampaikan mengenai teori kritis (atau lebih tepatnya filsafat kritis) dalam acara teman-teman mahasiswa fakultas Ushuluddin IAIN Jember. Terus terang saya bertanya-tanya apakah panitia tidak salah alamat. Lalu dalam pesan selanjutnya panitia meminta saya untuk menyampaikan hal itu karena saya ditunjuk seseorang, dimana yang menunjuk saya ini menganggap saya mengerti dan paham hal ihwal persoalan tersebut. Reaksi saya adalah; waduh apakah saya bisa?. Tetapi karena ini amanah, maka sedapat mungkin saya tunaikan kepercayaan tersebut sebaik-baiknya. Dan yang pertama kali saya lakukan setelah meminta kisi-kisi materi dari panitia adalah segera membongkar lemari buku, membaca lagi bermacam bahan bacaan yang ada dalam komputer saya. Tak lupa sebagai bagian dari zaman now, internet juga saya ubek-ubek untuk mengumpulkan lagi remah-remah pengetahuan saya yang sudah hilang mengenai teori kritis.

Baik kita segera mulai. Dari semua bahan-bahan yang sempat saya kumpulkan dan baca mengenai teori kritis ada beberapa titik acuan dalam berdiskusi. Pertama, teori/filsafat kritis merupakan pemikiran (baca: epistemologi) yang menekankan penilaian reflektif dan kritik dari masyarakat dan budaya dengan menerapkan pengetahuan dari ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Sebagai istilah, teori kritis memiliki dua makna dengan asal-usul dan sejarah yang berbeda: pertama berasal dari sosiologi dan yang kedua berasal dari kritik sastra, di mana digunakan dan diterapkan sebagai istilah umum yang dapat menggambarkan teori yang didasarkan atas kritik. Kedua, istilah teori/filsafat kritik ini kemudian disematkan terhadap hasil-hasil pemikiran kelompok pemikir yang tergabung dan dikenal dengan aliran/sekolah/mazhab Frankfurt (Frankfurt School) pada sekira medio 1930-an. Para pemikir ini yang kemudian dikenal sebagai generasi pertama mazhab Frankfurt; Herbert Marcuse, Theodor W. Adorno, Max Horkheimer, Walter Benjamin, dan Erich Fromm-melihat bahwa masyarakat (dalam hal ini masyarakat Eropa umumnya dan Jerman khususnya) terlalu dikendalikan oleh berbagai buah pemikiran hasil metode filsafat positivisme logis atau neo-positivisme. Dimana menurut cara pikir ini, perubahan sosial masyarakat diukur dan ditentukan berdasarkan kaidah-kaidah perhitungan matematis; jika ada masalah A maka obatnya pakai teori B dan hasilnya pasti keadaan C, dimana bila terjadi keadaan diluar kaidah itu, hal ini dianggap anomali, keganjilan, keanehan. Dengan cara pikir seperti ini, berlakulah kemudian apa-apa yang disebut sebagai pemikiran instrumentalis. 

      Selanjutnya, para pemikir mazhab Frankfurt ini juga mencium adanya positivisme rahasia dan nilai-nilai otoritarianisme dari filsafat Marxisme ortodoks dan Komunisme. Sebagai anak kandung modernitas, filsafat Marxisme serta Komunisne masih juga membawa ego Cartesian dimana manusia dianggap sebagai pusat dari segala perubahan (antrophosentris). Cacat bawaan ini timbul karena semangat modernitas memang bertujuan awalnya menjauhkan manusia dari semua hal yang tak “masuk akal”; iman, mitos, legenda, dosa, ampunan, tuhan, kebaikan, keburukan dan lain sebagainya. Dimana semua itu begitu  kuat mencengkeram dalam sekian kurun waktu apa yang disebut jaman kegelapan. Dalam kegairahan bersinarnya akal budi ini, semua yang dianggap telah mempengaruhi dan memperbudak terhadap manusia disingkirkan jauh-jauh. Individu-lebih tepatnya manusia Eropa-didorong mengeluarkan semua kemampuan agar dapat hidup lebih baik. Seiring perjalanan waktu, modernitas dan kemudian diikuti aufklarung menjadi pemandu bagi kehidupan bangsa Eropa beserta segala akibatnya, baik positif dan negatif. Sisi positif, terbit cerahnya akal budi ini membuat ilmu pengetahuan, sains dan seni budaya berkembang pesat. Bermacam penemuan dibidang fisika, kimia, biologi, matematika, astronomi, berbagai gaya dalam seni dan lain sebagainya bertumbuh. Dari sisi negatif, keinginan untuk hidup lebih baik menjadikan penjelajahan ke semua penjuru bumi menghasilkan daerah-daerah kolonial dan penjajahan kepada bangsa lain; termasuk negara kita. Selain itu, keinginan untuk lebih menjadikan pertentangan fisik antar suku bangsa di benua biru makin menghebat hingga terjadinya dua perang skala dunia pada abad 20. Jangan lupa juga, pencerahan ini juga makin menguatkan semangat dalam menumpuk kapital pada bangsa Eropa.

      Menyikapi berbagai anomali zaman pencerahan, para cerdik cendekia mazhab Frankfurt berkeinginan mengembalikan lagi semangat pencerahan pada jalurnya yaitu semangat emansipatoris (baca: mengembalikan roh kemanusiaan). Dan Max Horkheimer lalu menyusun pemikiran dan nantinya akan menjadi dasar teori/filsafat kritis dari keseluruhan buah pikir mazhab Frankfurt "untuk membebaskan manusia dari keadaan yang memperbudak mereka. Para pemikir ini menggunakan landasan filsafat Marxis dan psikoanalisa Sigmund Freud untuk membedah kesalahan-kesalahan yang banyak ditimbulkan akibat proyek modernitas zaman pencerahan. Semangat ini sejalan dengan zeitgeist jaman tersebut dimana pada tahun 1930-an dunia sedang dilanda krisis kapitalisme besar atau malaise-di Hindia Belanda jaman malaise sering diplesetkan menjadi jaman meleset. Oleh sebab itu, diperlukan lagi semacam tindakan penyegaran dan mengingat kembali mengapa serta apa hingga timbulnya pencerahan tersebut. Sedikit mengulik sejarah, dunia pada 1930-an adalah dunia yang sedih dan koyak moyak. Sehabis dicabik-cabik perang dunia I yang ganas, selang dua dasawarsa kemudian dunia diluluh lantakan lewat perang dunia II. Pasca perang dunia I, banyak negara kehilangan satu generasi termasuk kerajaan Prusia (seluruh wilayah Jerman dan negara Polandia sekarang). Kemuraman menyeruak di banyak kalangan dan ditengah-tengah hal ini muncul para bigot semacam Hitler cum suis yang mengusung semangat ultra nasionalis serta rasisme. 

      Generasi pertama mazhab Frankfurt merasa gerah melihat keadaan ini dan kemudian mulai menyebarkan pemikiran mereka melalui kuliah serta diskusi terbuka dengan tujuan mengembalikan kithah pencerahan. Tetapi Jerman yang diimpikan mazhab Frankfurt adalah Jerman yang terpukul hidungnya hingga berdarah. Pendulum sejarah rupanya lebih memihak kepada para bigot dan generasi awal mazhab Frankfurt harus keluar dari Jerman karena mereka kebanyakan keturunan Yahudi dan otomatis menjadi musuh besar ideologi rasis partai Nazi pimpinan Hitler. Belum lagi epistemologi yang dipakai sebagai pisau analisa mereka adalah filsafat Marxis yang juga musuh bebuyutan ideologi ultra nasionalis Jerman. Meski terusir dari negara mereka, generasi awal mazhab Frankfurt meneruskan pemikiran dari tanah pelarian yaitu Amerika Serikat hingga perang dunia II berakhir pada 1945. Setelah itu, beberapa pemikir baru muncul serta menjadi bagian mazhab Frankfurt. Diantara generasi kedua ini yang cukup dikenal dan menjadi bahan bacaan di Indonesia adalah Jurgen Habermas. Dua ide yang paling berpengaruh dari Habermas adalah konsep ruang publik dan aksi komunikatif; yang terakhir tiba sebagai bagian dari reaksi terhadap post-struktural atau disebut "post-modern" atau lebih tepatnya sebagai tantangan baru untuk wacana modernitas.

