Lift: Salah Satu Momen yang Membuat Saya Lebih Sering Membaca Tahlilan
Ada pengalaman-pengalaman tertentu dalam hidup manusia yang tidak selalu dapat dijelaskan secara ilmiah, tetapi meninggalkan bekas yang sangat dalam di dalam jiwa. Kadang ia hadir dalam bentuk peristiwa kecil, kadang dalam bentuk nasihat yang sederhana, kadang pula dalam bentuk mimpi yang mengguncang cara pandang seseorang terhadap kehidupan dan kematian. Tidak semua mimpi memiliki makna khusus, tentu saja. Tetapi ada mimpi tertentu yang datang seperti simbol, seperti isyarat, seperti perumpamaan yang membuat hati tiba-tiba memahami sesuatu yang sebelumnya hanya dipahami secara teoritis.
Salah satu momen yang membuat saya lebih sering membaca tahlilan adalah ketika saya bermimpi tentang keadaan orang-orang yang sudah tidak lagi berada di alam dunia. Dalam mimpi itu, mereka diperlihatkan seperti orang-orang yang berada di dalam lift. Ada lift yang bergerak naik perlahan. Ada lift yang naik cepat. Ada lift yang tampak tertahan. Dan ada pula kesan menakutkan tentang kemungkinan lift yang justru turun ke bawah. Gambaran itu begitu sederhana, tetapi sekaligus begitu menghantam kesadaran batin.
Sejak saat itu, saya mulai memandang kematian dengan cara yang sedikit berbeda. Bahwa kematian bukan sekadar perpindahan tempat, bukan sekadar keluarnya ruh dari tubuh, bukan sekadar berhentinya kehidupan biologis manusia. Ada perjalanan lain setelah itu. Ada fase lain setelah itu. Ada keadaan-keadaan yang terus bergerak, terus berlangsung, terus mengalami perubahan sesuai dengan rahmat Allah dan sesuai dengan amal-amal yang terus mengalir kepada seseorang.
Lift dalam mimpi itu terasa seperti simbol perjalanan ruhani. Selama lift itu terus naik, meskipun pelan, masih ada harapan, masih ada kenaikan derajat, masih ada tambahan cahaya dan keluasan. Tetapi bayangan tentang lift yang macet terasa sangat menyedihkan. Apalagi bayangan tentang lift yang justru turun ke bawah. Karena itu menghadirkan satu pertanyaan yang sangat dalam: setelah seseorang meninggal dunia, apa lagi yang masih dapat membantunya untuk terus “naik”?
Dalam mimpi itu, kesan yang sangat kuat adalah bahwa “daya listrik” yang menggerakkan lift tersebut berasal dari pahala, doa, amal jariyah, dan segala bentuk kebaikan yang terus mengalir kepada orang yang telah meninggal. Seolah-olah ketika manusia sudah tidak lagi berada di alam dunia, ia tidak lagi mampu menambah amalnya sendiri sebagaimana dahulu ketika masih hidup. Maka yang sangat berarti baginya adalah apa yang masih terus mengalir dari dunia: doa anak saleh, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan kiriman pahala dari orang-orang yang masih hidup.
Mungkin karena itulah tradisi mendoakan orang mati hidup begitu kuat dalam banyak masyarakat Muslim. Ada sesuatu yang sangat manusiawi di dalamnya, sesuatu yang sangat lembut, sesuatu yang sangat penuh kasih. Sebab cinta ternyata tidak berhenti ketika seseorang meninggal. Kasih sayang ternyata tidak ikut dikubur bersama tubuh. Bahkan setelah kematian, manusia masih ingin berbuat sesuatu bagi orang-orang yang dahulu dicintainya.
Tahlilan, doa bersama, pembacaan Al-Qur’an, sedekah atas nama orang tua, semua itu pada dasarnya lahir dari satu perasaan yang sangat mendalam: jangan biarkan orang yang kita cintai berjalan sendirian di alam sana tanpa bantuan doa dari kita yang masih hidup di dunia. Sebab kalau benar mereka sedang menjalani fase perjalanan yang panjang, maka apa yang dapat kita kirimkan mungkin menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi mereka.
Ada orang yang ketika hidup begitu kuat, begitu berpengaruh, begitu dihormati. Tetapi ketika meninggal, seluruh kekuatan duniawinya terputus. Jabatan tidak ikut masuk kubur. Popularitas tidak ikut menemani kesendirian alam barzakh. Harta tidak lagi dapat digunakan untuk membeli tambahan kesempatan. Yang tersisa hanyalah amal, doa, dan rahmat Allah.
Karena itu, kadang terasa sangat menyentuh ketika melihat seorang anak yang rutin mendoakan orang tuanya setiap selesai shalat. Atau seseorang yang tetap membaca Al-Qur’an dan menghadiahkan pahalanya untuk keluarganya yang telah wafat. Atau keluarga sederhana yang berkumpul malam hari hanya untuk membaca tahlil bersama bagi orang yang mereka cintai. Dari luar mungkin tampak sederhana, tetapi di balik itu ada cinta yang melampaui kematian.
