---Di mana pun adalah ruang kelas---

Sabtu, 19 Mei 2018

Puasa dan Teror


Oleh :Dasuki, Af
🔥Buah radikalisme telah dirasakan bersama dengan aksi-aksi teror belakangan ini. Teror sudah menjadi paham perlawanan terhadap Negara dengan segala simbol-simbolnya. Penggunaan doktrin agama di vis aviskan dengan Negara yg menganggap negara dengan ideologinya sebagai Negara kafir, bagi teroris memeranginya adalah jihad fisabilillah. Agama diligitimasi untuk membenarkan aksi-aksi teror, sehingga saat ini berkembang phobia pada Islam yg sebenarnya simbol-simbol yg dipakai oleh para teroris atau para radikalis tidak mewakili ruh Islam.
🔥Teror tidak harus berbentuk ancaman pembunuhan seperti terjadi pada akhir-akhir ini. Wujud teror bisa dengan halus seperti gaya dan cara hidup yg dianggap sepele namun membuat stress sosial, yg mau tidak mau pelakunya membuat para korban tepapar oleh virus-virus yg membuat nalar kritisnya mandul sehingga dengan mudah para korban teror itu dikontrol sesuai dengan doktrin-doktrin yg disematkan padanya. Teror ini membuat korbannya takut miskin, takut tidak dibilang gaul, takut kehilangan popularitas, takut kehilangan pengaruh, Kharisma dan takut kehilangan elektabilitas. Ketakutan-ketakutan itu terjadi dalam ruang-ruang sosial. Korban akan mengatur ritme dan menjaga diri dari segala bentuk yg dapat membunuhnya dalam ruang sosial.

🔥Teror model ini memang tidak menghilangkan nyawa, namun dapat menghilangkan akal sehat, meski dunia ini hanyalah panggung sandiwara. Yg kaya takut miskin bila mengeluarkan zakat dan shadaqoh, yg punya gaya takut kehilangan funs jika tidak tampil memuaskan dan yg punya kekuasaan takut kehilangan konstituen bila tidak pandai-pandai membangun citra. Teror kehidupan akan terus menerus ada Selama materialisme dan sekularisme menjadi gaya berfikir mereka. Bila radikalisme membuat radikalis tidak takut mati, sebaliknya sekularisme membuat Sekularis takut mati sehingga golongan ini akan terus menerus bermetaformosa dalam model dan bentuk apapun dalam kehidupan.

🔥Ada kaitan puasa dan teror kehidupan. Puasa dikatakan oleh Rasulullah bahwa pelakunya mendapatkan kesehatan bila dilakukan secara sempurna, baik sehat jasmani dan rohani. Sehat jasmani dapat mendatangkan kesehatan bagi tubuh karena menekan makanan yg masuk ketubuh melalui berbagai proses didalamnya, sedangkan sehat rohani pelakunya merasa sehat jiwanya karena puasa mengajarkan banyak hal tentang kecerdasan jiwa baik cerdas secara sosial, intlektual dan spritual. Bagaimanapun puasa sebagai benteng pengendalian diri dari degradasi dan resesi Dunia.Jiwa yg sehat akan terus bekerja secara dinamis karena jiwa itu menggap bahwa alam dan Isinya ini ciptaan tuhan dan akan kembali kepadanya. Teror bagaimanapun hebatnya semua itu bila dikembalikan kepada hakekat penciptaan maka hidup dunia ini akan tenang dan damai. REFLEKSI, 19/5/2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar