---Di mana pun adalah ruang kelas---

Sabtu, 13 Maret 2021

,

- Jelaskan definisi filsafat secara etimologis

- Jelaskan definisi filsafat secara terminologis

- Jelaskan filsafat sebagai pandangan hidup

- Jelaskan filsafat sebagai ilmu

- Jelaskan asal filsafat, mengapa manusia berfilsafat

- Jelaskan persoalan-persoalan filsafat

- Jelaskan ciri-ciri atau karakteristik pemikiran filsafat

- Jelaskan objek material dan objek formal filsafat

- Jelaskan lingkup pengertian filsafat

- Jelaskan mengapa perlu filsafat

- Jelaskan pendekatan dalam mempelajari filsafat

- Jelaskan kedudukan filsafat

- Jelaskan peran dan fungsi filsafat

- Jelaskan cabang-cabang filsafat

- Jelaskan aliran-aliran filsafat secara umum 

Senin, 08 Maret 2021

,



Pertama kali mendapat amanah, saya masih belum memiliki gambaran utuh apa saja yang akan dilakukan. Sebab, saya sebelumnya belum mengalami di Rayon, tetapi langsung ke jenjang selanjutnya yaitu Komisariat.


Sepengalaman pribadi, di bawah ini adalah aktivitas Biro Keilmuan Komisariat:



Memainkan Peran


Di dalam HASIL MUSPIMNAS, tidak ada pembahasan tentang Biro Keilmuan. Yang ada adalah Biro Kajian. Menurut hemat saya, kurang lebih sama. Di situ ditulis peran Biro Kajian antara lain: Menyediakan rekomendasi buku, artikel, berita, segala bentuk sumber tertulis mengenai isu/tema/topik yang dipilih; Menyediakan rekomendasi bahan kajian terhdap isu/tema/topik berupa non sumber tertulis, film dsb; Menyediakan rekomendasi isu/tema/topik strategis untuk dikerjakan.



Memperhatikan Jenjang


Jika di Rayon kedudukannya adalah fakultas, maka Komisariat kedudukannya adalah satu kampus entah masih institut atau sudah universitas. Tentunya, terdapat perbedaan yang signifikan. Paling tidak, tiap disiplin ilmu di setiap fakultas dapat dipahami dasar-dasarnya agar pelayanan yang diberikan kemudian cukup relevan bagi semua fakultas, tidak hanya mewakili satu fakultas saja.



Mengikuti Rapat


Namanya organisasi, keputusan yang diambil pada dasarnya berdasarkan musyawarah mufakat. Rapat tersebut bisa yang dihadiri oleh para Pengurus Komisariat maupun perwakilan masing-masing bidang keilmuan.



Koordinasi dengan Bidang dan Biro lainnya


Dalam pelaksanaan program kerja, tidak bisa setiap biro atau bidang berjalan sendiri-sendiri tanpa Koordinasi antar bidang. 



Menulis Hasil Pengamatan


Setiap apa yang dilihat, dapat diamati, setiap hari. Akan tetapi, paling tidak, pengamatan itu baru agak terbentuk menjadi susunan gagasan ketika mengendap sekitar tiga hari. Anggap tiap tiga hari ada satu buah hasil pengamatan, yang selanjutnya dapat dituangkan ke dalam satu artikel tulisan. Selanjutnya, tulisan itu dapat menjadi pertimbangan, secara khusus di internal biro, maupun biro dan bidang lainnya, untuk mengambil langkah. Hasil pengamatan tersebut bisa dipublikasikan secara luas di blog pribadi atau disimpan secara terbatas. Paling tidak, tulisan hasil pengamatan tersebut dapat menjadi bukti pengabdian, sebagai eksistensi akademik.



Instruktur Pelatihan


Tidak jarang biasanya biro ini yang menjadi personel laris dipanggil untuk mengisi acara kajian, pelatihan formal, atau yang sejenis. Apalagi topik yang dibawakan sedang aktual, sehingga hampir dipastikan jadwal akan padat, minimal sekali dalam setiap minggunya.



Mendampingi Perencanaan dan Pelaksanaan Jenjang di Bawahnya


Program kerja, baik semua bidang di Rayon maupun bidang atau biro terkait secara khusus, seringkali butuh pemdampingan, butuh arahan, dalam merumuskan perencanaan dan nanti ketika pelaksanaan. 



Kurang lebih itulah aktivitas personel biro Keilmuan Komisariat. Seberapa banyak dan sering aktivitasnya, bervariasi dan berbeda berdasarkan pengalaman hingga latarbelakang disiplin ilmu asal. 

Jumat, 05 Maret 2021

,


Di alam dunia yang serba-serbi ini, saya sendiri, mungkin juga pembaca, sering dihadapkan pada sejumlah pilihan yang membuat bimbang untuk menentukan pilihan. Apalagi, jika antara pilihan tersebut bertentangan, padahal inginnya dipilih semua. Pertentangan itupun terkadang menimbulkan konflik batin, manakah di antara pilihan tersebut yang merupakan pilihan terbaik.


Apa dan siapa yang akan dipilih menjadi prioritas utama, saya yakin jawabannya adalah keluarga. Persoalannya, istilah keluarga tidak hanya merujuk kepada anggota keluarga yang memiliki hubungan darah. Lebih dari itu, orang-orang yang dianggap sebagai anggota keluarga itu juga termasuk orang-orang yang baru dipilih dan dianggap sebagai keluarga.


Keluarga sebagai prioritas utama, paling tidak, dapat dibicarakan dengan dua persoalan. Pertama, persoalan keluarga antara personalitas dan identitas. Kedua, keluarga sebagai aset terbesar yang dimiliki.


Antara personalitas dan identitas, saya teringat akan acara Kenduri Cinta yang pernah saya tonton. Dikatakan bahwa personalitas merupakan sesuatu yang kita dapat tanpa bisa memilih yang sifatnya nature, alami. Identitas merupakan sesuatu yang kita adopsi dari lingkungan yang sifatnya nurture, buatan.


Personalitas sifatnya given, terberi, tidak dapat dipilih. Sifatnya tak ada tawar menawar, tanpa negosiasi, langsung ke diri. Sementara identitas adalah bentuk, rupa, yang diciptakan, dibuat, diwujudkan, berdasarkan personalitas. Identitas terbentuk dari pergulatan dengan lingkungan dan juga dihasilkan dari pilihan-pilihan seseorang dalam menjalani kehidupan. Ini berkaitan dengan menentukan pilihan tentang apa saja dan siapa saja.


Menurut hemat saya, ketika seseorang dihadapkan pilihan sulit antara cenderung memilih personalitas atau identitas, dan ia lebih memilih identitas, berarti ia lebih dibentuk oleh pergulatan dengan lingkungannya. Dalam pengamatan saya, biasanya orang seperti ini menentukan pilihan berdasarkan kemauan, keinginan, ketertarikan, dan sejenisnya. Sedangkan seseorang yang cenderung lebih memilih personalitas, biasanya ia menentukan pilihan berdasarkan kebutuhan, keperluan, kepentingan, panggilan nurani, dan semacamnya. 


Dan saya, termasuk orang yang lebih cenderung ke personalitas daripada identitas, sebab bagi saya identitas hanya fenomena. Argumentasi saya, salah satunya, adalah bahwa ketika seseorang menentu pilihan berdasarkan identitas, ia cenderung mudah untuk mengubah dan mengganti pilihannya, ketika kehilangan selera. 


Lain halnya jika seseorang itu menentukan pilihan berdasarkan personalitas, maka ia memang cenderung lambat menentukan pilihan. Tetapi, ketika sekali menentukan pilihan, maka sulit untuk mengubah dan mengganti pilihan itu. Termasuk dalam konteks ini, memilih keluarga seperti apa dan siapa saja yang menjadi anggota keluarga.


Selanjutnya, pembicaraan soal antara personalitas atau identitas tentang keluarga, menurut saya ada hubungannya dengan keluarga sebagai aset terbesar. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah, seseorang terhubung dengan keluarganya, karena personalitas atau identitas. 


Namanya keluarga, itu adalah lingkaran yang menyediakan kesempatan untuk berbagi renungan, cerita lucu, kisah dan kabar terbaru. Di sana bersama mereka, seseorang tidak perlu khawatir jika anda sering mengungkapkan ungkapan Verbal dan non-verbal yang mungkin urakan atau menjengkelkan, bahkan hal itu justru dapat membuat anggota keluarga anda merasa terhibur dan ikut bersenda gurau.  


Lebih dari itu, bersama mereka di sana, sesama anggota keluarga saling memberikan perhatian, kepedulian, ada rasa kepemilikan dan ikut merasa bertanggungjawab terhadap tujuan dan sasaran yang diperoleh masing-masing anggota keluarga. Dari hal sepele seperti bayar air, bayar listrik, kondisi keuangan, kondisi kesehatan, bahkan obrolan bermakna di meja makan, atau melihat apakah rutinitas belajar dan rutinitas profesi yang dilakukan sudah sesuai dengan yang dia harapkan.


Akhirnya, keluarga, sebagai satuan terkecil sebuah kumpulan manusia, bagian internal dan integral dari diri. Betapapun tampak dapat dipilih apabila dilihat dari permukaan, tetapi di dalam inti, adalah bagian dari personalitas. Berarti, itu adalah sesuatu yang bersifat terberi, suatu anugerah, suatu takdir, yang sudah tertulis jauh dalam suratan. Oleh karena itu, anugerah tersebut adalah aset terbesar, yang tidak ternilai, yang terhubung karena suatu panggilan.


 

Rabu, 03 Maret 2021

,



Tulisan ini adalah catatan saya, Muhammad Qurrotul Aynan, dengan Ketua Bidang Eksternal PK PMII IAIN Jember, Riko Arifan.



Muhammad Qurrotul Aynan: Jika konsep bidang eksternal adalah 'pengawalan', maka pengawalan seperti apa gambarannya, dan contohnya apa saja?


Riko Arifan: Pengawalan pada ketimpangan sistem atau peraturan, ataupun keputusan yang dibuat oleh orang yg bertugas, yang mana itu bisa merugikan salah satu pihak (mahasiswa/masyarakat) , atau mengambil keuntungan pribadi.


Muhammad Qurrotul Aynan: Cakupan pengawalannya apa saja? Isu apa saja yang menjadi perhatian?


Riko Arifan: Yang pasti cakupan kampus dulu mulai dari tingkatan prodi, fakultas, sampai ke akademik, di situ bisa berupa pengawalan (kurikulum, fasilitas, UKT, dll termasuk pelanggaran yg dibuat mahasiswa, dosen, sampai tataran rektor). Baru setelah itu bisa ke cakupan luar kampus, bisa dimulai dari lingkungan terdekat maupun isu yg cakupan kecamatan dan kabupaten.


Muhammad Qurrotul Aynan: Apa beda 'pengawalan' di bidang eksternal dan 'pengawalan' di bidang lainnya?


Riko Arifan: Pengawalan di bidang external itu kondisional dan tidak di agendakan ataupun di jadwal,karna kita gak tau kapan akan ada masalah untuk di kawal


Muhammad Qurrotul Aynan: Pernahkah, atau mungkin bahkan sering, ditemukan pemahaman yang keliru atau kurang tepat mengenai bidang eksternal ini?


Riko Arifan: Pernah iya, sering juga banyak.


Muhammad Qurrotul Aynan: Berdasarkan pengalaman, ketimpangan sistem atau peraturan itu, bagaimana bisa terjadi dari segi sumberdaya manusia baik dari pengambil keputusan maupun dari mahasiswa, maupun dari segi sarana atau anggaran?


Riko Arifan: Orangnya tidak mau dibuat ruwet, yang penting, tidak ruwet bagi dirinya sendiri. Mahasiswanya juga tidak ada usulan sebelumnya, baru ketika terjadi masalah, mempermasalahkan. Jadi, kesadarannya masih kurang. Seharusnya seperti sebelum perkuliahan terjadi. Mengapa setelah pembelajaran terjadi, baru mempersoalkan. Mungkin, yang mengusulkan sekarang, baru bisa dinikmati setelahnya.


Muhammad Qurrotul Aynan: Juga, bagaimana menemukan celah adanya indikasi yang cenderung mengarah kepada mengambil keuntungan pribadi?


Riko Arifan: Menemukan celah, ini berkaitan dengan transparansi. Memang ada, tapi transparansi tidak ke mahasiswa, tetapi cukup ke pimpinan saja. Semisal, anggaran bangunan 4 M. Bisa dilihat, jika tidak sesuai, bangunannya sederhana tetapi menelan biaya besar, disitu bisa saja ada celah.


Muhammad Qurrotul Aynan: Adakah kesenjangan antara persepsi yang ada di benak mahasiswa yang biasanya mengandaikan kondisi yang linier dan ideal, dengan kondisi di lapangan?


Riko Arifan: Pasti ada lah kalau mengandaikan seperti itu. Tapi kita tidak bisa, karena kita terikat oleh sistem. Kita ada tuntutan, mengerjakan tugas lah, ini lah, itu lah. Tidak semua yang kita andaikan sesuai dengan harapan. Kalau kita mengandaikan, pasti yang enak buat kita. Sekali lagi, kita terikat dengan aturan-aturan, dengan beban mahasiswa baik tugas maupun lainnya.


Muhammad Qurrotul Aynan: Berdasarkan pengamatan saya, kerja-kerja bidang eksternal lebih merupakan kerja yang bersandar pada suatu seni, daripada bersandar pada konsep atau teori tertentu dalam ilmu pengetahuan. Yang jadi pertanyaan, bagaimana gambaran pemikiran strategis dan gambaran langkah taktis, baik saat pertama kali diberi kepercayaan di bidang eksternal maupun setelah cukup lama sampai di akhir periode?


Riko Arifan: Pemikirannya adalah bahwa kita harus mengetahui medan. Kalau belum tau, ya cari tau dulu. Selan itu, tau dan menyiapkan pasukan kita sendiri ataupun diri kita sendiri gitu. Setelah kita mengetahui ya ataupun belum mengetahui pastinya yang pertama kali harus kita persiapkan diri kita sendiri harus siap secara pribadi baik fisik maupun mentalnya, baru siap secara kelembagaan ataupun secara pasukan. Karena kalau kita tidak siap secara pribadi otomatis ya kita istilahnya lah menyerah. Menyerah di awal kita setelah siap secara pribadi baru secara kelembagaan karena kita tidak tahu kapan akan adanya masalah karena masalah itu kan datangnya secara tiba-tiba. Pastinya kalau kita tidak siap secara kelembagaan maupun keseluruhan, ketika ada masalah secara tiba-tiba kita juga kocar-kacir. Pemikirannya, jangankan untuk melakukan sesuatu, memikirkannya saja sudah kocar-kacir. Makanya harus siap secara kelembagaan atau secara pribadi. Saya ketika sudah lama di bidang eksternal ini ataupun di akhir periode ini, ya sudah banyak kan permasalahan yang kita hadapi, permasalahan-permasalahan yang sudah kita kawal, pastinya lebih mudah untuk memprediksi semisal terjadi apa permasalahan di kampus tanyakan. Karena kita udah beberapa kali melakukan penawaran pastinya lebih mudah untuk menebaknya. Kita sudah bisa memprediksi apa yang akan dilakukan pimpinan, apa yang akan dilakukan oleh kita sendiri gitu kan karena sebelumnya hal-hal yang sudah kita lakukan sebelumnya itu, kita bisa melakukan evaluasi disana semisal dulu kita gagalnya disini, kita bisa memperbaikinya


Muhammad Qurrotul Aynan: Bagaimana insting dapat bekerja dalam pelaksanaan langkah yang diambil?


Riko Arifan: Secara pribadi dan pasukan itu dapat bekerja dalam pelaksanaan langkah yang diambil, biasanya ketika dalam keadaan terdesak. Kebanyakan insting terjadi itu dalam keadaan terdesak. Semisal planning yang kita rencanakan planning A ataupun planning B itu gagal pasti insting bisa bekerja karena kita dalam keadaan terdesak itu akan lebih bekerja di situ. Walaupun bisa jadi insting itu tadi bekerja sebelumnya, semacam firasat. Tapi lebih banyak insting untuk bekerja itu ketika dalam keadaan terdesak itu. Maklum kalau terjadi dalam keadaan terdesak bagi orang-orang yang bekerja di lapangan. Karena kita ya juga memikirkan sebelumnya ya prediksi sebelumnya. Tapi tidak bisa untuk percaya seratus persen prediksi kita. Jadi harus melihat di lapangan.


Muhammad Qurrotul Aynan: Risiko apa saja yang dihadapi di bidang eksternal ini?


Riko Arifan: Risiko entah mungkin diserang isu atau ada opini yang mungkin menyesatkan atau bahkan bisa jadi risiko itu terjadi mungkin ada secara fisik lah. Kita tidak pernah tahu soalnya ketika kita gagal dalam melakukan pengawalan pastilah ada semacam isu-isu miring ketika kita berhasil. Kadang kita bisa dianggap mengambil keuntungan ataupun ada dengan pihak-pihak tertentu secara kelembagaan risikonya ya sama pasti ada isu-isu baik itu ketika kita berhasil ataupun tidak. Kalau resiko secara fisik ketika melakukan pengawalan pasti ada ancaman-ancaman ataupun pemukulan. Kita harus siap namanya juga kita orang-orang lapangan yang melakukan pengawalan. Ancaman-ancaman seperti itu pasti ada ataupun ancaman-ancaman dari pihak aparat itu ada karena orang-orang yang kita hadapi itu orang-orang yang lebih berpengalaman dari kita lebih punya finansial dari kita dan kita hanya bisa mengandalkan massa. Jadi mereka pasti menghadapinya, istilahnya kalau kita definisikan itu, kalau kita ambil sopirnya pastinya penumpangnya tidak bisa jalan. Kepalanya yang pasti punya risiko lebih besar. Kalau kita tidak dihargai dalam melakukan perjuangan ya kita harus siap menerima lah. Tergantung kita sendiri kan kita maunya kita berjuang secara ikhlas apa kita cuma mau mendapatkan pujian ataupun kita mau mendapatkan keuntungan. Bisa jadi kita secara pribadi ngomong kita melakukan ini ikhlas. Cuma orang lain belum tentu tahu apa yang kita lakukan. Bisa jadi seseorang mengambil keuntungan dari hal yang dilakukan itu.


Muhammad Qurrotul Aynan: Kembali ke soal pengawalan. Seperti dikatakan tadi, dapat dikatakan bahwa pengawalan berfungsi utamanya sebagai pengawasan. Sebagai pengawasan, paling tidak, sepemahaman saya, memiliki tujuan untuk: Pertama, pengawasan transparansi dan akuntabilitas untuk meningkatkan pelayanan kepada mahasiswa; Kedua, pengawasan untuk meningkatkan sinergi antara sivitas akademika baik antara tenaga pendidik, tenaga administrasi di masing-masing bagian dan sub-bagian, dengan mahasiswa; Ketiga, pengawasan untuk kinerja agar tetap di dalam jalurnya. Menurut Anda?


Riko Arifan: Menurut saya sama, cuma beda bahasa.


Muhammad Qurrotul Aynan: Sedangkan sasaran yang saya pahami, paling tidak: Pertama, menurunnya ketimpangan sistem dan aturan dalam pengambilan keputusan; Kedua, bersama menjaga dan merawat sarana dan fasilitas yang dapat mendukung pelayanan; Ketiga, sumberdaya manusia yang ada dapat betul-betul profesional; Keempat, ada tindak lanjut dari upaya penyelesaian persoalan yang ada; Kelima, sinergi antar pihak dapat meningkat; Keenam, terkendalinya setiap fungsi dan tidak terjadi penyimpanan wewenang. Menurut Anda? Seperti apa saja indikator dari kesemuanya?


Riko Arifan: Menurut saya untuk yang pertama itu lebih pada tidak adanya sosialisasi ataupun meminta pendapat kepada mahasiswa karena yang merasakan fasilitas ataupun perkuliahan mahasiswa. Walaupun iya, dosen juga merasakan. Paling tidak kan ada lah saran gitu kan. Saran yang dibuka secara umum untuk pimpinan itu dalam pengambilan keputusan apa-apa saja yang diperlukan oleh mahasiswa. Apa saja yang masih kurang dalam perkuliahan ataupun fasilitas secara umum. Untuk yang kedua bisa menjaga dan merawat sarana kalau ini masih bisa. Jadi lebih banyak pada mahasiswanya karena kesadaran untuk menjaga fasilitas itu masih kurang. Dikatakan masih kurang khususnya terjadi di kampus sendiri lah karena kebanyakan fasilitas-fasilitas yang dirusak itu kan mahasiswa sendiri yang merusaknya baik itu yang disengaja ataupun tidak tapi lebih banyak yang saya rasa itu disengaja. Untuk yang ketiga, untuk masalah profesional itu ya kembali tadi seperti yang saya sampaikan ya siapa sih manusia yang mau ribet kan gitu. Kebanyakan tidak mau ribet lah senangnya dan juga kalau bisa malah menguntungkan kepada secara pribadi tidak mau ribet dan maunya diuntungkan. Itu yang mempengaruhi sumber daya manusianya itu kurang profesional. Untuk yang keempat ada tindak lanjut dari upaya penyelesaian persoalan yang ada, tindak lanjut untuk menyelesaikan masalah ini cara untuk akhir-akhir ini masih ada lah. Kalau sebelumnya, bukannya mau meremehkan, tindak lanjut itu lebih tertutup, kurang terbuka. Juga kadang hasilnya tiba-tiba sudah ini kan. Sedangkan orang-orang luar itu tidak tahu tidak lanjutnya, prosesnya seperti apa. Itu kalau akhir-akhir ini banyak kan lebih terbuka tindak lanjutnya. Sebelumnya komunikasi dan informasi itu macet. Sekarang mungkin bisa jadi karena kemajuan teknologi, kalau sekarang lebih mudah dan juga sumber daya mahasiswanya sudah sekarang kan orang-orang yang yang berminat di bidang menulis lebih banyak. Kita melakukan wawancara kepada orang-orang yang melakukan pengawalan lebih banyak. Kalau dulu kan mungkin kita hanya mengandalkan media-media berita yang dari luar itu kan kalau sekarang kan kita sendiri. Kita sendiri yang sudah banyak yang menulis jadi ya informasi itu lebih mudah. Makanya ketika kita melakukan pengawalan pasti kita juga melakukan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan itu kan. Pasti mendapatkan kritik dari kita sendiri disana. Jadi kita jangan sampai kalau ada orang-orang melakukan pengawalan itu, jangan baper ataupun apa ketika mendapatkan kritikan dari orang lain kalau demi kebaikan. Untuk yang kelima, ketika melakukan koordinasi dan komunikasi ataupun menginformasikan itu, kepada orangnya langsung. Jadi tidak termakan isu-isu miring ataupun isu dari luar. Kalau kita menitipkan pembicara kepada orang ya itu akan bertambah, bisa jadi bertambah bisa jadi berkurang dan substansinya bisa berubah. Kalau kita melakukan komunikasi ataupun koordinasi itu langsung kepada pihak yang berkaitan. Kalau terkendalinya setiap fungsi itu pertama harus kembali pada pribadi ataupun orang-orang yang bertanggung jawab di setiap tupoksi nya ataupun tanggung jawabnya. Kalau kita melakukan sesuai tupoksi ataupun tanggung jawab atas pribadi pastinya penyimpangan itu tidak akan terjadi. Semisal saya contohkan kepada saya sendiri gitu kan. Kalau saya selaku bidang eksternal itu sok-sokan dalam melakukan agenda, semisal agendanya bidang satu lah. Semisal ada agenda kajian gitu, walaupun saya bisa tapi kan belum tentu sesuai dengan apa yang diharapkan oleh bidang satu. Jadi bisa belum tentu sesuai. Walaupun kita bisa belum tentu sesuai dengan apa yang kita rencanakan ataupun yang kita harapkan. Terjadinya penyimpangan wewenang pastinya ya itu tadi. Ketika saya melakukan hal seperti itu sedangkan tidak adanya komunikasi terlebih dahulu itu ya terjadi penyimpangan lah itu sudah menjadi terjadi penyimpangan.


Muhammad Qurrotul Aynan: Pencapaiannya apa saja? Yang sudah diketahui mungkin efektivitas pengajuan keringanan UKT. Selain itu mungkin ada lagi?


Riko Arifan: Pencapaian yang sudah kita dapatkanlah istilahnya, ya lebih cepat ya. Kita udah lebih cepat dan juga lebih banyak kuota yang kita terima. Kalau dulu kita masih di luar kan dengan ini ya. Karena dengan persyaratan, karena waktu pengajuan sampai batas akhir pengajuan itu dari awal itu terlalu mepet. Sedangkan mahasiswa itu kan rumahnya jauh. Yang dekat bisa menyiapkan itu secara instan ataupun tidak terlalu lama ya 12 hari mungkin bisa. Kalau orang orang-orang yang rumahnya jauh bisa jadi luar kota ataupun luar provinsi. Kalau cuma luar kota mungkin bisa diusahakan. Kalau sudah daerah barat apalagi luar provinsi untuk mempersiapkan persyaratan tersebut itu membutuhkan waktu. Okelah orang tua kita, tapi orang lain yang contohnya kemarin itu ada orang Lampung adik tingkat saya sendiri itu pengiriman persyaratan 7 hari, nyampe ke sini masih 7 hari. Sedangkan pengajuan itunya berapa hari atau 7 hari juga kalau gak salah, 7 hari juga, cuma pastinya akan terjadi keterlambatan. 7 hari itu kan dari awal surat pemberitahuan itu diturunkan, hari pertama itu sudah masuk hitungan hari pertama sampai hari ketujuh. Sedangkan untuk pengirimannya saja, untuk menginformasikan saja itu kan juga membutuhkan waktu mengurusnya, ditentukan waktu pengirimannya 7 hari. Kalau mengurusnya 1 hari mungkin terlambat 1 hari, kalau mengurusnya 2 hari mungkin ya lebih pada perpanjangan waktu pengajuan itu yang masih kita kurang maksimal. Coba dari turunnya SK ataupun pengumuman yang dari pimpinan itu waktunya lebih efektif, lebih apa ya, dipermudah pada mahasiswa karena melihat kondisi jarak rumah gitu kan. Belum lagi kita dibuat ruwet di mengurus administrasi nya itu. Kan Kepala Desa tidak semua orang sama. Kadang ada yang harus bayar kan. Jadi kalau waktunya bisa paling tidak satu bulan ini ya. Tapi untuk pencapaian itu sudah kuota lebih banyak daripada sebelumnya. Mungkin juga karena faktor covid lah kampus juga memperbanyak kuota gitu kan karena yang terdampak covid itu secara umum itu berdampak semua baik secara ekonomi ataupun yang lainnya. 

Selasa, 02 Maret 2021

,


Oleh : Septian Eka Dewanto


Mata adalah salah satu indera yang paling sering kita gunakan untuk mengamati suatu objek, hal ini berlaku saat kita menilai seseorang untuk pertama kali. Objek, baik benda maupun makhluk hidup seperti manusia, pertama kali yang bisa diamati adalah bagian yang bisa dilihat yaitu fisiknya. Untuk lebih jauh mengetahui tentang seseorang, gambaran awal pribadi seseorang pastilah tercermin dari tampak luar fisiknya.


Lain dari pada itu, ada sebuah pepatah yang menyebutkan "don't judge a book by its cover" yang berarti janganlah menilai sebuah buku hanya dari sampulnya. Mungkin pepatah inilah yang sesuai untuk menggambarkan sosok manusia, termasuk sosok manusia anomali yang saya tulis. Namanya Muhammad Qurrotul Aynan, sering ditulis M. Q. Aynan, dan biasa dipanggil Aynan. Orang yang baru saya kenal beberapa bulan yang lalu.


Pertama kali saya bertemu dengannya dalam sesi screening sebuah acara pelatihan sebelum pelaksanaan. Saat itu di sebuah ruangan hanya ada dia karena dialah pertama kali menyeleksi karya tulis saya sebagai salah satu persyaratan untuk bisa mengikuti pelatihan. Sesi tersebut bahkan tidak sampai lima menit, dia hanya mengomentari kutipan saya yang kurang referensinya di paragraf kedua dan kelima dalam artikel terkait tersebut.


Saat pertama melihatnya, saya yakin akan banyak orang yang akan terkecoh dengan penampilan luarnya, sifatnya yang pendiam dan jarang sekali memulai percakapan dengan orang baru membuat pribadinya memiliki kesan misterius. Sama seperti dengan orang baru, dia jarang sekali mulai percakapan, bahkan dengan orang yang sudah dikenal.


Bukan hanya itu, pola pikirnya yang unik membuat ia menjadi pribadi yang sulit ditebak. Jika orang lain pola pikirnya kebanyakan mengikuti siapa dan bagaimana lingkungan sekitarnya, maka dia, saya rasa lebih suka mengamati dulu sebelum bertindak dan bersikap. Oleh karenanya, dia lebih banyak diam dan kadang hanya mengutarakan pendapat di akhir saja 


Deskripsi saya yang demikian tentu akan membuat orang lain memiliki persepsi yang bermacam-macam terhadap sosok manusia satu ini, karena sejatinya manusia satu dengan yang lain selalu memandang satu hal dengan gambaran yang berbeda-beda dalam dirinya. Mungkin ada sekolompok orang menganggap sosok Aynan ini pribadi yang biasa-biasa namun bagi sekelompok lainnya ia bisa dianggap sebagai sosok yang inspiratif.


Mungkin ada orang yang bertanya-tanya, mengapa saya mau menulis hal yang demikian dan seolah menggambarkan karakternya yang demikian secara hiperbolis. Alasannya sederhana, ia pandai menghargai bakat orang lain. Dia berusaha menempatkan orang yang tepat untuk tempat, posisi, atau job description yang tepat sehingga orang tadi merasa bermanfaat dan berguna.


Tulisan ini adalah bentuk penghargaan balik saya kepada pribadinya. Pesan tersuratnya adalah tempatkanlah sesuatu pada tempatnya, bertemanlah dengan orang yang ingin berteman denganmu dan hargailah orang lain yang sudah menghargai dirimu.  

,



Tulisan ini adalah rangkuman wawancara Zygmunt Bauman dengan Elpais yang intinya Sosiolog tersebut skeptis tentang kemungkinan perubahan politik.


- Dia mengaku lelah saat kita memulai wawancara, tetapi dia masih berhasil mengekspresikan ide-idenya dengan tenang dan jelas, meluangkan waktunya dengan setiap tanggapan karena dia benci memberikan jawaban sederhana untuk pertanyaan yang kompleks. 


- Sejak mengembangkan teori modernitas cairnya pada akhir 1990-an - yang menggambarkan usia kita sebagai satu di mana "semua perjanjian bersifat sementara, sekilas, dan valid hanya sampai pemberitahuan lebih lanjut" - ia telah menjadi tokoh terkemuka di bidang sosiologi.


- Karyanya tentang ketidaksetaraan dan kritiknya terhadap apa yang dia lihat sebagai kegagalan politik untuk memenuhi harapan orang-orang, bersama dengan pandangan yang sangat pesimis terhadap masa depan masyarakat.



- Demokrasi berada di bawah ancaman. Dapat digambarkan apa yang sedang terjadi saat ini sebagai krisis demokrasi, runtuhnya kepercayaan: keyakinan bahwa pemimpin kita tidak hanya korup atau bodoh, tetapi tidak kompeten. Tindakan membutuhkan kekuasaan, untuk dapat melakukan sesuatu, dan orang-orang membutuhkan politik, yang merupakan kemampuan untuk memutuskan apa yang perlu dilakukan. 


- Tapi pernikahan antara kekuasaan dan politik di tangan negara bangsa telah berakhir. Kekuasaan telah didunia, tetapi politik sama lokalnya dengan sebelumnya. Politik telah memotong tangannya. Orang-orang tidak lagi percaya pada sistem demokrasi karena tidak menepati janji-janjinya. 


- fenomena telah mengglobal, tetapi orang-orang masih bertindak secara parokial. Institusi demokrasi yang ada tidak dirancang untuk menghadapi situasi saling ketegangan. Krisis demokrasi saat ini adalah krisis institusi demokrasi.


- Kebebasan dan keamanan adalah dua nilai yang sangat sulit untuk direkonsiliasi. Jika Anda ingin lebih banyak keamanan, Anda harus menyerahkan sejumlah kebebasan; Jika Anda ingin lebih banyak kebebasan, Anda akan harus menyerah keamanan. Dilema ini akan terus berlanjut selamanya. Konflik tidak lagi antarkelas, tetapi antara setiap orang dan masyarakat. Ini bukan hanya kurangnya keamanan, tetapi kurangnya kebebasan.


- Kemajuan adalah mitos, karena orang tidak lagi percaya masa depan akan lebih baik daripada masa lalu. Kita berada dalam periode interregnum, antara waktu ketika kita memiliki kepastian dan yang lain ketika cara lama melakukan hal-hal tidak lagi bekerja. Kita tidak tahu apa yang akan menggantikan ini. 


- Kebanyakan orang menggunakan aktivitas sosial untuk tidak membuka cakrawala mereka lebih luas, tetapi untuk mengunci diri di zona nyaman juga bahwa dengan sifat mereka, tidak ada ruang untuk kepemimpinan dalam koalisi warna-warni.


- Justru karena gerakan seperti itu tidak memiliki pemimpin sehingga mereka dapat bertahan hidup, tetapi juga justru karena mereka tidak memiliki pemimpin bahwa mereka tidak dapat mengubah tujuan mereka menjadi tindakan.


- Mengubah satu pihak untuk pihak lain tidak akan menyelesaikan masalah. Masalahnya bukan bahwa para pihak salah, tetapi bahwa mereka tidak mengendalikan hal-hal. Masalah lokal adalah bagian dari masalah yang lebih global. Ini adalah kesalahan untuk berpikir Anda dapat memecahkan hal-hal secara internal.


- Ia skeptis terhadap cara orang memprotes melalui media sosial, dari apa yang disebut "aktivisme kursi berlengan," dan mengatakan bahwa internet menodok kita dengan hiburan murah. Jadi kita dapat mengatakan bahwa jejaring sosial adalah opium baru orang-orang.


- Anda harus membuat komunitas Anda sendiri. Tetapi komunitas tidak dibuat, dan Anda memilikinya atau Anda tidak. Apa yang dapat dibuat oleh jejaring sosial adalah pengganti. Perbedaan antara komunitas dan jaringan adalah Bahwa Anda dimiliki oleh komunitas, tetapi jaringan dimiliki oleh Anda. Anda merasa memegang kendali. Anda dapat menambahkan teman jika mau, Anda dapat menghapusnya jika mau. Anda mengendalikan orang-orang penting kepada siapa Anda berhubungan. Orang-orang merasa sedikit lebih baik sebagai hasilnya, karena kesepian, ditinggalkan, adalah ketakutan besar di usia individualis kita.


- Dialog nyata bukan tentang berbicara dengan orang-orang yang percaya hal yang sama seperti Anda. Aktivitas sosial kini tidak mengajarkan kita untuk berdialog karena sangat mudah untuk menghindari kontroversi.


- Tetapi kebanyakan orang melakukan aktivitas sosial untuk tidak bersatu, bukan untuk membuka cakrawala mereka lebih luas, tetapi sebaliknya, untuk memotong diri mereka di zona nyaman di mana satu-satunya suara yang mereka dengar adalah gema suara mereka sendiri, di mana satu-satunya hal yang mereka lihat adalah pantulan wajah mereka sendiri. Aktivitas sosial kini sangat berguna untuk memberikan kesenangan (kenyamanan, kenikmatan) tetapi itu adalah jebakan.