---Di mana pun adalah ruang kelas---

Jumat, 08 Juni 2018

Mutualisme Guru dan Murid


Oleh : M. Q. Aynan

Pernah mendengar nama Sokrates? Atau Imam asy-Syafii? Kita tidak mungkin tahu Sokrates tanpa Platon menuliskan riwayat hidupnya karena Sokrates sendiri tidak punya karya tulis. Begitu pula asy-Syafii. Madzhabnya bisa sangat berkembang dan menyebar tidak lain karena dibawa oleh para muridnya. Para murid asy-Syafii juga tidak selalu sepakat dengan pendapat gurunya.

Seorang guru lebih dari sekedar orang yang mengajar di kelas. Apalagi sekarang orang bisa "berguru" di situs daring. Tidak jarang meskipun telah bertemu di kelas tapi ilmunya tidak turun. Bukan tentang apakah pernah bertemu di kelas atau tidak melainkan apakah gagasan sang guru diwarisi atau tidak. Salah satu tandanya adalah seorang murid menghargai pikiran-pikiran sang guru dan juga sangat dipengaruhi olehnya.

Penulis juga bisa memastikan seandainya tidak mempunyai "guru", tidak akan bisa menulis bahkan tulisan-tulisan keseharian. Itu berarti jika seandainya seseorang memiliki gagasan yang visioner, maka bisa dipastikan ia memiliki guru yang visioner pula. Kondisi semacam itu bisa disebut sebagai "mata rantai" keilmuan. Mata rantai salah satu fungsinya adalah mencegah keterputusan gagasan. Keterputusan yang dimaksud adalah mengadopsi gagasan yang jauh tanpa mempertimbangkan kondisi. Belum tentu gagasan dari luar negeri, misalnya, bisa langsung cocok apabila langsung diadopsi di Indonesia. Ini disebabkan konteks di sana dan di sini berbeda. Bukan hanya komoditi pangan dan sandang dalam negeri yang mesti dihargai melainkan juga gagasan intelektual.

Mata rantai keilmuan ini baik dengan orang-orang masa sebelumnya maupun dengan orang-orang yang semasa kemudian membentuk kedalaman intelektual seseorang. Persinggungan itu tidak selalu menghasilkan nada yang sama. Seringkali persinggungan itu menghasilkan nada yang berlawanan. Yang berlawanan bukan malah mengkerdilkan tetapi justru sebagai momentum untuk saling membesarkan. Seorang guru membesarkan muridnya, sebaliknya seorang murid "membesarkan" gurunya. Seseorang membesarkan temannya, sebaliknya temannya membesarkan orang tersebut.

Keberadan murid penting karena mereka mau susah payah menelaah gagasan sang guru langsung dari karya-karyanya. Itu penting untuk menghindari adanya distorsi pemahaman. Tidak sedikit orang-orang menolak suatu gagasan tanpa membaca karya orang yang ditolak. Kemudian penolakan itu menyebar dan semakin banyak pengikutnya. Oleh karena itu, beruntunglah seseorang yang mempunyai guru yang besar. Sebaliknya, beruntung juga seseorang yang mempunyai murid yang akan menjadi intelektual besar di masa yang akan datang.

5 komentar:

  1. Terkadang mempunyai keturunan, hubungan, guru, keluarga yang baik belum tentu sama dengan apa yang dimiliki turunannya . mencoba kita simak dari cerita Homer (filsof), Ia terkenal dengan kedua matanya yang buta, namun meski sperti itu orang tak dapat membohongi dirinya sendiri untuk berkata bahwasannya Homer orang yang menjadi panutan di saat ini. Jelasnya, personifikasinya sangat tegas, adil, pintar, dan bertanggung jawab .
    Nah, bagaimana dengan keturunanya homer yang saat ini ? Mereka" pun mempunyai ismul laqob yang sama dengan homer , meski keturunannya tidak ada yang buta. Namun, karena sikap dan kpribadian yang jauh beda dengan homer, singkatnya walaupun jalan di depan matanya begitu lebar namun Ia hanya tinggal diam dan akhirnya Ia berposisi dalam kehidupan yang membentang .
    Meski dalam hadiys dijelaskan bahwasannya
    "Jika tanpa seorang guru niscaya kita takkan menegenal tuhannya"
    Di dalam kata mengenal terdapat suatu tindakan jadi, guru hanya dapat mentranformasikan ilmu kepada murid dan semua kabajikan"nya tergantung murid yang mengamalkannya.

    BalasHapus
  2. Salah satu yang membuat Homer terkenal adalah Alexander
    Terima kasih sahabat atas tanggapannya

    BalasHapus