      Demikian sekilas pandang mengenai teori/filsafat kritis dan pertanyaannya sekarang bagaimana penerapan teori/filsafat kritis di Indonesia. Sebagaimana sudah saya singgung diatas bahwa proyek pencerahan tidak hanya menumbuhkan sisi positif melainkan ada sisi negatifnya juga. Negara Indonesia yang kita kenal saat ini merupakan akibat langsung dari proses kolonialisasi. Berbagai kerajaan merdeka yang bertumbuh di pulau-pulau Nusantara segera ditunduk lututkan melalui bermacam cara; lewat perdagangan, liberalisasi, penaklukan, pendidikan moderen, administrasi dan lain sebagainya. Kemudian melalui tahapan Proklamasi 1945, diatas reruntuhan berbagai wilayah independen itu didirikanlah satu bentuk bangunan baru yaitu negara Indonesia. Negara baru ini pun segera ikut terseret dalam ketegangan dua ideologi besar pasca perang dunia II; liberalisme dan sosialisme. Kita tentunya sudah mengetahui adanya huru hara politik 1965 dimana pasca kejadian tersebut negara ini seolah-olah sudah diumpankan ke mulut singa. Dan mantra yang kencang dihembuskan adalah; pembangunan dengan segala perhitungan ekonometrikanya. Barang siapa yang tak menuruti mantra ini mereka adalah anomali dan oleh karena itu mereka harus ditertibkan.

      Setelah tujuh dasawarsa negara ini merdeka, apakah sauh terakhir anak turun Jan Pieter Zoen Coen, Alfonso De Albuquergue, Herman William Daendels atau Perdana Menteri Hideki Tojo benar-benar sudah diangkat dan menjauh?. Ternyata jauh panggang dari api. Seperti yang sudah kita pahami bersama, para kolonialis ini sudah tidak berada di sekitar kita secara fisik tapi tapak-tapak yang mereka tinggalkan masih jelas dan ber-tiwikrama dalam semua aspek kehidupan manusia Indonesia; melalui berbagai sistim sosial, pemerintahan dan pendidikan. Idealnya, berbagai sistim yang sudah tersedia ini harus mampu menunjang dan mewujudkan kehidupan sebangsa dan setanah air menjadi lebih baik. Tetapi kenyataannya tidak begitu. Bermacam sistim penunjang kita tersebut justru malah memperbudak. Sudahkah para petani dapat melaksanakan kerjanya dengan tenang dan bahagia. Benarkah tidak ada lagi buruh yang diperas tenaganya serta menerima upah yang layak atas kerja-kerja yang dilaksanakannya. Apakah pendidikan kita benar-benar mampu membebaskan dari segala kebodohan, ketertinggalan dan mewujudkan masyarakat yang berdaya, berwawasan dan berperi kemanusiaan. Atau kapan bisa diakhiri kekerasan dan pengusiran rakyat dari tanahnya sendiri et cetera. Deretan pertanyaan ini bisa tambah panjang jika kaum tercerahkan-terutama mahasiswa-belum bisa mengambil jarak dan memberi arah bahwa; proyek pembebasan dari keadaan yang memperbudak bukan seperti ini bentuknya.
      
      Demikian sepenggal rasa yang selama ini membikin saya terus merasa galau dan gundah gulana dalam menjalani hidup di negara yang kita cintai bersama ini. Oleh sebab itu, kegundahan ini coba saya bagi dengan teman-teman bersama supaya ke depan Indonesia yang kita harapkan adalah Indonesia yang bermartabat, berbudaya, tidak diisi oleh mental bigot serta ikut memberi sumbangsih dalam proyek kemanusiaan bersama bangsa dan negara lain di dunia. Untuk itu bisa saya akhiri gumpalan unek-unek ini dan selanjutnya mari kita berbincang, berdiskusi secara sehat dan bertujuan akhir kehidupan kita sendiri, terima kasih.
Jember 2018.

Ditulis oleh Bayu Dedie Lukito
Penulis adalah staf di Lembaga Studi untuk Desa (LSDP) SD INPERS Jember
Bisa dihubungi di nomor 082336622977, WA 082331590254
Email; plawangan_puger@yahoo.co.id
Facebook : Bayu Dedie Lukito   

    





Tidak ada komentar:

Posting Komentar