Manusia modern sering kali terlalu sibuk memperdebatkan teknis dan lupa melihat dimensi kasih sayang di balik banyak tradisi keagamaan. Padahal di balik tahlilan misalnya, ada kerinduan anak kepada ayahnya yang telah tiada. Ada cinta seorang istri kepada suaminya yang sudah meninggal. Ada doa tulus dari cucu yang bahkan mungkin tidak terlalu mengenal kakeknya, tetapi tetap ingin menghadiahkan sesuatu untuknya.
Sebab manusia pada dasarnya tidak rela jika hubungan yang begitu panjang di dunia tiba-tiba benar-benar terputus tanpa sisa. Hati manusia ingin tetap terhubung. Ingin tetap memberi. Ingin tetap menemani. Dan doa menjadi salah satu jembatan yang paling lembut antara alam dunia dan alam setelah kematian.
Dalam Islam sendiri, ada konsep amal yang terus mengalir walaupun seseorang telah meninggal dunia. Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya menjadi tanda bahwa kematian tidak selalu memutus seluruh pengaruh seseorang. Ada amal-amal yang tetap hidup. Ada jejak-jejak kebaikan yang terus bergerak. Ada cahaya yang tetap menyala bahkan setelah tubuh manusia lama terkubur di dalam tanah.
Karena itu, orang-orang bijak tidak hanya memikirkan bagaimana hidup nyaman di dunia, tetapi juga memikirkan apa yang masih terus hidup setelah mereka mati. Mereka ingin meninggalkan manfaat. Ingin meninggalkan ilmu. Ingin meninggalkan doa-doa baik dari manusia lain. Sebab mereka sadar bahwa suatu hari mereka akan berada di posisi yang sama: menjadi manusia yang tidak lagi dapat berbuat apa-apa selain menerima apa yang dahulu ditanamnya.
Mimpi tentang lift itu perlahan membuat saya memandang doa untuk orang mati bukan sekadar ritual, melainkan bentuk kepedulian eksistensial. Seolah-olah kita sedang membantu seseorang agar tetap bergerak naik, tetap memperoleh tambahan cahaya, tetap mendapatkan rahmat demi rahmat dari Allah. Dan bukankah itu salah satu bentuk cinta yang paling tulus: membantu seseorang bahkan ketika ia sudah tidak lagi dapat membalas apa pun kepada kita?
Kadang saya membayangkan betapa berharganya satu doa yang tulus bagi orang-orang yang telah meninggal. Mungkin bagi kita hanya beberapa menit membaca Al-Fatihah. Hanya beberapa menit membaca tahlil. Hanya beberapa kalimat doa setelah shalat. Tetapi siapa tahu di alam sana itu menjadi sebab datangnya ketenangan, datangnya keluasan, datangnya cahaya yang tidak pernah kita lihat dengan mata dunia.
Manusia hidup sering kali terlalu percaya pada hal-hal yang tampak. Padahal banyak realitas besar justru tidak terlihat. Angin tidak terlihat tetapi terasa. Ruh tidak terlihat tetapi menghidupkan tubuh. Cinta tidak terlihat tetapi menggerakkan manusia melakukan hal-hal besar. Dan doa pun demikian. Ia mungkin tidak terlihat secara fisik, tetapi dalam keyakinan keagamaan ia memiliki dampak yang jauh melampaui apa yang dapat dihitung oleh logika material semata.
Karena itu, tradisi mendoakan orang mati sebenarnya juga mendidik manusia yang masih hidup. Ia mengingatkan bahwa suatu hari kita pun akan berada di alam yang sama. Kita pun akan menjadi manusia yang tidak lagi memiliki kesempatan menambah amal dengan mudah. Kita pun akan sangat membutuhkan rahmat Allah dan doa-doa dari orang-orang yang masih mengingat kita di dunia.
Betapa menyedihkannya jika seseorang hidup hanya sibuk mengumpulkan harta tetapi tidak menanam cinta dan kebaikan kepada keluarganya. Ketika ia meninggal, mungkin hartanya diperebutkan, tetapi namanya jarang didoakan. Sebaliknya ada orang sederhana yang tidak meninggalkan kekayaan besar, tetapi meninggalkan cinta yang membuat anak-anaknya terus mendoakannya puluhan tahun setelah ia wafat.
Kadang warisan terbesar manusia bukan rumah, bukan tanah, bukan rekening, melainkan hati-hati yang dengan tulus masih menyebut namanya dalam doa. Sebab doa yang lahir dari cinta memiliki kehangatan yang berbeda. Ia bukan sekadar formalitas. Ia lahir dari kerinduan, dari penghormatan, dari rasa terima kasih yang terus hidup walaupun kematian telah memisahkan tubuh manusia.
Mungkin itulah salah satu rahasia mengapa Islam sangat menekankan birrul walidain, berbakti kepada orang tua. Sebab bakti itu tidak berhenti ketika orang tua meninggal. Justru setelah mereka tiada, bentuk bakti itu berubah menjadi doa, menjadi sedekah atas nama mereka, menjadi usaha menjaga nama baik mereka, menjadi amal-amal yang diniatkan untuk menghadiahkan pahala kepada mereka.
