---Di mana pun adalah ruang kelas---

Rabu, 16 Mei 2018

Memperbaiki Tulisan

Oleh: M. Q. Aynan

      Berbahasa tulis seringkali membuat kepala pening. Semakin dilanjutkan, seakan-akan semakin pusing rasanya. Mengeksekusi ide ke dalam bahasa tulis bukan hal yang mudah. Tulisan buruk, berantakan, masih kental bahasa lisan, merupakan hal yang lumrah dalam menghasilkan karya tulis.

      Penulis pribadi selaku pemula dalam menulis sangat menyadari bahwa bahasa tulis memiliki tingkat kesulitan sendiri dibanding bahasa lisan. Menurut penulis, salah satunya karena dalam memproduksi bahasa tulis dibutuhkan aktivitas yang mesti dilatih, yakni membaca dan menulis. Hal ini berbeda dengan bahasa lisan yang lebih mengalir, yakni mendengar dan berbicara.
      Bahasa tulis memang tidak memerlukan intonasi. Akan tetapi, kesulitan terletak dalam memilih diksi, struktur paragraf, dan juga tanda baca. Untuk yang terakhir, perlu menempatkan dengan benar. Jika tanda baca diubah atau dipindah misalnya, akan memberi arti yang berbeda.
      Ada sebagian anggapan bahwa keberadaan layanan pesan singkat utamanya secara daring menghambat kemampuan berbahasa tulis. Alasannya karena seseorang cenderung menyingkat kata saat mengirim pesan. Bahasa yang digunakan juga tidak baku. Akibatnya seseorang kurang mampu berbahasa tulis yang baik dan benar. 
     Anggapan seperti itu tidak sepenuhnya benar. Berdasarkan pengalaman saya, kurang mampu berbahasa tulis disebabkan kurangnya seseorang bergaul dengan bahasa tulis. Aktivitas menonton mendapat porsi yang lebih banyak daripada aktivitas membaca.
      Memperbaiki tulisan tidak bisa dicapai seketika. Seseorang perlu latihan yang tidak sebentar, mencintai aksara, serta memahami aturan-aturannya. Langkah-langkah itulah yang harus ditunaikan dengan bimbingan yang menyenangkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar