---Di mana pun adalah ruang kelas---

Sabtu, 19 Mei 2018

Rambut Ngak Ngik Ngok

Oleh: M. Q. Aynan

      Pada tahun 1960-an di belahan bumi yang lain, muncul band yang di kemudian hari punya pengaruh yang besar di dunia musik, The Beatles. The Beatles viral di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Saat itu Indonesia dipimpin oleh Presiden Sukarno. Bagi Sukarno, musik The Beatles adalah musik ngak ngik ngok. 

      The Beatles dianggap hanya meninabobokan pemuda Indonesia lewat syair-syair lagunya yang dianggap hanya berisi cinta dan gaya hidup hippies. Ancaman hukum yang diberikan oleh soekarno pun tidak main-main, siapa yang ketahuan memainkan lagu-lagu tersebut akan diancam dengan hukuman pasal subversif.

      Tidak hanya syairnya, The Beatles juga punya karakteristik yang lain yaitu gaya rambut. Gaya rambut The Beatles berevolusi sejak pertama muncul hingga bubar. Pertama, moptop atau rambut berponi yang sepintas tampak seperti mangkuk terbalik. Kedua, berponi tapi lebih panjang dan lebat. Ketiga, memanjangkan rambut pinggir dan menumbuhkan cambang. Keempat, memanjangkan kumis. Kelima, rambut panjang sebahu.

      Rambut ala The Beatles dianggap oleh Sukarno tidak mencerminkan adat ketimuran sehingga siapapun yang ketahuan memiliki gaya rambut seperti itu akan digunting oleh polisi secara asal-asalan.Tren berbusana hingga rambut personel The Beatles pada saat itu benar-benar ditiru oleh seluruh anak muda ditahun 60-an.

      Musisi Indonesia yang sangat dipengaruhi The Beatles baik musikalitas, busana, serta gaya rambut salah satunya adalah Koes Plus yang saat itu masih bernama Koes Bersaudara. Mereka ditangkap 29 Juni 1965, setelah menyanyikan lagu The Beatles: “I Saw Her Standing There” di rumah seorang kolonel. Mereka dianggap kontra-revolusi. Di balik itu, mereka sengaja dipersiapkan untuk masuk ke Malaysia. 

      Dalam buku Kisah dari Hati: Koes Plus Tonggak Industri Musik Indonesia karya Ais Suhana, terungkap apa yang terjadi sebenarnya di balik peristiwa pemenjaraan Koes Plus. Dalam buku itu disebutkan bahwa jika tidak terjadi peristiwa G30S, Gerakan 30 September 1965, Kus Bersaudara hampir pasti dikirim ke Malaysia melaksanakan misi rahasia negara.

      Para personel Koes Plus akhirnya dipenjarakan di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Glodok. Mereka dimasukkan ke ruangan isolasi berukuran 2x2 meter dengan fasilitas kakus yang dibatasi dinding papan setinggi pinggang. Ruang isolasi ini terpisah dari ruang tahanan lainnya.

      Lalu tanpa alasan yang jelas, mereka dibebaskan begitu saja pada 29 September 1965. Setelah itu, mereka sering diundang sejumlah organisasi dan kesatuan aksi mahasiswa. Hingga pada Agustus 1966, Koes Bersaudara melakukan pertunjukan keliling Jawa dan Bali.

      Konteks pelarangan pada saat itu berhubungan dengan negara asal The Beatles, yakni Inggris. Saat itu Inggris membentuk negara federal Malaysia. Pada awal dekade 1960-an, Malaysia sedang menyusun entitas dan identitas baru. Sukarno pada waktu itu tegas menentang adanya "negara boneka" di sekitar Indonesia yang merujuk pada Malaysia. Hal ini berujung dengan konfrontasi langsung yang terjadi di wilayah Kalimantan. 

      Jadi, kita tidak bisa menelan mentah-mentah pelarangan itu dengan mengabaikan konteks. Masa 1960-an adalah lanskap ketika rambut dapat menjadi simbol kebebasan atas kesewenang-wenangan politik yang kemudian melegenda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar