---Di mana pun adalah ruang kelas---

Kamis, 03 Mei 2018

Seandainya Saya Seorang Gus



Saya tidak bermaksud untuk mengeluh karena dilahirkan dari keluarga yang bukan lingkungan pesantren. Bagi masyarakat tradisional, sosok kiai dan keluarganya adalah panutan. Perkataan mereka tentu akan lebih didengar daripada perkataan orang lain karena mereka dianggap lebih 'alim daripada yang non pesantren. Masyarakat menaruh rasa takdzim yang besar pada mereka. Di pesantren-pesantren tradisional diajarkan kitab-kitab kuning dengan pengajaran ilmu alat untuk bisa menguasai kitab kuning tersebut. Kiai tentu harus kompeten dalam hal tersebut daripada yang bukan kiai. Pesantren umumnya didirikan pada abad ke 19 masehi. Sebut saja Pesantren Zainul Hasan Genggong yang didirikan pada tahun 1839. Dalam kurun abad ke 19 sampai sekarang abad ke 21 pesantren mengalami dinamika mulai dari era pra kemerdekaan hingga era reformasi. Tentu juga banyak alumni yang dihasilkan dalam kurun waktu tersebut. Para alumni tentunya punya loyalitas tinggi terhadap pesantren tempat menimba ilmu mereka sehingga pesantren mempunyai pengaruh yang besar dalam masyarakat khususnya masyarakat tradisional. Keturunan kiai juga mempunyai kesempatan yang lebih untuk menjadi the next kiai daripada yang bukan keturunan kiai.
Namun ada sebuah ungkapan kalau ada dua macam kiai yaitu kiai nasab dan kiai nasib. Kiai nasab adalah Kiai yang juga keturunan kiai, mondok di pesantren dan menguasai kitab kuning. Sedangkan kiai nasib adalah kiai yang bukan keturunan kiai tapi dapat jodoh keturunan kiai. Kiai sebenarnya bukan persoalan nasab tapi persoalan keilmuan. Tapi akhir-akhir ini terkadang atribusi kiai agak rancu. Kiai bukan mereka yang menguasai kitab kuning tapi mereka yang pandai berkhotbah dan punya pesantren. Cara mengajari santri adalah dengan mendatangkan guru tugas dari luar. Sampai ada istilah bahwa kiai adalah alladzina lahum ma'had wa lau lam yakunu 'aliman. 
Ini tentunya mengusik otot saraf saya sebagai seorang yang pernah nyantri dan sedang belajar di PTAIN. Tapi keresahan itu akhirnya sirna karena beberapa waktu yang lalu saya mendengar Gus Mus bahwa kiai adalah alladzina yandzurunal ummah bi 'ainir rahmah. Kalau ini mungkin lebih tepat karena kita membutuhkan para kiai yang bisa menjadi oase ditengah modernitas yang berpotensi menjauhkan masyarakat dari para kiai. Kita membutuhkan para kiai yang bisa memimpin umat untuk meneguhkan persatuan dengan spirit kebangsaan. Para kiai seharusnya tidak hanya berceramah dengan dibumbui humor ala kadarnya tapi juga melakukan upaya mencerdaskan umat melalui pendidikan cara berpikir yang dilakukan secara masif.
Sebagai santri yang sam'an wa tha'atan saya berusaha menjadi alumni yang tetap memegang teguh satlogi santri dan sembilan budi utama santri. Bukan seorang gus seharusnya tidak menjadi alasan untuk tidak mempelajari ilmu keislaman. Hanya saja seorang gus apalagi calon kuat pengganti pengasuh yang sekarang punya motivasi yang lebih untuk hal tersebut. Menjadi seorang gus tentu bukan hal yang mudah. Ila harus menjaga diri untuk tidak mempermalukan ayahnya yang seorang kiai. Tidak seyogyanya seorang gus nongkrong tak jelas di pinggir jalan hanya sekedar untuk bermain kartu. Namun ia juga mempunyai lapangan untuk mengaplikasikan ilmunya kelak setelah boyong entah itu di madrasah atau di pesantren dengan menggelar pengajian kitab kuning rutinan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar