Di bulan-bulan ini, entah kenapa, bertebaran ungkapan Halalin Bang baik di Facebook, Instagram, Whatsapp, dan lain-lain. Itu agak mengganggu sebenarnya apalagi jika ungkapan itu ditujukan kepada saya.
Saat saya mengamati, hal itu tampak seperti resistensi terhadap suatu bentuk hubungan, pacaran. Tidak hanya yang sedang atau pernah pacaran yang mengungkapkannya melainkan juga para ukhti yang aktif mendengarkan pengajian.
Lebih lanjut, ungkapan itu dipopulerkan semenjak para "ustadz" dan "ustadzah" yang mempunyai audiens luas menyasar kalangan anak muda. Tepat sekali untuk menggemakannya mengingat populasi anak muda usia belasan hingga tiga puluh tahun sangat banyak.
Sebelumnya, tren syar'i mulai dari hijab syari hingga taaruf menjadi wacana. Setelah taaruf tentu saja tinggal tunggu akad atau ya, halal(in). Beberapa orang merasa kecewa setelah merasa disia-siakan, dikhianati, dimanfaatkan, diselingkuhi, atau yang sejenisnya, akhirnya berjumpa dengan postingan2 tentang prewed, akad, resepsi. Di saat itulah tepat sekali sebagai momentum para pegiat dakwah untuk menyasar hati yang sedang galau dengan cara hijrah.
Oleh karena itu, resistensi yang saya maksud bukan karena model pacaran tidak ada dalam kamus syariat melainkan juga ada dorongan kejiwaan yang membuat tertekan sehingga merasa menyesal lalu memutuskan untuk berubah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar