Pengalaman Mencangkul Membuat Saya Lebih Berempati Terhadap Pekerja Kasar
Ada satu pengalaman yang tidak saya rencanakan menjadi pelajaran hidup: mencangkul tanah selama kurang lebih satu jam, di akhir bulan Sya'ban, sebelum bulan Ramadan. Awalnya saya mengira itu pekerjaan sederhana. Hanya mengangkat cangkul, menghantam tanah, membaliknya, mengulanginya. Gerakan yang tampak mudah jika dilihat dari jauh. Gerakan yang biasa dilakukan buruh tani setiap hari, bahkan berjam-jam.
Ternyata satu jam itu terasa seperti satu babak ujian yang membuka tabir keangkuhan saya sendiri.
Pada menit-menit awal, saya masih merasa baik-baik saja. Keringat mulai keluar, nafas mulai memburu, tetapi ego masih berbisik, “Ini biasa saja.” Lima belas menit berlalu, bahu terasa berat. Tiga puluh menit, punggung mulai protes. Empat puluh menit, napas tersengal. Lima puluh menit, pandangan mulai berkunang-kunang. Menjelang satu jam, saya hampir roboh.
Pusing. Lemas. Lutut seperti kehilangan daya.
Saya berhenti. Duduk. Dan dalam diam, saya mulai mengerti sesuatu yang selama ini hanya saya pahami secara teori.
Tubuh punya batas.
Dan kerja fisik berat bukan sekadar “gerak badan”.
Banyak orang yang bukan pekerja kasar:
- Tidak pernah kerja fisik berat.
- Tidak pernah berdiri satu jam di bawah matahari.
- Tidak pernah memikul beban puluhan kilogram.
- Tidak pernah mencangkul tanah liat yang keras.
- Tidak pernah menarik jaring nelayan yang berat oleh air dan ikan.
Tetapi mudah sekali menghakimi.
“Ah, masa nggak puasa di bulan Ramadan?”
“Ah, makan kok banyak sekali?”
Sampai ada istilah merendahkan: “porsi kuli”.
Padahal belum pernah berdiri satu jam di sawah.
Belum pernah.
Dan mungkin tidak pernah mencoba.
Ada jarak besar antara teori dan pengalaman. Teori bisa dibaca. Pengalaman harus ditanggung tubuh.
Secara fisiologis, kerja fisik berat memang jelas lebih menguras tubuh dibandingkan pekerjaan ringan atau sedentary. Ketika seseorang mencangkul, mengangkat semen, mengangkut pasir, atau menarik jaring, tubuhnya bekerja dalam mode intensitas tinggi. Otot-otot besar aktif terus-menerus: paha, punggung, bahu, lengan, otot inti. Detak jantung melonjak. Pernapasan meningkat. Keringat keluar deras untuk mendinginkan tubuh.
Kalori terbakar dalam jumlah besar.
Gula darah cepat dipakai.
Cairan tubuh cepat hilang.
Tekanan darah bisa turun jika kurang asupan.
Itu bukan soal mental lemah atau iman tipis.
Itu soal fisiologi.
Dan fisiologi tidak tunduk pada opini.
Coba berdiri di posisi seorang buruh tani di sawah panas. Matahari tepat di atas kepala. Tanah becek, lengket, berat. Setiap langkah memerlukan tenaga. Setiap ayunan cangkul mengandung beban gravitasi, beban tanah, dan beban repetisi. Bukan sepuluh kali. Bukan seratus kali. Tetapi ribuan kali dalam sehari.
Atau bayangkan kuli angkut di pasar. Pagi buta sudah memikul karung beras 50 kilogram. Naik turun truk. Berjalan jauh. Keringat bercucuran bahkan sebelum matahari tinggi. Sore hari tubuhnya mungkin sudah gemetar, tetapi pekerjaan belum selesai.
Atau nelayan. Bangun sebelum fajar. Melawan angin. Menarik jaring berat oleh air laut. Tubuh terombang-ambing, tetapi tangan harus tetap kuat. Perut mungkin kosong, tetapi laut tidak peduli.
Atau tukang bangunan. Mengaduk semen, mengangkat bata, memanjat perancah. Debu masuk paru-paru. Mata perih. Bahu nyeri. Tetapi upah harian bergantung pada kerja hari itu.
Secara fisiologis, ini jelas lebih berat untuk tubuh daripada pekerjaan lainnya.
Ini fakta biologis.
Bukan opini sosial.
Ironisnya, banyak dari kita hidup di dunia yang relatif nyaman. Duduk berjam-jam. Bekerja dengan pikiran. Mengeluh lelah karena rapat panjang atau tenggat waktu. Lalu merasa diri cukup kuat untuk menilai daya tahan orang lain.
Kita lupa bahwa kelelahan punya jenis-jenisnya.
Kelelahan mental memang nyata. Tetapi kelelahan fisik berat adalah realitas yang jauh lebih kasat mata pada tubuh. Otot yang gemetar. Nafas yang terengah. Punggung yang terasa seperti ditusuk. Kepala yang pening karena dehidrasi.
Dan ketika Ramadan tiba, sebagian dari kita bertanya dengan nada merendahkan, “Kenapa mereka tidak puasa?”
Pertanyaan itu sering lahir bukan dari kepedulian, melainkan dari jarak.
Jarak pengalaman.
Jarak empati.
Jarak realitas.
Bila seseorang bekerja fisik berat dalam kondisi panas ekstrem, tanpa cairan, tanpa asupan energi, risiko pingsan atau kecelakaan menjadi nyata. Apalagi jika pekerjaannya melibatkan alat berat, ketinggian, atau laut.
Ini bukan soal malas.
Ini soal batas biologis.
Dan batas biologis tidak bisa dinegosiasikan dengan slogan.
Begitu pula soal makan.
Mengapa porsi mereka seperti gunung?
Karena tubuh mereka membakar energi seperti tungku.
Buruh bangunan yang aktif bisa membutuhkan 3.000 sampai 4.000 kalori per hari. Bandingkan dengan pekerja kantoran yang mungkin cukup 1.800 sampai 2.200 kalori. Selisih itu besar. Karbohidrat menjadi sumber energi paling cepat dan paling murah. Nasi menjadi bahan bakar utama.
Bukan karena rakus.
Bukan karena tidak tahu diri.
Tetapi karena tubuh meminta.
Dan tubuh yang bekerja keras berhak untuk dipenuhi kebutuhannya.
Itu bukan “porsi kuli”.
Itu porsi tenaga kerja berat.
Dan itu sah.
Kembali ke momen ketika saya hampir roboh ketika mencangkul. Dalam satu jam saja tubuh saya sudah memberi sinyal bahaya. Bagaimana dengan mereka yang melakukannya enam atau delapan jam sehari? Bagaimana dengan mereka yang harus tetap kuat karena jika tidak, hari itu tidak ada upah?
Refleksi itu menampar kesadaran saya.
Empati tidak lahir dari teori.
Empati lahir dari pengalaman yang membuat kita merasakan batas diri.
Dan ketika kita menyentuh batas itu, kita menjadi lebih rendah hati.
Ada kecenderungan di masyarakat modern untuk mengagungkan kerja intelektual dan meremehkan kerja manual. Padahal tanpa kerja manual, banyak sistem tidak berjalan. Tanpa buruh tani, tidak ada beras. Tanpa kuli angkut, distribusi macet. Tanpa nelayan, tidak ada ikan. Tanpa tukang bangunan, tidak ada rumah.
Pekerjaan fisik adalah fondasi peradaban.
Tetapi sering dipandang rendah.
Ini paradoks yang menyedihkan.
Beberapa poin yang perlu ditegaskan:
- Kerja fisik berat menguras energi dalam jumlah besar.
- Tubuh memiliki batas yang nyata dan terukur.
- Kebutuhan makan besar adalah konsekuensi logis dari pembakaran kalori tinggi.
- Menghakimi tanpa pengalaman adalah bentuk kesombongan halus.
- Ini harus dikatakan dengan jelas.
- Karena sering kali yang keras bukan hanya tanah sawah, tetapi hati manusia.
Ramadan mengajarkan lapar agar kita merasakan penderitaan orang lain. Tetapi ironi muncul ketika orang yang benar-benar lapar karena kerja justru dihakimi. Seolah-olah pengalaman lapar hanya sah jika dilakukan dalam bentuk yang kita pahami.
Padahal mungkin mereka sudah hidup dalam puasa yang berbeda: puasa kenyamanan, puasa kepastian, puasa keamanan finansial.
Dan itu lebih panjang dari satu bulan.
Ketika saya duduk terengah-engah setelah mencangkul, saya tidak merasa menjadi lebih kuat. Saya merasa menjadi lebih sadar. Sadar bahwa selama ini saya mungkin terlalu mudah berbicara tentang ketahanan tanpa pernah benar-benar menguji tubuh. Sadar bahwa ada jenis kelelahan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, hanya bisa dirasakan oleh otot yang gemetar.
Kesadaran itu mengubah cara pandang saya.
Bukan hanya tentang puasa dan makan.
Tetapi tentang manusia.
Mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak penghakiman, melainkan lebih banyak pengalaman langsung. Cobalah sekali berdiri di bawah matahari dan bekerja dengan tubuh selama satu jam penuh. Rasakan bagaimana detak jantung berdentum di telinga. Rasakan bagaimana air liur mengering. Rasakan bagaimana kepala mulai ringan.
Lalu tanyakan kembali pada diri sendiri:
Apakah saya masih ingin meremehkan?
Apakah saya masih ingin berkata, “Ah, masa nggak puasa?”
Empati adalah jembatan antara perbedaan pengalaman. Tanpa empati, kita mudah terjebak dalam superioritas moral. Kita merasa standar kita adalah standar universal. Padahal standar tubuh berbeda-beda. Standar pekerjaan berbeda-beda. Standar risiko berbeda-beda.
Kesalehan tanpa empati bisa berubah menjadi kekerasan verbal.
Dan itu berbahaya.
Pada akhirnya, pengalaman mencangkul itu menjadi semacam cermin. Ia memantulkan kembali prasangka yang mungkin pernah saya miliki. Ia menunjukkan bahwa kekuatan fisik bukan hal remeh. Ia mengajarkan bahwa makan banyak bukan dosa jika tubuh memang membutuhkan. Ia mengingatkan bahwa agama memiliki kebijaksanaan dalam memahami realitas manusia.
Dan yang paling penting:
Ia menumbuhkan rasa hormat.
Hormat kepada buruh tani di sawah panas.
Hormat kepada kuli angkut.
Hormat kepada nelayan.
Hormat kepada tukang bangunan.
Hormat kepada setiap tubuh yang bekerja keras agar kehidupan berjalan.
Karena secara fisiologis, kerja mereka memang lebih berat untuk tubuh daripada pekerjaan lainnya.
Maka sebelum menghakimi, berdirilah satu jam di sawah.
Lalu bicaralah.
Jika masih sanggup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar