---Di mana pun adalah ruang kelas---

Sabtu, 08 Mei 2021

,

 Medan, peta, dan arah, biasanya berkaitan dengan pengetahuan tentang posisi, jarak, atau lainnya, baik darat, laut, udara. Pengetahuan itu adalah bagian dari ilmu untuk menentukan posisi suatu objek dan arah perjalanan, baik pada medan sebenarnya maupun pada peta. 


Bergerak atau menggerakkan sesuatu dari satu tempat ke tempat lain baik melalui darat dengan kendaraan beroda, melalui jalur laut dengan pelayaran, maupun melalui udara dengan penerbangan, memerlukan pengetahuan untuk menempatkan haluan atau arah gerak. 


Kemampuan membaca dan memahami medan menggunakan peta, menggunakan alat baca untuk menentukan posisi serta menganalisis dan memberikan asumsi awal terhadap medan yang dilalui merupakan salah satu dari keahlian dasar yang perlu dimiliki oleh setiap penggiat alam bebas, entah itu gunung, hutan, atau lainnya.


Kampus sebagai "alam bebas", dimana segala kemungkinan dapat terjadi, tentunya perlu diidentifikasi dan dianalisis medannya menggunakan peta. Berbeda dengan medan dan peta biasanya yang memetakan medan alam, maka memetakan medan kampus berarti memetakan manusia. 


Medan, peta, dan arah dalam konteks medan kampus berarti berkaitan dengan pengetahuan tentang posisi, batas, atau lainnya, tentang sumberdaya manusia di kampus. Pengetahuan itu adalah bagian dari ilmu untuk menentukan posisi suatu objek dan arah gerakan, baik pada medan fisik yang bersifat konkret maupun pada peta non-fisik yang lebih abstrak. 


Hal tersebut merupakan bekal awal dalam merencanakan dan melakukan kegiatan di "alam bebas" kampus maupun dalam usaha perlindungan sumberdaya manusia atau penyelamatan korban yang tersesat. Oleh karena itu, perlu pemahaman dasar yang dapat digunakan untuk mempelajari dan berlatih lebih lanjut mengenai ilmu medan, peta dan arah gerakan di kampus.


Medan, yang akan dibuatkan peta nantinya, paling tidak, pertama adalah waktu dan tempat. Waktu berarti retrospeksi masa lalu, keterangan saat ini, dan proyeksi masa depan. Tempat berarti skala perorangan, kelompok, rumpun prodi, rumpun fakultas, sampai satu kampus. 


Selain itu mungkin terdapat informasi tambahan untuk memudahkan penyusunan peta baik dari unsur – unsur yang dibuat maupun bersifat alami. Perlu juga diperhatikan koordinasi tiap unsur atau elemen. Selanjutnya, dapat diidentifikasi apakah medannya "tinggi" atau "rendah" dalam arti tingkat ketercapaiannya, apakah terjal atau landai, mana yang pokok mana yang turunan, mana yang dahulu mana yang belakangan, dan seterusnya.


Peta dapat dimengerti sebagai gambaran unsur – unsur, dalam konteks ini berarti yang sifatnya buatan,yang berada di luar, dapat diamati, atau di dalam, berarti perlu digali, dan digambarkan, seringkali menggunakan bagan atau peta konsep dengan proyeksi tertentu dalam ukuran yang dibuat lebih sederhana yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan secara konseptual maupun di medan.


Peta kampus bisa bermacam-macam, berdasarkan penggunaan, seperti peta dasar yang berisi informasi dasar sederhana untuk membuat peta turunan, perencanaan maupun pengembangan medan. Selanjutnya adalahpeta tematik yang berisi tema, topik, isu tertentu dan untuk kepentingan tertentu dengan menggunakan peta dasar untuk memetakan turunan tematiknya.

Peta komunikasi, menampilkan informasi jaringan komunikasi interpersonal dan intraorganisasi.Peta geografi, berisi asal daerah dari medan. Peta demografi, berisi struktur dan distribusi tentang usia, jenis kelamin, etnis, serta jumlah penduduk tetap atau berubah. Peta psikografis berisi kepribadian, sifat, sikap, gaya hidup, minat atau ketertarikan, nilai atau kepercayaan, latar belakang pendidikan, dan lainnya. Ada peta tambahan yang bisa dikatakan independen bisa pula dikatakan dipengaruhi oleh peta lain sebagaimana disebutkan yaitu peta genealogis.


Nah, setelah mengidentifikasi dan menganalisis medan, disusun juga peta, maka muncul pertimbangan awal untuk menentukan haluan dan arah gerak. Dapat ditemukan dalam medan dan gambarannya dalam peta apakah objek tersebut satu bingkai, kerangka, posisi, atau tidak. Ketika sudah ketemu, dapat ditentukan kemana arahnya. Kemana akan mengarahkan gerak dalam medan dan peta gerakan.


Dalam keadaan sebenarnya, sering kali strategi atau taktik tertentu tidak selalu dapat dilakukan seperti karena faktor dinamika atau tidak teramatinya tanda pergerakan medanyang dapat dijadikan acuan. Salah satu hal yang dapat dilakukan dalam keadaan seperti ini adalah dengan melakukan analisis ulang dan penyusunan ulang peta untuk kemudian dapat dibandingkan hasilnya dengan medan biasanya.


Oleh karena itu, biasakan, sekali lagi, biasakan dan ulangi terus-menerus untuk mempelajari, mengamati, dan melakukan sebanyak mungkin analisis medan dan memetakan ulang selama proses menemukan haluan serta melakukan pemeriksaan asumsi awal tadi dengan fakta yang didapatkan di lapangan. 


Lapangan "alam bebas", namanya juga bebas, apapun bisa terjadi. Oleh karenanya, sifatnya dinamis, penuh dinamika. Semakin banyak dan sering membaca indikasi medan yang dilalui, semakin seseorang memahami pula tentang sifat dan tingkat kesulitan medan tersebut yang akan sangat berguna selama melakukan perjalanan terencana dalam situasi normal maupun manuver spontan dalam situasi darurat.


Intinya, tentang medan, peta, dan arah gerakan adalah ilmu praktis, yang hanya dapat terasah jika dipraktikkan langsung pada lapangan sebenarnya. Pemahaman mengenai teori dan konsep hanyalah membantu, memfasilitasi untuk memahami dasar-dasar gerakan, bukan menjamin kemampuan pemahaman dan keterampilan gerakan.

,

Menjadi "pemain solo" akan masuk akal bagaimana WJ jauh, agak renggang, berjarak dengan orang lain, tetapi sangat mandiri, independen. Meskipun dia memiliki orang-orang di sekitarnya, WJ tidak terlalu bergantung padanya. Ia memang tidak suka membebani orang lain. Ia juga memiliki kemauan / pikiran yang kuat. Ia adalah model pemimpin yang dapat dipercaya dengan tekad yang kuat dan berani mengambil risiko. Dia mengeluarkan ucapan yang menurut orang lain yang tidak mengenalnya sebagai ucapan kasar tapi dingin, dan blak-blakan lagi terus-terang di depan orang.


Tokoh lain adalah JM, tumpuan keluarga. Anak pertama dan berjenis kelamin perempuan di keluarganya. Ceria dan memiliki hati yang tulus dan welas asih. Dia tidak sesederhana penampilannya, tapi bisa terasa rumit ketika dia marah atau frustasi. Sebagai anak pertama dan perempuan, ia, secara sengaja atau tidak, dituntut untuk memperoleh pasangan lebih dulu daripada adik-adiknya, serta memperoleh pendidikan tinggi. Mungkin itu sulit tapi dia tetap hidup positif dan rajin setiap hari. Meski di luar saat keramaian terlihat ceria, tetapi di saat sendiri dia mudah menangis, sangat sensitif secara emosional.


WJ pertama kali terkejut dengan keterusterangan JM, tapi cepat mulai menyukai dan menikmati percakapan dengannya. Ini mungkin karena JM adalah pembicara lurus seperti dirinya dan dia menyukai kejujuran, keterbukaan, dan keterusterangannya. WJ mungkin bukan tipe orang yang mengatakan hal-hal yang manis, tapi dia bukan orang yang jahat dan ia sebagai laki-laki memperlakukan perempuan dengan hormat, dan selalu lembut dan ramah, khususnya, dengan JM.


Dengan keterusterangannya, WJ dianggap memiliki lidah yang agak pedas tetapi sebenarnya berhati lembut. Dia sering diam-diam meneteskan air mata setelah melihat sahabatnya menangis karena prihatin ketika mereka berada dalam kondisi pas-pasan.


Sikap WJ terhadap JM terlihat dalam beberapa peristiwa di mana WJ terpesona atau tersentuh oleh JM. Itu dimulai dengan JM melontarkan apa pun yang ada di pikirannya ketika dia marah. Pada satu titik, WJ bahkan mengira JM imut. WJ benar-benar terpesona oleh JM, ​​dan tampak bersalah karena kurang terbuka dan khawatir JM begitu percaya ketika JM berterima kasih pada WJ di kantor sekretariat.


"Pengakuan" WJ atas air mata JM dan keprihatinan WJ terhadap JM menunjukkan kepada bahwa WJ benar-benar tersentuh, terutama ketika WJ bukan siapa-siapa bagi JM, yang oleh karena itu sangat berarti bagi WJ karena tidak ada orang lain yang menunjukkan perhatian pada WJ. Sama seperti JM melihatnya sebagai malaikat penyelamat yang terkadang hadir di dunianya, mungkin jauh di dalam hati WJ mengakui bahwa JM telah menyembuhkan hatinya yang terluka. Karena ini, WJ telah mengembangkan titik lemah untuknya, menjadi titik balik dalam kehidupannya.


Awalnya, di sisi lain, JM berterima kasih kepada WJ sebagai manusia, makhluk sosial. WJ seperti penyelamat satu adegan atau satu episode dalam hidup JM. Terlihat JM menunjukkan belas kasihan, keprihatinan terhadap WJ semakin dia belajar tentang WJ terutama hubungannya yang kandas, ketidakpercayaan pada orang-orang karena pengkhianatan dan kondisi yang rapuh. Dia juga merasa bersalah dan bertanggung jawab atas perih yang diderita WJ.


Selain di atas, dorongan, motivasi WJ yang tidak disengaja agar dia mengejar mimpi, cita, dan visinya membuat riak dan menggerakkan hatinya yang tenang, tampak stabil tapi sepertinya pasif. JM mungkin menunggu seseorang untuk memberinya sedikit dorongan karena dia menunda hidupnya sendiri untuk lebih mendahulukan kemauan keluarganya. Pasti ada ketertarikan antara keduanya, meski sedikit, seperti yang teman curhatnya katakan, JM pada dasarnya mudah jatuh cinta. Keduanya sebagai orang yang rupawan dan tanpa disadari, mulai merasakan ketertarikan terhadap satu sama lain begitu mereka setuju untuk membiarkan masa lalu berlalu. Secara halus, keduanya membawa perubahan yang sangat kecil namun signifikan dalam kehidupan satu sama lain. Perubahan signifikan dalam studi, profesi, dan relasi.  

Sabtu, 01 Mei 2021

,

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penerbitan buletin atau majalah bagi organisasi pelajar atau mahasiswa versi saya


1. Pemetaan Isu

- Isu-isu kontemporer terkait ruang gerak organisasi baik dalam skala internasional, nasional, dan regional/lokal

- Relasi antara isu keagamaan dan politik

- Perspektif seperti apa yang hendak ditawarkan


2. Bagian atau Rubrik

- Berita aktual: internasional, nasional, dan terutama berita organisasi

- Opini

- Jika diperlukan porsi cerita pendek atau puisi, sebaiknya tetap tersambung dengan topik yang diusung dalam edisi tersebut agar tetap ada kesatuan dalam satu edisi


3. Bobot Tulisan

- Pengumpulan bahan tulisan berbasis data, entah statistik atau secara empiris

- Menggunakan rujukan

- Memperhatikan mutu penggunaan bahasa