Dan semakin seseorang bertambah usia, semakin ia menyadari bahwa hubungan manusia dengan kematian sebenarnya sangat dekat. Dulu mungkin kita mendoakan kakek dan nenek. Lalu kita mulai mendoakan paman dan bibi. Kemudian teman-teman sebaya mulai satu per satu meninggal. Perlahan lingkaran kematian bergerak semakin dekat kepada diri kita sendiri.
Pada titik tertentu, tahlilan bukan lagi sekadar tradisi sosial. Ia berubah menjadi pengingat eksistensial bahwa hidup ini singkat dan kematian itu nyata. Ketika orang-orang berkumpul membaca doa, sebenarnya mereka sedang mengakui satu hal yang sama: bahwa manusia pada akhirnya rapuh di hadapan ajal, dan bahwa setelah kematian setiap orang sangat membutuhkan rahmat Allah.
Ada kelembutan tertentu dalam suasana tahlilan yang sering kali sulit dijelaskan dengan logika modern yang serba mekanis. Orang-orang duduk bersama. Ayat-ayat Al-Qur’an dibaca. Nama orang yang telah meninggal disebut dengan hormat. Doa-doa dipanjatkan. Dan di tengah suasana itu ada kesadaran sunyi bahwa suatu hari nama kita sendiri mungkin akan disebut dalam doa yang sama.
Kesadaran seperti itu justru dapat membuat manusia lebih rendah hati. Sebab seluruh kesombongan dunia tiba-tiba terasa kecil ketika dihadapkan pada kematian. Apa artinya jabatan yang tinggi jika akhirnya tubuh dibawa ke liang lahat? Apa artinya popularitas besar jika akhirnya nama hanya tinggal kenangan di batu nisan? Apa artinya ambisi tanpa batas jika umur manusia ternyata begitu singkat?
Mimpi tentang lift itu juga menghadirkan satu rasa takut yang sehat: bagaimana jika “lift” seseorang berhenti karena terlalu sedikit cahaya amal yang mengalir kepadanya? Bagaimana jika seseorang hidup tanpa meninggalkan jejak kebaikan yang terus bergerak setelah kematiannya? Dan bagaimana jika manusia ternyata terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa mempersiapkan perjalanan panjang setelah kematian?
Tetapi bersamaan dengan rasa takut itu, ada pula harapan yang lembut. Bahwa rahmat Allah jauh lebih luas daripada perhitungan manusia. Bahwa satu doa tulus mungkin memiliki nilai yang besar di sisi-Nya. Bahwa amal-amal kecil yang dilakukan dengan cinta dan keikhlasan mungkin menjadi sebab datangnya pertolongan bagi orang yang telah meninggal.
Karena itu, mendoakan orang mati pada akhirnya bukan hanya tentang mereka. Itu juga tentang diri kita sendiri. Tentang menjaga hati agar tetap lembut. Tentang menjaga kesadaran bahwa hidup ini sementara. Tentang menjaga hubungan cinta agar tidak diputus oleh kematian. Dan tentang belajar menjadi manusia yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga memikirkan orang-orang yang telah lebih dahulu meninggalkan dunia.
Dalam banyak hal, manusia modern sangat takut kehilangan koneksi internet, kehilangan sinyal, kehilangan daya listrik. Tetapi jarang memikirkan tentang “energi ruhani” yang mungkin sangat dibutuhkan setelah kematian. Padahal jika kehidupan setelah mati benar-benar ada sebagaimana diyakini orang beriman, maka pahala, doa, dan rahmat Allah jauh lebih penting daripada seluruh energi duniawi yang selama ini dikejar manusia.
Maka setiap kali membaca tahlil atau mengirim doa bagi orang-orang yang telah meninggal, saya sering teringat kembali pada ilustrasi lift dalam mimpi itu. Tentang manusia-manusia yang terus bergerak naik karena rahmat Allah dan pahala yang terus mengalir kepada mereka. Tentang harapan agar perjalanan mereka dimudahkan. Tentang harapan agar mereka tidak tertahan dalam kesempitan dan kegelapan.
Dan diam-diam, di balik seluruh doa itu, sebenarnya ada satu kesadaran lain yang perlahan tumbuh di dalam hati: bahwa suatu hari saya pun akan berada di posisi yang sama. Menjadi manusia yang tidak lagi mampu berbicara kepada dunia. Menjadi manusia yang hanya menunggu rahmat Allah dan kiriman doa dari orang-orang yang dahulu pernah hidup bersama saya.
Pada akhirnya, mungkin itulah salah satu alasan mengapa manusia perlu menjaga cinta, menjaga kebaikan, menjaga hubungan dengan keluarga dan keturunannya selama hidup. Sebab setelah kematian, yang terus bergerak bukan lagi tubuh, bukan lagi karier, bukan lagi kekuasaan, melainkan jejak amal, jejak cinta, jejak doa, dan rahmat Allah yang terus mengangkat “lift” perjalanan manusia menuju tempat yang hanya diketahui sepenuhnya oleh-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar