---Di mana pun adalah ruang kelas---

Rabu, 22 Desember 2021

,



Kalau dalam filsafat yang sifatnya teoritis dikatakan bahwa teologi sebagai mitra senior dan sains sebagai mitra junior, maka dalam filsafat yang sifatnya praktis, khususnya di politik, ideologi sebagai mitra senior dan strategi sebagai mitra junior. Dengan kedua mitra tersebut, dengan segala keterbatasan pengetahuan saya, baik yang bersumber dari bacaan maupun pengalaman, saya berpikir bahwa filsafat dapat berfungsi dan beroperasi tidak hanya dalam permenungan dalam meditasi individu, dalam kesendirian, tetapi juga dalam keramaian, dalam perbuatan, pergerakan, dan perjuangan massa. Sebagaimana catatan pribadi Marcus Aurelius yang berjudul "Perenungan" atau "The Meditations" dalam bahasa Inggris yang berisi serangkaian latihan spiritual yang penuh dengan kebijaksanaan, bimbingan praktis, dan pemahaman mendalam tentang perilaku manusia.


Dalam kata pengantar buku Filosofi Teras yang ditulis oleh Henry Manampiring, A. Setyo Wibowo menyebut Marcus Aurelius sebagai "Filsuf di Medan Perang". Jika Marcus Aurelius disebut demikian, maka apabila ada seorang atau beberapa orang mahasiswa, gemar berfilsafat, mempelajari filsafat, atau melakukan perenungan filosofis, kemudian karena dituntut oleh situasi, menjadi terlibat atau berpartisipasi aktif dalam politik praktis, dapat disebut bahwa dia atau mereka adalah "Filsuf di Medan Kontestasi". Sebagaimana Marcus Aurelius, ketika memenangkan kontestasi politik praktis mahasiswa, bukannya bersenang-senang merayakan kemenangan, para mahasiswa filsuf praktis tersebut justru akan melakukan permenungan diri: apakah tindakanku tepat, apakah kontestasi dengan mobilisasi demikian banyak memang perlu dilakukan?


Mungkin timbul pertanyaan, para mahasiswa "filsuf" ini menjadi arsitek pemenangan kandidat pimpinan organisasi mahasiswa dan memimpin pengarahan strategi mobilisasi? Bukankah filsafat kesannya menjemukan, susah, rumit, dan cenderung tanpa faedah? Masa' sih seorang filsuf sampai mesti terlibat dalam pemenangan calon ketua? Amatilah beberapa "permainan". Bagi sebagian orang, peristiwa itu tak terlupakan. Bagaimana mungkin filsafat yang biasanya dianggap membuat orang lari dari dunia justru dipraktikkan di tengah kancah perpolitikan kampus?


Pertanyaan yang bersumber dari perasaan kaget, atau terkejut, dengan fenomena "Filsuf di Medan Kontestasi" tersebut, ada hubungannya dengan apa yang ditulis oleh A. Setyo Wibowo dalam kata pengantar itu. Ia menulis bahwa bisa jadi kita salah belajar filsafat, atau salah mendapatkan guru filsafat, sehingga bukannya senang pada filsafat, kita malah jadi benci dan alergi pada filsafat. Filsafat tidak selalu dalam arti cara berpikir ruwet dan menjelimet serta tidak relevan dengan hidup sehari-hari. Karena relevan dengan hidup sehari-hari, maka orang dari zaman kapan pun bisa membaca untuk berkaca, dan siapa tahu, terinspirasi darinya.


Mengapa penting membicarakan "Medan Kontestasi" dalam kehidupan sehari-hari para "Filsuf" itu? Justru karena hidup mahasiswa di luar kelas setiap hari adalah kontestasi! Dari memilih calon ketua sampai memilih calon pasangan, dari mengejar prestasi sampai mengejar posisi. Apalagi hidup di organisasi ekstra kampus macam you know lah apa saja, adu mulut, beda opini, rebutan kader, dan segala keributan lainnya. Intinya, di ormek itu isinya hampir lebih dari separuh, adalah pertengkaran! Bagaimana bisa damai di tengah suasana seperti itu? Bisakah merasakan kepuasan batin dalam hidup dari rapat ke rapat, dari kepanitiaan sampai persidangan, selalu dipenuhi konflik dan ketegangan tanpa henti?


Filsafat (praktis), baik secara umum, maupun secara khusus ketika membicarakan politik (praktis) mahasiswa, sebagai praktik hidup penting dijalani dan dijalankan betul-betul. Paling tidak, filsafat seperti itu berguna sekali untuk mengatasi emosi dan mem"bawah"i logika, bahkan untuk sejenak saja. Di tengah ketegangan dan kerumitan, bersamanya ada kepuasan dan kedamaian. Filsafat di sini bukanlah untuk sekadar mengisi waktu, menumpuk ide, atau merangkai wacana, untuk bergaya dan tebar pesona di depan adik-adik junior. Filsafat adalah praktik dan latihan, sebuah seni hidup.      

Selasa, 21 Desember 2021

,

 Para #strategist sering mengajukan ide yg tampak mustahil. Ide berbahaya, ide yg mengandung resiko berat.


Sepertinya para #strategist ini tidak peduli dengan "para pemain".

Mereka tampak hanya peduli dengan "permainan".

Padahal...


Bagi para #strategist yg sangat jago #psikologi & berkemampuan luar biasa di banyak bidang. Mereka sendirilah yg tdk peduli dirinya sendiri.


Ini cerita kisah orang lain sob, para ahli-ahli super jenius yg kebetulan klien saya. Saya banyak belajar dari mereka.


#Selingan


Jenius kok jadi klien (pasien) bu?

Mereka memang mengalami gangguan jiwa. :)

#strategist


#Selingan


Mereka memang psikopat yg tobat (atau belum tobat).

Berkemampuan luar biasa (bisa positif / negatif).

#strategist


Kehebatan mereka tdk berhenti sampai disitu.

Para #strategist ini umumnya jago #sejarah serta #budaya yg menyertainya.


Bagi mereka, tidak penting siapa yg ada di "panggung", tdk penting siapa yg di "depan".

Para #strategist lebih suka bagai bayang-bayang.


Mereka paham arti "peran".

Peran saya disini, peran kamu disitu!

Saya di belakang meja, kamu di panggung.

Paham betul...


#strategist


Tdk ada iri/dengki bagi para #strategist bagi siapapun yg dipasang di "depan".

Adanya kecewa (menuju depresi) bila lawan "melewati" dia.


Yah, kalau kita lihat contoh.

Banyak para #strategist pahlawan kemerdekaan Indonesia yg tdk terekspos sama sekali. Padahal jasa luar biasa.


Lihatlah perang dari jaman ke jaman.

#strategist dianggap lebih penting nyawanya dr seorang jenderal.

Siapa yg anggap? Jenderal itu sendiri.


Bagai catur, saat kita yg orang awam berpikir 1-3 langkah kedepan.

Para #strategist sudah memikirkan 10 langkah dg segala kemungkinan.


Seorang sahabat pernah cerita.

Pada suatu perang dinasti cina.

Lawan tdk bernafsu sama si jenderal.

Lebih nafsu habisi #strategist 


#rumus


Saat si #strategist kacau. 

Bubar juga pasukan. :p


#Rumus #Pelajaran


Kalau ada yg selalu ingin tampak didepan?

Ah... Itu bukan #strategist

Itu palsu. :)


Konon di negeri antah berantah.

Ada sekelompok #strategist nakal yg sukses mengangkat seorang "pahlawan" palsu dari "zero to hero".


Ngeri!


Bekal #strategist nakal ini adl kesungguhan.

Mereka jauh dr iri/dengki, tdk butuh kaya, terkenal, etc.

Mrk hanya mikir "tujuan" sukses!


Itulah kemampuan para #strategist

Dahsyatnya mampu membuat seorang pengusaha jadi pemimpin.

#eh


Mereka membenturkan teman-lawan, teman-teman, lawan-lawan.

Semua diperalat dengan mudahnya.

Yah, itu bagai makan & minum saja.


#strategist.


Semua sibuk memikirkan gerakan yg tdk seharusnya.

Pahlawan "palsu" (yg bisa diganti kapan saja) dan jejaringnya tetap langgeng.

#strategist


Jk tdk waspada, hasilnya tentu saja si "pahlawan" palsu akan terus jadi pahlawan.

Semua diperalat dg indah.

Kekuasaan terjaga!


#strategist



Senin, 20 Desember 2021

,



PEMBUKAAN

Ketika kekuasaan yang ada menghendaki tiap ucapan dan tindakan merupakan satu rangkaian yang telah digariskan, dan politik sebagai panglima. Pengertian "politik sebagai panglima" mungkin jarang terdengar tetapi malah bisa dirasakan penerapannya. Politik sebagai panglima berarti suatu pengerahan segala hal untuk kepentingan politik. Mobilisasi sesekali memang perlu. Tapi dalam perkembangannya, prinsip ajaran "politik sebagai panglima" kemudian dapat berarti sikap taat buta pada pertimbangan suatu kekuasaan politik - di atas pertimbangan lain apa pun.



