M. Q. Aynan
Sudah hampir delapan belas purnama kita meninggalkan kelas paling timur di lantai dua. Rasanya baru kemarin karpet itu masih terasa hangat. Namun, detik juga tak lelah untuk berlari kencang. Kadang, kehangatan itu rasanya menghilang. Tetapi alhamdulillah terobati. Masih ada yang pernah berada di jurusan yang sama saat aliyah.
Bagaimanapun, kita selaku manusia berada dalam kondisi yang serba determinis-mekanistik. Selaku manusia yang diberi anugrah berupa kehendak bebas, kita tetap tidak bisa kembali ke tempat dan waktu yang sama. Semakin lama, hal itu menyebabkan keinginan untuk mengokohkan jaringan intelektual dan emosional semakin tinggi.
Saya sangat tidak ingin peristiwa selama 36 bulan lambat laun hilang begitu saja sampai tak ada bekas, sampai hanya menjadi kilas balik serpihan memori yang tersangkut di pojok kepala. Kilometer boleh jauh, korespondensi harus tetap stabil. Teman kampus boleh bertebaran. Tetap saja, periode aliyah akan tetap punya tempat dan pengaruh tersendiri.
Maka, pertanyaan yang mesti dijawab bersama, apa yang akan membekas? Bekas visual saja? Mau dibawa kemana ukhuwah syuyukhiyah kita?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar