---Di mana pun adalah ruang kelas---

Rabu, 29 April 2026

Arti Makna “Fī ad-Dunyā Ḥasanah”

Arti Makna “Fī ad-Dunyā Ḥasanah”

Disusun oleh Muhammad Qurrotul Aynan

29 April 2026


Ada doa yang begitu sering terucap, ringan di lisan, namun dalam di makna: “Rabbanā ātinā fī ad-dunyā ḥasanah, wa fī al-ākhirati ḥasanah…”—sebuah permohonan agar diberikan kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Banyak orang mengulanginya, bahkan menghafalnya sejak kecil, tetapi tidak semua berhenti sejenak untuk bertanya: apakah sebenarnya yang dimaksud dengan ḥasanah di dunia itu?

Pertanyaan ini penting, karena cara kita memahami “kebaikan dunia” akan menentukan cara kita hidup di dalamnya. Jika kita menyempitkan makna ḥasanah menjadi sekadar kelimpahan materi, kenyamanan, atau pencapaian lahiriah, maka kita akan menjalani hidup dengan orientasi akumulatif: mengumpulkan sebanyak mungkin, mempertahankan sekuat mungkin, dan menikmati selama mungkin. Namun jika kita memperluas maknanya, maka dunia tidak lagi sekadar tempat menikmati hasil, melainkan ruang untuk mengolah makna.

Pada titik inilah, ḥasanah tidak identik dengan dunia itu sendiri, melainkan dengan cara kita mengelola dunia. Dunia adalah bahan mentah, sementara ḥasanah adalah hasil olahannya. Dunia adalah potensi, sementara ḥasanah adalah aktualisasinya dalam bentuk kebaikan yang bernilai.


Dunia sebagai Bahan Mentah Makna

Bayangkan seseorang yang memiliki kekayaan melimpah. Secara kasat mata, ia tampak telah memperoleh “kebaikan dunia”. Namun kekayaan itu sendiri tidak otomatis menjadi ḥasanah. Ia bisa menjadi cahaya, tetapi juga bisa menjadi kegelapan. Ia bisa menjadi jalan menuju kelapangan batin, tetapi juga bisa menjadi sebab kegelisahan yang tak berkesudahan.

Kekayaan, dalam dirinya sendiri, tidak membawa nilai moral. Nilai itu muncul ketika kekayaan tersebut dihubungkan dengan niat, cara memperoleh, cara menggunakan, dan dampaknya terhadap diri sendiri serta orang lain. Dengan kata lain, dunia tidak pernah berdiri sendiri sebagai “baik” atau “buruk”; ia selalu bergantung pada manusia yang menggunakannya.

Hal yang sama berlaku pada kekuasaan, ilmu, relasi sosial, bahkan waktu luang. Semua itu adalah bentuk-bentuk “dunia” yang bisa diarahkan ke dua kutub yang berbeda. Maka ḥasanah di dunia bukanlah sesuatu yang otomatis hadir, tetapi sesuatu yang harus diusahakan melalui kesadaran.


Meng-hasanah-kan Dunia: Dari Kepemilikan ke Pengarahan

Di sinilah muncul satu konsep penting: meng-hasanah-kan dunia. Ini bukan istilah formal dalam kitab, tetapi ia membantu kita memahami proses batin yang dimaksud oleh fī ad-dunyā ḥasanah. Meng-hasanah-kan dunia berarti mengubah orientasi kita terhadap dunia: dari sekadar memiliki menjadi mengarahkan, dari sekadar menikmati menjadi memaknai.

Seseorang boleh saja meraih keuntungan sebanyak-banyaknya, membangun usaha sebesar mungkin, atau mencapai posisi setinggi-tingginya. Tidak ada larangan dalam hal itu selama dilakukan dengan cara yang benar. Namun yang membedakan satu orang dengan yang lain bukanlah jumlah yang ia peroleh, melainkan apa yang ia lakukan dengan apa yang ia peroleh.

Ketika seseorang meng-hasanah-kan dunia, ia tidak berhenti pada titik “aku punya”, tetapi melanjutkan ke “untuk apa ini ada padaku?”. Pertanyaan ini sederhana, tetapi memiliki implikasi yang besar. Ia memaksa seseorang keluar dari pusat egonya, dan mulai melihat dirinya sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang lebih luas.

Kekayaan yang di-hasanah-kan akan mengalir menjadi manfaat—membantu yang membutuhkan, mendukung yang lemah, membuka peluang bagi yang terhambat. Ilmu yang di-hasanah-kan akan menjadi pencerahan—mengajar, membimbing, dan memperluas kesadaran. Kekuasaan yang di-hasanah-kan akan menjadi keadilan—melindungi, mengatur, dan memastikan keseimbangan.

Dalam semua itu, dunia tidak lagi menjadi sesuatu yang “ditimbun”, tetapi sesuatu yang “dialirkan”. Dan justru dalam aliran itulah, ia menemukan nilai ḥasanah.


