---Di mana pun adalah ruang kelas---

Minggu, 27 Desember 2020

,

Keluhan, masalah, kekurangan, stres, kecewa, cemas, ragu, sengsara, bingung, konsumtif.


Sokongan, solusi, kelebihan, tenang, bersyukur, percaya diri, yakin, bahagia, tercerahkan, produktif.


Di antara kedua sisi, mari ukur. Di sisi mana kita berdiri? Sisi pertama atau sisi kedua?


Lebih sering bertukar pikiran dengan orang yang kebingungan atau yang tercerahkan?


Lebih sering bersama dengan orang yang secara acak merencanakan tujuannya atau yang fokus pada tujuan yang telah ditentukannya?


Lebih banyak melihat orang lain sebagai objek atau sebagai spion?


Mari tumbuh dan berkembang. Lingkungan sekitar kita seperti taman yang penuh daun hijau dan bunga warna-warni. Penuh dengan keberlimpahan.


Mari berhenti mengeluh sedikit demi sedikit. Mari perbanyak sokongan. Mari rasakan keajaibannya. 


Coba putuskan untuk tidak frustrasi dengan keputusan yang diambil beberapa fungsionaris. Coba putuskan untuk tidak merasa frustrasi dan berselisih paham dengan para eksekutif senior dan kandidat ketua umum seputar keadaan saat ini.


Untuk menantang status quo, temukan tim yang terdiri dari individu-individu yang berpikiran sama untuk menciptakan gerakan perubahan dan membuat poros dari perekrut interim senior menjadi transformator perubahan.


Sudah saatnya mendapatkan mitra yang peduli, yang memberikan dan dapat memandu Anda dalam perjalanan perubahan.


Dunia masa depan menuntut Anda memiliki kemampuan beradaptasi. 

Sabtu, 26 Desember 2020

,

 

Revolusi Mental (Terpelanting; Terpental; Terlempar Kembali)

Oleh: Tapi Bukan Saya Yang Tidak Nyata dan Tidak Pernah Ada Seperti Susu Sebelanga


Pendahuluan

Izinkan saya melalui tulisan singkat ini menyampaikan pandangan saya menguraikan permasalahan sekitar ini dan menawarkan paradigma baru untuk bersama mengatasinya. Saya bukan ahli politik atau ahli tata kelola pemerintahan. Untuk itu, pandangan ini banyak berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang cukup lama. Oleh karena itu, keterbatasan dalam pandangan ini mohon dihakimi.


Revolusi mental, bukan mental yang huruf e nya seperti kata ekonomi, melainkan dibaca seperti e pada kata selalu. Revolusi mental dalam tulisan ini bukan berarti revolusi watak atau pikiran, melainkan revolusi terpelanting atau terpental, terlempar kembali atau berbalik arah. 


Sebatas Watak


Upaya yang dilaksanakan di lingkungan sekitar saya sebatas melakukan perombakan yang menyentuh paradigma, mentalitas, pikiran, watak. la belum menyentuh budaya politik dan kebiasaan sehari-hari dalam rangka pembenahan agar perubahan benar-benar sia-sia dan tidak bermakna. Kita perlu melakukan revolusi yang mementalkan, melempar kembali mindset yang sudah susah payah disusun.


Aturan-aturan sudah dilaksanakan. Pemilihan umum tiap periode diselenggarakan secara berkala dalam rangka pengelolaan yang demokratis dan akuntabel. Ditambah, kebiasaan atau budaya yang tumbuh subur dan berkembang di alam kondusif sebelumnya masih berlangsung sampai sekarang mulai dari donasi, toleransi terhadap perbedaan, dan sifat kerelaan. Saya ingin membalik arah sampai menuju sifat ingin menang sendiri, kecenderungan menggunakan kekerasan verbal dalam memecahkan masalah, pelecehan simbolik, dan sifat oportunis. Kesemuanya ini perlu dimentalkan supaya lebih revolusioner.


Perlu Revolusi yang Terpental


Penggunaan kata revolusi disebabkan kita memerlukan suatu terobosan budaya politik untuk memberantas tuntas-tuntas segala praktik kebiasaan lama. 


Berikut adalah beberapa pilar revolusi yang terpental, di antaranya:


1. Mengonsumsi Kebingungan

Saya sedang menjadi konsumen kebingungan yang serius. Saya akan melahapnya setiap kali saya merasa tidak bahagia, stres, kecewa, cemas. Konsumsi saya tidak ada hubungannya dengan lapar dan haus, tetapi berkaitan dengan mengisi kekosongan emosional saya.


Meskipun konsumsi itu akan menghibur saya, perasaan ini hanya sesaat dan akan hilang segera setelah saya selesai kebingungan. Sebaliknya, yang tersisa adalah kekosongan emosional yang sama yang memicu saya untuk bingung atau stres, setara dengan ribuan kalori dan lemak berlebih dari apa yang seharusnya saya makan dan minum dan kemarahan pada diri sendiri karena mengonsumsi kebingungan.


2. Bergaul dengan penentang

Bukan waktunya baperan, waktunya berperan. Berperan sebagai pendukung celah untuk setiap ide yang orang lain miliki dan setiap tujuan yang ingin orang lain kejar. Saya sudah menjadi salah satu pengkritik yang terbesar, jadi itu tidak membantu ketika ada seseorang di samping saya, saya selalu siap menerkam apa yang orang lain katakan dan menghancurkannya.


Lebih banyak bergaul dengan orang-orang yang menentang ini dan habiskan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang tidak mendukung yang berbagi umpan balik kontraproduktif. Anda akan jauh lebih kebingungan dengan cara ini.


3. Tidak menghargai orang lain

Alami situasi ini. Cobalah untuk tidak menyenangkan orang lain. Buat mereka terusik. Mendongak ke depan untuk berada di sana untuk orang-orang. Tarik garis dengan orang-orang yang berbeda.


4. Minum kopi dalam jumlah yang banyak

Penelitian menunjukkan bahwa minum kopi sekitar 6 gelas besar per hari dapat memicu insomnia, lekas marah, gelisah, gugup, atau lemah otot. Minum kopi berlebihan dapat menimbulkan kegelisahan dan kecemasan. Apalagi jika diminum pada waktu yang salah, seperti sore atau malam hari. Akibatnya, seseorang bisa jadi sulit tidur dan bangun dengan tubuh kelelahan. Biasanya hal ini akan menimbulkan sakit kepala, mood jelek, dan perasaan seperti bingung.


5. Banyak menonton, sedikit membaca

Saya berhenti serius membaca buku dan beralih menonton tayangan sejak beberapa waktu lalu dan saya tidak pernah menyesalinya. Seringkali saya akan menyalakan smartphone untuk download atau live streaming untuk melihat apa yang sedang diputar.


Menonton tayangan, terutama drama yang ditulis dengan baik, bisa menjadi cara yang baik untuk melepas lelah. Seakan-akan drama itu sudah seperti hidup saya sendiri. Menghabiskan tiga jam setiap malam untuk menonton tidak akan mengubah hidup menjadi lebih baik. Berhenti gunakan waktu itu untuk membaca buku, merefleksikan hidup, memperhitungkan, dan mengambil tindakan atas tujuan, dalam rangka terpental, berbalik arah.


6. Berada di dalam hubungan beracun

Teruslah berhubungan dengan lingkaran pertemanan yang berbisa, menghabiskan waktu dengan mereka, atau bahkan menjalin hubungan dengan mereka.


Saya biasa membunuh waktu saya ini untuk tidak mengalami apa-apa selain dikompori berulang kali, saya menyadari bahwa mereka benar-benar membuang-buang waktu saya dan saya pantas mendapatkan yang terbaik, yaitu waktu yang terbuang dan terbunuh.


7. Menunda melaksanakan kewajiban, mengawali menuntut hak

Tuntutlah hak terlebih dahulu, bukan melaksanakan kewajiban lebih dulu, maka hidup ini menjadi sengsara

dikucilkan orang sekitar. Hidup ini menjadi tidak tenang, segala apa pun yang dikerjakan akan menjadi rumit, tambah kompleks. Berorientasi pada hasil yang segera, tanpa proses yang berkala. Buka mulut untuk hak pribadi, tutup mata dan telinga dari hak orang lain.


8. Fokus pada kekurangan

Dalam setiap situasi, ada dua cara untuk bereaksi: perbesar ke area masalah dan bacakan tentang hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan, atau rayakan area yang berjalan baik dan perbaiki semuanya.


Banyak dari kita melihat pentingnya melakukan yang terakhir tetapi dalam praktiknya, kita melakukan yang pertama. Kenapa sih? Mengkritik dan berfokus pada hal-hal negatif itu mudah tetapi tidak memberdayakan atau menginspirasi kita untuk menjadi lebih baik.


9. Tidur pagi, bangun siang

Tidurlah setelah subuh, bangunlah setelah zhuhur atau ashar. Lakukan tiap hari. Tidak perlu bekerja, tetaplah bermimpi. Orang yang sering tidur pagi atau kurang tidur akan lebih sulit untuk fokus bekerja dan memusatkan perhatian. Hal ini sudah pasti akan mempengaruhi kinerja dan produktivitas karya. Selain itu, mood atau suasana hati akan mudah berubah. Kurang tidur di malam hari dalam jangka panjang dipercaya dapat menyebabkan perubahan mood, bahkan depresi. Selain itu, bahaya tidur pagi juga bisa membuat emosi seseorang menjadi kurang stabil lantaran kelelahan. Jadi, tak perlu produktif berkarya, jadilah tempramental.


Penutupan

Itu tadi tawaran saya mengenai revolusi mental yang terpental dan terpelanting. Kabar baiknya adalah kita dapat tetap terpental dan terpelanting. Tetaplah melakukannya. Kita akan menemukan hidup yang jauh lebih bingung, gelisah, dan cemas. 





Kamis, 24 Desember 2020

,

PANGERAN MISTERI BERDARAH CAMPURAN

M. Masyfu’ Zuhdi

Pertemuanku dengannya terbilang unik. Adzan Subuh terdengar dimana-mana, sedang orang-orang di sekitarku masih saja terlena. Terhipnotis ayam berkokok, terbuai janji-janji surga bahkan tenggelam dalam mimpi indah yang entah apa. Pemuda yang sedari tadi duduk di depan pintu tiba-tiba menyapaku dan menanyakan tentang makanan yang tadi ku lahap tanpa tahu siapa pemiliknya. “Punya siapa, apakah masih layak untuk dimakan” tanyanya padaku, awal kalimat secara langsung yang ditujukan padaku, dan ceritaku dimulai dari situ.

Namanya Muhammad Qurrotul Aynan, remaja pendiam dari Bondowoso. Terlahir sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Meskipun lahir di Bondowoso, pendidikan memaksanya untuk hidup lama di luar kota, 6 tahun di Probolinggo dan sudah 4 tahun di Jember. Probolinggo tempat ia nyantri, perkuliahan di Jember tempat dia mengekspresikan hasil pelatihannya selama 6 tahun di Probolinggo.

Penjelasan tentang pengetahuan yang belum diketahui, pelurusan pemahaman yang masih bengkok, atau pengembalian jalan pembahasan yang sudah tak terarah, mungkin itu fungsi dari keberadaannya di antara lingkaran yang tak benar-benar berbentuk lingkaran. Salah satu contohnya dari lingkaran pembahasan pra komisi paradigma yang dia luruskan sendiri, modul PKD yang tebal dan pertanyaan-pertanyaan rapi dan sistematis yang selalu dia lontarkan kepada semua orang.

Mungkin sering berbeda pendapat denganku yang cenderung terlalu _karepe dewe_ di forum, dia lebih memberikan ruang terhadap semua orang untuk berpendapat, dengan catatan waktu yang tidak terlalu mepet dan pendapat yang diajukan tidak terlalu kopong. Aku masih ingat pendapatnya tentang kehidupan yang seharusnya serba realistis, pencarian jodoh yang memper, ketua yang seharusnya pintar, dan kepentingan uang yang harus disesuaikan dengan kebutuhan. Selain itu, akhir-akhir ini diketahui anggapannya tidak semua bersangkutan dengan apa yang dilihat dengan mata. Seperti, _amalan_, _hizib_ dan warisan metafisik dari leluhur sebelumnya. Mungkin anggapan yang akhir ini dipengaruhi dari budaya darah, atau pendidikan pesantren sebelumnya.

Ada satu peristiwa menarik. Sekitar satu tahun yang lalu, aku melihatnya memainkan HP di tengah riuhnya diskusi yang tak menemukan tepi, tiba-tiba kata-kata si pendiam itu mendiamkan seluruh anggota yang mengikuti diskusi, dari yang paling populer pengetahuannya sampai yang populer sok tahu segalanya. Aku tercengang dan penasaran, kader seperti dia masih saja dirawat Tuhan di tengah-tengah organisasi yang kian hari semakin rapuh, katanya.

Lebih anehnya, dengan ungkapannya waktu rapat komisi kemarin, “sepertinya saya mulai kurang punya hasrat terhadap lawan jenis”, disini aku mengingat film “imitation game” yang menceritakan penemu mesin Turing atau yang lebih dikenal dengan komputer. Film tersebut menceritakan tentang kepribadian A. Turing yang jenius tetapi cenderung aneh di tengah perkumpulan, ditambah lagi dengan orientasi hasratnya yang cenderung berbeda dengan orang lain. Hal itulah yang menjadi penyebab dia dihukum dengan hukuman yang berbeda pula, melepas semua jasa yang pernah ia lakukan di waktu perang dunia kedua.

Kejeniusan dan kepribadian sahabat saya yang hampir serupa dengan A. Turing ini menyebabkan kecurigaan dalam diri saya, sehingga kemarin saya menemukan jawabannya. Setelah saya amati beberapa bulan ini saya melihat ada perbedaan yang cukup signifikan dari ritual ibadah yang ia lakukan, sehingga saya menyimpulkan keanehan hasrat yang dia alami merupakan efek dari anomali muatan Jasmani dan Rohani yang seharusnya normal. Meskipun saya belum tau jawaban saya benar-benar menjawab atau tidak, akan tetapi sampai saat ini hanya itu yang saya dapatkan dari penyebab keanehan yang dia alami, terlepas dari kelebihan yang dia punya.

Selain teringat pada Alan Turing, yang pernah benar-benar hidup, saya juga teringat pada tokoh fiksi di serial Harry Potter, Severus Snape. Sahabat saya, seperti Snape, adalah seseorang yang serba-ingin-tahu, seringkali bersikap ilmiah, bersikap menguji pengetahuan-pengetahuan yang diketahui oleh kebanyakan orang. Tak jarang juga, ia memberikan tips dan rekomendasi berbeda dari yang pernah diberikan oleh orang lain dari “kultur” sebelumnya. Mirip seperti buku ramuan pinjaman bertuliskan “milik Half-Blood Prince” yang ditemukan Harry Potter di kelas ramuan NEWT.

Karakternya adalah karakter yang penuh twist layaknya Snape, susah untuk ditebak. Meski demikian, ia adalah orang yang kesetiaannya tegak lurus. Tidak perlu diragukan lagi, kesetiaannya sudah teruji dengan rekam jejaknya. Bahkan, kendati kenyataan seringkali tidak sesuai dengan harapan.

Selain itu, tanpa orang lain ketahui, ia seringkali yang diam-diam selalu menjadi penyelamat situasi krisis dan buntu. Tak ketinggalan, ia berbakat menjadi pemegang rahasia dengan kemampuannya untuk meraih kepercayaan dari dua pihak yang saling bertentangan, dan menjaganya agar tidak bocor.

Teringat kata-kata Tawakkal dalam cerpen Gus Mus, setiap orang yang mempunyai kelebihan tinggi maka akan menerima peluang cobaan yang tinggi pula, kurang lebihnya seperti itu. Dari sini saya menganggap wajar apa yang dialami sahabat saya, yang menyuruh menuliskan tulisan ini sebagai hadiah di akhir tahun 2020. Beberapa kelebihan yang dianugerahkan padanya dan kelemahan yang menyertainya, membuat saya takut dengan kelebihan yang ada pada diri saya dan kelemahan yang seharusnya saya sadari saat ini.

Keseriusan meliputi hidupnya, dari serba hal yang dia anggap sebagai pelatihan, bahkan guyonan pun dia anggap sebagai keseriusan yang terkadang tidak disadari seseorang. Cara guyonnya mungkin lain dari pada orang umumnya, tapi karena jarang yang mengetahui, aku sebagai teman sering mengamati dari hal-hal yang pernah ia guyonkan pada siapapun ketika aku melihatnya. Guyonan aneh dengan kemanjaan yang menyamaratakan semua orang yang dia kenal, membuatku bisa menyimpulkan dan menguatkan anggapanku selama ini. Orang dengan kebiasaan berfikir serius cenderung lebih memuaskan hasratnya untuk menghibur diri dibandingkan dengan hiburan-hiburan lainnya yang kurang memuaskan.


,

AKTIF BERPIKIR, TIDAK HANYA PASIF MENDENGARKAN

Muhammad Fahmi Arrojabi

Sekitar dua setengah tahun silam, aku melakukan percakapan dengan salah satu senior. Aku lupa siapa persisnya seniorku itu dan dimana percakapan itu terjadi. Yang pasti, percakapan itu terjadi melalui tatap muka, bukan melalui aplikasi pesan singkat.

Kami membahas banyak topik dalam percakapan tersebut. Sampai tibalah, entah bagaimana ceritanya, pembahasannya adalah tentang seniorku yang lain, namanya Aynan. Nama lengkapnya Muhammad Qurrotul Aynan, selanjutnya aku tulis inisialnya saja, MQA. Senior yang bercakap-cakap mengatakan padaku bahwa MQA adalah orang pintar, namun dia sulit untuk memberi pemahaman atau memahamkan orang lain akan suatu hal. 

Menyikapi itu, aku tidak langsung percaya pada saat itu. Aku ingin membuktikannya sendiri sebab yang aku pahami, Tuhan menciptakan kedua mata di depan dan kedua telinga di samping kanan dan kiri menunjukkan bahwa seorang manusia harus mendahulukan penglihatan akan kebenaran (membuktikannya sendiri) dari pada mendengarkannya dari orang lain.

Sebetulnya, aku sudah lama mendengar nama MQA dan beberapa kali bertemu, baik di jalan maupun di acara-acara organisasi. Akan tetapi, baru selama setahun belakangan ini aku akrab dengannya. Sampai akhirnya pada acara Pelatihan Kader Dasar (PKD) perdana Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (R-FTIK) Komisariat IAIN JEMBER beberapa waktu lalu aku sudah mendapatkan kebenaran berdasarkan pengamatanku sendiri.

MQA tidak seperti apa yang seniorku, atau mungkin orang lain juga, katakan. Aku akui bahwa menurut standarku, ia sangat idealis meskipun di sisi lain, idealisme tidak betul-betul ada di dunia. Setidaknya, MQA sangat dekat dengan idealisme, hampir layak disebut idealis sejati. Yang perlu dipahami terlebih dahulu adalah bahwa dalam suatu forum apapun itu bentuknya, ia sangat tidak suka sama sekali akan forum diskusi yang beraroma pengajian yang di dalamnya terdapat pemateri atau pembicara dan pendengar. 

Di dalam forum tersebut, menurut MQA, pendengar yang hanya bisa mendengarkan apa yang pembicara sampaikan sehingga komunikasi cenderung terjadi satu arah atau dengan kata lain, kurang interaktif . Dia pada dasarnya bukannya tidak bisa atau sulit untuk memberi pemahaman atau memahamkan kepada orang lain akan suatu hal (pengetahuan). Ia hanya ingin mengajak lawan bicaranya untuk juga berpikir, bukan hanya sebagai penerima saja. Tak jarang ia menjelaskan istilah yang sulit dipahami para pemula sambil dicari padanan kata populernya, sehingga menurutku itu merupakan ajakan kepada si lawan bicara agar juga berpikir aktif, tidak hanya pendengar pasif.

Setelah aku tanya kepada yang bersangkutan bagaimana sikap tersebut terbentuk, ia menjawab bahwa jika dirunut, salah satunya mugkin adalah bentukan sejak kecil. MQA kecil ketika bertanya tentang suatu istilah yang ia tidak pahami kepada bapaknya, bapaknya tidak memberitahunya tetapi memberikan kamus yang isinya terjemah kata, persamaan kata, dan tesaurus, agar MQA kecil dapat mencarinya sendiri. 

Selain melatih kemandirian belajar, menurutnya mencari istilah di kamus tidak hanya akan membawa pembaca kepada istilah yang dicarinya tetapi juga paling tidak kepada istilah yang beradadi halaman yang sama di kamus. Aku menarik kesimpulan bahwa sikapnya yang sedemikian rupa merupakan pantulan dari bagaimana cara bapaknya mendidiknya. 

Benar kata pepatah, “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, kecuali jatuhnya ke sungai, hahaha. Kesimpulan lainnya adalah, dia bukannya sulit untuk memahamkan orang lain akan suatu hal, hanya saja menurut hematku si lawan bicaranya lah yang kurang asupan ilmu hingga sulit untuk memahaminya padahal tujuannya untuk mengajak lawan bicaranya agar ikut aktif berpikir dan banyak membaca, bukan hanya pasif mendengar.

 

Selasa, 15 Desember 2020

,


Muhammad Qurrotul Aynan

Munculnya pandemi tentu mengejutkan semua orang. Virus Corona menyerang sistem pernafasan manusia, sehingga meningkatkan kemungkinan orang yang tertular mengalami gangguan pernafasan yang secara tidak terduga dapat menyebabkan kematian. Keberadaan Virus Corona telah membuat banyak perubahan, terutama terhadap kelangsungan kaderisasi. Dampak pandemi akan mempengaruhi keadaan psikologis dan perubahan perilaku dalam jangka yang lebih luas dan lebih panjang. Perubahan perilaku meliputi pola hidup sehat, penggunaan teknologi, sistem pendidikan, penggunaan media sosial, perilaku konsumtif, perilaku kerja, dan perilaku sosial beragama.

Persoalan kaderisasi adalah persoalan yang kompleks. Persoalannya akan lebih kompleks jika dihadapkan pada situasi pandemi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak terprediksi. Keadaan seperti itu memberikan pengaruh terhadap organisasi yang dapat disebut sebagai pendadakan organisasional. Tidak ada ahli atau rujukan mengenai istilah ini, hanya pendapat pribadi.

Disebut pendadakan organisasional karena keadaan tersebut menyerang sistem imun dalam tubuh organisasi secara mendadak. Serangannya bersifat cepat, tidak terduga, dan dapat berakibat fatal terhadap imunitas internal. Akibatnya, administrasi dan manajemen bisa saja dijadikan sasaran utama dan bersifat signifikan. Untuk menangani pendadakan tersebut, para fungsionaris tidak bisa tidak, mampu memikirkan berbagai kemungkinan serta segera ambil langkah untuk peristiwa yang akan terjadi di masa sekarang dan masa depan.

Jika diamati, ada kecenderungan melemahnya imun internal organisasi dan gerakan yang disusun secara sporadis. Maka, potensi pendadakan tersebut di tengah situasi pandemi sangat memungkinkan. Berbagai ancaman mungkin saja terjadi seperti konflik, kerusuhan, dan vandalisme. Jika ada provokasi massa untuk melakukan aksi, maka hal itu dapat menjadi indikasi bahwa situasi pandemi rentan terjadi pendadakan.

Tuntutan administrasi dan manajemen bisa dibuat kesempatan untuk mendorong terjadinya konflik horizontal yang diawali dari konflik antar kelompok. Maka dari itu, perlu ada kepastian dari fungsionaris dengan langkah yang serius dan terukur. Bicara kaderisasi adalah bicara sumberdaya manusia. Manusia di situasi pandemi tidak hanya fisiknya yang dapat melemah, tetapi juga dapat terserang dan terganggu kesehatan mentalnya. Sebelum manusianya mengalami gangguan kesehatan mental, perlu ada upaya terapi pencegahan. Jika kesehatan mentalnya sudah terganggu, perlu penanganan yang tepat. 

Ego sektoral hanya akan mempersempit peluang ketahanan internal dan memperlemah imunitas, yang ujungnya adalah tumpulnya otak yang berisi pikiran dan fisik yang menyampul mental yang sehat untuk pemulihan bersama. Jika ego sektoral tersebut masih dipelihara, maka tidak perlu heran apabila nanti terjadi perlepasan pengawalan. Kekompakan antar tingkat lembaga perlu dijamin dan dimusyawarahkan secara mufakat, mengingat situasi ini perlu pemecahan masalah secara bersama-sama.

 

Minggu, 13 Desember 2020

,


Lembah Air Mancur lumpuh. Hujan deras disertai angin. Badai disambut gemuruh. Belum lagi dampak pancaran ledakan. Rasanya perlu waktu yang cukup lama untuk bisa pulih.

Kaisar Naga Langit saat itu gelisah. Alih-alih merencanakan balasan, ia mengumpulkan semua komandan yang masih tersisa, menanyakan kepada mereka “Berapa jumlah Instruktur yang tersisa?“. 

Para komandan pun bingung mendengar pertanyaan itu. Sebelum bergegas untuk menghitung, mereka menegaskan kepada Kaisar bahwa mereka masih bisa menyelamatkan dan melindungi Kaisar walau tanpa para Instruktur.

Kaisar kembali berkata, “Kita telah berada di ambang batas. Kita kuat dalam logistik dan strategi pertarungan. Tapi kita tidak tahu bagaimana mencetak generasi yang unggul itu. Kalau kita semua tidak bisa regenerasi, bagaimana kita akan mengejar ketertinggalan?”

Titah Kaisar, “Maka kumpulkan sejumlah Instruktur yang masih tersisa di seluruh pelosok wilayah, karena sekarang kepada mereka kita akan bertumpu, bukan kepada jumlah barisan.”

Para komandan menyatakan kesiapannya untuk mengumpulkan Instruktur yang tersisa. Lalu, salah seorang dari mereka bertanya, “Mengapa Kaisar tidak bertanya tentang sarana prasarana yang masih kita miliki?”

Jawab Kaisar, “Kita sebelum ini terlalu mementingkan untuk membangun benteng-benteng dan perlengkapan senjata, sehingga ketika ada pendadakan, kita bingung untuk memulihkan diri kita. Anggaran sesuai amanat harusnya didahulukan untuk membangun isi kepala, baru kita bisa membangun tembok-tembok yang megah.”

"Ingatlah satu hal bahwa generasi yang maju takkan pernah siap untuk bermanfaat keterlibatan seorang Instruktur. Peran Instruktur dalam perubahan, seperti mobilisasi tanpa massa.”

Pengaderan di berbagai tingkat tak jarang pasang-surut menjadi korban konsesi dan akomodasi politik. Dengan mata telanjang, dapat dilihat ihwal kebijakan pengaderan hingga pelaksanaan operasional sangat kental dengan tarik menarik kepentingan politik praktis.

Instruktur memiliki posisi strategis dalam menggerakkan mesin pengaderan. Jika kabar muram dan perang dingin tak terhindarkan, hal itu akan berdampak secara psikologis. Perlu barisan independen dan bebas intervensi politik untuk merumuskan dan menyelenggarakan standarisasi kompetensi Instruktur dan membantu memfasilitasi usaha pemenuhan posisi fungsional.

Eksistensi Instruktur di suatu wilayah adalah syarat utama kemajuan. Wilayah maju, Instruktur hampir segalanya. Sudah saatnya menghimpun dan menata para instruktur.

 

Kamis, 24 September 2020

,




 

Sebagian orang suka berada di sekitar orang lain, mengobrol tentang apa saja, gembira dan senang akan keramaian. Mereka melihat keberadaan mereka eksis dalam interaksi mereka dengan orang lain, terutama apabila diabadikan dengan foto.



Lalu ada orang lain. Orang yang lebih tertutup, yang menikmati kebersamaan dengan mereka sendiri, dan dalam banyak kasus tidak benar-benar menikmati berada di dekat orang banyak. Setidaknya kelompok orang tertentu, atau jenis orang tertentu. Akan tetapi, yang sering menjadi anggapan keliru adalah bahwa orang-orang ini entah bagaimana penyendiri atau tidak dapat berfungsi sosial dalam skala luas.



Orang-orang jenis ini, yang memiliki lingkaran sosial kecil atau lebih suka melayang sendiri, adalah orang-orang paling menarik dan mendalam yang pernah diemui atau dapat dianggap sebagai teman. Orang-orang ini tidak gemar ambil gambar, berfoto baik difotokan atau swafoto. Bukan berarti dengan begitu kemudian dengan mudah tidak diakui, dihilangkan namanya dari daftar.



Mengapa perlu mengakui dan menghargai mereka, dengan mencantumkan nama mereka dalam kehidupan seseorang atau suatu kelompok?



Mereka memiliki batasan yang sehat

Terlalu banyak orang yang terus-menerus membutuhkan interaksi sosial dan perhatian tidak memiliki batasan yang sehat. Karena kebutuhan mereka yang konstan untuk bersosialisasi, mereka sering kali dapat membiarkan orang menuntun mereka ke jalan yang tidak mereka pilih. Mereka juga tidak mampu mundur dari orang-orang yang memperlakukan mereka dengan buruk, atau yang tidak memperhitungkan perasaan mereka. Ini bukanlah masalah yang dimiliki oleh orang-orang jenis tertentu tadi. Orang-orang jenis itu mengerti betapa berharganya mereka bersama kerabatnya dan akan berpegang teguh pada prinsip mereka. Asal namanya tidak dihilangkan.


Mereka pada dasarnya sangat setia

Karena orang-orang jenis tertentu tadi memiliki lingkaran pertemanan yang lebih kecil, mereka akan sering mengenal dan menghargai persahabatan mereka ke tingkat yang lebih dalam. Ini berarti mereka mungkin tidak akan mengkhianati teman atau tidak mempertimbangkan perasaan temannya. Kenyataan bahwa orang-orang itu memilih seseorang sebagai teman dan ingin seseorang tersebut berada di lingkaran tertutup mereka berarti mereka menghargai dan kemungkinan besar akan membela dari fitnah atau perlakuan buruk dari orang lain. Jadi, akuilah dan hargailah mereka dengan mencantumkan nama mereka. Mereka tidak ingin cepat kehilangan.


Mereka sering merenung

Sering menyendiri memberi orang lebih banyak waktu untuk memikirkan persoalan yang lebih dalam, dan persoalan yang mungkin sering tidak dipikirkan orang lain. Ini berarti percakapan mereka mungkin jauh lebih menarik dan beragam daripada seseorang yang terus-menerus dirangsang oleh obrolan ringan sehari-hari sambil sedikit-sedikit mengambil gambar.


Mereka menghargai kasih sayang

Seseorang yang terus-menerus berada dalam hubungan yang berbeda atau melompat dari satu hubungan ke hubungan lain mungkin mulai merendahkan pentingnya kasih sayang dan keintiman. Mereka yang sendirian untuk waktu yang lebih lama tahu nilai sejati kasih sayang dan hubungan dan tidak akan membuangnya begitu saja.


Jadi, tak perlu sering ambil gambar bersama mereka. Akui dan hargai namanya. Mereka tak mudah dicari padanannya. Jangan mudah pergi dan menghilang, baik kehilangan kontrol dengan tidak stabil ataupun kehilangan kontak. Mereka adalah mutiara terpendam. Edisi terbatas, tidak diproduksi secara massal. 

Rabu, 23 September 2020

,

 


Salah satu yang membuat saya tertarik dan terdorong untuk menulis adalah soal bersosial. Sering saya temui orang-orang yang menganggap saya kurang bersosial. Wajar memang anggapan semacam itu. Yang tidak wajar adalah jika anggapan itu berlebihan dengan menganggap bahwa saya seakan-akan bukan makhluk sosial yang tidak memerlukan orang lain dalam hidup. Ada banyak faktor baik itu bersifat bawaan maupun karena peristiwa tidak diinginkan yang saya alami.


Saya pada dasarnya orang yang ramah, dan mudah didekati saya pelit dengan kehadiran saya, berhati-hati kepada orang yang tidak layak untuk ditanggapi ramah.


Saya menghormati waktu, energi, diri sendiri, dan kebahagiaan saya dan tidak pernah membahayakan semua hal itu. Saya lebih suka mengisi waktu, memiliki beberapa teman, atau bahkan duduk di rumah sendirian daripada stres atau tidak bahagia.


Saya menghargai waktu dengan tidak menghabiskan waktu di lingkungan di mana saya tidak nyaman atau merasa cemas. Saya bekerja dan memiliki berbagai komitmen. Tentu saya tidak ingin menghabiskan waktu luang saya dengan orang-orang yang kemungkinan besar akan membicarakan saya di belakang saya atau membuat saya merasa tidak nyaman. Saya menolak membuang waktu saya. Jika saya tidak mendapatkan sesuatu yang positif dari pengalaman itu, tidak perlu mengajak saya.



Teman atau keluarga, itu tidak jadi soal. Mungkin ini terdengar kasar tapi nyata adanya. Saya mencintai keluarga dan teman-teman saya tetapi saya memiliki batasan. Saya benar-benar mencintai dan peduli pada orang lain (lebih dari yang seharusnya) tetapi saya telah belajar untuk mencintai dan melindungi diri saya lebih utama. Saya tidak harus tahan dengan apa pun yang tidak saya inginkan, jadi saya tidak. Sesederhana itu.


Saya tidak akan bergaul dengan seseorang yang memberi saya getaran buruk atau tidak menghargai diri sendiri atau orang lain. Saya suka menghabiskan waktu dengan orang-orang yang memiliki motivasi, positif, dan memiliki tujuan untuk hidup mereka. Teman-teman saya tidak sempurna tetapi saya dapat dengan jujur ​​mengatakan bahwa mereka berusaha keras untuk menjadi sukses, kami saling memotivasi, dan saling mengutamakan kepentingan satu sama lain.


Saya menghindari obrolan ringan dan mencoba berbicara hanya jika merasa memiliki sesuatu yang perlu untuk dikatakan. Saya mungkin bukan teman atau pasangan yang akan pergi ke setiap perayaan tetapi ketika pembaca membutuhkan seseorang untuk mendengarkan dan benar-benar peduli, saya insyaallah akan ada di sana. Saya menghabiskan banyak waktu sendirian , tersesat dalam pikiran besar, dan membutuhkan beberapa waktu sejenak untuk berpikir sebelum menjawab secara lisan.


Ada juga yang saya suka di antaranya adalah suasana yang intim alih-alih kelompok besar, obrolan dalam alih-alih hanya permukaan, beberapa teman dekat alih-alih banyak kenalan biasa, komunikasi tertulis alih-alih lisan, bersikap tenang alih-alih meledak-ledak, kualitas waktu alih-alih keseringannya.


Perbandingan yang lain adalah: sangat terbuka bersama orang terdekat namun tertutup bersama orang yang kurang dikenal, penghibur dadakan bersama orang terdekat namun datar di kerumunan, jika diajak bergabung untuk jalan-jalan, hal pertama yang saya tanyakan adalah; “pergi bersama siapa?” bukan "pergi kemana?".


Orang lain yang tidak paham bisa jadi tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan. Padahal, saya juga membutuhkan hubungan dekat agar bisa berkembang. Saya hanya bersosialisasi dengan cara berbeda dan hanya karena ada sesuatu yang berbeda tidak berarti itu salah atau inferior. Yang "berbeda" bagi yang tidak paham berarti "menyalahi kewajaran", sedangkan bagi yang paham "berbeda" berarti "istimewa".

,




Perlu Berhati-hati dalam memberikan perhatian dan kepedulian kepada pribadi lain entah itu sahabat atau kekasih yang sekiranya tidak layak. Tak jarang, terlalu perhatian dan peduli membutakan kita dari kenyataan. Tak jarang pula seseorang terjebak dalam perasaan pribadi yang meluap-luap dan mulai melihat dunia melalui kacamata warna tunggal. Kacamata ini berarti kita menolak untuk melihat kekurangan pada karakter pribadi lain tersebut, kita menolak untuk melihat apakah mereka tidak memperlakukan kita dengan benar dan tersesat di hutan hasrat pribadi.


Seseorang cenderung jatuh ke dalam perangkap ini jika ia memiliki kemandirian yang minim. Oleh karena itu, seseorang tersebut menolak untuk melihat indikasi buruk karena ia tidak mau kehilangan orang itu, padahal bisa jadi kepergiannya menjadi jalan keluar dari hubungan yang tidak sehat. Maka, sebagai makhluk yang terbatas, hubungan antarpribadi yang sehat juga perlu mengerti batas.


Mengerti batas waktu memulai.

Mengerti kapan batasan permulaan, mengerti persis apa yang tidak akan ditoleransi, apa yang diinginkan dari suatu hubungan. Jangan mau menerima perlakuan yang buruk atau seseorang yang tidak memperlakukan seperti yang selayaknya.



Tapi yang terpenting, mengertilah betapa berharganya seseorang itu. Ia adalah orang yang cerdas, rupawan, dan pantas mendapatkan yang terbaik. Tak perlu melanjutkan hubungan ketika perhatian dan kepedulian salah tempat.


Mengerti batas waktu mengakhiri.

Semua hubungan antarpribadi mengalami dinamika, orang-orang berselisih, dan setiap orang dapat bertindak keliru. Jika seseorang meninggalkan hubungan setiap kali seseorang lainnya melakukan kesalahan, tidak akan ada hubungan. Yang perlu adalah jujur ​​pada diri sendiri dan berusaha melihat segala sesuatunya sejelas mungkin tanpa terhalang keinginan yang sulit terwujud.


Luangkan waktu sejenak untuk mempertimbangkan, sebetulnya apa yang diharapkan dari suatu hubungan dan apa batasannya, kemudian tetap berpegang pada ini apa pun yang terjadi. Berhenti untuk memberikan perhatian dan kepedulian kepada mereka yang tidak pantas mendapatkannya, tak perlu menipu diri sendiri juga menipu orang lain yang mungkin menanggapi perhatian dan kepedulian. Jika tidak, tak perlu terjebak dalam hubungan yang tidak layak! 

Minggu, 20 September 2020

,




Jika kamu mengetahui hargamu, orang lain tidak perlu menghargai dengan potongan harga (diskon).


Kamu pantas bersama dengan orang yang mengetahui dan menghormati nilai berhargamu.


Kamu berhak mendapat sahabat yang menghormati dan merayakan keberadaanmu.


Kamu berhak mendapatkan sahabat yang membuatmu merasa seakan kamu adalah satu-satunya sahabatnya.


Sahabat yang tidak akan membuatmu merasa tidak pasti dan tidak jelas. Ia yang merasa bahwa kamu mencukupi hari-harinya.


Kamu berhak mendapatkan sahabat yang tidak akan berpaling pada saat kamu membutuhkannya, tidak merasa "diambil butuhnya" tetapi malah akan menganggap kamu sangat bermanfaat.


Kamu berhak mendapatkan sahabat yang akan memperjuangkan hakmu untuk diakui dan dihargai.


Kamu berhak mendapatkan sahabat yang selalu dapat diandalkan, seseorang yang akan selalu berusaha meluangkan waktu untukmu, seseorang yang tidak akan pernah terlalu sibuk untuk berbagi.


Ia yang tidak akan pernah menyerah padamu, seseorang yang percaya padamu. Kamu pantas mendapatkan sahabat yang menghargaimu tanpa tawar dan tapi. 

Sabtu, 19 September 2020

,



Bergabung bersama orang lain dalam satu pertemuan, apalagi dengan teman sebaya, memang menyenangkan.


Akan tetapi, jika hal tersebut berlebihan, bisa membuat apa yang kamu miliki tersita.


Oleh karenanya, kamu perlu pikirkan matang-matang jika kamu berada dalam suatu lingkaran.


Sebaiknya, pikirkan apa sebetulnya tujuanmu hingga membuatmu betah berlama-lama di situ. Khawatirnya, justru lingkungan di situ berdampak negatif terhadap efektivitas tujuanmu.


Jika ada pertemuan di malam hari, upayakan dimulai tepat waktu sehingga dapat berakhir tidak sampai larut malam.


Jika tidak bisa membagi waktu dan menetapkan skala prioritas, bukan tidak mungkin urusan akademik seperti mengerjakan tugas, ikut terbengkalai.


Teman sekitarmu menentukan kinerjamu. Jika dirasa teman sekitarmu malah "beracun", sebaiknya beralihlah kepada teman yang dapat mendorong efektivitas tujuanmu.


Pertimbangan dengan pikiran matang sangat penting agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. It's Okay to Not Be There. Tidak masalah jika kamu tidak berada di sana.  

,


Saat kemunculan tokoh utama di episode 1, Saya langsung tertarik pada karakter Jung-hyuk yang tampak dingin, tampak sangat kaku dan formal. Jung-hyuk mungkin kelihatan konyol apabila disaksikan oleh orang pada umumnya. Akan tetapi anggapan itu akan berubah saat penonton menyaksikan sisi manusiawi yang lain muncul dalam adegan-adegan selanjutnya.


Kita akan mulai mengetahui intrik yang terdapat dalam alur cerita ketika Jung-hyuk menerima telepon bahwa perampok makam tewas dalam kecelakaan Gunung Suseok. Dia pergi ke SSD untuk berbicara dengan kolonel senior, dan dia menemukan Chul-kang (dari potongannya sudah bisa ditebak orang macam apa karakter ini) sudah ada di sana. Kolonel senior menawarkan Jung-hyuk beberapa kopi Emas Maxim selundupan yang kemudian ditolak Jung-hyuk. Dia mengatakan bahwa dia ingin menyelidiki kecelakaan yang menewaskan perampok makam itu, apakah itu disengaja dan jika demikian, siapa di baliknya. 


Jung-hyuk tiba di Pyongyang di pagi hari. Dia ditahan begitu dia turun dari kereta dan dibawa ke Biro Pengadilan, dan dia diberitahu bahwa alih-alih melakukan penyelidikan, dialah yang diselidiki. Dia dibawa ke sel dan duduk di kursi yang tampak seperti kursi listrik untuk eksekusi.


Direktur Biro Pengadilan menuduh Jung hyuk memfasilitasi kematian para perampok makam, yang meninggal setelah dia bersikeras agar mereka dikirim ke satu gedung. Ketika Jung-hyuk meminta bukti, dia diberitahu bahwa mereka dapat membuat kejahatan yang mereka inginkan. Tidak peduli, Jung hyuk mengatakan bahwa direktur akan bertanggung jawab atas apa yang baru saja dia katakan. Tiba-tiba seorang jenderal masuk dan menendang direktur, lalu menyuruh Jung-hyuk dikirim ke kantornya. Dia memberi tahu direktur bahwa Jung-hyuk adalah satu-satunya putra direktur Biro Politik Umum (yang mengontrol seluruh militer Korea Utara).


Lompat sedikit ke episode selanjutnya ketika Chul-kang memerintahkan Man-bok untuk mendengarkan Jung-hyuk tetapi berhati-hati karena dia pintar, dan Man bok memberi tahu Chul-kang tentang mikrofon arah baru yang dapat mendengar apapun yang terjadi di luar rumah Jung-hyuk. Chul-kang memerintahkan Man-bok untuk mencari tahu apa yang dia bisa tentang wanita yang mengaku dari Divisi 11, yakin bahwa sedikit informasi yang tepat dapat menjatuhkan seluruh keluarga Jung hyuk.




Man-bok terlihat gelisah tentang hal ini, tapi Chul-kang menjanjikan promosi dan putranya masuk ke perguruan tinggi yang bagus di depannya. Man-bok mengingat kembali tujuh tahun yang lalu, pada suatu malam mendengarkan percakapan antara saudara laki-laki Jung-hyuk, Moo-hyuk ketika dia dan tentara lain saat mereka pulang. Moo-hyuk telah berbicara tentang adik laki-lakinya, yang pandai bermain piano.


Selanjutnya, Man-bok melaporkan rencana Jung-hyuk dan Se-ri untuk menyelundupkannya ke luar negeri ke Chul-kang, termasuk fakta bahwa mereka harus segera pergi ke Pyongyang untuk memberinya paspor. Dia percaya itu mungkin rencana yang dibentuk oleh Divisi 11, tetapi Chul-kang tahu sekarang bahwa Se-ri tidak ada di Divisi 11.



Tiba-tiba, Chul-kang menyebutkan saudara laki-laki Jung-hyuk, Moo-hyuk, dan fakta bahwa jam tangan yang dia kenakan saat dia meninggal hilang. Dia mengatakan bahwa jika jam tangan itu ditemukan oleh Jung-hyuk, keduanya akan dalam masalah serius.


Ketika Jung-hyuk sampai ke pangkalan untuk pelatihan, dia memperhatikan bahwa para anak buahnya itu hilang, dan dia diberi tahu bahwa mereka semua dipanggil ke Departemen Keamanan Negara. Mulai merembet


Chul-kang menghadapi salah satu anak buah Kapten Ri yaitu Eun-dong yang sangat ketakutan dan mengatakan kepadanya bahwa dari mereka berempat, hanya orang pertama yang mengatakan kepadanya kebenaran tentang Jung-hyuk yang akan selamat. Tapi Eun-dong pintar - dia bilang sudah lama sejak mereka dibawa ke sini, jadi Chul-kang pasti sudah menanyai yang lain, tapi fakta bahwa dia masih bertanya berarti dia belum mendapatkan informasi apa-apa.



Dengan geram, Chul-kang meninju Eun-dong, tetapi Jung-hyuk menyerbu masuk dan menggeram pada Chul-kang untuk menanyakan secara langsung apakah ada sesuatu yang ingin dia ketahui. Chul-kang mengatakan dia tidak akan mengatakan yang sebenarnya, tetapi Jung-hyuk menjawab bahwa hanya orang yang terlibat yang dapat mengatakan yang sebenarnya, jadi inilah saatnya bagi Chul-kang untuk mengatakan yang sebenarnya tentang tindakannya sendiri.


Saat itu, kolonel senior menelepon Chul-kang untuk menanyakan mengapa dia menerima permintaan resmi dari Departemen Keamanan Negara, yang ingin berbicara dengannya dan Chul-kang tentang kecelakaan truk baru-baru ini. Jung-hyuk pergi bersama Eun-dong, dan ketika dia bertemu dengan Man-bok di aula, ada momen canggung sebelum mereka melanjutkan perjalanan. Dari adegan ini bisa terlihat bagaimana tanggungjawab seorang kapten kepada para anak buahnya, dan anak buah yang cerdas mempertahankan kepercayaan kaptennya. Akhirnya Jung-hyuk membawa pulang para anak buahnya yang babak belur dan memar untuk makan ramyun.


Saat Kapten Ri dirawat di rumah sakit karena tertembak, Chul-kang menerobos masuk ke kamar Jung-hyuk dan menghadapkannya dengan buku catatan senjata api. Dengan itu, dia memiliki bukti bahwa dia menembak anak buahnya untuk melindungi mata-mata Korea Selatan.


Jung-hyuk tidak menyangkal apa yang terjadi, tapi dia tidak melindungi mata-mata - dia melindungi "wanitanya" dari orang-orang yang mencoba untuk menyakitinya. Dia kemudian mengungkapkan bahwa dia tahu (dari Kolonel Go) bahwa Chul-kang bertemu dengan Kepala Tiga dari Departemen Front Bersatu untuk mendapatkan informasi dari Divisi 11, bertentangan dengan peraturan.


"Apakah tidak apa-apa jika saya meminta penyelidikan?" Jung-hyuk bertanya. Jika Jung-hyuk sangat ingin membuka mulut, Chul-kang menyarankan dia harus mengatakannya setelah mereka menangkapnya. Dia memanggil letnan pertamanya, tapi ada orang lain yang masuk ke ruangan itu - Direktur Ri, Biro Politik Umum, bapak Kapten Ri.


Chul-kang memberi hormat kepada atasannya, tidak bisa berdebat dengannya. Dia terpaksa pergi dengan anak buahnya dengan tangan kosong. Kembali di aula, ada beberapa gosip yang beredar mengikuti pintu masuk Direktur Ri. Para perawat dengan benar menebak bahwa Jung-hyuk adalah putra sutradara, yang sengaja didengar Se-ri.


Se-ri kemudian mendengar Dan dan suara ibunya datang ke arahnya dan lari dengan seorang gadis di kursi roda, berpura-pura menjadi pengurusnya. Gadis itu bertanya apa yang dia lakukan, jadi dia menggunakan fakta bahwa gadis itu menonton video musik BTS untuk membuatnya diam.


Sementara Direktur Ri mengeluarkan Chul-kang dari ruang perawatan Jung-hyuk, dia belum selesai dengannya. Dia menuntut untuk mengetahui mengapa dia dalam masalah, mengabaikan protes istrinya untuk meninggalkan putra mereka sendirian. Akhirnya, istrinya membentak dan mengatakan bahwa mereka harus bersyukur bahwa putra satu-satunya masih hidup setelah ditembak.


Anak-anak buah Kapten Ri mengunjungi kapten mereka di rumah sakit keesokan harinya, di mana Kwang-bum memberi Jung-hyuk telepon tetapnya. Panggilan dari Pyongyang datang dan Jung-hyuk segera menjawab, mengira itu Se-ri. Ini sebenarnya panggilan dari Seung-joon untuk melaporkan bahwa Se-ri aman. Dia menyarankan Jung-hyuk untuk tidak mencarinya dan langsung menutup telepon.


Episode selanjutnya, Se-ri berjalan kembali ke rumah Jung-hyuk membawa arloji yang dia perdagangkan dengan pegadaian ketika dia diculik dengan todongan senjata oleh beberapa pria tak dikenal. Mereka memaksanya untuk menelepon Jung-hyuk dan memberitahunya bahwa dia meninggalkan negara itu bersama Seung-joon, tetapi Jung-hyuk dapat merasakan ada sesuatu yang salah dan memintanya untuk mengatakan di mana dia berada. Se-ri berhasil terisak, "Ri Jung-hyuk, aku mencintaimu," lalu yang dia dengar hanyalah suara tembakan dan keheningan.


Akhirnya Se-ri dibawa ke bawah untuk bertemu dengan penculiknya. Tidak menyadari bahwa dia adalah ayah Jung-hyuk, dia menganggap dia adalah ayah Dan, jadi dia mencemooh tentang bagaimana dia menjalankan perusahaan besar di Korea Selatan sehingga dia tidak ingin menimbulkan masalah, dan mengatakan dia tidak memiliki motif tersembunyi untuk mendapatkan Jung-hyuk.


Direktur Ri bertanya apakah dia mengatakan ini semua adalah kesalahan Jung-hyuk. Se-ri dengan keras memprotes bahwa Jung-hyuk tidak melakukan kesalahan, dan bahkan memberi tahu Direktur Ri bagaimana dia mengancam Jung-hyuk untuk membantunya. Dia mengaku bahwa dia entah bagaimana mulai memiliki perasaan untuk Jung-hyuk, tetapi dia tidak membalas perasaannya, karena ibu Jung-hyuk mendengarkan dari luar ruangan.


Se-ri beralih ke sanjungan dan mengatakan bahwa Jung-hyuk belum bisa membawanya pulang karena dia hanya seorang kapten, dan dia memohon kepada kekuasaan dan pengaruh Direktur Ri untuk meminta bantuan. Dia tidak tertipu dan menyuruhnya diseret kembali ke loteng. Tapi hati Ibu tergerak, jadi dia secara pribadi membawakan Se-ri makanan berikutnya.


Meskipun dia masih tidak tahu siapa yang menahannya, Se-ri bertanya kepada Ibu apakah dia tahu bagaimana Jung-hyuk. Ibu tersentuh lagi oleh perawatan Se-ri untuk putranya, jadi dia membawanya ke bawah ke kamar tidur yang sebenarnya. Rak buku itu tampak akrab bagi Se-ri, dan dia tiba-tiba ingat bahwa dia melihat ibu Dan di rumah sakit dan wanita ini bukan dia. Se-ri menyimpulkan bahwa dia ada di kamar Jung-hyuk, di rumah orang tuanya.


Sementara itu, Direktur Ri membaca artikel tentang Se-ri dan menemukan bahwa dia mengatakan yang sebenarnya tentang menjadi seorang pengusaha wanita kaya. Asistennya memperingatkan bahwa mengirimnya kembali ke Korea Selatan akan menyebabkan gangguan besar, jadi dia menawarkan untuk "menjaganya" segera, tetapi Direktur Ri menghela nafas bahwa dia setidaknya harus tidur nyenyak.


Chul-kang pergi menemui Direktur Militer dari Komite Sentral lagi, orang yang paling diuntungkan jika Direktur Ri tidak lagi berkuasa. Dia menunjukkan kepada direktur militer beberapa foto kendaraan yang membawa Se-ri ke rumah Direktur Ri, dengan benar menebak bahwa dia pasti ada di sana sekarang.


Mereka pergi ke rumah Direktur Ri, membawa serta satu regu tentara. Direktur Ri tampaknya tidak terganggu, dan direktur militer sangat meminta maaf saat Chul-kang bersikeras untuk menggeledah rumah itu.


Lompat lagi ke episode 10, Direktur Ri bertindak atas informasi yang dikirimkan kepadanya dari Jung-hyuk, dan segera Chul-kang diadili atas kejahatannya. Dia dituntut karena mengatur enam pembunuhan yang disamarkan sebagai kecelakaan, serta penyuapan, penjualan artefak curian, dan perdagangan narkoba.


Chul-kang tetap diam dengan cemberut sampai Jung-hyuk bersaksi bahwa bukti datang dari almarhum saudaranya, yang merupakan salah satu korban Chul-kang, kemudian dia mengatakan bahwa Jung-hyuk mencoba memfitnah dia dan kecelakaan itu hanya kecelakaan. Jung-hyuk menunjukkan kepada hakim potongan material komposit keramik yang dia ambil dari Brigade Insinyur yang digunakan untuk membuat baju besi truk khusus, dan bersaksi bahwa bukti tersebut membuktikan keterlibatan Chul-kang dalam menyelundupkan material tersebut ke negara itu.


Langsung ke episode 16, Direktur Ri duduk bersama Direktur Militer untuk membahas rencananya untuk membawa Jung-hyuk dan anak buahnya pulang. Dia menyarankan untuk menukarnya dengan beberapa mata-mata Korea Selatan yang ditangkap yang dipenjara tanpa pengadilan. Direktur militer keberatan, jadi Direktur Ri mengungkapkan bahwa NIS mengiriminya dokumen yang membuktikan bahwa direktur militer melakukan kontak rutin dengan Chul-kang dan mungkin telah memerintahkannya untuk membunuh Jung-hyuk.


Direktur militer mengetahui bahwa Direktur Ri menawarkan keheningan mengenai hubungannya dengan Chul-kang sebagai ganti direktur militer tutup mulut tentang fakta bahwa Jung-hyuk mengkhianati negaranya karena seorang wanita. Dia setuju, tapi dia menuntut kendali penuh atas pertukaran tentara.


Direktur Ri mendapat telepon bahwa Jung-hyuk dan anak buahnya kembali ke Korea Utara dan pergi untuk menjemput Jung-hyuk dan membawanya pulang. Tetapi Direktur Militer menyuruh orang-orang itu diusir ke tempat terpencil di tengah hutan dan dikeluarkan dari kendaraan, masih diborgol. Jung-hyuk menuntut untuk mengetahui mengapa mereka tidak dibawa ke Pyongyang.


Direktur militer mengatakan bahwa mereka akan diadili dan dieksekusi, jadi lebih baik mereka mati di sini dan menyelamatkan keluarga mereka dari masalah. Jung-hyuk mengatakan bahwa dia satu-satunya yang melakukan kejahatan, karena teman-temannya berada di Korea Selatan untuk Pertandingan Militer Dunia. Direktur militer terkekeh bahwa teman-temannya akan menemaninya dalam kematian, lalu anak buahnya mengangkat senjata mereka.


Beberapa saat berikutnya terjadi dengan sangat cepat - Man-bok melemparkan dirinya ke depan Jung-hyuk, tetapi Jung-hyuk meraihnya dan berputar-putar saat anak buah Kapten Ri mengelilingi mereka dengan protektif. Ada tembakan, tapi tentara yang terkena. Lebih banyak laki-laki lari keluar hutan, diikuti oleh Direktur Ri, yang dengan tenang mendekati direktur militer. Sampai adegan ini terlihat bagaimana tanggapnya seorang Bapak dalam mengantisipasi hal buruk yang kemungkinan menimpa putranya beserta anak buahnya.


Direktur Ri dengan lembut menegur direktur militer karena mencoba melakukan eksekusi tanpa pengadilan yang adil, karena berisiko membunuh korban yang tidak bersalah. Dia melanjutkan, “Tapi berbeda ketika saya menyaksikan seseorang mencoba membunuh anak saya. Anda tidak bersalah. " Direktur militer mulai mengeluarkan pistolnya, tetapi Direktur Ri siap dengan senjatanya sendiri, dan dia menembak direktur militer itu dari jarak dekat.


Direktur Ri dan Jung-hyuk pulang, dan Jung-hyuk meminta maaf karena membuat ayahnya khawatir. Direktur Ri mengatakan dia hanya senang Jung-hyuk kembali hidup, dan dia bertanya tentang Se-ri, tetapi mendengar namanya membuat Jung-hyuk menangis. Ibu Jung-hyuk membuat keributan besar tentang dia, dan meskipun jelas dia senang berada di rumah, masih ada kesedihan yang mendalam pada ekspresi Jung-hyuk.


Alur ceritanya memperlihatkan bagaimana intrik memiliki porsi yang cukup banyak dalam cerita. Diperlihatkan juga bagaimana seorang yang terlibat dalam berbagai tindakan kriminal selalu mencoba untuk menutupinya dan mengamankan posisinya. Selain itu, terlihat juga bagaimana kecerdasan seorang bapak yang menjadi Direktur Biro Politik Umum dalam membaca situasi dan memprediksi kemungkinan yang akan terjadi, utamanya terhadap putranya. Putranya sebagai seorang Kapten juga sangat bertanggungjawab dan peduli terhadap anak buahnya, apalagi memiliki hak istimewa sebagai putra seorang yang punya pengaruh besar, memanfaatkannya sebagai pendukung dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pemimpin tim.



 

Senin, 14 September 2020

,

Berkeinginan membeli baju baru? Berkeinginan membeli perabotan baru? Atau berkeinginan memborong buku?


Berhasrat memakan sepuluh jenis makanan dalam satu kesempatan? Berhasrat mengendarai mobil mewah? Atau berhasrat menginap di hotel bintang lima?


Kalau iya, tunggu dulu. Jangan-jangan itu semua tidak mendesak dan tidak penting. Jangan-jangan semuanya hanya keinginan dan hasrat. Keinginan dapat diartikan sebagai perasaan bahwa ada sesuatu yang kurang, sehingga muncul perasaan ingin memiliki. Sedangkan hasrat adalah perasaan lebih dari keinginan yang bertujuan untuk memenuhi celah keinginan yang belum terpenuhi.


Salah satu prinsip yang dapat membantu untuk menunda keinginan dan hasrat adalah prinsip "Mendesak dan Penting" yang dikenalkan dari seorang mantan Presiden AS, Dwight D. Eisenhower. Prinsip ini menarik karena "siapa" yang mempopulerkan dan "apa" isinya.


Eisenhower adalah satu-satunya presiden yang pernah berdinas dalam Perang Dunia I maupun Perang Dunia II. Selain itu, terdapat sebuah doktrin yang dikenal dengan sebutan "Doktrin Eisenhower" yang menyebutkan ancaman Soviet dalam doktrinnya dengan mengizinkan komitmen militer Amerika Serikat "untuk mengamankan dan melindungi integritas wilayah dan kemerdekaan politik negara-negara yang meminta bantuan untuk melawan agresi bersenjata dari negara manapun yang dikendalikan komunisme internasional." Terlebih, Eisenhower berkomitmen untuk terus bertempur melawan komunis.


Lalu, apa itu prinsip Mendesak dan Penting Eisenhower? Dalam pidato tahun 1954, mantan Presiden AS Dwight D. Eisenhower, yang mengutip Dr. J. Roscoe Miller, presiden Universitas Northwestern, berkata: "Saya memiliki dua jenis masalah yang mendesak dan penting. Yang mendesak tidak penting, dan yang penting tidak pernah mendesak. "Prinsip Eisenhower" dikatakan sebagai cara dia mengatur beban kerja dan prioritasnya. Dia menyadari bahwa manajemen waktu yang hebat berarti menjadi efektif sekaligus efisien. Dengan kata lain, kita harus menghabiskan waktu kita untuk hal-hal yang penting, bukan hanya yang mendesak.


Anggaplah semua kegiatan dan pekerjaan yang dirasa harus dilakukan. Masukkan semua kegiatan dan pekerjaan yang menyita waktu, betapapun tidak pentingnya. Berikutnya, pikirkan setiap aktivitas dan pekerjaan, masukkan ke dalam salah satu dari empat kategori:



1. Penting dan Mendesak


2. Penting tapi tidak Mendesak


3. Tidak Penting tapi Mendesak


4. Tidak Penting dan tidak Mendesak


1. Penting dan Mendesak 

Ada dua jenis aktivitas mendesak dan penting: aktivitas yang tidak dapat Anda duga sebelumnya, dan aktivitas lainnya yang Anda tinggalkan hingga menit terakhir. Anda dapat menghilangkan aktivitas di menit-menit terakhir dengan merencanakan sebelumnya dan menghindari penundaan. Namun, Anda tidak selalu dapat memprediksi atau menghindari beberapa masalah dan krisis. Di sini, pendekatan terbaik adalah menyisihkan waktu dalam jadwal Anda untuk menangani masalah yang tidak terduga dan tidak direncanakan.


2. Penting, tapi tidak mendesak 

Ini adalah kegiatan yang membantu Anda mencapai tujuan pribadi dan tim Anda, dan menyelesaikan pekerjaan penting. Pastikan Anda memiliki banyak waktu untuk melakukan hal-hal tersebut dengan benar, agar tidak menjadi mendesak. Ingatlah juga untuk menyisakan cukup waktu dalam jadwal Anda untuk menangani masalah yang tidak terduga. Ini akan memaksimalkan peluang Anda untuk tetap pada jalurnya, dan membantu Anda menghindari stres karena pekerjaan menjadi lebih mendesak dari yang diperlukan.


3. Tidak penting, tapi mendesak

Tugas yang mendesak tetapi tidak penting adalah hal-hal yang menghalangi Anda mencapai tujuan. Tanyakan pada diri Anda apakah Anda dapat menjadwalkan ulang atau mendelegasikan kepada mereka sumber umum dari aktivitas tersebut adalah orang lain. Kadang-kadang tepat untuk mengatakan "tidak" kepada orang lain dengan sopan, atau mendorong mereka untuk memecahkan masalah sendiri.


 4. Tidak Penting dan Tidak Mendesak

Kegiatan ini hanyalah gangguan - hindari jika memungkinkan. Anda dapat mengabaikan atau membatalkan banyak di antaranya. Namun, beberapa mungkin merupakan aktivitas yang lain orang ingin Anda melakukannya meskipun mereka tidak berkontribusi pada hasil yang Anda inginkan. Sekali lagi, katakan "tidak" dengan sopan, jika Anda bisa, dan jelaskan mengapa Anda tidak bisa melakukannya.


Jadi, pikirkan kembali jika berkeinginan membeli sesuatu atau berhasrat untuk melakukan sesuatu. Dengan prinsip di atas, setidaknya Anda bisa terbantu untuk mengelompokkan mana yang menjadi fokus prioritas anda, mana yang kurang penting dan bisa ditunda. 

Sabtu, 05 September 2020

,

Oleh: Muhammad Qurrotul Aynan


"Sampean pernah ikut lomba selama mahasiswa sampe tingkat nasional cak?"


"Kalo ikut lombanya pernah tapi ndak tingkat nasional. Kenapa tanya gitu?"


"Yakan sampean beda, sampean kan pinter. Harusnya sering ikut lomba. Bisa dapat banyak sertifikat sama piala. Bisa mengharumkan nama kampus juga kan."


"Saya dulu juga sempat mikir kayak gitu. Tapi seiring berjalannya waktu, saya berproses, saya lalu mikir bahwa prestasi ndak selalu ukurannya begitu."


"Dulu ikut lomba apa juara berapa?"


"Lomba nulis. Tapi cuma bisa juara 3. Ini lagi.  Saya juga waktu itu sempat kurang puas kok ndak sampe juara 1. Ya, kurangnya di teknis penulisannya. Nyusun kalimat efektif, memperhatikan tanda baca, ejaan, dan pemilihan kata atau diksi."


"Balik lagi ke yang tadi. Terus, menurut sampean, prestasi apa yang sudah sampean capai sampai hari ini selama kuliah?"


"Saya pikir, ada 4. Yang tampak lho ya. Kalau ndak tampak kan banyak. Yang tampak itu: pencapaian reputasi ilmu; duduk dan dipercaya; ndak sering pinjam uang kayak dulu, malah sekarang ada lebihnya; dan ya, kalau bisa dibilang, ada kader sudah yang siap gantikan posisi dan fungsi saya."


"Hmm. Iya sih Cak. Tiap orang punya pencapaiannya masing-masing. "

Selasa, 01 September 2020

,

 

Oleh: Muhammad Qurrotul Aynan


Pertama-tama, saya berterima kasih kepada Pak Fathor Rahman JM karena tulisannya yang berjudul "UU Pesantren, Rekognisi atau Kooptasi?" telah mengilhami saya untuk menulis catatan ini. Bila catatan ini kurang bisa dipahami, harap maklum karena pada dasarnya catatan ini diutamakan untuk catatan pribadi saja. Catatan ini merupakan perwakilan dari isi atau makna renungan pribadi saya yang bisa saja orang lain terhubung (related, connected) atau tidak. 


Mengamati situasi kekinian di lingkungan sekitar, saya dan beberapa sahabat saya seperti dihadapkan pada kondisi yang serba dilematis, terutama dalam aktivisme keseharian. Utamanya persoalan bagaimana intelektualisme dapat mewarnai aktivisme secara signifikan. Di satu sisi, ada sedikit kegelisahan dari sahabat saya dimana menurutnya ada semacam kemerosotan intelektualisme yang disebabkan oleh faktor determinan berupa pergeseran gaya hidup. Di sisi lain, kemerosotan tersebut membuat beberapa orang tergerak untuk menghidupkan kembali kegiatan bernuansa intelektual, seperti gerakan atau kegiatan literasi yang berskala kecil dan tertutup.


Menghidupkan kembali kegiatan bernuansa intelektual seperti kegiatan literasi dirasa penting bagi beberapa sahabat saya sebab tampaknya, aktivisme seperti jasad yang kehilangan ruh intelektualisme. Kegiatan tersebut berskala kecil dan tertutup dengan alasan bahwa menurut sahabat saya, kegiatan seperti itu yang terlaksana sebelumnya cenderung terkooptasi oleh kepentingan jangka pendek sehingga membuat sebagian orang merasa jenuh dan gentar apabila kegiatan seperti itu dilanjutkan.


Karenanya, sebagaimana UU Pesantren, jika dibaca dengan baik sangka, maka kegiatan bernuansa intelektual seperti itu perlu adanya rekognisi yakni upaya mengenal kembali, mengakui, dan memberikan apresiasi. Rekognisi ini tidak bisa hanya setengah-setengah saja, tetapi perlu ada upaya serius dari berbagai pihak. Pertama, rekognisi ini menjadikan kegiatan dan orang-orang yang terlibat di dalamnya mendapat pengenalan yang setara dengan kegiatan yang lain. Kedua, kegiatan seperti ini dan orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak dipandang sebelah mata sehingga terbentuk kerukunan, ketulusan, dan keberlanjutan.


Jika tidak, maka rasa jenuh sahabat saya soal kooptasi kepentingan jangka pendek akan terjadi lagi. Maka perlu ruh intelektualisme dihidupkan kembali dalam jasad aktivisme. Hal ini penting karena berdasarkan pembacaan kami, ada indikasi, entah disengaja atau tidak, entah secara sadar atau tidak, bahwa ada gerakan yang mengambil alih sedikit demi sedikit, yang dapat merusak atau merugikan intelektualisme dengan menjadikannya tidak otonom, tidak dapat menentukan arah pilihannya sendiri. Tidak boleh ada gerakan yang justru membatasi dengan rutinitas yang tidak terlalu urgen. 


Kalau gerakan seperti itu dibiarkan, bukan tidak mungkin akan ada krisis intelektualisme dan nantinya tidak ditemukan figur intelektual yang tersisa. Jadi, sudah waktunya taat dan setia terhadap latihan daya pikir dan pencarian sesuatu berdasarkan ilmu, berdasarkan kehati-hatian, bukan dengan tergesa-gesa. Aktivis tidak sekedar menjadi konsumen informasi dan gagasan-gagasan dari orang lain dan menelan begitu saja tapi mampu mengunyah dan mencerna berbagai informasi itu dan membentuk pemikirannya sendiri!

Minggu, 30 Agustus 2020

,

 

Oleh: 

Muhammad Qurrotul Aynan


Suatu organisasi pengkaderan dapat bertahan di tengah arus perubahan disebabkan oleh sejauh mana organisasi tersebut giat melakukan pengkaderan. Tentunya, pengkaderan baik secara jumlah maupun mutu. Untuk menjaga mutu tersebut, diperlukan kegiatan pengkaderan yang paling tidak bersifat formal. 


Tidak cukup sampai disitu, kegiatan pengkaderan yang fokus pada intelektualisasi sudah ada sebelumnya. Akan tetapi, tidak ditemui dokumen yang menjelaskan bagaimana dinamikanya terjadi, bagaimana timbul dan tenggelamnya.


Proses intelektualisasi dalam hemat saya dapat terjadi dalam jumlah yang banyak entah berpusat pada "kaum elit" atau "arus bawah".  Akan tetapi, sepengamatan saya, tingkat kebertahanan proses itu tinggi ketika berpusat pada kaum elitnya. Baru kemudian diikuti oleh yang di bawah. 


Saat intelektualisasi berpusat pada kaum elit, seorang atau beberapa pimpinan umum akan menjadikan lingkaran intinya, bukan hanya dalam tata kelola melainkan juga pusat keilmuan sehingga terbentuk jejaring yang polanya tidak sejajar, kurang terikat, tetapi terjadi pertukaran khusus di antara keduanya dimana pimpinan umum menggunakan pengaruhnya untuk menyediakan perlindungan.


Hubungan atau jejaring ini tidak mengutamakan kulit saja atau isi saja, namun kulit dan isinya sekaligus. Yang utama adalah pimpinan umum berkomitmen untuk menjamin lancarnya proses intelektualisasi meski ia atau mereka masih menjalankan praktik sebatas kulit saja, masih belum terlalu menyentuh isi.


Elit intelektual biasanya mendahulukan isi dulu meski kulit masih perlu menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Proses ini dalam perjalanannya membawa hasil yang padat dan bisa tampak bertahan. Penampakan ini nantinya menjadi semacam tren yang cocok dengan kekinian, tidak terlalu berorientasi masa lalu, juga tidak terlalu berorientasi masa depan.


Jejaring yang telah terbentuk tadi dapat mulai menemukan momentumnya dalam jangka waktu beberapa tahun. Jejaring ini selanjutnya melahirkan penerus yang kosmopolit, berwawasan dan pengetahuan luas, bukan wawasan dan pengetahuan sempit dan juga reaksioner. Selain itu, hubungan antarpribadi dari jejaring ini seperti saudara yang lebih tua dan saudara yang lebih muda. Sehingga terbentuk sanad perjuangan yang apabila dilacak terus tersambung melalui persaudaraan intelektual.


Kerukunan atau pulihnya hubungan antara kulit dan isi, antara struktur dan kultur, menjadi bagian yang erat. Menghindari praktik yang hanya membatasi kulit dan struktur, juga meninggalkan praktik yang hanya menekankan isi dan kultur. Praktik pertama akan menimbulkan sifat kaku dan kasar, sedangkan praktik kedua hanya bisa dipraktikkan oleh segelintir elit, padahal tingkat intelektualitas orang beragam.


Jadi, kerukunan atau pulihnya hubungan ini memastikan isi dan kultur tidak berjalan liar, juga memastikan kulit dan struktur tetap terlibat dan ambil bagian dalam aktivisme keseharian. Praktik ini mampu menyesuaikan dengan tantangan perubahan dengan segala dampaknya.


Renungan di acara PKD 2020

Silo,

Jumat, 21 Agustus 2020

,

 M. Q. Aynan

Peralihan  tidak hanya  memunculkan perubahan tetapi juga mengikis kearifan lokal (local wisdom). Persoalan peralihan ini dapat mengaburkan batas dan membingungkan identitas lokal. Indentitas lokal menjawab pertanyaan tentang apa yang membedakan sebuah lokal dengan lokal lainnya? Proses peralihan ini memberikan dampak kepada identitas lokal ini. 


Diskusi persoalan identitas lokal ini menghasilkan kesimpulan berupa asumsi bahwa identitas lokal dapat tergerus dalam beberapa tahun. Asumsi itu kemudian memunculkan pertanyaan apakah identitas lokal dapat bertahan? jika iya, seberapa lama identitas lokal itu dapat bertahan Persoalannya, apakah identitas lokal tersebut benar-benar ada, benar-benar hidup, atau hanya ada dalam bayangan?


Kenyataan budaya sekitar akhir-akhir ini mengindikasikan adanya retakan budaya yang menantang ketersambungan dan keterhubungan identitas. Retakan budaya ini menyebabkan dilema yang seakan tanpa akhir antara tetap tersambung dan terhubung dengan masa lalu, dengan generasi sebelumnya, atau memulai budaya yang baru, yang berbeda sama sekali dengan  generasi sebelumnya.


Sisi beda dari kenyataan budaya di lapangan antara dua masa, dua generasi, paling tidak dalam kuasa dan pengaruh. Kuasa berarti tentang menegakkan aturan tertulis yang berkaitan dengan ketertiban, ganjaran, dan hukuman. Pengaruh lebih identik dengan aturan tidak tertulis seperti etika, norma, dan moral.


Peralihan dapat memisahkan antara kuasa dan pengaruh lama dengan kuasa dan pengaruh baru melalui proses yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Tabir pemisahnya bersifat abstrak seperti pola pikir, konsep, pengetahuan. Ada disparitas sehingga menyebabkan celah komunikasi, pemberian dan penerimaan informasi.


Keterpisahan, perbedaan, dan celah tersebut telah menciptakan pemahaman berbeda tentang kenyataan budaya di lapangan dimana kuasa dan pengaruh lama sudah kehilangan fungsinya. Informasi berubah menjadi misinformasi, komunikasi berubah menjadi miskomunikasi, terbangun oleh dominasi 'tiruan pengganti' yang dibuat-buat.


Pertanyaannya, kuasa dan pengaruh seperti apa, dan siapa yang memfungsikan kuasa dan pengaruh itu? Di tengah penyelundupan, kontaminasi, dan kebocoran budaya, kuasa dan otoritas lama tidak memadai untuk menegakkan aturan baik tertulis maupun tidak tertulis. Situasi ini mirip dengan dua kesebelasan yang bertanding memperebutkan bola di suatu stadion. Oleh karena itu, alternatif jawaban dari pertanyaan di atas adalah kuasa dan otoritas yang mirip seperti peluit dan kartu. Tentu, yang bisa memfungsikan peluit dan kartu adalah figur seorang wasit. Dengan demikian, fungsi figur seorang wasit mengacu kepada eksistensi kuasa dan otoritas tertinggi non-kesebelasan  di dalam suatu arena permainan.


Fungsi ini penting karena permainan tidak lagi dikendalikan oleh struktur yang memiliki hierarki dan peraturan yang berpedoman kepada keputusan kongres, tetap dikendalikan oleh komunitas tertentu yang bersifat cair, yang bukan saling bertukar (pertukaran) melainkan saling berkontestasi (pertarungan).

Rabu, 19 Agustus 2020

,



M. Q. Aynan



Saya mencoba ambil kesempatan dengan mendaftarkan diri dalam Ujian Masuk Pascasarjana yang diselenggarakan secara mandiri oleh IAIN Jember. Ujian masuk ini diselenggarakan tiap tahun. Secara umum, mekanismenya sama, namun tentunya tahun ini sedikit berbeda karena dampak pandemi.


Ada beberapa tahapan seleksi pendaftaran masuk Pascasarjana, yaitu persyaratan administrasi dan ujian tulis serta wawancara.


- ADMINISTRASI


Untuk mendaftar, calon mahasiswa diminta melengkapi persyaratan dan mengunggah berkas ke laman kampus. Adapun berkas yang diminta kemarin adalah scan ijazah dan transkrip nilai atau Surat Keterangan Lulus asli/legalisir, proposal tesis, surat rekomendasi akademik, dll. Meskipun administrasi ini 'memudahkan', sebaiknya tidak dianggap remeh. 


- TES MASUK 


Kalau sudah dinyatakan memenuhi persyaratan administrasi, maka peserta selanjutnya mengikuti seleksi masuk dalam bentuk ujian tertulis TPA, Bahasa Inggris dan Arab, Psikotes dan Wawancara. Akan tetapi, kemudian berubah menjadi tes CBT dan wawancara. Sehari sebelum pelaksanaan, berubah lagi menjadi wawancara saja. Persoalan CBT, karena keterbatasan disebabkan situasi sekarang yang tidak kondusif.


Seperti dikutip dari laman www.iain-jember.ac.id (15/08/20), Menurut Wakil Direktur Pascasarjana IAIN Jember Dr Aminullah El Hadi, tes daring ini merupakan rangkaian dari tahapan seleksi masuk calon mahasiswa baru Pascasarjana IAIN Jember. Dimana pada tahap awal yang sudah berjalan, mahasiswa mengikuti tes dengan sistem computer based test (CBT). “Ada tiga bidang yang diujikan, masing-masing Bahasa (Arab dan Ingris), pengetahuan keislaman dan tes potensi akademik (TPA),” jelasnya.


Selanjutnya pada tahap kedua, calon maba mengikuti tes wawancara yang mengulas background akademik mahasiswa, peminatannya dan proposal tesis atau disertasi yang diajukan. "Tahun sebelum-sebelumnya desainnya gitu. Karena masih pandemi, maka ujiannya disederhanakan tanpa tatap muka dan berlangsung daring seperti saat ini," papar Aminullah.


Sebelumnya, papar Aminullah, tes daring itu direncanakan menggunakan aplikasi telekonferensi. Namun Pascasarjana memberikan keluwesan dengan penggunaan aplikasi video call by WhatsApp. Jadi, peserta cukup menunjukkan bukti kartu ujian, lalu menjawab sejumlah pertanyaan dari tim penguji melalui video call. 


- WAWANCARA


Secara umum, pertanyaan saat wawancara kurang lebih di antaranya:


- Sistem pendidikan di Pascasarjana,

- Mengapa mengambil prodi ini,

- Wawasan Keislaman,

- Wawasan Keindonesiaan,

- Proposal Tesis,

- Kemampuan bahasa Asing.


Sistem pendidikan misalnya kehadiran di kelas, peran dosen, dan tugas kuliahnya. 


Alasan memilih prodi bebas, namun jika kurang linier dengan prodi sebelumnya akan ada pertanyaan lanjutan.


Wawasan Keislaman berkaitan dengan kedatangan Islam ke tanah air, dinasti-dinasti, aliran-aliran, sekitar itu.


Wawancara Kebangsaan berkaitan dengan sejarah singkat dan pendapat tentang persoalan kekinian misalnya antara wacana penegakan khilafah dan negara pancasila.


Proposal Tesis itu pertanyaannya mulai alasan memilih judul, fokus dan tujuan, metodologi, dan landasan teorinya.


Kemampuan bahasa asing yakni Inggris dan Arab itu tentang kemampuan mendengar, membaca, berbicara, dan menulis. Apakah mampu secara pasif atau aktif.


Itu pengalaman saya mendaftar ujian masuk Pascasarjana IAIN Jember. Pengumumannya, saya lulus. Saya berharap semoga diberikan yang terbaik bagi diri sendiri, keluarga, dan orang-orang yang membantu saya. Semoga bermanfaat dan tetap semangat untuk melanjutkan studi!

Senin, 17 Agustus 2020

,


M. Q. Aynan


Secara bahasa, evolusi berarti “perubahan”. Berasal dari kata evolve yang atinya “berkembang secara perlahan-lahan”. Karena perkembangannya perlahan, maka perubahannya tidak dapat diamati dalam 1 atau 2 tahun saja, tetapi 3, 4 tahun, dan seterusnya. Baru ketika pengamatan dilakukan dalam waktu yang cukup lama, perubahan tersebut bisa terlihat.


Jika dunia pengkaderan diamati dengan segala peralihannya, pola pikir individu dan budaya kelompok dalam pengkaderan mengalami evolusi. Evolusi tersebut dapat menyebabkan proses seleksi yang pada akhirnya menghasilkan para kader yang benar-benar terpilih.


Jika ada suatu proposisi yang dapat diajukan, maka proposisi tersebut kurang lebih berbunyi, yang bisa bertahan dan terpilih dalam gelombang peralihan bukan mereka yang perkasa atau punya kuasa, tapi mereka yang mampu beradaptasi. Orang-orang yang secara jumlah kecil yang tidak memiliki kuasa dan membawa massa justru yang paling mudah beradaptasi karena mereka yang tidak punya pertaruhan kuasa.


Pernyataan tersebut saya pikir masih perlu banyak dikaji ulang. Akan tetapi, paling tidak kita dapat memiliki sedikit gambaran mengenai perubahan spesies mahasiswa dan kader serta keterkaitan genealogis antara satu individu dengan individu lain, antara satu kelompok dengan kelompok lain.


Secara individu, evolusi dialami spesies mahasiswa dan kader yang hidup dan aktif sekarang berasal dari spesies yang hidup di masa sebelumnya. Selanjutnya, evolusi terjadi melalui seleksi peralihan. Di masa sebelumnya, terdapat banyak kader yang menempuh jalan intelektual. Lama-kelamaan para jumlah intelektual itu tetap namun jumlah wadah aktualisasi semakin sedikit. Situasi tersebut membuat para kader intelektual ini bersaing untuk mendapatkan wadah aktualisasi. Individu yang beradaptasi pada peralihan dengan baik akan mewariskan genealogi unggul kepada generasi selanjutnya. Lebih jauh lagi, sifat unggul ini lama-kelamaan dapat mengubah bentuk dan gaya asli dari spesies sebelumnya, sehingga berevolusi menjadi spesies yang sama sekali berbeda secara mengejutkan.


Secara kelompok, lingkungan mempunyai pengaruh pada ciri dan sifat yang dihasilkan melalui adaptasi lingkungan baru yang mengalami peralihan. Ciri dan sifat yang terbentuk akan diwariskan kepada generasi penerus, secara genealogis. Individu yang sering bergerak akan berkembang dan membesar secara jumlah dan mutu, sementara individu yang jarang bergerak dan aktif akan mengalami penyusutan secara jumlah, atau bahkan menghilang, dan mutunya sulit terjamin. 


Ketika suatu kelompok mengalami kegelisahan, mereka cenderung akan mendatangi generasi di masa sebelumnya, seakan-akan sedang terjadi penemuan 'fosil' yang memperlihatkan bahwa spesies mahasiswa dan kader zaman dulu berbeda dengan masa sekarang. Ini mungkin dapat menjelaskan mengapa spesies mahasiswa dan kader yang memiliki adaptasi yang baik terhadap lingkungan masih bertahan dan masih belum punah.


Dengan gambaran semacam itu, maka yang mendesak untuk ditindaklanjuti adalah adaptasi organik secara individu dalam diri sendiri dan usaha adaptasi organik terhadap peralihan lingkungan.

Sabtu, 15 Agustus 2020

,

 "Aku ingin beralih, Cak!" Kata-kata itu kerap terngiang di telingaku


"Di sini sekarang tampak kelam dan gelap. Mendung dan terdengar suara sendu. Prosesku buntu. Waktuku terbuang. Aktivitasku hanya rutinitas." lanjutnya.


Aku menanggapi, "Masih bisa diselamatkan. Masih ada harapan. Aku ingin menyambut kamu besok di sana. Apa kamu lupa bahwa kita pernah berhasil di sana dulu? Di sana langit biru. Matahari hangat dan terang. Bebas dari polusi kesia-siaan. Kamu siap saya ajak kesana?"

Rabu, 12 Agustus 2020

,

 



Setidaknya ada 3 perkumpulan mahasiswa di kampus kami yaitu ormek, UKM-UKK dan Komunitas kecuali eksekutif dan legislatif mahsiswa. Eksekutif dan legislatif mahasiswa dikecuaikan karena mirip dengan lembaga pemerintahan. Dalam 4 tahun pengamatan saya, saya menemukan bahwa ketiganya memiliki kelebihan dan kekurangan, antara lain :


1. Ormek :


Ormek itu punya kelebihan yaitu besar, besar kebutuhan dana, besar jumlah anggota, kader dan alumninya, besar lingkup distribusi personelnya. Akan tetapi,  kebesarannya itulah yang menjadi kelemahannya yaitu lambat kemajuannya.


Itulah yang membuat pimpinan umum perlu sering turun tangan memainkan peran sebagai 'hampir pimpinan segala sesuatu' untuk menambah daya proses seluruh personel.



2. UKM-UKK:


Dibandingkan Ormek, UKM-UKK lebih kecil namun masih terbilang cukup besar. Akan tetapi kemajuannya masih kurang cepat daripada yang diharapkan karena banyak pertimbangan seperti keterbatasan dana dan terbentur prosedur administrasi.


Karenanya, komunitas yang mau menjadikan dirinya menjadi UKM-UKK hendaknya memperhatikan matang-matang kalau mau menjadi UKM-UKK.



3. Komunitas:


Komunitas secara jumlah bisa lebih kecil dari kedua sebelumnya dan geraknya bisa lebih cepat dikarenakan tidak memiliki pedoman organisasi mengikat dan ketat yang mengatur urusan rumah tangganya.


Karenanya, siapapun bisa mendirikan komunitas. Akan tetapi, justru keterbukaan kesempatan itu membuat sebuah komunitas yang baru saja berdiri sudah terlambat karena lahir komunitas yang lebih baru. Ketika muncul komunitas yang lebih baru, komunitas yang lama bisa mati, tidak ada penerusnya.

Minggu, 02 Agustus 2020

,
Cerita karangan
Bukan dalam mimpi, bukan dalam terjaga
Oleh: M. Q. Aynan

Sebut saja ia Dewi Asmaragita. Ia memiliki tanda-tanda sebagai perempuan mulia dan utama, meski tanda-tanda itu lebih dapat terbaca olehku, daripada olehnya sendiri. Ketakterbacaan itu membuatnya menjadi perempuan yang terombang-ambing oleh laki-laki. Laki-laki sebagai agen, walau aktornya juga ada yang perempuan. Dia terkesan tak banyak berperan ketika situasi sekitarnya bergejolak.

Ia terkesan perempuan yang terlalu pasrah. Entah karena memang karena ia Dewi atau karena para agen menyuruh para aktor untuk tetap menaruh bunga di pelupuk matanya. Kalau kemungkinan yang kedua, maklumlah. Seandainya aku ceritakan pergolakan situasinya, mungkin ia tak akan percaya. Bagaimana seseorang akan percaya jika dikabari bahwa ada kebakaran sedang di sekitarnya alat pendingin dimana-mana?

Dewi Asmaragita adalah pribadi yang sulit dimengerti. Ia pernah dianggap tak pernah ada di dalam kehidupan nyata, hanya khayanku semata, kata mereka. Anggapan seperti itu boleh jadi karena ia memiliki kedudukan istimewa, utamanya di mataku. Tak perlu diragukan lagi, ia adalah perempuan pertama, putri pertama dari seorang Ulama, putri yang paling diunggulkan dari putri lainnya. Ia menjadi putri yang perilakunya tercerahkan setelah mempelajari Tarbiyah, Ta'lim, dan Ta'dib.

Keberhasilannya mempelajari ketiganya ditandai dengan tanda istimewa yakni wajah yang bersinar, khususnya di bagian matanya. Sorot matanya seperti sinar matahari di pagi hari sebelum pukul 10, hangat dan mengandung vitamin.

Sinar itu hanya dimiliki orang tertentu yang mendapat rahmat, dan hanya dapat dipandang oleh orang tertentu pula . Tak sembarang orang bisa menangkap pancaran sinar itu. Ketika seseorang bisa menangkapnya sekali, ia tak akan mau kehilangan selamanya. Menjadi kerabat Dewi Asmaragita merupakan simbol bagi kewalian, kurasa.

Terlepas dari kondisi lahirnya yang menjadi korban ambisi laki-laki dalam berebut kuasa, kondisi batinnya menjadi sarana, menjadi perantara, bagi lewatnya belas kasih. Adapun kecantikan Dewi Asmaragita, jika dipandang sebentar akan terlihat biasa. Baru apabila dipandang lama-kelamaan, tampaklah ia sebagai perempuan yang luar biasa cantik. Tak bamyak yang menyamai kecantikannya. Sikapnya luwes, tanggap, dan lemah lembut.

Bersambung kapan-kapan.

Jumat, 31 Juli 2020

,
Oleh: M. Q. Aynan
Renungan Singkat
10 Dzulhijjah 1441 H pukul 03.00


QURBAN, sebagai ritual ibadah, memiliki kandungan relasi vertikal antara HAMBA dengan TUHANnya. Tidak hanya itu, QURBAN juga mengandung makna lain yakni soal relasi horizontal, khususnya antara ORANG TUA dan ANAK.

Kandungan makna relasi vertikal tentu jamak diketahui bahwa melaksanakan ibadah QURBAN berarti melaksanakan syariat Allah. Akan tetapi, makna tersebut bisa bertambah manakala dimunculkan oleh tiap-tiap pribadi. Makna tersebut bisa sangat beragam warnanya, berdasarkan pengalaman seseorang akan kehidupan pribadinya, khususnya menyangkut relasi antara ORANG TUA dan ANAK.

Seorang ANAK yang setiap hari bisa bertemu secara langsung dengan ORANG TUAnya, khususnya IBU, boleh jadi memaknai QURBAN dengan makna yang sedikit berbeda dengan seorang ANAK yang TIDAK setiap hari dapat bertemu dengan ORANG TUAnya. Sangat mungkin ANAK yang tidak setiap hari bertemu dengan ORANG TUAnya tersebut memaknai QURBAN dengan warna yang tampak indah dalam wujudnya yang lebih tinggi.

Kasih sayang  ORANG TUA kepada ANAKNYA diuji lewat peristiwa QURBAN. Nabi Ibrahim diuji lewat mimpi mendapat perintah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Begitu pula ORANG TUA, terutama seorang IBU yang berperan di ruang publik dengan profesi tertentu, diuji kasih sayangnya kepada ANAKnya lewat jarak dan waktu sehingga diharuskan terjadi perpisahan sementara selama beberapa jam atau beberapa hari.

Seorang IBU yang diuji lewat jarak dan waktu demi kesejahteraan bersama, boleh jadi memaknai QURBAN sebagai peristiwa pulang, bukan hanya dari tempat kerja menuju rumah, melainkan juga dari rutinitas menuju kehangatan bersama sang ANAK.

Apabila sebelumnya IBU tersebut diharuskan untuk mengorbankan kesempatan untuk bertemu dan mengasuh ANAKnya secara langsung, maka QURBAN, seperti arti katanya, mendekatkan kembali kehangatan itu, istirahat sejenak dari rutinitas pekerjaan sehari-hari. Sudah sewajarnya apabila semangat RELA BERKORBAN seorang IBU, menjadi sebuah PERAYAAN dalam momentum QURBAN.

Semoga HARI RAYA ini menjadi momentum bagi ORANG TUA dan ANAK untuk kembali merasakan KEHANGATAN, sebagai sublimasi dari semangat RELA BERKORBAN. Selamat HARI RAYA QURBAN. Selamat IDUL ADHA.

M. Q. Aynan,
Seorang Anak.