---Di mana pun adalah ruang kelas---

Jumat, 19 Oktober 2018

,

Oleh : M. Q. Aynan

Mahasiswa yang tidak masuk kuliah, apalagi karena alpa, cenderung dipandang sebelah mata. Tentunya anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah juga tidak sepenuhnya benar. Saya termasuk orang yang pernah Alpa (yang penting tidak lebih 25 persen). Kealpaan saya sampai pernah membuat saya sangat merasa bersalah. Akan tetapi, setelah dipikir lagi, percuma hanya merasa bersalah saja. Lebih baik berusaha untuk mengelola keseharian di kemudian hari.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk melakukan pembelaan terhadap mereka yang absen dan atau alpa. Tulisan ini lebih merupakan kritik terhadap mereka yang mengentengkan hal-hal yang ada di dalam kelas. Bagaimanapun, presensi dan pertemuan tatap muka menurut saya adalah hal yang eksistensial. Tulisan ini juga hendak mengajak para mahasiswa dan-mungkin-dosen untuk meninjau ulang keputusan-keputusan dalam perkuliahan di kelas. Jika keputusan yang ada di dalam kelas mengabaikan kondisi yang tidak positivistik di luar kelas, maka bukan tidak mungkin virus absen dan alpa tetap menjangkiti sebagian mahasiswa.

Saya akui, perkuliahan di kelas memang tidak menjamin masa depan. Akan tetapi, bukan berarti hal itu mesti direduksi ke dalam lembaran kertas. Di sisi lain, saya menemukan sebagian mahasiswa yang absen karena alpa juga bermacam-macam. Ada yang memang tidak ingin masuk karena malas, ada yang sakit tapi tidak bisa mendapat surat dari puskesmas (karena sakitnya disantet misalnya), ada yang baru datang dari perjalanan jauh, dan lain-lain.

Ketika saya berbincang dengan teman-teman, terdapat peristiwa yang dilematis. Misalnya, baru datang dari perjalanan jauh,masih akan kuliah, atau melakukan kegiatan yang selesai dini hari. Terkait itu, beberapa orang memilih tidak masuk. Alasannya adalah khawatir sakit dan daripada membuat-buat surat. Tentu tiap orang punya alasan masing -masing.

Intinya, saya sangat tidak setuju jika ada orang yang mengatakan, " buat apa masuk kuliah?". Bagi saya, masuk kelas tetap penting meskipun bukan yang paling dan satu-satunya. Selain itu, kehadiran mesti dibarengi dengan keaktifan dan keseriusan agar tidak terjebak ke dalam penjara rutinitas.