---Di mana pun adalah ruang kelas---

Minggu, 30 Agustus 2020

,

 

Oleh: 

Muhammad Qurrotul Aynan


Suatu organisasi pengkaderan dapat bertahan di tengah arus perubahan disebabkan oleh sejauh mana organisasi tersebut giat melakukan pengkaderan. Tentunya, pengkaderan baik secara jumlah maupun mutu. Untuk menjaga mutu tersebut, diperlukan kegiatan pengkaderan yang paling tidak bersifat formal. 


Tidak cukup sampai disitu, kegiatan pengkaderan yang fokus pada intelektualisasi sudah ada sebelumnya. Akan tetapi, tidak ditemui dokumen yang menjelaskan bagaimana dinamikanya terjadi, bagaimana timbul dan tenggelamnya.


Proses intelektualisasi dalam hemat saya dapat terjadi dalam jumlah yang banyak entah berpusat pada "kaum elit" atau "arus bawah".  Akan tetapi, sepengamatan saya, tingkat kebertahanan proses itu tinggi ketika berpusat pada kaum elitnya. Baru kemudian diikuti oleh yang di bawah. 


Saat intelektualisasi berpusat pada kaum elit, seorang atau beberapa pimpinan umum akan menjadikan lingkaran intinya, bukan hanya dalam tata kelola melainkan juga pusat keilmuan sehingga terbentuk jejaring yang polanya tidak sejajar, kurang terikat, tetapi terjadi pertukaran khusus di antara keduanya dimana pimpinan umum menggunakan pengaruhnya untuk menyediakan perlindungan.


Hubungan atau jejaring ini tidak mengutamakan kulit saja atau isi saja, namun kulit dan isinya sekaligus. Yang utama adalah pimpinan umum berkomitmen untuk menjamin lancarnya proses intelektualisasi meski ia atau mereka masih menjalankan praktik sebatas kulit saja, masih belum terlalu menyentuh isi.


Elit intelektual biasanya mendahulukan isi dulu meski kulit masih perlu menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Proses ini dalam perjalanannya membawa hasil yang padat dan bisa tampak bertahan. Penampakan ini nantinya menjadi semacam tren yang cocok dengan kekinian, tidak terlalu berorientasi masa lalu, juga tidak terlalu berorientasi masa depan.


Jejaring yang telah terbentuk tadi dapat mulai menemukan momentumnya dalam jangka waktu beberapa tahun. Jejaring ini selanjutnya melahirkan penerus yang kosmopolit, berwawasan dan pengetahuan luas, bukan wawasan dan pengetahuan sempit dan juga reaksioner. Selain itu, hubungan antarpribadi dari jejaring ini seperti saudara yang lebih tua dan saudara yang lebih muda. Sehingga terbentuk sanad perjuangan yang apabila dilacak terus tersambung melalui persaudaraan intelektual.


Kerukunan atau pulihnya hubungan antara kulit dan isi, antara struktur dan kultur, menjadi bagian yang erat. Menghindari praktik yang hanya membatasi kulit dan struktur, juga meninggalkan praktik yang hanya menekankan isi dan kultur. Praktik pertama akan menimbulkan sifat kaku dan kasar, sedangkan praktik kedua hanya bisa dipraktikkan oleh segelintir elit, padahal tingkat intelektualitas orang beragam.


Jadi, kerukunan atau pulihnya hubungan ini memastikan isi dan kultur tidak berjalan liar, juga memastikan kulit dan struktur tetap terlibat dan ambil bagian dalam aktivisme keseharian. Praktik ini mampu menyesuaikan dengan tantangan perubahan dengan segala dampaknya.


Renungan di acara PKD 2020

Silo,

Jumat, 21 Agustus 2020

,

 M. Q. Aynan

Peralihan  tidak hanya  memunculkan perubahan tetapi juga mengikis kearifan lokal (local wisdom). Persoalan peralihan ini dapat mengaburkan batas dan membingungkan identitas lokal. Indentitas lokal menjawab pertanyaan tentang apa yang membedakan sebuah lokal dengan lokal lainnya? Proses peralihan ini memberikan dampak kepada identitas lokal ini. 


Diskusi persoalan identitas lokal ini menghasilkan kesimpulan berupa asumsi bahwa identitas lokal dapat tergerus dalam beberapa tahun. Asumsi itu kemudian memunculkan pertanyaan apakah identitas lokal dapat bertahan? jika iya, seberapa lama identitas lokal itu dapat bertahan Persoalannya, apakah identitas lokal tersebut benar-benar ada, benar-benar hidup, atau hanya ada dalam bayangan?


Kenyataan budaya sekitar akhir-akhir ini mengindikasikan adanya retakan budaya yang menantang ketersambungan dan keterhubungan identitas. Retakan budaya ini menyebabkan dilema yang seakan tanpa akhir antara tetap tersambung dan terhubung dengan masa lalu, dengan generasi sebelumnya, atau memulai budaya yang baru, yang berbeda sama sekali dengan  generasi sebelumnya.


Sisi beda dari kenyataan budaya di lapangan antara dua masa, dua generasi, paling tidak dalam kuasa dan pengaruh. Kuasa berarti tentang menegakkan aturan tertulis yang berkaitan dengan ketertiban, ganjaran, dan hukuman. Pengaruh lebih identik dengan aturan tidak tertulis seperti etika, norma, dan moral.


Peralihan dapat memisahkan antara kuasa dan pengaruh lama dengan kuasa dan pengaruh baru melalui proses yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Tabir pemisahnya bersifat abstrak seperti pola pikir, konsep, pengetahuan. Ada disparitas sehingga menyebabkan celah komunikasi, pemberian dan penerimaan informasi.


Keterpisahan, perbedaan, dan celah tersebut telah menciptakan pemahaman berbeda tentang kenyataan budaya di lapangan dimana kuasa dan pengaruh lama sudah kehilangan fungsinya. Informasi berubah menjadi misinformasi, komunikasi berubah menjadi miskomunikasi, terbangun oleh dominasi 'tiruan pengganti' yang dibuat-buat.


Pertanyaannya, kuasa dan pengaruh seperti apa, dan siapa yang memfungsikan kuasa dan pengaruh itu? Di tengah penyelundupan, kontaminasi, dan kebocoran budaya, kuasa dan otoritas lama tidak memadai untuk menegakkan aturan baik tertulis maupun tidak tertulis. Situasi ini mirip dengan dua kesebelasan yang bertanding memperebutkan bola di suatu stadion. Oleh karena itu, alternatif jawaban dari pertanyaan di atas adalah kuasa dan otoritas yang mirip seperti peluit dan kartu. Tentu, yang bisa memfungsikan peluit dan kartu adalah figur seorang wasit. Dengan demikian, fungsi figur seorang wasit mengacu kepada eksistensi kuasa dan otoritas tertinggi non-kesebelasan  di dalam suatu arena permainan.


Fungsi ini penting karena permainan tidak lagi dikendalikan oleh struktur yang memiliki hierarki dan peraturan yang berpedoman kepada keputusan kongres, tetap dikendalikan oleh komunitas tertentu yang bersifat cair, yang bukan saling bertukar (pertukaran) melainkan saling berkontestasi (pertarungan).

Rabu, 19 Agustus 2020

,



M. Q. Aynan



Saya mencoba ambil kesempatan dengan mendaftarkan diri dalam Ujian Masuk Pascasarjana yang diselenggarakan secara mandiri oleh IAIN Jember. Ujian masuk ini diselenggarakan tiap tahun. Secara umum, mekanismenya sama, namun tentunya tahun ini sedikit berbeda karena dampak pandemi.


Ada beberapa tahapan seleksi pendaftaran masuk Pascasarjana, yaitu persyaratan administrasi dan ujian tulis serta wawancara.


- ADMINISTRASI


Untuk mendaftar, calon mahasiswa diminta melengkapi persyaratan dan mengunggah berkas ke laman kampus. Adapun berkas yang diminta kemarin adalah scan ijazah dan transkrip nilai atau Surat Keterangan Lulus asli/legalisir, proposal tesis, surat rekomendasi akademik, dll. Meskipun administrasi ini 'memudahkan', sebaiknya tidak dianggap remeh. 


- TES MASUK 


Kalau sudah dinyatakan memenuhi persyaratan administrasi, maka peserta selanjutnya mengikuti seleksi masuk dalam bentuk ujian tertulis TPA, Bahasa Inggris dan Arab, Psikotes dan Wawancara. Akan tetapi, kemudian berubah menjadi tes CBT dan wawancara. Sehari sebelum pelaksanaan, berubah lagi menjadi wawancara saja. Persoalan CBT, karena keterbatasan disebabkan situasi sekarang yang tidak kondusif.


Seperti dikutip dari laman www.iain-jember.ac.id (15/08/20), Menurut Wakil Direktur Pascasarjana IAIN Jember Dr Aminullah El Hadi, tes daring ini merupakan rangkaian dari tahapan seleksi masuk calon mahasiswa baru Pascasarjana IAIN Jember. Dimana pada tahap awal yang sudah berjalan, mahasiswa mengikuti tes dengan sistem computer based test (CBT). “Ada tiga bidang yang diujikan, masing-masing Bahasa (Arab dan Ingris), pengetahuan keislaman dan tes potensi akademik (TPA),” jelasnya.


Selanjutnya pada tahap kedua, calon maba mengikuti tes wawancara yang mengulas background akademik mahasiswa, peminatannya dan proposal tesis atau disertasi yang diajukan. "Tahun sebelum-sebelumnya desainnya gitu. Karena masih pandemi, maka ujiannya disederhanakan tanpa tatap muka dan berlangsung daring seperti saat ini," papar Aminullah.


Sebelumnya, papar Aminullah, tes daring itu direncanakan menggunakan aplikasi telekonferensi. Namun Pascasarjana memberikan keluwesan dengan penggunaan aplikasi video call by WhatsApp. Jadi, peserta cukup menunjukkan bukti kartu ujian, lalu menjawab sejumlah pertanyaan dari tim penguji melalui video call. 


- WAWANCARA


Secara umum, pertanyaan saat wawancara kurang lebih di antaranya:


- Sistem pendidikan di Pascasarjana,

- Mengapa mengambil prodi ini,

- Wawasan Keislaman,

- Wawasan Keindonesiaan,

- Proposal Tesis,

- Kemampuan bahasa Asing.


Sistem pendidikan misalnya kehadiran di kelas, peran dosen, dan tugas kuliahnya. 


Alasan memilih prodi bebas, namun jika kurang linier dengan prodi sebelumnya akan ada pertanyaan lanjutan.


Wawasan Keislaman berkaitan dengan kedatangan Islam ke tanah air, dinasti-dinasti, aliran-aliran, sekitar itu.


Wawancara Kebangsaan berkaitan dengan sejarah singkat dan pendapat tentang persoalan kekinian misalnya antara wacana penegakan khilafah dan negara pancasila.


Proposal Tesis itu pertanyaannya mulai alasan memilih judul, fokus dan tujuan, metodologi, dan landasan teorinya.


Kemampuan bahasa asing yakni Inggris dan Arab itu tentang kemampuan mendengar, membaca, berbicara, dan menulis. Apakah mampu secara pasif atau aktif.


Itu pengalaman saya mendaftar ujian masuk Pascasarjana IAIN Jember. Pengumumannya, saya lulus. Saya berharap semoga diberikan yang terbaik bagi diri sendiri, keluarga, dan orang-orang yang membantu saya. Semoga bermanfaat dan tetap semangat untuk melanjutkan studi!

Senin, 17 Agustus 2020

,


M. Q. Aynan


Secara bahasa, evolusi berarti “perubahan”. Berasal dari kata evolve yang atinya “berkembang secara perlahan-lahan”. Karena perkembangannya perlahan, maka perubahannya tidak dapat diamati dalam 1 atau 2 tahun saja, tetapi 3, 4 tahun, dan seterusnya. Baru ketika pengamatan dilakukan dalam waktu yang cukup lama, perubahan tersebut bisa terlihat.


Jika dunia pengkaderan diamati dengan segala peralihannya, pola pikir individu dan budaya kelompok dalam pengkaderan mengalami evolusi. Evolusi tersebut dapat menyebabkan proses seleksi yang pada akhirnya menghasilkan para kader yang benar-benar terpilih.


