---Di mana pun adalah ruang kelas---

Kamis, 12 Agustus 2021

,

 


Tidak sedikit orang yang diminta untuk menjadi narasumber atau untuk permohonan dana merasa bahwa anggota panitia yang bertugas, biasanya di bagian humas, dianggap kurang sopan, dianggap kurang etis.


Kejadian seperti ini sering terjadi karena kurangnya pengetahuan tentang etika berkomunikasi. Ditambah juga narasi tentang pentingnya memperluas jejaring namun sayangnya tidak diimbangi keinginan membangun hubungan yang sama-sama memberi manfaat bagi kedua pihak.


Sehingga yang terjadi adalah terlalu sering melakukan jejaring, tapi tidak memanusiakan hubungan yang ingin dibangun. Kalau istilahnya itu langsung nodong, langsung nembak, tanpa membangun emosional dulu. Perlu dipertimbangkan apakah manfaat yang dirasakan itu timbal balik atau tidak, sebab hubungan seseorang itu bukan cuma soal ia sendiri, melainkan juga tentang orang lain.


Beberapa kiat dalam menghubungi seseorang untuk menjadi narasumber atau mengajukan permohonan dana, antara lain


1. Dahulukan dan utamakan sopan santun, paling tidak dengan cara salam dulu, terus tau diri, tau posisi, serta perhatikan tempat, saluran, waktu.


2. Perkenalan dasar, seperti memperkenalkan diri seperti nama dan sebagai apa. Pastikan juga jenis kelamin yang dihubungi apakah laki-laki atau perempuan. Jangan sampai memanggil Mas atau Pak kepada perempuan atau memanggil Mbak atau Bu kepada laki-laki. Jika orang yang dihubungi masih muda, bisa menggunakan kata yang netral gender seperti Kak.


3. Berusahalah membuka obrolanr ingan yang menarik minat beliau atau tentang kegiatan sehari-hari. Bisa sebelumnya sambil dicari di akun media sosial tentang apa yang menjadi minat atau kegiatan sehari-harinya.


4. Cari tau atau tanyakan lebih suka dihubungi lewat apa, apakah telepon, pesan teks, DM, atau lainnya. Kalau sekiranya lebih suka dihubungi lewat pesan teks, dan ternyata malah ditelepon, bisa menimbulkan rasa malas untuk menanggapi.


5. Persiapkan dengan baik, minimal dengan mengetahui dan memahami dengan baik acara yang diadakan, seperti tema acara, tujuannya, materinya, dll.



Anda sopan, kami segan. Saya menulis tulisan ini bukan berarti lebih mahir, hanya berbagi saran. Tulisan ini utamanya ditujukan untuk diri saya sendiri dan panitia pelaksana kegiatan yang masih pemula dalam berproses di organisasi.


Selasa, 10 Agustus 2021

,

 


Kehidupan pribadi tak semuanya hanya urusan pribadi, sendiri. Apalagi, ketika pribadi satu dengan pribadi lainnya berinteraksi, pribadi itu berurusan dengan urusan yang melibatkan lebih dari satu pihak. Terlebih apabila antar pribadi itu berinteraksi dalam satu wadah, melakukan praktik dalam berorganisasi, maka diperlukan alat untuk melihat, melihat dengan penglihatan yang tidak sempit, sudut pandang yang lebih luas.


Buku sudah banyak ditulis oleh para pakar. Bahan bacaan juga lebih bervariasi seiring perkembangan internet. Jika literatur yang mudah diakses itu tidak dipraktikkan, maka bahan bacaan tetap akan menjadi mentah, tanpa pernah diolah. Sebanyak apapun alat penglihatan, sebanyak apapun teori yang tersedia untuk memandang persoalan, apabila tidak dipraktikkan, akhirnya lumpuh juga.


Sebaliknya, apabila praktik yang dilakukan tidak ada rujukan teori, padahal sudah banyak ahli yang menuliskannya dalam karya mereka, maka arah akan menjadi buram, kabur, dan tidak jelas. Penglihatan menjadi buta, asal jalan tak tahu mau dibawa kemana. Fakta, konsep, prinsip, dan prosedur di dalam operasional sehari-hari, hanya hasil karangan, coba-coba, yang penting terlaksana, yang penting terealisasi, mengandalkan asumsi, imajinasi, atau bahkan halusinasi.


Pada dasarnya, dalam realitas keseharian, teori dan praktik memang sering tidak berjalan beriringan. Akan tetapi, itu bukan alasan untuk melanggengkan kecenderungan atau tren yang salah kaprah. Itu juga bukan alasan untuk lebih rela hanyut dalam arus (seolah-olah) kewajaran. Justru bagaimana praktik itu, meskipun tidak sepenuhnya seiring dengan teori, terapi mendekati, karena memang didasari oleh pertimbangan berbasis fakta yang teramati secara nyata, konsep yang dirancang secara utuh, prinsip yang dibangun secara kokoh, dan prosedur yang disusun secara sistematis.


Jika tidak, maka praktik buta akan cenderung menimbulkan opini negatif, pandangan sinis, dan interpretasi liar. Oleh karenanya, mempraktikkan teori penting agar tidak lumpuh, kemudian ditambah praktik yang menggunakan teori yang memiliki rujukan otoritatif untuk melengkapi. Selanjutnya, keputusan yang diambil lebih bisa diterima dengan baik oleh segenap pemangku kepentingan.


Sangat perlu, penting, dan mendesak, keseimbangan antara teori dan praktik, antara praktik dengan teori. Apalagi jika itu menyangkut pengambilan keputusan atau kebijakan yang berkaitan langsung dengan banyak orang. Terlalu banyak teori, atau malah teorinya tidak utuh, akan menghasilkan suara sumbang saja. Praktik juga perlu disertai dengan banyak mendengar masukan, baik itu kuantitas pihak pemberi masukan, maupun kualitas pembisik. Dengan mendengar masukan yang berkualitas, praktik akan menjadi efektif dan efisien, keputusan yang diambil memuat kepastian, jelas dan terarah.

Rabu, 04 Agustus 2021

,

Kepada

Yth.

Saya sendiri

di masa kapanpun



Menjadi pelajar di perguruan tinggi itu privilese, kesempatan istimewa. Belajar sampai perguruan tinggi itu butuh biaya lebih. Sudah semestinya mengusahakan yang terbaik. Suatu saat, para pelajar lah yang akan menjadi pemimpin di negeri ini, pemimpin apapun itu.


Selain akademik, perlu juga keterampilan hidup, termasuk kemampuan beradaptasi, mengelola waktu, berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain, serta meningkatkan kapasitas diri sehingga siap menjadi problem solver. Selain itu juga, perlu dimengerti bagaimana cara belajar efektif, berpikir kritis, kreatif, dan strategis.


Jangan hanya belajar di dalam ruang kuliah. Sayang sekali jika hanya belajar di dalam kelas saja. Kalau hanya mengandalkan kuliah di dalam ruang akademik, hanya akan keluar membawa sertifikat kelulusan dan ijazah saja. Hidup di masa mendatang Masa depan tidak hanya bergantung pada bukti di atas kertas.


Jangankan hidup setelah lulus, hidup sebelum lulus, di luar kelas, di organisasi saja, tidak mudah ditebak, sangat dinamis. Kalau di akademik perkuliahan, materi dan ujiannya terukur, ada kurikulum yang sudah tersusun dan terencana. Jadwalnya, butir soal, tugas per pertemuan, UTS, UAS, lebih mudah dipelajari daripada di luar kelas perkuliahan yang sudah harus siap terjun. 


Kalau di luar kelas perkuliahan, langsung terjun dan siap bertahan hidup. Karena itu, perlu belajar untuk memimpin, belajar menghadapi banyak orang, beragam isi kepala, menjadi bagian dari masyarakat ketika belum lulus kuliah.


Keterampilan teknis penting sebagai kemampuan awal. Tetapi keterampilan strategis, seperti jiwa kepemimpinan, menganalisis situasi dan lingkungan, mengelola hubungan dan komunikasi, itu bekal untuk menjadi bagian dari masyarakat yang lebih luas.


Nilai, IP, hasil di KHS, bukannya tidak penting. Penting sekali. IPK paling tidak 3,5 ke atas. Baru ketika nilai stabil, lengkapi dan sempurnakan dengan kemampuan dan kecakapan selain nilai yang berupa angka, dengan nilai yang bermakna.


Jaga nilainya, usahakan untuk lulus tepat waktu. Kalaupun tidak tepat waktu, jangan lama-lama sampai lebih dari 10 semester. Manfaatkan waktu di luar jadwal kuliah untuk kegiatan yang lain.


Selain kuliah, mempelajari mata kuliah yang sudah tersedia, intinya kompetensi yang sesuai dengan program studi. Jika program studi pendidikan, maka pelajari betul tentang ilmu pendidikan dan praktik mengajar. Selain kompetensi program studi, kalau bisa tambahi dengan kemampuan bahasa internasional seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab. Ketiga, kemampuan untuk melakukan penelitian, minimal mampu berpikir ilmiah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Syukur bisa melakukan penelitian dan menuliskannya ke dalam laporan penelitian.


Sebagaimana juga yang seringkali terjadi, bahwa kegiatan atau pekerjaan setelah lulus belum tentu relevan dengan program studi. Lulusan Tarbiyah belum tentu semua menjadi guru di sekolah atau madrasah. Oleh karena itu, yang penting dipersiapkan adalah kesiapan atau kemampuan beradaptasi. Beradaptasi dengan bidang yang berbeda atau malah betul-betul baru sama sekali.


Saya kira, tidak ada lulusan yang tidak memiliki penyesalan sama sekali. Sedikit banyak, ada rasa penyesalan. Tinggal bagaimana penyesalan itu tidak banyak. Sedikit saja penyesalan karena di masa sebelumnya seseorang sudah mengusahakan yang terbaik, meski ada beberapa yang tidak atau belum tercapai.


Saya sampaikan lagi. Saya ulangi, sebagaimana di pembukaan tadi.


Menjadi pelajar di perguruan tinggi itu privilese, kesempatan istimewa. Belajar sampai perguruan tinggi itu butuh biaya lebih. Sudah semestinya mengusahakan yang terbaik. Suatu saat, para pelajar lah yang akan menjadi pemimpin di negeri ini, pemimpin apapun itu.


Semoga berhasil dalam belajar, semoga berhasil dalam hidup.