---Di mana pun adalah ruang kelas---

Kamis, 19 Juli 2018

Menjadi Legenda

Oleh: M. Q. Aynan

Legenda, salah satu kata favorit saya. Teringat akan kata tersebut, saya mencoba mengajukan pertanyaan kemudian berusaha menjawabnya sendiri: Mengapa latar tempat, waktu, dan suasana dalam sebuah cerita penting untuk dikaji? Salah satu jawabannya adalah jika latarnya berbeda maka bisa jadi tokoh yang semula antagonis berubah menjadi protagonis. Bukan hanya itu, latar penulisan juga penting untuk dikaji.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berbincang ringan dengan teman saya soal Dilan. Tebakan saya, Dilan tidak akan menjadi karakter yang melegenda. Entah tebakan itu benar atau tidak. Alasan saya waktu itu karena karakter Dilan muncul terlambat. Di ceritanya Dilan adalah anak muda tahun 1990-an, sedangkan penerbitan buku dan produksi filmnya berjarak lebih dari 20 tahun. Rentang waktu yang cukup lama. Jadi, hampir mustahil untuk melegenda kecuali pengarangnya mampu untuk mentransformasikan makna dari si karakter.

Saya tidak menafikan pengaruh karakter Dilan. Akan tetapi, saya rasa pengaruh itu hanya sampai kepada struktur luar berupa baju yang dikenakan atau ungkapan, misalnya. Pengaruhnya tidak sampai menyentuh struktur dalam seperti model berpikir yang akhirnya berdampak kepada otentisitas diri. Ketika pengaruh itu muncul maka bisa langsung terlihat.

Di lain pihak, ada tokoh baik fiktif maupun faktual yang menjadi penanda zaman. Mereka adalah kulminasi. Tidak perlu diharapkan akan ada tokoh baru yang sama persis. Mereka hanya ada sekali, tak perlu pengganti.

Dalam pandangan saya, seorang legenda lahir karena waktu, tempat, dan suasananya tepat. Kelahiran itu juga memerlukan keterampilan membaca semangat zaman agar menjadi anak zaman. Kehadiran seseorang di masa kini agar menjadi legenda adalah sebuah keharusan, bukan malah terlalu tenggelam dalam masa lalu atau terlalu melayang di masa depan.

1 komentar:

  1. Dan penulis di atas ini pun sangat mampu untuk melegenda.😊

    BalasHapus