Disorientasi dalam "Politik Sebagai Panglima"


Pertanyaannya, bisakah fokus mewujudkan pengembangan SDM? Jelas, itu bukan sebuah pekerjaan mudah. Tantangan terbesar dan terberat dalam merealiasikan pembangunan SDM adalah kecenderungan tidak kondusifnya situasi politik yang berkepanjangan. Sebelum, saat, dan sesudah musim pemilihan, ‘pertarungan' antarkelompok semakin sering terjadi seiring dengan kepentingannya masing-masing.


Jika hal ini terus berlanjut tanpa bisa dikendalikan, disorientasi politik akan dituai yang justru berimplikasi negatif terhadap pembangunan SDM. Kalau itu yang terjadi, bukan malah forum kajian atau penampilan kesenian yang akan menjadi suguhan, melainkan justru manuver dan intrik para pemain politik. Itu akibat dari sebuah sistem demokrasi langsung yang berlaku. Untuk mendulang suara, calon beserta pendukungnya harus pandai “berdagang” dan “menjual diri”. Namun, persoalannya menjadi sangat rumit apabila perang strategi tersebut justru dipakai untuk menghabisi lawan politik. Ini praktik politik yang tidak sehat dan justru membuat praktik dan budaya demokrasi menjadi kebablasan.


REORIENTASI DALAM "KEMAJUAN PENDIDIKAN ADALAH KEBENARAN HAKIKI"


Di alam demokrasi, permainan politik di lingkungan sekitar ini harus tetap elegan dalam memasarkan posisi politiknya. Calon dan pendukungnya harus bisa menawarkan program konkret kepada konstituennya, bukan “menghabisi lawan” dengan cara yang licin. Bagaimanapun pemotongan pasti akan melahirkan pemotongan berikutnya. Lalu, jika disorientasi politik ini masih terus berlanjut dan tak dihentikan, atau paling tidak diminimalisir, akibat yang harus dialami pun pasti akan sangat signifikan.


Kaum intelektual menjadi tak nyaman berproses di dalam, sehingga mereka akan mencari tempat dan wadah lain yang lebih menjamin keamanan dan kenyamanan. Akibat selanjutnya, tren intelektual yang sudah berjalan naik akhirnya jadi berantakan.



PENUTUP


_*"Bagi seluruh peserta yang menjadi ataupun tidak, sebagai tim sukses atau ikut campur, ataupun berpihak kepada calon yang terpilih, agar tidak terlalu gaduh karena perasaan senang atau bangga atas kemenangan. Sebab kontestasi politik bukanlah menjadi tujuan, melainkan hanya sebagai alat ataupun jalan daripada kita menjalani proses di rayon. Di samping itu, setelah ini ada hal yang lebih penting daripada politik tersebut yakni menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan dan menjadikan kemajuan pendidikan di dalam rayon kita, mengingat rayon kita adalah rayon fakultas tarbiyah dan ilmu keguruan."._


M. Masyfu' Zuhdi

3 Desember 2021


_*"Masih ada dunia lain. Sisi revolusioner dari istilah 'dunia lain' dapat beriringan dengan wacana pengembangan SDM. Lagi pula, sebagai tren baru, 'Pendidikan adalah kebenaran hakiki' , segala sesuatu yang lain-termasuk arus tunggal politik-adalah 'utopianisme yang fantastis'. Revolusi hari ini bukanlah sumber potensi revolusioner ala komunis, tetapi tanda kebanggaan akan kemajuan pendidikan, pengembangan SDM."*_


M. Q. Aynan

3 Desember 2021 

Senin, 13 Desember 2021

,

STRATEGI PENYELIDIKAN SUARA


Menaksir target suara

1. Menyiapkan data rincian daerah pemilihan dan alokasi keterwakilan.

2. Membuat rincian jumlah penduduk dan jumlah pemilih tetap di dalam daerah pemilihan yang bersangkutan.

3. Menyiapkan data hasil pemilihan sebelumnya.

4. Mengurutkan perolehan keterwakilan kelompok perwakilan.


Menaksir peluang suara

1. Menentukan target minimal suara yang harus diperoleh.

2. Menghitung peluang suara dengan menghitung data jumlah dan nama pemilih, data wilayah, referensi perolehan suara dalam pemilihan sebelumnya, target minimal dan peluang maksimal perolehan suara.




STRATEGI PENGAMANAN SUARA


Saksi koalisi

1. Pemetaan berdasarkan pada beberapa pertanyaan mendasar. 

- Berapa orang saksi yang disediakan oleh partai politik? 

- Di titik mana saja saksi ditempatkan? 

- Bagaimana pembiayaannya? 

- Bagaimana latar belakang saksi tersebut? 

- Ditempatkan di asal daerahnya atau bukan?

2. Mempertimbangkan komitmen dan loyalitas. Sebagai sebuah tim yang bekerja secara kolektif, maka saksi pemilihan pun harus memiliki komitmen dan loyalitas agar tidak mendua. Koalisi/tim harus transparan terkait hak dan kewajiban sebagai saksi.

3. Saksi perlu dibekali pengetahuan mengenai teknis pemilihan terutama dalam proses pemungutan dan penghitungan suara. Saksi koalisi perlu memahami hal berikut. 

A. Waktu dimulai dan berakhirnya pemungutan dan penghitungan suara. Dalam hal ini saksi diupayakan untuk hadir sebelum waktu dimulainya pemilihan untuk mendata persiapan logistik di lokasi, apakah sudah terpenuhi atau belum. 

B. Ketentuan suara sah dan suara tidak sah 

C. Kriteria pemilih yang dapat menggunakan hak pilihnya di lokasi.

D. Tata cara mengantisipasi apabila ada kecurangan di lokasi.


Saksi calon


1. Calon perlu melakukan pemetaan posisi titik-titik lokasi. Pastikan bahwa posisi titik-titik yang akan dipantau oleh saksi calon adalah basis calon. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menjaga suara pemilih yang kemungkinan besar akan memilih calon yang bersangkutan. Calon perlu melihat kembali koalisi akan menempatkan saksinya dimana saja. Jika terdapat posisi titik-titik lokasi yang tidak menyediakan saksi dari koalisi calon, maka calon harus mengalokasikan saksi pribadi untuk menggantikan posisi saksi dari koalisi .


2. Calon perlu melakukan pemetaan posisi titik-titik lokasi yang akan dipantau oleh saksi calon.

A. Posisi titik-titik basis calon, perlu dipastikan adanya saksi calon atau saksi koalisi calon yang akan memantau karena posisi titik-titik ini yang biasanya mendulang suara calon paling besar sehingga perlu dipastikan keamanan suaranya.

B. Posisi titik-titik basis koalisi, seringkali calon bertarung di daerah yang bukan merupakan basis konstituen koalisi. Sehingga perlu dilakukan pemetaan berkaitan dengan ada tidaknya posisi titik-titik basis koalisi.

C. Posisi rawan kecurangan, perlunya pemetaan posisi yang rawan kecurangan yang akan berpotensi merugikan suara calon. Misalnya di titik-titik yang menjadi basis banyak koalisi atau posisi yang memiliki gesekan cukup tinggi.


3. Calon perlu melakukan pelatihan bagi Saksi Calon. Sebagaimana seorang saksi dari koalisi, tugas saksi calon pun tidak jauh berbeda. Saksi Calon harus memperhatikan beberapa hal : 

A. Pengetahuan dasar pemilihan : kriteria pemilih yang dapat menggunakan hak pilihnya di lokasi, cara pemberian suara yang sah, cara penghitungan suara.

B. Waktu mulai dan berakhirnya pemungutan dan penghitungan suara. Saksi perlu hadir sebelum pemungutan suara dimulai dan memantau hingga pemungutan suara selesai, tata cara mengantisipasi apabila ada kecurangan di lokasi.

C. Mengetahui lokasi pemilihan. Biasanya baru akan diketahui setelah menjelang hari H pemungutan suara. Sehingga perlu koordinasi dengan panitia, koalisi, dan tim pemantau setempat.


STRATEGI PEMETAAN PEMILIH DAN PESAING

Mapping atau profiling

Pemetaan pemilih dan pesaing

1. Pemetaan diri sendiri: kekuatan dan kekurangan diri sendiri.

2. Pemetaan pesaing: kekuatan dan kekurangan pesaing.

3. Pemetaan medan pertarungan politik: karakteristik masyarakat pemilih.

4. Pemetaan iklim: isu-isu aktual kontemporer yang sedang berkembang.


Secara umum, terdapat tiga peta sosial politik yang perlu dipahami oleh calon dan timnya, antara lain:

1. Peta jaringan pemilih: pendapat pemilih mengenai diri calon dan pesaingnya; perilaku pemilih berdasarkan wilayah pemilihan, tingkat status social ekonomi serta pendidikan, segmentasi sosial di masyarakat, afiliasi organisasi masyarakat, dll.

2. Peta jaringan sosial masyarakat: ikatan kekeluargaan; ikatan hubungan asmara; kelompok sosial, dll

3. Peta media komunikasi: pertemuan langsung dan media sosial.


Berbagai poin penting dalam pemetaan jaringan ini adalah:

A. Pemetaan jaringan dapat menetapkan jejaring yang berpotensi menjadi mesin politik untuk calon, baik yang berasal dari lingkungan dalam koalisi calon, maupun lingkungan luar koalisi calon, yaitu konstituen nonpartisan.

B. Pemetaan jaringan dapat memetakan wilayah dari masing-masing jejaring.

C. Selanjutnya dengan pemetaan jaringan, calon juga dapat melakukan inventarisasi nama-nama tokoh yang yang berpotensi untuk menjadi tim pemenangan sehingga calon atau sponsor dapat membentuk struktur tim pemenangan dengan tokoh-tokoh yang tersedia.


Contoh Analisis SWOT Sederhana Seorang Calon: 

1. Strengths (kekuatan): Cerdas; Intelektual; Sukses; Muda; Ganteng. 

2. Weaknesses (kelemahan): Kurang Bergaul ke bawah, Emosi labil; Minim pengalaman politik; Tidak mahir "menjual". 

3. Opportunities (peluang): Jumlah pemilih pemula 30 persen; Jumlah pemilih lama 15 persen; Memiliki kedekatan dengan jaringan tertentu; Didukung oleh pihak-pihak tertentu. 

4. Threats (ancaman): Lawan calon petahana (incumbent); Lawan berpengalaman dalam politik; Lawan sangat mahir "menjual"; Lawan berasal dari jaringan yang didukung oleh mayoritas suara pada pemilihan sebelumnya.


Contoh Perencanaan Strategis yang Dibuat Berdasarkan Analisis SWOT di 

Atas: 

1. Membuat program-program atau menyusun strategi-strategi untuk mendekati akar rumput. Hal ini untuk menutupi kelemahan citra kurang bergaul ke bawah. 

2. Membuat program-program atau menyusun strategi-strategi untuk merebut dukungan pemilih pemula dengan pendekatan bahasa sederhana. Hal ini untuk memaksimalkan kekuatan yang dimiliki untuk merebut peluang. 

3. Mengoptimalkan peran tim media untuk membongkar kasus-kasus yang terjadi selama kepemimpinan lawan dalam pemerintahan. 

4. Menarik lawan ke dalam lingkaran perdebatan akademis untuk menutupi kelemahan penguasan bahasa gaul, sekaligus untuk menciptakan ancaman baru bagi lawan.


STRATEGI PENGGALANGAN SUARA

 Berikut berbagai poin penting yang dapat dibuat political mapping-nya berdasarkan political profiling yang terkait strategi mobilisasi:


1. Membangun Jaringan Politik beserta Struktur Organisasinya.

- Membuat Desain Struktur Tim Pemenangan.

- Membentuk Tim Pemenangan di semua level, bahkan sampai ke level paling bawah.

- Memperluas jaringan sosial kemasyarakatan.


2. Melakukan Pengarahan Tim Pemenangan.

 - Memahami tingkah laku pemilih.

 - Membuat Struktur Organisasi Tim Pemenangan.

 - Melakukan penargetan.

 - Media kampanye

 - Melakukan penyusunan program.

 - Selalu melakukan evaluasi program.


3. Melakukan Penyusunan Program Pemenangan.

 - Membuat Desain program kunjungan ke jejaring.

 - Menyampaikan visi dan misi dalam bentuk orasi politik.

 - Melakukan aksi sosial.

 - Terlibat dalam kegiatan publik atau privat

 - Melakuan Kontrak politik.

 - Melakukan komunikasi secara tradisional.

 - Melakukan komunikasi kekinian dengan dukungan multimedia dan media alternatif lainnya.


4. Berusaha Memenuhi Persyaratan Pencalonan.

a. Berusaha mendulang dukungan koalisi.

b. Memenuhi persyaratan administrasi.


5. Melakukan pembentukan Tim Kampanye.


6. Melakukan pembentukan Tim Saksi.

 

Tujuan Strategi ini antara lain:

A. Membangun organisasi pemenangan Calon yang Efektif dan Efisien.

B. Mendesain kerangka kerja organisasi yang jelas dan terukur.

C. Menentukan target-target pemenangan dan jadwalnya.


Pemetaan Pribadi Calon

- Apa saja hal baik tentang diri calon yang dapat disampaikan oleh pemilih?

- Apa saja hal buruk yang dapat disampaikan oleh pemilih tentang calon?

- Apa sajakah asset dan kewajiban calon?

- Apakah usia, jenis kelamin, gender, dan pengalaman calon merupakan kelemahan atau kekuatan?

- Apakah prestasi calon? Apakah yang telah dicapai oleh jejaring koalisi di mana calon menjadi bagian di dalamnya?

- Siapa sajakah yang telah calon bantu? Apakah mereka akan memberikan apresiasi secara publik?

- Mengapa calon layak menjadi seorang calon? Apa prestasi calon pada jabatan terakhir?

- Mengapa pemilih harus memilih calon?

- Apa sajakah yang dapat calon tawarkan kepada pemilih?

- Apa sajakah yang membuat calon berbeda dengan calon lain?

- Bagaimana kinerja calon selama ini?

- Apa sajakah pengalaman dan kaitan politis calon dengan pemilih?

- Calon pernah berpartisipasi di mana saja dan sebagai apa?

- Apakah pernah calon ketika sebagai atasan atau pimpinan sebelumnya kurang bertanggungjawab?


Pesan Kampanye

Calon perlu membuat sebuah pesan yang baik, yang memiliki indikator:

 Jelas dan singkat. Mudah untuk dipahami oleh penerima pesan.

 Menarik. Terutama ditujukan kepada pemilih yang akan diyakinkan.

 Kontras. Mampu melakukan differensiasi calon dari pesaing.

 Menyentuh. Kepada apa yang paling urgen bagi pemilih kandidat.

 Konsisten. Disampaikan secara berkelanjutan.


Calon hanya membutuhkan sebuah pesan untuk menjawab pertanyaan pemilih: mengapa saya (pemilih) harus memilih Anda (calon) dan bukannya pesaing (calon lain) Anda?

Calon perlu melakukan latihan dalam menyampaikan pesan sehingga calon mencapai tingkat paling nyaman ketika menyampaikannya ke pihak pemilih.

Sabtu, 11 Desember 2021

,


Baru saja saya menonton orasi pengukuhan guru besar F. Budi Hardiman dalam bidang ilmu filsafat yang sebagian isinya tentang fenomena kehidupan dalam dunia demokrasi membuat saya merasa terhubung dengannya. Keterhubungan ini baik dalam demokrasi di lingkup luas umumnya, maupun demokrasi di lingkungan sekitar khususnya di kalangan mahasiswa.


Sebagaimana pemikiran filsafat yang kecenderungannya bermuatan kritik, orang lain yang kurang familiar-atau yang cukup tidak asing-dengan pemikiran-pemikiran filsafat biasanya menilai bahwa orang-orang yang sering berpikir filsafat tampak pesimis dengan dunia, dalam hal ini khususnya dunia politik atau demokrasi. Akan tetapi, bagi saya secara pribadi, mungkin tepat apabila dikatakan pesimis, akan tetapi lebih utuh jika penampakan pesimis tersebut berasal dari kepedulian terhadap hal-hal yang berada di balik permukaan, dan kewaspadaan terhadap hal-hal yang mungkin terjadi.


Filsafat, selain menjadi mata kuliah wajib di semua program studi seperti filsafat umum atau pengantar filsafat, filsafat ilmu, dan mata kuliah filsafat lainnya, juga dipelajari di luar kelas kuliah seperti dalam kegiatan-kegiatan kajian yang dilaksanakan di organisasi mahasiswa ekstra kampus, komunitas kajian, atau klub studi. Hanya saja, menurut saya, sebagaimana pernah saya tulis, kurikulumnya lebih banyak berisi muatan filsafat teoritis daripada filsafat praktis, sehingga pemikiran-pemikiran filsafat yang dipelajari tidak sedikit yang "jauh di sana" dan "di atas langit". Maka, dunia, realitas, atau kenyataan yang dibicarakan oleh filsafat semacam itu adalah "kenyataan sejauh dan seluas yang dibicarakan". Padahal, keseharian massa-kolektif adalah "kenyataan sedekat dan sesempit yang dibicarakan".


Oleh karena itu, ketika membicarakan "politik praktis" dalam kehidupan mahasiswa khususnya, dengan "filsafat teoritis", cenderung tidak nyambung pembicaraannya. Mahasiswa-mahasiswi, baik massa-kolektif maupun kader-individu, entah mereka sekedar "penonton politik praktis" atau "pemain politik praktis", ketika membicarakan politik praktis menggunakan filsafat teoritis, ada jarak yang lumayan jauh. Di sinilah perlu mendekatkan politik praktis dengan filsafat praktis agar antara politiknya dengan filsafatnya sama-sama praktis. Ketika sama-sama praktis, pembicaraan bisa lebih nyambung.

 

,

 Realitas di lapangan menunjukkan bahwa lebih banyak keputusan pemilih untuk memilih calon ketua, sifatnya tidak logis, lebih cenderung emosional.


Selain aspek atau variabel kebiasaan sehari-hari dan perilaku, calon ketua dan timnya dituntut memahami kompleksnya tipe pemilih.


Setidaknya, terdapat 4 tipe pemilih yang masing-masing dari keempatnya, jumlahnya tidak rata.


