---Di mana pun adalah ruang kelas---

Rabu, 09 Mei 2018

Setidaknya, Ada Empat Tingkatan Menulis

Oleh : M. Q. Aynan

      Saya mulai menulis tentu sejak saya TK. Setelahnya, menulis dimaksudkan untuk menjawab soal pada lembar jawaban. Di pesantren, saya mulai menulis aksara Arab pegon utawi-iki-iku. Hingga saat Aliyah pun kegiatan menulis masih minim. Terdapat kegiatan musyawarah/diskusi di daerah /asrama E, tempat saya tinggal di pesantren. Meski sebelum berargumen saya dan teman-teman saya telah melakukan perbandingan khususnya menelaah kitab kuning, menyampaikan pendapat hanya secara lisan saja, sehingga saya dan teman-teman saya sudah terlatih berbicara di depan umum.
      Kegelisahan akhirnya hinggap tatkala dihadapkan tuntutan untuk menuangkan gagasan di atas kertas. Saya yang tidak berpengalaman menulis. Meski bekal materi lumayan cukup karena saya juga terbiasa membaca kitab putih/buku modern, sekali lagi saya mendapatkan kesulitan karena hanya terbiasa ditindaklanjuti dengan berbicara, tanpa dibarengi menulis. Baru setelah saya jadi mahasiswa IAIN Jember, dorongan untuk menulis sangat besar baik dorongan dari teman, dosen, dan lain-lain.
      Dengan pengalaman itu, saya mempunyai opini bahwa sampai saat ini, setidaknya ada empat tingkatan menulis. Opini ini didasari pengalaman yang tidak hanya terjadi pada saya melainkan juga pada orang lain di sekitar saya.
      Tingkatan pertama, yang penting nulis. Di tingkatan ini, adalah orang-orang yang baru mencoba untuk menulis. Yang paling utama adalah pikiran bisa diterjemah menjadi kata. Hanya itu saja pertimbangannya, tidak lebih. Yang mempengaruhi tingkatan ini biasanya para narasumber seminar atau lokakarya menulis.
      Kedua, kesatuannya. Di tingkatan ini mulai beranjak untuk memperhatikan paragraf, apakah suatu paragraf masih membicarakan topik yang sama atau sudah melebar jauh. Untuk kuantitas tulisan, bisa dibilang kalau intensitas menulis masih tinggi. Yang mempengaruhi tingkatan ini biasanya dosen mata kuliah menulis semisal bahasa Indonesia, essay writing, dsb. atau pembimbing skripsi.
      Ketiga, mandeg. Di tingkatan ini, bukan berarti seseorang tidak ada bahan untuk menulis. Seseorang sudah berpikir bagaimana sekiranya selain bisa menerjemahkan pikiran sendiri, diimbangi juga dengan koherensi paragraf. Banyak bahan namun seseorang berpikir apa hal baru yang bisa ia tawarkan pada pembaca. Karena terlalu banyak mikir, akibatnya justru ia sangat minim menghasilkan tulisan, bahkan tidak menulis sama sekali.
      Keempat, keberpihakan. Setelah melewati masa stagnasi, akhirnya mencoba menulis kembali. Tangan sudah semakin lihai rasanya menari bersama pena atau di atas papan tombol. Seolah kegelisahan tak jera untuk menghampiri, kegelisahan itu muncul kembali dengan tampilan yang berbeda. Seseorang sudah mulai bertanya kepada dirinya, kepada siapa sebenarnya ia berpihak? Untuk itulah, seseorang akan mencari format tulisan, mencari perspektif yang paling pas untuk dirinya, meski sangat mungkin pencarian itu tak pernah menemui akhir.

Kalau menurut pembaca bagaimana? Atau pembaca mengalami hal sama atau mirip? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar