---Di mana pun adalah ruang kelas---

Sabtu, 30 Oktober 2021

,

Tulisan ini adalah catatan hasil diskusi, atau yang lebih tepat disebut saling berbagi kegelisahan, antara saya dan beberapa teman saya. Ada yang sedang berada di Jember, Malang, Surabaya, dan Yogyakarta. Kami saling berbagi kegelisahan tentang kecenderungan rendahnya atau menurunnya minat mahasiswa dalam penelitian.


Perguruan tinggi umumnya dianggap sebagai salah satu lembaga paling penting untuk pengembangan intelektual di masyarakat. Jumlah prestasi akademik yang diraih oleh para mahasiswa ini menunjukkan intelektualitas mereka. Selain angka IPK, prestasi juga bisa dalam bidang penelitian. Kami menyayangkan, minat mahasiswa untuk melakukan penelitian saat ini tampaknya sedang surut.


Penelitian, padahal, adalah salah satu dari tri dharma pendidikan tinggi. Karena dari penelitian ini penemuan-penemuan baru dapat dikembangkan untuk mengatasi berbagai masalah aktual di masyarakat.


Kami menduga bahwa pemahaman dan kesadaran tentang perlunya penelitian sebagai bagian dari pengembangan dan pendewasaan intelektual muda, adalah salah satu faktor yang menyebabkan minat mahasiswa terhadap penelitian masih rendah. Selain itu, apabila semangat bersaing dalam penelitian rendah, dapat menimbulkan ketakutan atau kekhawatiran jika gagal.


Menurut kami, banyak dari mahasiswa menganggap penelitian seolah kemewahan intelektual yang hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang tertentu. Pada kenyataannya, ada banyak lomba untuk mahasiswa di bidang penelitian. Bisa dikatakan tiap bulan ada lomba karya tulis ilmiah, atau bahkan bisa lebih dari itu, misalnya ada LKTI tiap dua pekan sekali. Sayangnya, ada kecenderungan mahasiswa sedikit yang hobi menulis, apalagi belajar penelitian.


Dugaan kami, salah satu penyebab belum berkembangnya minat anak-anak muda ini mungkin kurangnya sarana dan akses pendukung. Dalam pengamatan kami, tidak banyak ditemukan komunitas studi mahasiswa baik itu di kampus-kampus Yogyakarta maupun di daerah lain seperti Surabaya, Malang, dan Jember. Selain itu, menurut pengamatan kami, mahasiswa lebih berminat membentuk komunitas hobi, alih-alih komunitas studi.


Hal ini terlihat dari semakin banyaknya komunitas hobi di kampus yang menunjukkan bahwa mahasiswa lebih terpuaskan dengan hal-hal seperti hiburan dan penyaluran hobi. Minat dan kemampuan mahasiswa perlu diwadahi lebih banyak lagi secara lebih terbuka di kampus, khususnya dalam bidang penelitian, demi ekosistem yang mendukung terhadap penelitian.


Kami mengaku kesulitan menemukan dan merekrut mahasiswa yang tertarik sungguhan dengan penelitian di berbagai program studi. Menurut pengakuan kami, saat ini hanya bisa dihitung jari yang berminat dalam penelitian.


Perlu kiranya membudidayakan komunitas studi demi mendukung ekosistem yang mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan penelitian. Komitmen bersama diperlukan dalam melakukan upaya untuk meningkatkan kualitas penelitian mahasiswa. 


Kami masih percaya bahwa membudidayakan komunitas studi akan menjadi penunjang untuk mengembangkan minat penelitian. Sekian kegelisahan kami. Semoga kegelisahan kami berubah menjadi kegelisahan kita, supaya bisa bersama membangun ekosistem yang mendukung penelitian. 

Jumat, 29 Oktober 2021

,

Tulisan ini adalah hasil diskusi saya dengan beberapa orang yang punya pengalaman beberapa kali menjadi instruktur dalam kegiatan pelatihan di organisasi kemahasiswaan.


Anda mungkin pernah mendengar salah satu buku terlaris Malcolm Gladwell "Outliers," yang mempopulerkan aturan 10.000 jam. Aturannya, menurut Gladwell, adalah penguasaan kemampuan dan materi yang rumit membutuhkan 10.000 jam latihan intensif.


Anders Ericsson mengacu pada aturan 10.000 jam sebagai "generalisasi yang mengejutkan." Gladwell mengutip studi Ericsson tentang musisi ahli sebagai dasar untuk aturan tersebut. Menurut Ericsson, aturan tersebut merupakan penyederhanaan yang berlebihan dan interpretasi yang tidak akurat dari temuannya dalam banyak aspek. Aturan 10.000 Jam mudah diingat dan mudah diingat, tetapi didasarkan pada landasan ilmiah yang meragukan.


Pertama dan terpenting, menurut Ericsson, angka 10.000 benar-benar sewenang-wenang. Ini mudah diingat dan menarik, tetapi sebenarnya tidak didasarkan pada sesuatu yang bermakna. Ini adalah jumlah jam yang dihabiskan oleh para pemain biola berbakat ini pada saat mereka berusia 20 tahun. Mereka telah menghabiskan rata-rata 7.400 jam pada usia 18 tahun. Meskipun mereka cukup terampil bermain biola pada usia 20 tahun, dan pasti dalam perjalanan ke puncak bidang mereka, mereka jauh dari ahli.


Jika Gladwell mengajukan aturan 10.000 jam untuk menjadi ahli, saya dapat mengajukan aturan 1.000 jam terbang untuk bisa menjadi instruktur yang berpengalaman. Seperti kata Ericsson, 1.000 jam ini bisa dibilang sewenang-wenang. Tetapi angka ini saya dapat setelah diskusi bersama beberapa sahabat saya, meskipun tentu saja 1.000 jam saja belum cukup tanpa dilengkapi dengan faktor lain.


Latihan yang terarah adalah cara paling efektif untuk meningkatkan kemampuan. Ini memerlukan melakukan kegiatan yang direkomendasikan oleh para peneliti untuk mengembangkan kemampuan tertentu, mengidentifikasi kelemahan dan bekerja untuk memperbaikinya, dan dengan sengaja mendorong diri Anda keluar dari zona nyaman Anda. Ericsson berkata bahwa penting untuk membedakan antara latihan bertujuan yang terfokus pada tujuan tertentu dan latihan umum, karena tidak semua jenis latihan menghasilkan kemampuan yang lebih besar. Seseorang mendapatkan manfaat dari menyesuaikan eksekusinya berulang kali untuk lebih dekat dengan tujuannya, bukan melalui pengulangan mekanis. Artinya, mengulang cara yang sama sampai 1.000 jam pun, hasilnya akan sama apabila tidak ada pengarahan dan perbaikan.


Latihan yang terarah sering dipandu dengan seorang yang lebih berpengalaman, pelatih yang terampil, atau mentor, seseorang dengan pandangan yang lebih cermat. Instruktur yang lebih berpengalaman atau mentor ini menawarkan umpan balik tentang cara khusus untuk meningkatkan, dan tanpa umpan balik seperti itu, seseorang tidak akan mencapai puncak. Umpan balik penting dan konsentrasi juga penting – bukan hanya jam, bukan hanya seberapa lama atau seberapa sering.


Jelas tidak akan sama untuk bereksperimen sendiri selama 1.000 jam untuk menjadi lebih baik dalam pelatihan dan seperti halnya berlatih dengan seorang yang lebih berpengalaman selama 1.000 jam, siapa yang memberi petunjuk tentang prosedur dan teknik dan membantu menjadi lebih baik, tentu saja orang yang lebih berpengalaman. 


Faktor genetik, tentu saja, berperan juga. Sudah banyak riset, studi, atau penelitian tentang ini. Orang yang berasal dari keluarga guru atau pengajar cenderung lebih cepat belajar dan berhasil menjadi instruktur daripada yang punya latar belakang keluarga yang berbeda. Bahkan dengan 1.000 jam latihan, tidak semua orang bisa menjadi instruktur yang terampil. Untuk menjadi master di suatu area, diperlukan beberapa kemampuan intrinsik.


Terlepas dari nasihat sejak lama untuk "menjauhkan emosi darinya", sains telah membuktikan bahwa emosi memainkan peran penting dalam pembelajaran. Seseorang harus menciptakan kondisi biologis terbaik untuk belajar agar dapat berlatih dan berkembang secara efektif. 


Latihan mental ternyata sangat kuat. Baik seseorang sedang belajar dan mempraktikkan keterampilan baru, atau bersiap untuk pertunjukan, penelitian telah menemukan bahwa latihan mental sangat efektif. Latihan mental memiliki kekuatan yang luar biasa. Latihan mental telah terbukti sangat membantu dalam mempelajari dan mempraktikkan keterampilan baru atau mempersiapkan pertunjukan.


Motivasi adalah satu-satunya faktor terpenting dalam berlatih, berlatih, dan berlatih, dan terus berlatih. Tanpa motivasi yang konsisten, latihan akan kehilangan konsentrasi atau ditinggalkan begitu saja. Ketika tujuan dikaitkan dengan tujuan yang lebih besar dan cita-cita jangka panjang, praktik mengambil makna dan relevansi baru


Seseorang yang memilih belajar lebih keras dengan mengesampingkan rasa nyaman bisa mendapatkan hasil lebih efektif. Seseorang yang berhasil berjuang lebih untuk menekuni teknik belajar juga cenderung punya mental yang tangguh. 


Kesimpulannya, dari diskusi tersebut, untuk menjadi instruktur yang terampil, butuh 1.000 jam terbang dengan rincian 500 jam pembinaan dan 500 jam penugasan yang itu setara dengan minimal 4 kali kegiatan pelatihan, latihan terarah dengan pengarahan instruktur yang lebih berpengalaman, faktor genetik, memainkan emosi, latihan mental, motivasi jangka panjang, dan belajar lebih keras. Selamat menjadi instruktur, selamat berlatih dan melatih. 

Selasa, 19 Oktober 2021

,

 Kamu mungkin tau kalau saya anak pertama. Saya tidak punya kakak, baik Mas maupun Mbak. Yang saya maksud Mas dan Mbak adalah beberapa orang yang sudah saya anggap seperti kakak saya sendiri. Kadang, atau bahkan seringkali, saya menemukan di dalam diri mereka, sosok yang bisa sewaktu-waktu berperan sebagai orang tua saya.


Tentu saya bisa merasakan kecocokan dengan mereka karena banyak hal yang mirip dari kami. Dari kepribadian, hobi, minat, dan beberapa hal lain yang mirip, membuat saya nyambung banget sama mereka. Mereka tentunya cerdas, pintar, dan sudah sukses di mata orang lain. Saya belum sekomplit itu.


Entah apakah saya nantinya ketika sudah sukses di mata orang lain, saat itu yang bernama dengan saya, kamu atau orang lain. Hanya detik yang bisa menjawab. 


Mungkin sebagian orang sudah tau kalau saya itu pemilih alias selektif. Saya juga punya banyak hal di dunia saya yang saya rasa penting sekali untuk saya perjuangkan. Waktu saya terbatas. Energi saya sudah banyak saya salurkan untuk berjuang. Saya tidak bisa, dan tidak mau, membuang waktu dan energi saya secara percuma, untuk suatu hubungan yang belum segera ada kejelasan dan kepastian. Saya tidak mau berurusan dengan drama hubungan yang tidak penting. Mending saya berurusan dengan drama Korea atau drama Turki. 


Saya juga tidak punya banyak waktu untuk ketemu untuk sekedar basa-basi tanpa ada topik tertentu yang dibicarakan tentang rencana masa depan. Saya tidak punya banyak waktu untuk lama-lama melakukan panggilan video atau VC. Chattingan dari larut malam sampai pagi juga saya tidak bisa fokus hanya untuk itu. 


Pelan-pelan bukan berarti lama-lama. Hati-hati bukan berarti nunggu-nunggu. Saya bukan orang yang asal pilih atau mudah memilih. Tapi sekali berencana untuk menetapkan pilihan, insyaallah siap komitmen sampai tuntas. 


Karena saya pemilih, selektif, orang-orang, termasuk dalam konteks hubungan serius antara laki-laki dan perempuan, jumlahnya sedikit yang masuk selera. Kamu bisa dibilang salah satu yang menggugah selera saya. Kamu bisa dibilang salah satu orang yang membuat saya tertarik. 


Saya jelas tidak tertarik dengan orang-orang, khususnya dalam hal ini perempuan, yang hanya akan mengandalkan tampilan fisik saja. Atau orang yang masih kekanak-kanakan dalam bersikap. Itu semua belum tentu bisa untuk mendukung bayar tagihan dan cicilan. Saya hanya tertarik dengan orang-orang dengan kriteria tertentu antara lain seperti bisa diajak kerjasama, berbagi peran, saling mendorong, dan sejenisnya. 


Sekali lagi, tidak ada banyak waktu untuk berurusan dengan drama tidak penting