1. Tipe pemilih analis. Sebelum mengambil keputusan untuk memilih calon ketua, tipe ini akan mengumpulkan bahan informasi tentang masing-masing calon, meneliti segala aspek dari pribadi calon. Pertimbangan atau orientasi memilihnya bersifat jangka panjang. Lebih suka berkomunikasi secara interpersonal daripada berkomunikasi secara massa. Jumlahnya rata-rata 10-20%.


2. Tipe tukang ngopi atau nongkrong. Sebelum mengambil keputusan untuk memilih calon ketua, langkah pertama yang dilakukan tipe ini adalah mereka akan melihat siapa saja yang berada di lingkaran pertemanan masing-masing calon. Pertimbangan atau orientasi memilihnya berdasarkan pengalaman yang beragam dan kompleks sehingga cenderung mudah diajak kompromi dan dimintai tolong. Lebih suka berkomunikasi secara massa daripada berkomunikasi secara interpersonal. Jumlahnya rata-rata 15-25%.


3. Tipe pengawal atau penjaga. Tipe ini cenderung mengambil keputusan untuk memilih calon ketua berdasarkan fakta-fakta sederhana. Pertimbangan atau orientasi memilihnya bersifat pragmatis. Selain itu, tipe ini suka terhadap pertimbangan etis, norma, atau kultur dalam memilih calon ketua, lebih suka melihat rekam jejak proses daripada wacana ide, visi, misi, atau argumentasi yang dimunculkan. Jumlahnya rata-rata 25-35%.


4. Tipe pemilih independen. Cenderung sudah punya penilaian sebelum mencari tahu lebih lanjut dalam mengambil keputusan untuk memilih calon ketua. Tipe ini sangat rasional dalam memilih calon dan menyukai pembaharuan. Kurang suka terhadap pertimbangan etis, norma, atau kultur dalam memilih calon ketua. Pertimbangan atau orientasi memilihnya bersifat kebaruan. Jumlahnya rata-rata 10-20%.

Rabu, 08 Desember 2021

,



Menyusun Formasi Tim dalam Operasi Gerakan



Formasi Tim dalam Operasi Gerakan adalah jumlah susunan rumpun, jenjang/pangkat, dan jabatan, yang diperlukan satuan pasukan gerakan untuk melaksanakan tugas pokok dalam jangka waktu tertentu sesuai ketetapan sponsor yang bertanggungjawab penuh dalam hal penertiban dan penyempurnaan gerakan.


Menyusun formasi tim dalam operasi gerakan diperlukan penentuan kebutuhan personel terlebih dahulu (apa saja dan berapa). Penentuan kebutuhan merupakan langkah atau kegiatan untuk menentukan jumlah dan kualifikasi personel yang diperlukan guna menjalankan suatu operasi gerakan.


Mengapa penting? Mengapa perlu?

Setidaknya untuk Memperjelas tupoksi atau menentukan jenis tugas masing-masing personel; Berbagi peran atau merumuskan sifat tugas masing-masing personel; Mengetahui batasan kinerja atau memperkirakan beban tugas.


Langkah pertama untuk menentukan kebutuhan dilakukan dengan menyusun rumpun, jenjang/pangkat, dan jabatan. Formasi dalam hal ini terbagi menjadi tiga rumpun, jenjang, yakni rumpun strategi dan rumpun operasi, yakni jenjang/pangkat pengarah dan jenjang/pangkat pelaksana, yakni jabatan ketua (kepala/koordinator/penanggungjawab suara) dan jabatan anggota (sekretaris, bendahara, penanggungjawab suara).


Dasar penyusunan formasi, Calon ditentukan oleh pembina dulu baru pengarah (instruktif), atau sebaliknya oleh pengarah dulu baru pembina (konsultatif).


Personal branding calon: Ikut apa saja, lingkarannya siapa saja, dikenal apa tidak, berapa orang yang mengenalnya dan siapa saja mereka.


(Pembina) (1 orang) (bisa ada bisa tidak ada)

- di tataran dosen calonnya sendiri, di tataran mahasiswa penanggungjawab atau sponsor utama

- bisa sebagai donatur


Penata/Pengarah Strategi(s) 1-3 orang

- Menyeleksi calon dan sponsor utama, arsitek operasi.

- Analisis lingkungan strategis, potensi konstituen atau pemilih, berdasarkan prodi; kelompok; angkatan; segmenting-targetting-positioning; geografis; demografis; psikografis; SWOT; AGHT; dll.

- Merumuskan strategi operasi: Penyelidikan (pendekatan/penjajakan); Penggalangan (figur berpengaruh tidak harus ketua, kode komunikasi atas nama atau penyanggupan); Pengamanan (konsolidasi dengan laporan dari PJ suara ke ketua tim, dari ketua tim ke pengarah tentang jumlah angka suara dan nama).

- Merumuskan strategi validasi suara (berapa dan kode) di lokasi dan manajemen forum (pengaman forum, pembicara forum (misi/pencapaian forum, strategi konstruktif dan/atau persuasif dan/atau destruktif))



Penggerak/Pelaksana Operasi(onal) 3-5 : 


1 pendamping/pengawal/pengaman, (bersama dengan calon kemanapun pergi)

1 Ketua pelaksana, (menghubungkan antara pengarah dan pelaksana)

1 Penanggungjawab suara (koordinator per wilayah, setelah branding lalu marketing dan selling, menyelidiki-menggalang-mengamankan) 

+

1 sekretaris 

1 bendahara 

Selasa, 07 Desember 2021

,

 Model Relasi Komunikasi Politik


X: yang penting tau, (koordinasi dan komunikasi) tau alasannya


Y: harus nurut, satu garis kebijakan

,

 Partisipasi Politik

1 Mengundang dan mengajak anggota/kader lain dalam diskusi-diskusi

2 Terlibat dalam kepanitiaan acara ekstra kampus

3 Terlibat dalam bakti sosial, study banding dll.

4 Terlibat dalam kelompok-kelompok diskusi sesuai dengan kebutuhan; dalam format small group atau format yang lain.

5 Terlibat dalam diskusi ringan (ngobrol enak), merangsang pikiran untuk tetap awas.

6 Mengenal dan/atau mengunjungi PMII Cabang atau Komisariat lain baik dalam suatu acara tertentu atau hanya silaturrahim.

7 Terlibat dalam kepanitiaan acara-acara yang diselenggarakan oleh intra kampus.

8 Terlibat di organisasi-organisasi intra kampus (HMPS, UKM-UKK, SEMA, DEMA).

 

Perilaku Politik

- Memberikan suara dalam pemilihan

- Mengikuti lebih dari satu organisasi atau perkumpulan

- Ikut mengkritik

- Memberikan aspirasi tanpa kericuhan

- Menghormati keputusan hasil pemilihan

- Mengedepankan keputusan bersama daripada keputusan individu

- Memilih calon berdasarkan orientasi ideologi dan/atau berdasarkan orientasi kebijakan

,

 Ideologi Politik




1. 

Oportunis

Pragmatis

Distopis


2. 

Tempramental

Bebal

Utopis


3. 

Fanatik

Primordial

Konservatif


4. 

Realistis

Imajinatif

Harmoni



1.

Oportunis: biasanya tidak memiliki prinsip karena mereka bisa membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar – tergantung keadaan mana yang lebih menguntungkan.


Pragmatis: kecenderungan berfikir praktis, sempit, dan instan. Begitu pula menginginkan segala yang diharapkan segera tercapai tanpa melalui proses yang lama.


Distopis: apapun bisa terjadi, cara apapun bisa dilakukan. Cenderung menimbulkan rasa trauma, penuh konflk, dan gejolak berkepanjangan.



2.

Tempramental: mudah meledak, mudah marah dan sering melakukan kekerasan, verbal atau lainnya.


Bebal: Tidak bisa atau tidak mau diberi tahu atau diberi saran, merasa diintervensi, Merasa orang lain terlalu ikut campur.


Utopis: idealisme yang kebablasan, menuntut sistem sosial politik yang sempurna yang hanya ada dalam bayangan (khayalan) dan sulit atau tidak mungkin diwujudkan dalam kenyataan.



3.

Fanatik: sikap atau perilaku antusiasme berlebihan dan pengabdian tidak kritis yang intens terhadap beberapa masalah kontroversial seperti misalnya dalam agama atau politik.


Primordial: menjunjung tinggi ikatan sosial yang bersumber dari etnik, ras, tradisi dan kebudayaan yang dibawa sejak seorang individu baru dilahirkan.


Konservatif: cenderung enggan menerima perubahan, cenderung mempertahankan kebiasaan atau tradisi meskipun tidak relevan lagi, cenderung memisahkan diri dari pihak luar.



4. 

Realistis: cenderung mudah beradaptasi, mudah menerima kenyataan, tidak keras kepala dan bebal, cenderung fleksibel dan suka mengalir menyesuaikan arus.


Imajinatif: cenderung banyak pertimbangan, penurut, ingin tahu banyak hal, diam-diam berpikir, dan merenungkan hal yang menarik.


Harmoni: tidak suka pertentangan, konflik, pertengkaran, perebutan, menghindari konfrontasi. Menyukai keselarasan, kedamaian, kerukunan, mendahulukan negosiasi.