Jika ada suatu proposisi yang dapat diajukan, maka proposisi tersebut kurang lebih berbunyi, yang bisa bertahan dan terpilih dalam gelombang peralihan bukan mereka yang perkasa atau punya kuasa, tapi mereka yang mampu beradaptasi. Orang-orang yang secara jumlah kecil yang tidak memiliki kuasa dan membawa massa justru yang paling mudah beradaptasi karena mereka yang tidak punya pertaruhan kuasa.


Pernyataan tersebut saya pikir masih perlu banyak dikaji ulang. Akan tetapi, paling tidak kita dapat memiliki sedikit gambaran mengenai perubahan spesies mahasiswa dan kader serta keterkaitan genealogis antara satu individu dengan individu lain, antara satu kelompok dengan kelompok lain.


Secara individu, evolusi dialami spesies mahasiswa dan kader yang hidup dan aktif sekarang berasal dari spesies yang hidup di masa sebelumnya. Selanjutnya, evolusi terjadi melalui seleksi peralihan. Di masa sebelumnya, terdapat banyak kader yang menempuh jalan intelektual. Lama-kelamaan para jumlah intelektual itu tetap namun jumlah wadah aktualisasi semakin sedikit. Situasi tersebut membuat para kader intelektual ini bersaing untuk mendapatkan wadah aktualisasi. Individu yang beradaptasi pada peralihan dengan baik akan mewariskan genealogi unggul kepada generasi selanjutnya. Lebih jauh lagi, sifat unggul ini lama-kelamaan dapat mengubah bentuk dan gaya asli dari spesies sebelumnya, sehingga berevolusi menjadi spesies yang sama sekali berbeda secara mengejutkan.


Secara kelompok, lingkungan mempunyai pengaruh pada ciri dan sifat yang dihasilkan melalui adaptasi lingkungan baru yang mengalami peralihan. Ciri dan sifat yang terbentuk akan diwariskan kepada generasi penerus, secara genealogis. Individu yang sering bergerak akan berkembang dan membesar secara jumlah dan mutu, sementara individu yang jarang bergerak dan aktif akan mengalami penyusutan secara jumlah, atau bahkan menghilang, dan mutunya sulit terjamin. 


Ketika suatu kelompok mengalami kegelisahan, mereka cenderung akan mendatangi generasi di masa sebelumnya, seakan-akan sedang terjadi penemuan 'fosil' yang memperlihatkan bahwa spesies mahasiswa dan kader zaman dulu berbeda dengan masa sekarang. Ini mungkin dapat menjelaskan mengapa spesies mahasiswa dan kader yang memiliki adaptasi yang baik terhadap lingkungan masih bertahan dan masih belum punah.


Dengan gambaran semacam itu, maka yang mendesak untuk ditindaklanjuti adalah adaptasi organik secara individu dalam diri sendiri dan usaha adaptasi organik terhadap peralihan lingkungan.

Sabtu, 15 Agustus 2020

,

 "Aku ingin beralih, Cak!" Kata-kata itu kerap terngiang di telingaku


"Di sini sekarang tampak kelam dan gelap. Mendung dan terdengar suara sendu. Prosesku buntu. Waktuku terbuang. Aktivitasku hanya rutinitas." lanjutnya.


Aku menanggapi, "Masih bisa diselamatkan. Masih ada harapan. Aku ingin menyambut kamu besok di sana. Apa kamu lupa bahwa kita pernah berhasil di sana dulu? Di sana langit biru. Matahari hangat dan terang. Bebas dari polusi kesia-siaan. Kamu siap saya ajak kesana?"

Rabu, 12 Agustus 2020

,

 



Setidaknya ada 3 perkumpulan mahasiswa di kampus kami yaitu ormek, UKM-UKK dan Komunitas kecuali eksekutif dan legislatif mahsiswa. Eksekutif dan legislatif mahasiswa dikecuaikan karena mirip dengan lembaga pemerintahan. Dalam 4 tahun pengamatan saya, saya menemukan bahwa ketiganya memiliki kelebihan dan kekurangan, antara lain :


1. Ormek :


Ormek itu punya kelebihan yaitu besar, besar kebutuhan dana, besar jumlah anggota, kader dan alumninya, besar lingkup distribusi personelnya. Akan tetapi,  kebesarannya itulah yang menjadi kelemahannya yaitu lambat kemajuannya.


Itulah yang membuat pimpinan umum perlu sering turun tangan memainkan peran sebagai 'hampir pimpinan segala sesuatu' untuk menambah daya proses seluruh personel.



2. UKM-UKK:


Dibandingkan Ormek, UKM-UKK lebih kecil namun masih terbilang cukup besar. Akan tetapi kemajuannya masih kurang cepat daripada yang diharapkan karena banyak pertimbangan seperti keterbatasan dana dan terbentur prosedur administrasi.


Karenanya, komunitas yang mau menjadikan dirinya menjadi UKM-UKK hendaknya memperhatikan matang-matang kalau mau menjadi UKM-UKK.



3. Komunitas:


Komunitas secara jumlah bisa lebih kecil dari kedua sebelumnya dan geraknya bisa lebih cepat dikarenakan tidak memiliki pedoman organisasi mengikat dan ketat yang mengatur urusan rumah tangganya.


Karenanya, siapapun bisa mendirikan komunitas. Akan tetapi, justru keterbukaan kesempatan itu membuat sebuah komunitas yang baru saja berdiri sudah terlambat karena lahir komunitas yang lebih baru. Ketika muncul komunitas yang lebih baru, komunitas yang lama bisa mati, tidak ada penerusnya.

Minggu, 02 Agustus 2020

,
Cerita karangan
Bukan dalam mimpi, bukan dalam terjaga
Oleh: M. Q. Aynan

Sebut saja ia Dewi Asmaragita. Ia memiliki tanda-tanda sebagai perempuan mulia dan utama, meski tanda-tanda itu lebih dapat terbaca olehku, daripada olehnya sendiri. Ketakterbacaan itu membuatnya menjadi perempuan yang terombang-ambing oleh laki-laki. Laki-laki sebagai agen, walau aktornya juga ada yang perempuan. Dia terkesan tak banyak berperan ketika situasi sekitarnya bergejolak.

Ia terkesan perempuan yang terlalu pasrah. Entah karena memang karena ia Dewi atau karena para agen menyuruh para aktor untuk tetap menaruh bunga di pelupuk matanya. Kalau kemungkinan yang kedua, maklumlah. Seandainya aku ceritakan pergolakan situasinya, mungkin ia tak akan percaya. Bagaimana seseorang akan percaya jika dikabari bahwa ada kebakaran sedang di sekitarnya alat pendingin dimana-mana?

Dewi Asmaragita adalah pribadi yang sulit dimengerti. Ia pernah dianggap tak pernah ada di dalam kehidupan nyata, hanya khayanku semata, kata mereka. Anggapan seperti itu boleh jadi karena ia memiliki kedudukan istimewa, utamanya di mataku. Tak perlu diragukan lagi, ia adalah perempuan pertama, putri pertama dari seorang Ulama, putri yang paling diunggulkan dari putri lainnya. Ia menjadi putri yang perilakunya tercerahkan setelah mempelajari Tarbiyah, Ta'lim, dan Ta'dib.

Keberhasilannya mempelajari ketiganya ditandai dengan tanda istimewa yakni wajah yang bersinar, khususnya di bagian matanya. Sorot matanya seperti sinar matahari di pagi hari sebelum pukul 10, hangat dan mengandung vitamin.

Sinar itu hanya dimiliki orang tertentu yang mendapat rahmat, dan hanya dapat dipandang oleh orang tertentu pula . Tak sembarang orang bisa menangkap pancaran sinar itu. Ketika seseorang bisa menangkapnya sekali, ia tak akan mau kehilangan selamanya. Menjadi kerabat Dewi Asmaragita merupakan simbol bagi kewalian, kurasa.

Terlepas dari kondisi lahirnya yang menjadi korban ambisi laki-laki dalam berebut kuasa, kondisi batinnya menjadi sarana, menjadi perantara, bagi lewatnya belas kasih. Adapun kecantikan Dewi Asmaragita, jika dipandang sebentar akan terlihat biasa. Baru apabila dipandang lama-kelamaan, tampaklah ia sebagai perempuan yang luar biasa cantik. Tak bamyak yang menyamai kecantikannya. Sikapnya luwes, tanggap, dan lemah lembut.

Bersambung kapan-kapan.