---Di mana pun adalah ruang kelas---

Jumat, 12 November 2021

,

 


Tentang sekumpulan orang yang memiliki masalah terutama ketidaktahuan, tidak atau belum mengetahui bagaimana proses mereka harusnya dijalankan. Diakui atau tidak, permainan strategi merepresentasikan dinamika persaingan dalam organisasi. 


Teori permainan dapat digunakan untuk membedah strategi dan psikologi perilaku para pemain dalam persaingan. Tujuannya untuk memahami logika bawah sadar perilaku persaingan dalam organisasi. Selain itu, bisa juga mengambil pelajaran, serta membantu untuk menentukan langkah terbaik untuk menemukan kemenangan versi masing-masing.


Meskipun permainannya sederhana, tetapi menuntut pertimbangan strategis yang kompleks. Belum lagi proses psikologis yang terjadi dalam permainan yang mempertaruhkan mental. Sesederhana apapun prosesnya, tetapi seseorang HARUS memutuskan sebanyak apa energi yang akan disalurkan, dimana menempatkan posisi, di posisi dan arena yang ramai tapi banyak pesaing, atau di posisi dan arena sepi yang minim pesaing.


Banyak pemain di organisasi yang awalnya coba-coba, melakukan eksplorasi. Ada yang akhirnya berhenti, ada juga yang kembali ke dalam permainan walaupun mengetahui risikonya. Dunia organisasi, terutama organisasi ekstra, penuh dengan kejutan dan KETIDAKPASTIAN. Bahkan, bisa ada kemungkinan yang awalnya kawan akhirnya menjadi lawan. 


Teori permainan adalah cabang matematika terapan yang apabila digunakan untuk membedah strategi dalam dinamika organisasi, dapat membedah interaksi perilaku permainan para pemain dimana hasil interaksi yang diperoleh bergantung pada KEPENTINGAN masing-masing pelaku permainan. Berbeda dengan benda yang tidak memiliki kepentingan, manusia penuh dengan kepentingan. Dengan kepentingan itu, para pemain akan mengantisipasi gerakan pemain lainnya.


Salah satu konsep dalam teori permainan adalah bahwa terdapat situasi dimana nilai keuntungan yang diperoleh oleh satu pihak sama dengan nilai kerugian yang dialami oleh pihak lain. Dalam suatu permainan, hasil yang diperebutkan nilainya sama dan tetap. Total potensi keuntungan yang bisa diperoleh dari permainan sudah ditetapkan, berapapun jumlah pemainnya. 


Oleh karena itu, keputusan pertama yang harus diambil dalam permainan adalah mau masuk ke arena permainan yang mana. Setelah itu, memperkirakan berapa jumlah pemain yang sudah bermain di arena tersebut. Siapa mereka dan seberapa mudah pemain lain bisa masuk. Semakin tepat memilih arena permainan, semakin besar keberhasilan yang akan diperoleh. 


Dalam persaingan, keputusan dari satu pemain akan berdampak pada pemain lainnya. Nasib dari para pemain saling bergantung pada keputusan yang diambil masing-masing. Sebelum melangkah, pemain harus mempertimbangkan bagaimana pemain lain akan meresponnya. Sejauh mana respons mereka akan menguntungkan atau malah berpotensi merugikan.


Persaingan tidak selalu bisa dilihat secara utuh, justru banyak ketidakjelasan dan ketidakpastian. Jika ada 2 pemain yang berada dalam kondisi sama-sama tidak mengetahui kondisi masing-masing. Mereka sama-sama berpotensi untuk mendapatkan keuntungan atau kerugian. Pada dasarnya, tiap pemain lebih peduli dengan dirinya sendiri. Pemain diberikan 3 pilihan. Di antara 3 pilihan, masing-masing cenderung mengambil pilihan di tengah-tengah untuk mencegah kemungkinan terburuk. 


Kenyataannya, persaingan dalam permainan seringkali melibatkan lebih dari 2 pemain dan bisa saling berkomunikasi satu sama lain. 3 atau lebih pemain misalnya, terlibat persaingan dalam permainan. Peluang yang dimiliki setiap pemain sama. Menang sendirian adalah hasil terbaik, sedangkan kalah sendirian adalah hasil terburuk. Alternatif lain dari keduanya bisa menang bersama dengan membuat kesepakatan. Meskipun bukan hasil terbaik, tapi bisa dianggap masih ideal. Ada juga kemungkinan yang bukan terbaik, bukan terburuk, tapi tidak ideal, yaitu 2 pemain berkoalisi untuk mengalahkan 1 pemain. 


Persaingan memang terkesan brutal, kejam, dan melelahkan. Itulah kenyataannya. 


Apakah ada yang bisa dilakukan untuk tidak terjebak persaingan dalam permainan yang melelahkan? 

Menciptakan arena permainan baru

Mengubah aturan main, dari mengalahkan orang lain menjadi mengalahkan diri sendiri

Abaikan persaingan, fokus peduli pada pelayanan

Minggu, 07 November 2021

,

Materi ini adalah adaptasi dari berbagai sumber, untuk keperluan pembelajaran

Strategic alliance is an agreement between two or more individuals or entities stating that the involved parties will act in a certain way in order to achieve a common goal. Strategic alliances usually make sense when the parties involved have complementary strengths


Aliansi strategis adalah kesepakatan antara dua atau lebih individu atau entitas yang menyatakan bahwa pihak-pihak yang terlibat akan bertindak dengan cara tertentu untuk mencapai tujuan bersama. Aliansi strategis biasanya masuk akal ketika pihak-pihak yang terlibat memiliki kekuatan yang saling melengkapi

 

KADERISASI INFORMAL memiliki posisi sentral dalam sistem kaderisasi. (MQA)


Dalam konteks pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia, kaderisasi Informal penting dipandang sebagai unit perhatian maupun fokus pemberdayaan. Posisinya yang strategis membuat kaderisasi informal ‘diperebutkan’ oleh banyak kalangan yang menyadari posisinya. (MQA)


Aliansi (alliance) atau ‘persekutuan’ dapat diartikan sebagai kumpulan perseorangan, kelompok atau organisasi yang memiliki sumberdaya (sarana, prasarana, dana, keahlian, akses, pengaruh, informasi) yang bersedia dan kemudian terlibat aktif mengambil peran atau menjalankan fungsi dan tugas tertentu dalam suatu rangkaian kegiatan yang terpadu (Topatimasang et al, 2000). Dengan kata lain, aliansi adalah sebuah jaringan kerja (networking) antar lintas yang memiliki keahlian dan sumberdaya berbeda namun memiliki komitmen dan agenda yang sejalan.


Dapat dibedakan ALIANSI STRATEGIS dan ALIANSI TAKTIS. 


1.


Aliansi Strategis menunjuk pada ‘sekutu dekat’ atau ‘lingkar inti’. Mereka tergabung dalam Garis Pertama (First Line) dan Garis Depan (Front Line) yang bertugas sebagai penggagas, pemrakarsa, pendiri, penggerak utama, sekaligus penentu dan pengendali arah kebijakan dari sebuah aliansi. (MQA)


2.


Aliansi Taktis menunjuk pada ‘sekutu jauh’ atau ‘lingkar luar’ yang seringkali tidak terlibat langsung dalam kegiatan aliansi. Mereka umumnya tergabung dalam Satuan Pendukung (supporting unit) dan yang bertugas membantu penyediaan sarana, logistik, data dan kader yang dibutuhkan oleh lingkar inti.



TUGAS ALIANSI



Sedikitnya ada tiga tugas utama yang dapat dilakukan oleh sebuah aliansi:


1. Menganalisis isu-isu. Isu-isu strategis ini secara berkala dianalisis dan kemudian ditetapkan satu-persatu isu yang akan dijadikan rencana operasi. Sedikitnya ada beberapa karakteristik berkenaan dengan isu-isu strategis:


· Isu tersebut bersifat aktual dan relevan.


· Sejalan dengan prioritas atau tingkat urgensi kepentingan internal.


· Sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan sejalan dengan visi serta agenda perubahan sosial.


· Mempertimbangkan kemungkinan keberhasilan. Dapatkah isu tersebut direspon melalui aliansi?



2 . Merumuskan grand design dan grand strategy program-program pengembangan sumber daya manusia. Parameter yang dapat digunakan dalam membuat desain dan strategi besar program dapat mengacu pada prinsip SMART yang secara harafiah bisa diartikan sebagai CERDAS. SMART merupakan akronim dari: 


· Specific (khusus dan terfokus).


· Measurable (terukur).


· Achievable (dapat dicapai).


· Realistic (sesuai dengan sumber dan kemampuan yang ada).


· Time-bound (memiliki batasan waktu yang jelas).


3. Melakukan advokasi terhadap kebijakan-kebijakan publik. Advokasi dapat dilakukan baik terhadap kebijakan yang dianggap menunjang maupun menghambat proses pengembangan sumber daya manusia.


· Advokasi adalah upaya untuk mempengaruhi kebijakan publik melalui berbagai bentuk komunikasi persuasif.


· Advokasi berkaitan dengan strategi memenangkan argumen dan mengubah perilaku.


· Advokasi adalah sebuah proses yang melibatkan seperangkat tindakan politis yang dilakukan oleh sekelompok orang yang terorganisir untuk mentransformasikan hubungan-hubungan kekuasaan.


· Tujuan advokasi adalah untuk mencapai perubahan kebijakan tertentu yang bermanfaat bagi penduduk yang terlibat dalam proses tersebut.


· Advokasi yang efektif dilakukan sesuai dengan rencana stategis dan dalam kerangka waktu yang masuk akal (Suharto, 2004b)


PRINSIP



Orang-orang yang tergabung dalam jaringan sekutu ini dapat saja memiliki pandangan dan bahkan ‘ideologi politik’ yang bersebrangan dengan lingkar inti. Meskipun para anggota aliansi berasal dari berbagai organisasi yang memiliki tugas pokok dan fungsi yang berlainan, tidak berarti bahwa sebuah aliansi sangat sulit menyatukan langkah dan tujuan. Beberapa prinsip di bawah ini dapat dijadikan acuan dalam membentuk aliansi.



1. Carilah persamaan visi, bukan perbedaan kepentingan. Mulai dengan berbaik sangka.

2. Gagaskan capaian-capaian kecil terlebih dahulu. “Trust your hopes, not fear.”

3. Kerjakan kegiatan-kegiatan seperti yang telah direncanakan. “If we fail to plan, we plan to fail.”

4. Jadikan isyu yang telah disepakati sebagai inti gerakan dan tetaplah berpijak pada isyu tersebut.

5. Senantiasa terbuka terhadap pandangan lain. Bersedia bermufakat. Senantiasa memiliki semangat win-win negotiation.

6. Dinamis dan inovatif. Tidak mandeg dan tidak puas dengan capaian yang lalu. Berusaha terus menerus menggagas temuan-temuan baru. Merancang rencana aksi baru.

7. Menyempurnakan kemenangan-kemenangan terdahulu.



PROSES 



Manakala prinsip-prinsip di atas telah mampu dipenuhi, berbagai orang dari kelompok yang berlainan dapat bekerja sama mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks ini, kelompok lingkar inti tidak perlu menutup diri. Kelompok inti dapat mengajak berbagai pihak menjadi anggota sekutu sesuai dengan dukungan dan sumberdaya yang dimilikinya. Proses pembentukan sebuah aliansi dapat melalui tahapan sebagai berikut:


1. Mencari fokus yang akan dijadikan agenda utama aliansi. Elaborasi isyu-isyu krusial dalam pemberdayaan kader. Fokuskan sasaran utamanya.

2. Mengidentifikasi stakeholders dan mengeksplorasi pihak-pihak yang potensial menjadi pendukung dan penentang agenda aliansi. Lakukan stakeholders analysis:

· Siapa stakeholder inti yang tertarik pada wacana pemberdayaan keluarga?


· Apa alasan stakeholder tertarik pada wacana tersebut?


· Bagaimana posisi mereka saat ini (mendukung, netral, menentang)?


· Seberapa besar tingkat pengaruh mereka terhadap aliansi (tinggi, sedang, rendah)?


· Apa sumber yang dimiliki stakeholder?


· Dimana posisi stakeholder yang paling tepat (Garis Pertama, Pendukung atau Garis Depan)?


Analisis "stakeholders" mutlak diperlukan dengan cara mengidentifikasi kawan-lawan. Skema pemetaan kawan-lawan bukan berarti menyebar kebencian. Tapi, untuk menarik garis demarkasi ideologis dan membangun kewaspadaan. Sangat penting untuk menegaskan identitas aliansi.


3. Menyamakan dan mempertajam visi bersama. Sepakati tujuan dan strategi yang akan digunakan dalam mencapai visi.

4. Mobilisasi sumber-sumber yang diperlukan aliansi. Apa? Dimana? Seberapa besar? \ Bagaimana mengaksesnya? Bagaimana mengoptimalkannya?

5. Mulailah bekerja sesuai rencana. Sistematis. Konsisten. Bertahap maju.


WASPADA

Rabu, 03 November 2021

,

 Hampir setiap kisah, baik kisah nyata maupun rekaan, adalah kisah tentang hubungan satu rumpun keluarga, atau silsilah nasab, dan tentang hubungan satu perguruan, atau silsilah sanad. 


Kita juga bisa menyebut kisah-kisah tersebut sebagai hubungan genetik dan genealogis.


Dengan kata lain, alur cerita ujung-ujungnya berputar di sekitar keluarga yang itu-itu saja, dan berputar di sekitar guru yang itu-itu saja. 


Pertanyaannya hanya berujung kepada

Anaknya siapa?

dan

Muridnya siapa?


Namanya alur cerita, tokohnya secara umum dapat dibagi menjadi tokoh protagonis dan antagonis.


Kalau kita tengok ke masa lalu, zaman para nabi dan rasul, cerita berujung antara Ibrahim dengan Namrud, Musa dengan Fir'aun, antara Daud dengan Jalut, dan seterusnya.


Sejak saat itu, bahkan sampai sekarang, tokoh di tingkat lokal dan tokoh besar tingkat dunia, pasti punya hubungan, entah hubungan keluarga, atau hubungan perguruan, atau keduanya.


Para pendakwah yang paling berhasil, Walisongo, misalnya, semuanya punya hubungan entah hubungan silsilah nasab keluarga atau silsilah sanad keilmuan, atau keduanya.


Pada zamannya, para Sultan di Nusantara, merupakan murid-murid Sunan Giri. Pada zamannya pula, anak-anak Raja Brawijaya V merupakan murid-murid Sunan Kalijaga.


Dalam kisah fiktif juga tidak terlalu berbeda. Entah kisah Luffy atau Naruto. Di One Piece, alur ceritanya hanya berkisar antara keturunan inisial D, Tenryuubito, Shichibukai, dan Angkatan Laut.


Desa Konoha juga begitu. Ada pendiri desa sekaligus hokage pertama. Hokage kedua adalah adik dari hokage pertama. Hokage ketiga adalah murid dari hokage pertama. Hokage keempat adalah murid dari hokage ketiga. Hokage kelima adalah cucu dari hokage pertama. Hokage keenam adalah murid dari hokage keempat. Hokage ketujuh adalah anak dari hokage keempat. Belum tokoh yang lain.


Pelajaran apa yang dapat diambil? Entahlah, silakan tafsirkan sendiri. Tulisan ini masih belum selesai. Tulisan ini masih bersambung......