---Di mana pun adalah ruang kelas---

Minggu, 28 Februari 2021

,


Berdasarkan pengalaman pribadi, saya mencoba simpulkan bahwa secara umum tugas pokok, fungsi, dan pembagian peran setidaknya bisa dibagi jadi 2 bidang :


1. Bidang Internal

Ciri orang di bidang internal adalah tidak banyak bicara dan serius, teliti dalam pekerjaan dan mempunyai raut wajah yang kurang ekspresif. Rapi dalam berpakain dan cenderung kaku bersosialisasi.


2. Bagian Eksternal

Ciri orang di bidang eksternal adalah orang yang banyak bicara dan ekspresif, mempunyai potensi untuk merangkul orang secara baik


Untuk melihat ciri khas orang yang pas dalam pembagian peran, bisa dilihat dari kebutuhan jenis aktivitas yang dibutuhkan.


Tipikal karakter orang yang mumpuni dalam administrasi dan peraturan organisasi, adalah tidak banyak bicara, senang berbuat, dan cenderung pasif.


Untuk orang membangun hubungan dengan orang luar dan melakukan pengawalan, ciri khasnya biasanya adalah ekspresif, banyak bicara dan sangat terlihat mudah akrab. 

,



Saya sendiri secara pribadi, pada dasarnya, masih belum terlalu berhasil dalam berproses. Akan tetapi, saya akan berbagi pandangan. Siapa tau, yang sedikit ini, akan cukup memberi manfaat kepada pembaca.


Menjawab pertanyaan mengapa memang yang paling sulit di antara pertanyaan lain seperti apa, siapa, kapan, dimana, dan bagaimana. Namun, saya hendak mencoba menjawab pertanyaan di atas dari sudut pandang tatanan kepercayaan, keyakinan, yang itu bicara soal apa yang dipercayai dan diyakini oleh seseorang tentang dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya.


Tatanan kepercayaan atau belief system sangat penting, bahkan itu mempengaruhi hampir segala hal yang menjadi pemikiran, tindakan, dan keputusan yang diambil oleh seseorang. Tentunya, untuk berhasil, seseorang perlu memiliki figur panutan sebagai contoh gambaran keberhasilan seperti apa yang dikehendaki.


Untuk itu, maka perlu diketahui aktivitas dan kebiasaan figur panutan tersebut di dalam kesehariannya secara rinci, apa yang ia pikirkan saat akan melakukan sesuatu, proses pengambilan keputusan saat menghadapi masalah, kata-kata yang ia gunakan atau kutipan yang sering ia ucapberulang-ulang.


Paling tidak, beberapa pertanyaan bisa diajukan seperti: Apa kebiasaan yang figur panutan saya lakukan secara istiqomah? Apa yang mendasari pemikiran beliau hingga berani melakukan sesuatu atau rela berkorban untuk mendapatkan sasaran? Apa yang membuat semangatnya tetap tinggi saat menghadapi hambatan dan kendala?Apa kutipan favoritnya?


Semakin rinci, semakin banyak uraiannya, semakin bagus. Tidak cukup dengan penampilan dan pertemuan sebentar saja. Kalau bisa magang dan jadi asisten pribadi, lebih bagus. Karena dalam keseharian, secara langsung dan spontan, kita bisa melihat perilaku asli seseorang.


Itu ketika bicara soal satu orang figur panutan. Mirip dengan itu, apabila bicara soal sekelompok orang, maka dapat diamati lingkungan yang mendukung dan menunjang dan meninggalkan lingkungan yang sama sekali tidak mendukung. Bila perlu, bisa dengan menonton film, serial drama, anime, atau membaca profil figur panutan yang layak ditiru. Selain itu, kurangi lagu-lagu yang tidak mendukung keberhasilan proses, sebab yang didengar akan berpengaruh terhadap alam bawah sadar. 


Lebih dari itu, bisa menempel kata-kata menggugah di sekitar ruangan yang sering ditempati. Selanjutnya, hanya berkumpul dengan orang-orang yang menunjang. Bahkan, bisa diciptakan momen secara singkat bersama orang-orang yang mendukung dalam mencapai tujuan sekiranya memiliki kesamaan komitmen bergerak dan bertindak, insyaallah akan ada lompatan tinggi yang sangat efektif. 

,




Manusia adalah makhluk yang banyak dengan keterbatasan. Dengan keterbatasan itu, membentuk 'pasukan' diperlukan untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan.


Apabila tujuan itu sulit dicapai sendirian, sangat butuh 'pasukan' yang dipilih. Memilih orang-orang untuk disatukan menjadi 'pasukan' agar dapat lebih efektif.



Dua Tipe


Pertama: Figur Seorang Perencana yang Visioner dan Tegak Lurus

Figur perencana diperlukan. Orang yang berperan sebagai perencana akan membuat langkah yang diambil direncanakan secara matang. Selain itu, figur ini juga akan memberikan inspirasi yang bermanfaat untuk menemukan peluang.


Kedua: Figur Pelaksana yang Lentur tapi Penekan

Keberadaan figur ini akan membuat suasana di dalam atau internal menjadi lebih cair, celetukan khasnya akan membuat yang lain tertawa-tawa, terhibur, dan membuat sejenak melupakan rumitnya persoalan yang sedang dihadapi. Perlu untuk menghangatkan kebersamaan. Selain itu, meski terlihat kocak di lingkungan internal, figur ini bisa tampak sangar di lingkungan eksternal, menjadi figur penekan. Keberadaan sifat penekan ini akan menaikkan daya tawar untuk menghadapi pihak eksternal.



Dua Prinsip Sama


Kerja Keras, Cepat, Cerdas

Prinsip ini akan memberikan dorongan luar biasa untuk bisa memperoleh hasil agar bisa menembus sasaran yang diinginkan. 


Sikap Realistis

Sikap realistis juga sangat penting untuk menjadi prinsip. Prinsip ini akan membuat perencanaan dan pelaksanaan didukung pemikiran strategis, yang sesuai dengan kenyataan yang dihadapi di depan mata, dan membuat lebih berhati-hati untuk mengambil keputusan.



 

Jumat, 26 Februari 2021

,



Ungkapan terkenal pernah berkata bahwa PERSAHABATAN bagai kepompong. Mengubah ULAT menjadi KUPU-KUPU. Dalam berproses, metamorfosis tersebut adalah hal yang tidak mudah, cenderung sulit, namun yang mudah akan menjadi indah, yang sulit membuat tangguh.


Tentu, berproses mirip seperti metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu. Seseorang yang berproses akan bermetamorfosis menjadi seorang pemimpin. Menjadi pemimpin tidak selalu berarti menjadi ketua umum. Yang paling utama adalah mengubah seseorang menjadi merasa memiliki tanggungjawab, memilikinya jiwa kepemimpinan. Paling tidak, untuk memimpin diri sendiri, lebih-lebih memimpin orang lain.


Memiliki jiwa kepemimpinan berarti siap untuk menerima kenyataan dan melakukan perubahan yang dapat membangun kekuatan pada tujuan dan visi misi yang dimiliki seorang pemimpin. Selain itu, jiwa kepemimpinan tersebut berarti siap menganggap bahwa hidup dalam kenyataan tidak selalu bersifat linier, berjalan pada suatu garis lurus, tetapi penuh dengan garis berliku, penuh dengan peristiwa tak terduga. Sebab, hidup bersama orang lain di dalam satu wadah berarti siap menghadapi dinamika.


Saunders (2000) dalam Metamorphic change: Leadership as strategic introspection and serious plan mengemukakan ketika kebutuhan masyarakat pada pelayanan dan perubahan pada satu institusi, maka seluruh sistem akan menghadapi adaptive dilemma. Mau tidak mau akan terjadi sesuatu perubahan.


Perubahan yang terjadi dapat menimbulkan tekanan atau stres, karena itu seorang dengan jiwa kepemimpinan besar harus siap mengantisipasi segala bentuk perubahan dan mampu mengatasi stres yang terjadi baik pada dirinya maupun orang yang ada di sekitarnya. Istirahat sejenak mungkin dapat meringankan beban. Tetapi, istirahat tidak boleh lama-lama. Lingkungan sekitar menuntut penanganan segera.


Namanya proses, tentu butuh waktu cukup panjang seperti seekor ulat. Bila kita amati, bentuk pengorbanan seekor ulat adalah terbelenggu dalam kepompong hingga menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Berproses juga begitu. Selain butuh waktu, juga pengorbanan berupa keterbatasan karena diberikan kepercayaan, amanah, dan mendapat tanggungjawab. Tapi, yakinlah bahwa jika seseorang siap bertahan dalam proses seperti ulat bertahan dalam metamorfosis, seseorang itu akan menjelma menjadi manusia yang luar biasa, sosok yang memiliki jiwa kepemimpinan besar, apapun posisinya. Selamat berproses. 

Kamis, 25 Februari 2021

,




KULTUR adalah taman kontestasi, bukan taman kanak-kanak. Dalam konteks tersebut, Kultur diproduksi oleh suatu dominasi dan hegemoni tertentu. 


Namun, tidak ada dominasi atau hegemoni yang sempurna. Mereka yang terdominasi (dan terhegemoni) akan selalu memberikan perlawanan. 


Ruang kontestasi dimungkinkan karena terjadinya perbedaan pengalaman hidup, perbedaan ideologis (tertutup). Bentuk resistensi biasanya, salah satunya dilakukan dengan wacana lisan atau tulisan. 


Ruang kontestasi bisa saja bersifat eksternal atau bersifat internal, seperti organisasi massa atau politik, ruang kelembagaan, ruang profesional, komunitas-komunitas dan sebagainya. Itu disebut arena-arena kebudayaan oleh Boerdieu.


Resistensi ideologis sesuatu yang sering terjadi. Resistensi tersebut lebih dalam konteks persaingan kekuasaan. Kuasa ideologi dominan akan selalu mendapat perlawanan dari kelompok ideologi alternatif.


Dominasi dan hegemoni ideologi trans/lintas-etnis, misalnya, selalu mendapat perlawanan dari ideologi berbasis etnis tertentu. Begitu pula sebaliknya.


Resistensi negosiatif adalah resistensi kelompok yang menikmati kekuasaan, tetapi tidak ikut berkuasa. Kelas menengah, baik secara ekonomi maupun sosial, atau bahkan intelektual, yang relatif biasanya masuk dalam kategori ini. 


Mereka melawan dalam skala terbatas dan untung-untungan. Jika terjadi perubahan politik, mereka mungkin diuntungkan mungkin juga tidak. Hal-hal yang mereka lawan, juga dalam cara, termasuk hal-hal yang aman-aman saja. Resistensi ini biasanya tidak mengganggu kekuasaan dominan.


Di sisi lain, ada sebagian golongan tidak tahu apa-apa yang paling mudah dikelola dan dihegemoni (ditipu). Mereka bisa saja melakukan resistensi, tetapi ada pihak-pihak yang mengatur, ngompori, untuk tujuan kekuasaan. 


Golongan ini masih ada kemungkinan melakukan perlawanan yang otentik. Hal itu terjadi karena mereka betul-betul sudah tidak tahan dengan penderitaan yang mereka alami.


Tentu untuk menjadi terus terang, terbuka sepenuhnya, sekarang ini sulit, karena seseorang juga perlu bersiasat dalam menjalani kehidupan. Karena kalau seseorang tidak cerdas bersiasat, sangat mungkin seseorang terlindas oleh rezim kekuasaan yang belum tentu berpihak pada kehidupan yang terbuka. 

Rabu, 24 Februari 2021

,


Muhammad Qurrotul Aynan


Saya, dan mungkin juga pembaca, pernah merasakan kondisi ketika banyak ide di kepala, bahkan sampai menumpuk, tetapi macet ketika mau dituangkan menjadi tulisan utuh. Kondisi itu bisa ditangani dengan teknik tertentu, entah tradisional seperti pembelajaran menulis pada mata pelajaran atau mata kuliah menulis. Jika belum kenal dengan teknik-teknik itu, satu-satunya cara adalah, tulis saja.


Tulis bagaimana? Ya, seperti menulis catatan pribadi atau diari. Karenanya, tulis saja semua yang ada di kepala, tidak perlu ada yang disunting/diedit entah itu dihapus, diganti, dikurangi, atau semacamnya. Pokoknya ya tulis saja. Tidak perlu hiraukan apakah susunannya rapi, apakah penggunaan katanya tepat, mau bagus atau jelek, pokoknya tulis saja.


Setelah semuanya selesai, barulah sunting/edit. Entah edit sendiri atau minta pendapat orang lain yang lebih berpengalaman. Buang kata-kata yang tidak perlu, yang sekiranya malah membuat kalimat boros atau tidak efektif. 


Yang perlu diperhatikan adalah, memposisikan diri bukan sebagai penulisnya, melainkan sebagai pembaca. Tidak hanya pembaca yang sudah akrab dengan pembahasan di dalam tulisan itu, perlu juga memposisikan diri sebagai pembaca awam, yang seolah-olah baru membaca tentang isi tersebut.


Bila perlu, sebarkan tulisan itu. Siapa tau ada yang bersedia memberikan pendapat, saran, atau bahkan kritik. Jika tidak ada yang menanggapi, tidak perlu terlalu terbawa perasaan. Bisa dianggap bahwa tulisan itu utamanya adalah untuk diri sendiri, dan semata-mata tulisan itu adalah pemberian yang tidak mengharapkan kembalian. Seperti tulisan ini, utamanya adalah pesan kepada diri saya sendiri. Jika pembaca mendapatkan manfaat dari tulisan ini, berarti itu adalah nilai tambah. 

Senin, 22 Februari 2021

,

 Muhammad Qurrotul Aynan


Pada prinsipnya, pendemisoneran pengurus organisasi pengkaderan pada masa purna khidmat tertentu, tidak kemudian juga berarti mengakhiri pengabdian seorang kader dalam membela bangsa dan menegakkan agama. Pengabdian seorang kader demi jayanya bangsa dan benarnya agama, akan terus berlangsung selama hayat di kandung badan. 


Ada sebuah ungkapan lama yang dapat diadopsi menyebutkan ”The old activists and cadres never stop and die, they just strip and fade away” yang artinya bahwa seorang aktivis dan kader tidak akan pernah berhenti dan 'mati' namun hanya menyisih, memudarkan 'cahaya terang'nya untuk memberi kesempatan pada generasi berikutnya. 


Meskipun sudah tidak lagi dalam garis koordinasi, namun hubungan komunikasi, baik untuk konsultasi atau lainnya, harus tetap terjalin dengan baik sehingga tali persahabatan batin yang selama ini telah terbangun dapat terus terjalin.


Oleh karena itu, kepada mereka yang mampu bertahan hingga akhir, hingga masa transisi, patut diucapkan terima kasih disertai penghargaan setinggi-tingginya atas khidmat yang ikhlas dan kontribusi baik dzikir maupun fikir yang telah menjadi motto, semoga menjadi amal sholeh yang mengalir.


Sesederhana bagaimanapun ritualnya, meriah atau tidak, tentu tidak dapat sepenuhnya mewakili kemewahan rasa dan perasaan yang tertancap dan tertanam secara sublim, jauh di dalam salah satu inti jantung yang dalam.


Pada akhirnya, sejarah lah yang akan mengatakan, menentukan, kebenaran dan kenyataannya. Hujan pun tidak akan sampai menghapus jejak yang telah dilalui orang-orang sebelumnya yang saleh. Orang-orang setelahnya yang saleh akan meniti dan melanjutkan apa yang dirintis untuk mencari terobosan baru. 


Orang-orang sebelum dan setelah itu yang saleh, tidak lebih hanya makhluk lemah yang kebetulan, kebenaran, dan ditakdirkan, mendapat kepercayaan untuk belajar mengemban amanah, sebagai seorang Khalifah di sebuah sudut bumi yang kecil. Semoga terus dan tetap tercerahkan.

,

Muhammad Qurrotul Aynan


Keberuntungan adalah bertemunya persiapan dan kesempatan, bertemunya kesiapan dan peluang. 


Ikuti semua prosesnya, ikuti rangkaian sesinya, dengan segala cara, dengan segenap upaya.


Tidak sedikit orang yang dalam prosesnya, menemui kesulitan, hambatan, dan kendala. Kurang tidur, kurang makan, uang saku pas-pasan, kemampuan minim. 


Ada yang bahkan telat bayar sewa, pusing mikir SPP/UKT, seolah itu adalah titik terendah.


Tetapi tidak semua orang yang mengalami kejadian itu berjanji kepada dirinya sendiri, bertekad untuk tidak lagi berada di kondisi yang sama. 


Hanya sebagian, mungkin sebagian kecil, yang mau bangkit dari keterpurukan, bersemangat untuk meningkatkan kemampuan sampai benar-benar berhasil, tidak hanya mendapat lelah saja.


Cukuplah sampai situ saja. Cari orang terbaik di bidangnya. Belajarlah kepadanya. Ambil semua. Serap sampai habis. 


Bila perlu, tulis semua tanpa terkecuali. Tempelkan di dinding kamar, cantumkan setiap jadwal, cantumkan di setiap alarm.


Ingat bahwa seseorang tidak hanya mewakili dirinya sendiri, tetapi juga mewakili keluarga dan orang-orang yang dicintainya. Masa depan hanya paling mungkin dicapai dengan mandiri. 


Diri sendirilah faktor utama, bukan orang lain. Orang lain hanya bisa membantu, sedikit. Selebihnya memang hanya mungkin diupayakan sendiri.


Sepakati dulu semuanya tentang masa yang akan datang bersama diri sendiri. Teguhkan komitmennya. Komitmen sampai berhasil atau berproses hanya sampai tengah jalan.


Sekali lagi, berhasil bukan milik semua orang yang berproses. 

,


Oleh : Z. Adyan M


Saat itu saya masih menjadi anggota organisasi ekstra kampus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia(PMII), dengan sesepuh rayon yang merupakan Angkatan 15 dan dinahkodai oleh sahabat Nizar Baihaqi. sebagai seseorang yang tertarik akan hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan dan keilmuan menjadikan kegiatan saya sehari-hari adalah mengikuti diskusi yang ada di Rayon FTIK. Kegiatan ini merupakan agenda bidang dua yang diketuai sahabat Irwansyah dan sekretaris sahabati Inast.


Setelah beberapa kali melakukan diskusi, di sela-sela waktu saya ngobrol santai dan cerita-cerita dengan sahabat Irwan dan Inast tentang sepak terjang keduanya di rayon FTIK. Ditengah-tengah perbincangan ini, beliau berdua menceritakan beberapa kader mereka Angkatan 16 yang menjadi macan-macan keilmuan diantaranya sahabat Suhil, sahabat Rahman, sahabat Alunk dan satu sosok sahabat yang diketahui namanya tapi tidak dengan wujudnya. 


Mendengar cerita itu saya dan beberapa sahabat yang ikut berbincang saat itu penasaran dengan sesosok senior yang tidak diketahui wujudnya seperti apa, gimana orang, sifat dan kepribadiannya. Seperti seorang karakter dalam sebuah cerita fiktif atau mitos saja.


Sahabat Irwansyah menceritakan bahwa sosok itu telah menguasai metode berpikir filsafat saat dipondok dan Aliyah, dimana Sebagian besar anggota dan kader baru mempelajari ketika menginjakkan kaki di bangku perkuliahan. Mungkin ada segelintir orang yang tahu khususnya Angkatan 18 saat itu, karena sosok itu hampir tidak pernah menampakkan sehelai rambutnya di rumah pergerakan.


Selang beberapa waktu, tepatnya di bulan Ramadhan saya dipertemukan dengan sosok kader tersebut, ia bernama Muhammad Qurrotul Aynan mahasiswa program studi S1 Tadris Bahasa Inggris, kini melanjutkan studinya di program studi S2 Pendidikan Agama Islam. Kami bertemu saat melakukan kegiatan keilmuan dan bertamu di rumah dosen senior sahabat Pak Subakri. 


Di sana, kami membahas tentang ideologi yang dijelaskan oleh sahabat Subakri. Namun, sahabat Aynan waktu itu berbeda pandangan dengan sahabat Subakri. Tapi dengan kepribadiannya, ia memilih diam. Selanjutnya, ia menjelaskan pandangannya kepada saya mengenai ideologi perspektif William James.


Sebagai seorang yang sulit untuk memulai komunikasi dengan seseorang, saya minder untuk melakukan komunikasi dan berhubungan secara intensif dengan sahabat Aynan. Tapi menurut saya, pandangannya yang ia jelaskan merupakan materi pertama saya darinya. Dari sini, memandang cerita tentang sosok seseorang yang menurut saya dan mayoritas Angkatan 18 merupakan cerita fiktif dan mitos belaka merupakan sebuah kenyataan. 


Merupakan sebuah harapan dengan shuhbah yang saya jalin dengannya bisa menjadi hubungan yang bisa mengarahkan saya ke Shirothol mustaqim sebagaimana sirotholladina an’amta 'alaihim.


 

Sabtu, 20 Februari 2021

,

M. Q. Aynan


Tiba-tiba saja tidur saya terganggu oleh setengah mimpi soal ortodoksi paham. Entah mengapa juga, ada semacam gejala yang saya rasakan di kamar berukuran dua setengah kali dua setengah meter. Gejalanya adalah lampu yang biasanya terang kemudian menjadi agak redup. 


Mirip dengan peristiwa yang melatarbelakangi adanya Renaisans di tanah Eropa. Renaisans yang terasa disini adalah ruang publik sekitar mengalami masa kegelapan karena kepentingan paham yang dikuasai oleh para elit suatu paham-yang-dilembagakan. 


Tak berlebihan rasanya jika seperti itu kemudian disebut sebagai masa pertengahan di antara dua kegemilangan. Disebut pertengahan karena masa-masa sebelumnya adalah masa yang masih tercerahkan, dan kemungkinan, masa-masa selanjutnya adalah masa kebangkitan, kelahiran kembali masa tercerahkan.


Kesuramannya ditandai dengan berbagai kreativitas yang terasa makin kesini makin macet, seolah sudah sangat diatur oleh dominasi "gereja" yang sangat kuat dalam hampir berbagai aspek kehidupan. "Gereja" itu sangat mempengaruhi berbagai kebijakan yang diambil oleh pelaksana, sementara pelaksana seolah tidak mempunyai kewenangan.


Pemikiran tampak dipengaruhi oleh paham, bukan oleh penyelidikan. Hidup selalu dikaitkan dengan tujuan akhir yang mengandung muatan tertentu yang sudah ditentukan oleh entah siapa. Maka tujuan akhirnya adalah mencari posisi aman. Pemikiran tentang pengetahuan, yang dapat diuji atau tidak, banyak diarahkan kepada ideologi tertutup. Pemikiran filosofis pun tak ketinggalan seolah mengalami mati suri.


Oleh karenanya, maka apabila ada suatu renaisans di sebuah ruang kecil, pada dasarnya itu sebagai suatu gerak pulang, kembali ke rumah asalnya di dalam kamar-kamar kesusastraan, kesenian, dan ilmu pengetahuan. Jadi, itu berarti bahwa kelahiran kembali di ruang kecil tidak dipengaruhi oleh ide-ide yang betul-betul baru tanpa menggali dari perbendaharaan lama.


Selanjutnya, bisa jadi muncul pertumbuhan elite baru yang terspesialisasi sehingga mengilhami gagasan, wacana yang disegmentasi dan ditarget, dengan menggunakan citra-citra dan teladan-teladan lama dan sebagainya yang digali dari budaya klasik sehingga dapat mempersatukan kembali suatu pemahaman umum yang terpecah ke dalam serpihan-serpihan akibat perang saudara. 

Kamis, 18 Februari 2021

,

[18/2 05.01] Muhammad Qurrotul Aynan: *SENIOR PMII KEREN*


Oleh :Dasukie, Af


🌾Sebagai bagian dari produk pengkaderan PMII IAIN JEMBER, saya harus menulis meskipun ini sangat subjektif dan sepertinya buang-buang waktu saja, ini Hanya amatan dan sepintas pengalaman pribadi saya saat berproses di PMII. Tahun 2003 tepatnya 18 tahun silam saya mulai kenal dengan PMII melalui Bimtest Pra masuk ke STAIN JEMBER saat itu. Saya kagum betul dengan senior-senior PMII yang pinter-pinter saat mengisi acara demi acara di dalam kelas kala itu. Perkenalkanpun bertambah saat saya masuk PMII melalui pintu MAPABA.pintu mapaba telah mengenalkan banyak hal tentang produk-produk yang dimiliki oleh PMII tentu sangat normatif seperti profil, NDP, AD/ART, PO dan beberapa buku monomental yang tulis secara cerdas oleh sahabat seperti mahbub Junaidi, Malik Haramain, fauzan Alfas dan sahabat yang lain.


🌾Perkenalan dengan normatifitas PMII memantik lebih jauh lagi, apa sebenarnya yang ada pada rumah pergerakan itu, memang benar konon PMII anti kemapanan, para aktivisnya punya sytle yang kontra dengan kemapanan, rambut gondrong dan celana bolong-bolong, Free market ideas dan tradisi PMII selalu menemukan Momentumnya, meski radius saya dengan aktivis 98 cukup jauh tetapi cipratan spirit bahkan nuansa intlektual dan pergerakan cukup dinamis. Tidak sedikit dari sahabat-sahabat aktivis didalam tas atau setiap hari kemana-mana bawa buku bahkan teman yang nakal sekalipun bawa buku. Yang saya tahu saat ke Rayon jika ketemu dengan senior pasti ditanya baca buku apa, bahkan kadang disuruh presentasi buku-buku yang telah dibaca. Budaya PMII tidak berhenti dengan pertanyaan buku, budaya itu berkembang dengan menjamurnya studi club atau halaqoh2 yang dikomandani oleh senior-senior. Studi club yang saya tahu tidak lain khusus mengasah intlektual dan setiap minggu arisan giliran presentasi bab antar bab didalam buku. Tradisi ini tidak berhenti disana sayapun dikenalkan dengan cofe morning dan rujak party yang isinya membahas seputar ilmu, politik, dan organisasi. 


🌾 Sebagai kader, saya melihat dan merasakan betul para senior saya itu rajin baca buku dan pemikiran-pemikirannya keren-keren, indikasinya saat orasi ilmiah, ngisi seminar, ngisi diskusi dan beberapa forum ilmiah lainnya. Sebagai catatan, senior sekaligus guru saat itu, adalah mereka-mereka para senior dari lintas fakultas, kita bebas belajar pada senior siapa saja tampa ada sekat fakultas dan Prodi,sehingga saya belajar banyak hal pada kompetensi mereka masing-masing. Hampir saat kerayon ada tulisan-tulisan segar yang bisa dijadikan bahan diskusi karena tulisan itu ditulis oleh siapa saja sebagai asupan gizi kader. tradisi menulis bebas itu yang saya bawa sampai saat ini. asupan gizi kemudian berkembang ke warung tempat nongkrong ilmiah para kader-senior, saat itu ada warung bu pilor, bu kana dan bu marem. Disana kita memadu mesra dialektika aktifis, jadi kalau ditanya kuliah dimana mas, Jawabannya di PMII,benar di PMII karena transformasi ilmu hampir berjalan 24 jam dengan prototipe dosen yang berbeda-beda dari para senior.


🌾Hasil olah pikir di PMII kemudian dibawa kekampus untuk didiskursuskan dengan elemen mahasiswa dari berbagai aktivis organisasi lainnya sehingga ruang kelas cukup hidup dengan adu argumentasi dari para aktivis. Saya pribadi sering dibisiki senior agar mampu mematahkan argumentasi dari aktivis lain dan itu wajib katanya, dari itulah jika tidak ada jam kuliah saya selalu parkir diri didalam perpustakaan kampus.hampir para aktivis haus ilmu saat itu, karena dinamika kampus tensinya cukup tinggi dengannya kita dituntut baca dan terus baca.


🌾 Tulisan tidak sistimatis ini bukan hendak membandingkan saya dengan para sahabat karena setiap generasi beda tantangannya, tapi baca (Iqra') hemat saya bukan soal generasi antar generasi tapi kebutuhan setiap generasi yang dianjurkan oleh Agama, oleh karenanya para sahabat PMII jangan berhenti belajar apalagi masih berstatus mahasiswa kewajiban membaca harus dijalankan biar tampak jelas pembedanya antar PMII dengan bukan PMII karena yang diwariskan senior pada saya adalah membaca dan terus membaca. Saya menulis berdasarkan pengalaman PMII-saya, bagaimana dengan PMII anda, mari sejenak berfikir. Refleksi 54 tahun PMII IAIN-JEMBER, 17 Februari 2021. 


[18/2 05.01] Muhammad Qurrotul Aynan: MASIHKAH SENIOR PMII KEREN? BAGAIMANA DENGAN JUNIORNYA?

Oleh :M. Q. Aynan


Sebagai satu bagian kecil dari sekian banyak produk pengkaderan PMII IAIN JEMBER, saya terpaksa menulis dan memang ini sangat subjektif dan biarlah buang-buang waktu saja. Ini juga cuma berdasarkan pengamatan dan sepintas pengalaman pribadi saya saat berproses di PMII. 


Saya sudah mulai kenal dengan PMII saat baru masuk diterima menjadi mahasiswa IAIN JEMBER saat itu. Sedangkan mendengar cerita-cerita tentang PMII sejak Madrasah Aliyah sebab kunjungan kakak kelas yang sudah kuliah di PTKIN ke asrama pesantren.


Entah karena absurditas saya, saya kagum dengan sebagian senior PMII yang betul-betul pinter, bukan karena ingin terlihat pinter, saat mengisi acara demi acara di berbagai forum dan kegiatan dari MAPABA sampai yang lain.


Perkenalan pun dilanjutkan dengan pengakraban. Konon sih PMII anti kemapanan. Salah satunya bisa diamati dari penampilan khususnya busana dan gaya rambut. Rambut gondrong sih masih ada, namun semakin kesini kok kelihatannya makin klimis ya. Angkatan 2016 Tarbiyah yang gondrong sekitar belasan hingga dua puluhan orang, entah sekarang. Celana bolong-bolong lumayan juga lah. Free market ideas kayaknya sudah agak bergeser ke limited market ideas. 


Konon juga, tidak sedikit dari sahabat-sahabat aktivis di dalam tas atau setiap hari kemana-mana bawa buku bahkan teman yang nakal sekalipun bawa buku. Semakin kesini, tampaknya ada pergeseran juga. Entah karena buku fisik sudah diganti dengan buku elektronik, atau buku yang banyak halaman dan berat itu diganti dengan artikel-artikel pendek, atau malah diganti dengan perawatan rambut dan kulit semacam Pomade dan Skincare.


Yang saya kurang tahu, konon dengarnya, saat ke Rayon jika ketemu dengan senior pas ditanya baca buku apa, sebagian orang malah tidak betah, apalagi jika disuruh presentasi buku-buku yang telah dibaca. Atau pertanyaan itu sudah menjadi seperti barang yang menyeramkan, entah.


Klub kajian atau halaqoh-halaqoh yang dikomandani oleh senior-senior, tinggal berapa tersisa sudah. Ngopi dan ngerujak juga lihat-lihat (bukan dengar-dengar) yang isinya bukan membahas seputar ilmu, politik, dan organisasi, agak bergeser ke topik seputar makanan, minuman, belanja, dan jalan-jalan.


Sebagai kader, saya melihat dan merasakan betul para kader yang lebih dulu berproses dan memerankan senior itu rajin baca buku dan pemikiran-pemikirannya keren-keren, indikasinya saat orasi ilmiah, ngisi seminar, ngisi diskusi dan beberapa forum ilmiah lainnya. 


Tadisi menulis yang kuat dan bertanggungjawab itu yang saya bawa sampai saat ini. Asupan gizi kemudian berkembang ke warung tempat nongkrong ilmiah para kader-senior, saat ini ada warung di Jubung Rest Area dan area lainnya. Saya pribadi sering dibisiki sebagian kecil senior agar mampu mematahkan argumentasi dari aktivis lain dan itu wajib kata para mas(ter) itu. 


Tulisan absurd ini, bisa dibilang, merupakan otokritik. Entah tulisan ini mau dibilang mirip tragedi, parodi, atau bahkan komedi. Atau kalau mau lebih keren, sebut saja tulisan ini adalah tentang absurditas eksistensi senior-junior. Saya menulis berdasarkan pengamatan mata PMII-saya, bagaimana dengan mata PMII anda, mari menertawakan diri bersama, sebentar. Representasi 54 tahun PMII RFTIK IAIN-JEMBER, 17 Februari 2021.


Minggu, 14 Februari 2021

,

Muhammad Qurrotul Aynan


Saya selalu bingung ketika ada yang tanya, ngoleksi buku, sudah dibaca? Sudah khatam berapa buku? Tentu saya masih mikir-mikir dan akhirnya menjawab belum. Sulit sekali untuk menuntaskan membaca satu buku dari halaman depan sampai lembar terakhir. Meski masih lebih banyak yang belum dibaca daripada yang sudah dibaca, namun seperti ada semacam kekuatan tersendiri dari huruf-huruf yang tertulis walau belum pernah terlihat oleh mata, dari lembaran yang belum pernah terbuka.


Saya tidak terbiasa membaca satu buku sampai tuntas dari awal sampai akhir, bahkan jika tidak ada satu kata pun yang terlewat. Yang saya terbiasa adalah terutama ketika muncul pikiran tentang sesuatu maka itu ditelusuri lewat penelusuran internet atau dengan membaca buku yang relevan.


Bukan membaca satu buku sampai khatam, melainkan beberapa buku yang terdapat pembahasan yang sama, mengenali struktur, menarik lebih banyak substansi daripada isi, lalu merangkumnya dari beberapa sumber untuk dijadikan satu. 


Yang perlu diperhatikan jika tidak menyelesaikan satu buku adalah berhati-hati, takut menyebabkan gagal paham. Artinya seseorang bisa saja tidak memahami secara utuh yang ada di buku dengan benar dan tidak paham sepenuhnya.


Apalagi jika seseorang itu menyebarkan pemahamannya tersebut kepada banyak orang dan langsung dianggap benar dan diikuti. Hal tersebut akan menjadi masalah yang besar, karena membuat banyak orang memahami secara belum tuntas.


Supaya tidak tersesat, makanya perlu mengetahui konteks jika tidak berencana membaca sampai khatam. Sebelum membaca, perlu diketahui dulu apa konteks yang dibicarakan penulisnya. Apa persoalan yang ingin dihadapinya, apa solusi yang ditawarkannya.


Setelah ketemu konteks/gambaran besarnya, perlu juga dikenali informasi apa yang ingin didapatkan dari buku tersebut. Sehingga meski tidak khatam, tetapi bisa menyerap inti pembahasannya. 

Jumat, 12 Februari 2021

,


Muhammad Qurrotul Aynan


Sikap ilmiah, banyak bentuknya. Minimal dalam mengumpulkan data, instrumen yang tersedia harus digunakan semuanya agar benar-benar valid. Salah satunya misal observasi, dokumentasi, dan wawancara.


Seringkali, sebagian orang (atau mungkin saya sendiri pernah) tidak benar-benar taat prosedur dalam mengumpulkan data. Baru observasi, langsung mengambil kesimpulan dengan posisi tidak setuju. Padahal belum ada dokumentasi dan belum pernah wawancara. 


Seringkali pintu teknik pengumpulan data lainnya sudah ditutup. Padahal data akan valid ketika teknik pengumpulan data digunakan semua, bukan salah satu. 


Biasanya, orang yang hanya mengandalkan observasi saja tanpa dokumentasi dan wawancara saat diberitahu, tidak mau. Dibuka peluang, tidak diambil. Dibuka jalan, tidak ditempuh. 


Ketika pendapat yang hanya berdasarkan observasi saja ditanya balik untuk diuji, tidak ada penjelasan lanjut. Begitulah, sebetulnya sikap ilmiah adalah sikap yang sederhana dan bersahaja. Entah, sebagian orang justru bersikap rumit dan ruwet. Cobalah, kumpulkan dahulu, simpulkan kemudian. 

,

Muhammad Qurrotul Aynan


Tidak semua mahasiswa benar-benar menguasai mata kuliah yang disediakan di program studi masing-masing. Hanya sebagian kecil saja yang menguasainya. Apalagi misalnya ketika bicara soal kegemaran mempelajari dan mengkaji filsafat. Bahkan, mahasiswa yang belajar di program studi filsafat, entah filsafat seperti di UI dan UGM atau di akidah dan filsafat Islam IAIN dan UIN, tidak semuanya berencana untuk mendalami filsafat.


Dengan kondisi seperti itu, dapat dianggap bahwa mahasiswa yang tertarik dengan kajian filsafat jauh lebih sedikit daripada yang tidak tertarik. Paling tidak, ada dua alasan. Pertama, memang tidak tertarik. Kedua, sebetulnya tertarik hanya saja topik pembahasannya yang dirasa kurang cocok dengan kebutuhan dan lingkungan sehari-hari.


Alasan yang pertama mungkin tidak bisa ada perubahan, kecuali mungkin dengan paksaan. Sedangkan alasan kedua, lebih mudah ada perubahan dengan menyesuaikan menunya, menyusun topik-topik pembahasan sesuai dengan kebutuhan dan ketertarikannya. 


Berhubung Indonesia termasuk Asia Tenggara, dan masyarakat sekitar mahasiswa yang meminati kajian filsafat cenderung lebih kepada praktik, maka menu yang perlu didahulukan untuk disajikan dalam forum kajian filsafat di mahasiswa adalah filsafat praktis.


Filsafat Praktis mencakup antara lain Ekonomi, Politik, Hukum, Etika. Filsafat praktis juga mengalami perkembangan dan spesialifikasi, yaitu mencakup norma-norma atau akhlak, urusan rumah tangga, sosial dan politik.


Selain itu, sependek pengetahuan saya, para filsuf Muslim, baik itu yang berbahasa Arab maupun di Nusantara, memandang bahwa kearifan tidak hanya bersifat konseptual. Jadi, filsafat tidak hanya urusan menciptakan konsep. Lebih dari itu, selain filsafat memiliki sifat teoritis, yaitu pengetahuan dan kebenaran, filsafat juga memiliki sifat praktis berupa hasil perilaku yang selaras dengan pengetahuan dan kebenaran yang diperoleh.


Maka dari itu, diperlukan pemahaman yang utuh secara teoritis, tidak sepotong-potong, dan juga menganalisis masalah konkret tentang etika-moral ( akhlak), ekonomi, hukum, dan politik dalam tinjauan filsafat. Apabila praktik moral, praktik ekonomi, praktik hukum, serta praktik politik, mengandung ciri esensial maka ia sudah tentu berpijak pada apa yang disebut kemendasaran wujud.


Filsafat praktis, menurut pengertian Achenbach dan pengikut-pengikutnya, tidak identik dengan studi filsafat secara akademis. Maksudnya mempelajari filsafat di program studi filsafat dan menghasilkan tugas akhir berupa karya ilmiah entah skripsi, tesis, atau disertasi yang membahas tentang pemikiran filsuf atau konsep filsafat tertentu.


Dengan "filsafat praktis" dimaksudkan interaksi seseorang yang memiliki kompetensi filosofis secara memadai untuk membantu orang lain mengolah kehidupannya, membaharui atau membuka horison pandangan hidupnya, serta mengerti dan menjawab masalah-masalah yang konkret digumuli. 


Dalam batasan itu, gerakan filsafat praktis umumnya dihubungkan dengan konseling atau konsultasi dalam rangka problem-solving. Jadi, filsafat praktis di sini berarti praksis filsafat, dan tidak dipertentangkan dengan studi filsafat secara akademik. Justru sebaliknya, filsafat praktis selalu didasarkan atas studi filsafat yang serius dan mendalam.


Perlu kiranya berupaya membumikan konsep konsep filosofis yang melangit itu pada realitas kehidupan, karena filsafat seringkali dianggap sarat dengan konsep-konsep rasional yang abstrak tanpa ruang bagi pengalaman hidup yang riil. Upaya seperti itu sebetulnya mengembalikan kita kepada awal perkembangan filsafat seperti yang dipraktikkan oleh filsuf-filsuf kuno. Plato dan Aristoteles mempraktikkan filsafat bersama murid-muridnya di sekolah yang mereka dirikan, tetapi Sokrates benar-benar berfilsafat melalui dialog kehidupan sehari-hari. 

Selasa, 09 Februari 2021

,

Kekuatan Intelektual dan Gerakan Non-Kotak

Muhammad Qurrotul Aynan


Kekuatan intelektual, disadari atau tidak, adalah kekuatan utama suatu penaklukan. Jika tidak cukup memahami peta kekuatan intelektual, maka pemahaman tentang dominasi akan menjadi kurang utuh. 


Kekuatan intelektual bagi sebagian orang mungkin dapat dikenali dengan unjuk kekuatan. Jadi kekuatan intelektual itu ditunjukkan, khususnya secara lisan, di depan orang banyak. Padahal, unjuk kekuatan itu bisa saja melalui penjelasan yang berputar-putar, panjang-lebar, dan terlalu melangit. Berbeda dengan anggapan itu, justru kekuatan intelektual seringkali tidak ditunjukkan, tersembunyi. Selain itu, kekuatan intelektual justru tampak dari penjelasan yang fokus, singkat, dan membumi.


Kenyataan yang terjadi ketika pemahaman tentang kekuatan intelektual itu tidak utuh adalah penugasan tenaga pengajar yang wajib satu wilayah, entah sama-sama orang Indonesia atau sama-sama satu fakultas. Di sisi lain, orang yang satu fakultas belum tentu betul-betul mumpuni, benar-benar menguasai apa yang diajarkan. Pokoknya satu fakultas, dengan dalih "menggunakan produk dalam negeri".


Padahal, kunci kebangkitan kekuatan intelektual adalah jaminan transfer. Perlu ada semacam reformasi kekuatan intelektual yang ditandai dengan transfer kekuatan intelektual, meskipun tidak sama fakultasnya. Jadi, apabila tidak ada transfer kekuatan Intelektual, maka juga tidak akan ada pergeseran kekuatan intelektual.


Apalagi, jika memang berkomitmen untuk Non-Kotak, dalam arti tidak terkotak-kotak berdasarkan fakultas misalnya, maka tidak ada alasan untuk tidak menjamin transfer kekuatan intelektual. Jadi, ketika berkomitmen untuk Non-Kotak dan menghendaki pergeseran kekuatan intelektual, maka fakultas yang kekuatan intelektualnya lebih dominan, diundang untuk datang, siap dan mau untuk diajari dalam rangka peningkatan kekuatan intelektual, ditambah transfer ilmu intelektual, didik dan latih , transfer strategi dan taktik kontestasi, tunjukkan cara kerjanya.


Kekuatan intelektual bukan ditunjukkan oleh satu bidang saja, melainkan ditunjukkan oleh berbagai bidang, lini, dan sektor. Jika tidak ada pergeseran kekuatan intelektual, maka pemenang lama tetap bisa mempertahankan sejarah lama, bahkan menjadi akhir sejarah. Jadi, apakah percaya diri dengan kekuatan intelektual sendiri, berhenti belajar, atau siap dan mau diajari? Tetap berhenti di satu bidang, lini, dan sektor, atau berbagai bidang? 

,

 Nietzschean Kekanak-kanakan?

Muhammad Qurrotul Aynan



Pembuka: Salah Paham?


Nietzsche banyak disalahpahami. Ungkapan ini bagi peminat studi filsafat dan pemikiran tentu sudah sering dijumpai. Sebagaimana diungkapkan oleh A.  Setyo Wibowo, sebagai penulis soliter, yang didera penyakit berkepanjangan, ia sendiri memang tidak terlalu ingin mudah dipahami. 


A. Setyo Wibowo menambahkan bahwa Nietzsche menulis dengan aforisme, ungkapan-ungkapan pendek yang bernas, namun tidak selalu jelas kaitannya satu dengan lainnya. Tulisannya yang sistematis juga tidak selalu mudah ditangkap maksudnya. Mengakui sebagai bagian dari jamannya yang modern dan nihilis, Nietzsche mencoba melampauinya.


Jika A. Setyo Wibowo berbicara mengenai salah paham dalam konteks Indonesia, maka saya dalam tulisan ini hendak berbicara tentang salah paham, atau paling tidak, kurang paham mengenai pemikiran Nietzsche dalam konteks mahasiswa di kampus saya. 


Beberapa mahasiswa yang saya amati membaca buku terjemahan karya Nietzsche atau buku-buku yang membahas tentang Nietzsche, atau juga aforisme pendek. Tentu hal itu berpengaruh, entah langsung atau tidak, entah diakui atau tidak, terhadap bangunan pemikiran dalam melihat realitas sehari-hari. 



Tentang Nihilisme


Seperti aforisme Nietzsche, aforisme beberapa mahasiswa tersebut juga berupa ungkapan-ungkapan pendek yang tidak terlalu jelas kaitannya satu sama lain juga sulit ditangkap maksudnya. Selain ungkapan, sikap dan perilaku beberapa mahasiswa tersebut bersifat nihilis dan senantiasa menuntut kebaruan. 


Karena bersifat nihilis, maka ungkapan dan sikap yang dilandasi keyakinan bahwa semua nilai-nilai (value) itu tidak berarti. Lebih jelasnya, bahwa sejatinya tidak ada makna/nilai-nilai dalam hidup ini yang berlaku bagi semua manusia. Ungkapan dan sikap nihilis sering dikaitkan dengan skeptis radikal atau pesimisme ekstrim. Jadi, tidak percaya, sangat ragu, terhadap realitas dan orang lain, bahkan mungkin tidak percaya kepada orang lain. 


Persoalannya adalah beberapa mahasiswa yang saya amati itu sikap nihilisnya adalah nihilis pasif. Itu berarti bahwa mereka menganggap kenyataan bahwa tidak ada yang bisa dipercaya dan bahwa hidup, khususnya kehidupan kampus maupun kehidupan sehari-hari pada umumnya, sejatinya tidak berarti, kondisi mental dan fisik mereka akhirnya akan menurun.


Padahal, seperti ditulis oleh Nolen Gertz , bahwa yang disarankan oleh Nietzsche bagi orang-orang adalah sikap nihilis yang aktif. Nihilis aktif, setelah menolak bahwa nilai-nilai tersebut ada nihilis aktif berpikir bahwa karena tidak ada nilai-nilai yang betul-betul penting, maka berarti hidup sesuai kehendak pribadi. Nihilis aktif menemukan kebebasan dan kedamaian dalam ketidakadaan. Nihilis aktif menghancurkan nilai yang ada untuk menciptakan tujuan baru. Mereka tidak takut terhadap kenyataan bahwa mereka tidak percaya akan apapun. Dengan demikian, mereka bebas untuk memutuskan hal-hal dalam hidupnya.



Tentang Moral


Friedrich Nietzsche mengidentifikasi moralitas budak dengan kasta pendeta, meskipun ia mengidentifikasi di tempat lain dengan para budak. Orang-orang ini adalah orang miskin, tidak sehat, lemah, dan impoten, dan mereka belajar untuk membenci kekuatan dan kesehatan para majikan. Mereka menjuluki tuan mereka "jahat" dan menyebut diri mereka "baik" sebaliknya. Jadi, moralitas budak dicirikan oleh kontras antara "baik" dan "jahat."


Kontras antara moralitas tuan dan moralitas budak adalah salah satu aspek yang lebih dikenal dari pemikiran Nietzche, tetapi menurut para pakar bisa menyesatkan. Menurut pakar, sangat mudah, meskipun naif, untuk melihat Nietzche sebagai penyusun kontras ini sehingga memuji moralitas tuan dan meremehkan moralitas budak yang mendominasi waktu sejarah peradaban. 


Jadi, ketika pemikiran Nietzsche tentang moral ini disalahpahami oleh mahasiswa, maka gerak sejarah akan menghasilkan dua kelompok yang diidentifikasi sebagai yang "baik" dan yang "jahat". Yang sejalan akan diidentifikasi sebagai yang "baik", sedangkan yang tidak sejalan akan diidentifikasi sebagai yang "jahat". Sekali lagi, pembacaan seperti ini sangat naif, untuk melihat antara yang sejalan dengan yang tidak sejalan sehingga memuji moralitas yang sejalan dan meremehkan moralitas yang tidak sejalan yang mendominasi gerak sejarah kehidupan. 



Penutup: Kebutuhan Untuk Percaya


Pembacaan tidak teliti dan kurang hati-hati menyebabkan pemikiran Nietzsche sering disalahpahami, menyebabkan pemikiran Nietzsche kemudian diterjemahkan menjadi sebagai anti-golongan yang mendorong kelompok "unggul" untuk menyingkirkan moralitas pendeta-budak.


Para pakar baik A. Setyo Wibowo, Nolen Gertz, maupun lainnya hendak menawarkan tafsir atas Nietzsche yang dilandaskan pada pemikiran tentang “kebutuhan untuk percaya”. Manusia selalu butuh mempercayai sesuatu untuk mengutuhkan kehendaknya (dirinya). Seperti kata A. Setyo Wibowo, semakin manusia butuh percaya, kepercayaan apa pun yang dipegangnya akan dibekukan dan dikehendaki secara mati-matian. Fanatisme tidak berkaitan dengan kepandaian atau kebodohan, kekayaan atau kemiskinan. Orang pandai tapi butuh percayanya besar, akan fanatik. Sebaliknya, lanjut A. Setyo Wibowo, orang sederhana di dusun bisa bersikap bak distinguished people di depan macam-macam kepercayaan. Fanatisme juga tidak khas hanya di agama. Semua jenis kebenaran yang diusung agama, ideologi, sains atau bahkan filsafat bisa diubah oleh orang-orang berkebutuhan percaya besar ini menjadi “ide mummi”. Saat kebenaran-kebenaran menjadi “mummi”, balsem dan harum-haruman rempah-rempah tidak bisa menghilangkan kenyataan bahwa mereka “sudah mati” dan mematikan. 


Lagi-lagi mengutip A. Setyo Wibowo, ungkapan kontroversial Nietzsche “Tuhan sudah Mati” memang menyeramkan, namun yang mengagetkan, Nietzsche mengatakan bahwa ternyata manusia-lah pembunuh-Nya: siapapun, termasuk Nietzsche dan jaman modernnya yang nihilis.


Kebenaran, kejujuran, keadilan, atau apapun yang dianggap telah "mati" oleh mahasiswa, berarti pembunuhnya adalah mahasiswa yang butuh percayanya besar, fanatik, meskipun ia terbilang pandai. Seperti kata Nolen Gertz, Nietzsche menyarankan untuk menjadi seorang nihilis aktif, bebas, termasuk terbebas dari ekspektasi, dari ikatan terhadap keyakinan, kebutuhan percaya yang berlebihan, dan fanatisme. Bebas dari itu semua menuju keunggulan dengan menerima kenyataan di depan macam-macam kepercayaan.


Minggu, 07 Februari 2021

,

Pertandingan, Supporter, dan Wasit

Muhammad Qurrotul Aynan


Menarik membaca status/story WA Abdul Muis, Kabid Advoger PR PMII FEBI IAIN Jember. Muis menulis, "Di setiap pertarungan yang asik, permainan itu selalu ada. Di dalam pertarungan inilah awal mula muncul suatu pemikiran-pemikiran bahwasanya kelompok-kelompok supporter dari antara si pihak petarung melakukan apa saja sekiranya si petarung yang ia pilih memenangkan liga tersebut."


Yang terlibat dalam permainan di lapangan tentu saja pemain dari dua tim yang berbeda. Wasit ada untuk menjadi penengah antara keduanya, terutama apabila terjadi suatu pelanggaran yang dilakukan oleh salah seorang pemain. Selain itu, sebetulnya ada lagi pihak yang terlibat. Salah satunya adalah para pendukung atau supporter yang terkadang luput dari perhatian sebagian penonton ketika menonton sebuah pertandingan.


Lebih lanjut Muis menulis, ''ketika sudah menemukan solusi atau solasi, supporter tersebut mendoktrin si petarung untuk melakukan yang ia katakan dengan alasan agar kamu bisa memenangi liga ini dan saya sebagai supporter akan menggerakkan supporter yang lainnya."


Di satu sisi, keberadaan supporter memainkan peranan penting dalam mendukung tim dan pemain kegemaran. Peran itu dapat berupa datang ke tempat pertandingan untuk menyaksikan pertandingan secara langsung, penampilan khusus seperti yel-yel, menggunakan atribut yang sama, termasuk juga ikut menjaga ketertiban. Yang terakhir ini seringkali terlupakan entah disengaja atau tidak. Yang pasti, dalam beberapa kesempatan, justru yang terjadi sebaliknya.


Tentang persoalan ketertiban itu, Muis mengakhirinya dengan menulis, "Begitulah kira kira statement suporter yang saya rekam sebelum ia dihantam oleh batu batu yang melayang di stadion karena terjadinya kericuhan atas kesalahan yang dilakukan oleh petarung dan diketahui oleh wasit, sehingga antar supporter tidak terima yang menyebabkan kericuhan dan liga tersebut discorsing sehingga para pemain mulai mencari wasit agar rencana jahatnya dalam pertarungan tersalurkan. Begitulah yang terjadi." 


Di kalimat terakhir, Muis menyeru, "Berhati-hatilah wahai wasit". Memang, menjadi wasit perlu berhati-hati, baik dalam mengambil keputusan maupun menjaga diri. Menjadi wasit tentu harus bersikap tawasuth. Tawassuth bukan berarti bersikap tidak tegas atau plin-plan. Layaknya seorang wasit (dari kata "waasith" yang berarti penengah) dituntut ketegasan dalam memimpin suatu pertandingan, tidak memihak siapa pun, apalagi "diam-diam" ikut bermain. Tak ketinggalan juga menjaga diri dari ancaman para supporter yang mungkin saja menyimpan dendam kepada wasit lantaran supporter itu tidak puas terhadap keputusan itu. Ya, minimalnya lah, begitu.


 

,

Ide dan Konsep yang Bagus adalah yang Bisa Dieksekusi

Muhammad Qurrotul Aynan




Beberapa hari lalu secara tidak disengaja muncul obrolan oleh beberapa orang. Fokusnya adalah pada tiga orang. Jadi, anggap saja satu orang 'ruangan' dan satu orang 'lapangan'.


Ada ungkapan yang sudah kaprah, jamak dipersepsikan bahwa orang-orang lain di sekitar orang yang terlibat dalam obrolan banyak yang bertipe 'konseptor'. Hal itu lantaran ketika ada forum-forum diskusi, rapat, atau musyawarah, sering ramai usulan, tanggapan, menyanggah, dan penguatan.


Itu mungkin benar, namun tidak sepenuhnya benar. Sebab, seperti diamati oleh salah seorang pembicara di obrolan itu, bahwa setidaknya ada dua konseptor yaitu 'konseptor yang sekedarnya' dan 'konseptor sejati'. Saya sepakat dengan pendapat ini.


Saya setuju, tentunya bukan karena hanya mengamati dari luar, melainkan sering terlibat dalam menggagas sesuatu atau yang bisa disebut juga mengonsep suatu kegiatan atau agenda lain entah itu bersifat teknis atau prosedural.


Alasannya karena sebuah gagasan atau konsep menurut saya mesti merujuk kepada gagasan atau konsep yang pernah ditulis oleh para ahli. Sementara, tidak sedikit orang-orang yang dianggap 'konseptor' itu menggagas atau mengonsep tidak punya rujukan yang jelas. Selain itu, meskipun ada rujukan, seringkali gagasan tersebut sudah jauh dari gagasan aslinya, atau tidak relevan dengan kenyataan di depan mata. Padahal, kenyataan di lapangan adalah kenyataan yang dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga.


Oleh karena itu, sudah cukup lama saya berkesimpulan bahwa gagasan atau konsep yang bagus adalah yang bisa dieksekusi. Sebaliknya, apabila tidak dapat dieksekusi berarti masih ada yang bermasalah darinya. Entah karena memang kurang bagus atau cukup bagus tapi masih terlalu abstrak sampai tidak bisa dicerna dan dipahami secara sederhana.


Selanjutnya, apabila terus begitu, maka akan terjadi penumpukan gagasan, surplus ide tetapi defisit eksekusi. Kaya rencana tetapi miskin pelaksanaan. Padahal, seperti disampaikan sebelumnya, bahwa kenyataan menuntut agar segera ditangani, segera ada eksekusi supaya persoalan-persoalan nyata cepat teratasi, cepat terselesaikan, dengan langkah nyata pula. Jika tidak, maka gagasan itu hanya akan menumpuk di kepala masing-masing penggagas tetapi tidak bisa dilihat wujudnya. 


Akhirnya, lingkungan penggagas itu hanya tampak seperti kumpulan para pembual banyak kepala tetapi tidak memiliki tangan dan kaki, atau punya tangan dan kaki tapi lumpuh. Padahal, sebuah organ tubuh harus lengkap baik dari bagian kepala beserta isinya, tangan, sampai kaki. Di sinilah pentingnya membagi peran demi efektivitas, untuk mendapatkan hasil akhir berupa organ tubuh yang lengkap, berupa gagasan yang dieksekusi. Gagasan bagus, eksekusi tembus, sebab sekali lagi, ide yang bagus adalah yang bisa dieksekusi. 

Sabtu, 06 Februari 2021

,

Berorganisasi berarti berhubungan dengan banyak orang. Tidak hanya tentang hubungan dengan internal anggota dan fungsionaris, tetapi juga dengan pihak eksternal. Untuk membentuk dan merawat hubungan tersebut agar tetap baik, diperlukan komunikasi yang baik pula.


Persoalannya adalah bagaimana memulai dan melaksanakannya secara berkelanjutan. Kesuksesan berkomunikasi tentu akan menambah kelancaran dalam upaya meraih tujuan bersama. Fungsionaris, utamanya pimpinannya, dituntut memiliki kecakapan tinggi dalam berkomunikasi dengan orang lain. Untuk itu, banyak para praktisi komunikasi membagi beberapa strategi beragam yang pernah mereka praktikkan dalam menjalankan perannya.


Satu di antara orang yang merangkum strategi berkomunikasi yang pernah dipraktikkan oleh beberapa praktisi adalah Nurul Hidayah yang merupakan Ketua Umum Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia masa khidmat 2019/2020, lembaga dimana saya berkhidmat selama setahun terakhir. Sempat muncul rangkuman itu dalam forum Rapat Tahunan Komisariat, lalu saya berinisiatif untuk menuliskannya agar lebih banyak orang yang selalu berupaya mengembangkan keterampilan dasar berkomunikasi guna mengasah kemampuan mereka dan memperbaiki kinerja dalam membangun hasil komunikasi yang efektif, informatif, serta persuasif.


Dalam rangkumannya, membangun keserasian dan saling memahami dalam komunikasi supaya ada kesan lebih dekat, lebih akrab, tergantung bagaimana seseorang memulainya. Jika di awal seseorang itu cenderung menggunakan bahasa yang sifatnya formal, penggunaan bahasa resmi, bahasa kantor, maka lawan komunikasi juga akan memberikan tanggapan yang sama.


Untuk membangun komunikasi yang mudah akrab, maka seseorang harus menyadari terlebih dahulu bahwa lawan komunikasi adalah orang yang dianggap dekat, dipercayai, sebab ketika bertemu dengan seseorang, tidak kemudian menggunakan bahasa baku untuk menanyakan alamat atau lainnya. Akan tetapi, perlu penggunaan bahasa yang terbuka, lentur, yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.


Contohnya, "Assalamu'alaikum, Cak. Ada dimana? Ada waktu, nggak? Ada keperluan. Kiranya kita bisa ngobrol, nggak di warung kopi? Atau saya langsung ke rumah njenengan?"


Penggunaan bahasa dalam komunikasi yang seperti itu yang seringkali tidak digunakan oleh teman-teman (sekitar. red) sehingga banyak senior dan alumni yang memandang ada batasan, ada jarak, antara teman-teman dengan mereka sendiri.


Komunikasi yang dibangun sejak awal memang cenderung formal. Sehingga ada rasa canggung, ada rasa sungkan, dan sebagainya. Mungkin rasa sungkan sudah menjadi suatu kepercayaan atau nilai yang terbangun. Akan tetapi, perlu dibuka juga kran komunikasi menggunakan bahasa sederhana, menjadikan orang lain lebih terbuka dengan kita, itu yang perlu dimulai untuk dibangun agar orang lain juga merasa nyaman.

Senin, 01 Februari 2021

,

Jaring Laba-laba: Riwayat Ringkas Sebuah Model

Muhammad Qurrotul Aynan

Ini riwayat tentang ratusan orang. Ada' dan tahamulnya baru saja terjadi di waktu senjang sambil menunggu, melakukan sebuah aktivitas yang terlihat pasif tapi cukup menguras energi. Berbagi kisah dengan kawan pemerhati Kebijakan Publik, atau yang tertulis dalam bahasa Inggris Public Policy, Public Relation, & Government Affairs.


Jadi, sekali lagi, ini adalah riwayat ringkas sebuah model pengurusan anak-anak manusia. Riwayat ini ditulis dengan pengamatan, yang kalau boleh klaim, cukup mendalam. Sebab pengamatan itu bukan oleh orang luar, melainkan orang dalam yang sekaligus sebagai partisipan, hampir di setiap detak dan detik.


Riwayat ini perlu dimulai dengan kerendahan hati, berada di belakang mesin-mesin operasionalisasi yang betul-betul hidup, yang diilhami oleh sebuah mimpi besar. Perselisihan sudah seperti sebuah keniscayaan, sebuah takdir kesejarahan. Akan tetapi, semua urusan perlu terpusat, dan diselesaikan dengan mekanisme untuk optimalisasi semua fungsi. Sehingga diharapkan segregasi tidak perlu sampai terjadi. Akhirnya, melihat ke luar dari jendela dengan satu pandangan yang terpadu.


Riwayat ini juga merupakan riwayat sebuah keluarga besar yang akhir-akhir ini tampak kehilangan jiwa besarnya. Untuk menghidupkan kembali jiwa besar itu, perlu kiranya dikembangkan strategi-strategi dimana sistem dan model yang dirancang harus sesuai dan dapat diterima dan dibangun dengan pemahaman sejarah dan budaya setempat. 


Era represi dan hierarki telah berganti. Sekarang eranya keterlibatan berbasis kinerja dan kontribusi. Otot, sangar, besar, sudah pernah tergantikan oleh diksi dan retorika. Sudah mulai dan akan terus tergantikan oleh waktu, biaya, lokasi, dan kelompok sasaran yang tepat.


Itulah Riwayat MODEL JARING LABA-LABA. Membangun model jaring Laba-laba berarti menguasai titik tengah dan titik terluar. Juaranya adalah ia yang relasinya paling kuat dan luas. Pemenangnya bukan ia yang senang kompetisi atau kontestasi, tapi ia yang gemar kolaborasi, bekerjasama dan mengambil peluang. Ciptakan ruang tanpa pesaing dan kontestan, biarkan kompetisi dan kontestasi kehilangan relevansinya.


Saatnya hilangkan hama dan bunga Rafflesia Arnoldiinya. Tumbuhkembangkan akarnya. Menanam dari pinggiran, menuju ke tengah, ke inti.