Pergeseran Pusat: Dari Ego ke Amanah

Meng-hasanah-kan dunia pada hakikatnya adalah pergeseran pusat orientasi hidup. Pada awalnya, manusia hidup dengan pusat pada dirinya sendiri: apa yang ia inginkan, apa yang ia butuhkan, apa yang membuatnya nyaman. Ini adalah tahap yang wajar, bahkan alami. Namun jika seseorang berhenti pada tahap ini, ia akan terjebak dalam lingkaran yang sempit—lingkaran ego.

Ketika dunia terus bertambah, sementara pusat orientasi tetap pada ego, maka yang terjadi adalah inflasi keinginan. Apa yang dulu terasa cukup, kini terasa kurang. Apa yang dulu memuaskan, kini terasa biasa. Dunia yang semakin besar tidak menghasilkan ketenangan, justru memperbesar kegelisahan.

Sebaliknya, ketika seseorang mulai memindahkan pusat orientasinya dari ego menuju amanah, maka dunia yang sama bisa menghasilkan pengalaman yang berbeda. Ia mulai melihat bahwa apa yang ada padanya bukan sekadar miliknya, tetapi juga titipan. Ia bukan hanya pemilik, tetapi juga pengelola.

Dalam perspektif ini, hidup tidak lagi dipahami sebagai proyek pemenuhan diri semata, tetapi sebagai proses penunaian tanggung jawab. Setiap nikmat membawa konsekuensi, setiap kelebihan membawa tuntutan. Dan justru dalam menjalankan tuntutan itulah, seseorang menemukan makna yang lebih dalam.


Dunia sebagai Kendaraan, Bukan Tujuan

Salah satu kesalahan mendasar dalam memahami dunia adalah menjadikannya sebagai tujuan akhir. Ketika dunia diposisikan sebagai tujuan, maka seluruh energi hidup akan diarahkan untuk mencapainya. Segala sesuatu diukur dengan standar dunia: sukses atau gagal, untung atau rugi, tinggi atau rendah.

Masalahnya, dunia bersifat fana. Ia tidak stabil, tidak permanen, dan tidak bisa dipertahankan selamanya. Ketika seseorang menggantungkan makna hidupnya pada sesuatu yang fana, maka ia akan selalu berada dalam kondisi rentan. Kebahagiaannya bergantung pada sesuatu yang bisa hilang kapan saja.

Di sinilah pentingnya melihat dunia sebagai kendaraan, bukan tujuan. Kendaraan digunakan untuk mencapai sesuatu yang lebih jauh. Ia penting, tetapi bukan inti. Ia dijaga, tetapi tidak disembah. Ia digunakan, tetapi tidak dijadikan identitas.

Ketika dunia dipahami sebagai kendaraan, maka seseorang akan lebih leluasa menggunakannya. Ia tidak takut kehilangan secara berlebihan, karena ia tahu bahwa yang ia kejar bukanlah dunia itu sendiri. Ia juga tidak terjebak dalam keserakahan, karena ia sadar bahwa menumpuk kendaraan tidak membuatnya lebih dekat ke tujuan.


Mengkonversi Nikmat Dunia Menjadi Nilai Akhirat

Salah satu dimensi terdalam dari fī ad-dunyā ḥasanah adalah kemampuan untuk mengkonversi nikmat dunia menjadi nilai akhirat. Ini bukan berarti menolak dunia, tetapi justru menggunakan dunia sebagai bahan baku untuk akhirat.

Setiap aktivitas duniawi—bekerja, berdagang, belajar, bahkan beristirahat—memiliki potensi untuk menjadi bernilai ukhrawi jika disertai dengan niat yang benar dan cara yang sesuai. Dengan demikian, tidak ada dikotomi yang kaku antara dunia dan akhirat. Keduanya terhubung melalui niat dan makna.

Seseorang yang bekerja untuk menafkahi keluarganya, jika dilakukan dengan kesadaran dan kejujuran, tidak hanya memperoleh gaji, tetapi juga nilai ibadah. Seseorang yang menggunakan hartanya untuk membantu orang lain tidak hanya menciptakan dampak sosial, tetapi juga menanam bekal untuk kehidupan setelah mati.

Dalam perspektif ini, dunia menjadi ladang. Apa yang ditanam di dalamnya akan dipanen di akhirat. Maka pertanyaan pentingnya bukan hanya “apa yang kita miliki?”, tetapi “apa yang kita tanam dengan apa yang kita miliki?”.


Bahaya Ḥubb ad-Dunyā: Ketika Dunia Menjadi Penjara

Namun tidak semua orang berhasil meng-hasanah-kan dunia. Salah satu penghalang terbesarnya adalah ḥubb ad-dunyā—kecintaan yang berlebihan terhadap dunia. Ini bukan sekadar suka terhadap dunia, tetapi keterikatan yang membuat seseorang sulit melepaskan diri darinya.

Ketika ḥubb ad-dunyā menguasai hati, maka dunia tidak lagi berada di tangan, tetapi masuk ke dalam hati. Ia menjadi pusat perhatian, sumber kecemasan, dan ukuran nilai diri. Seseorang mulai menilai dirinya berdasarkan apa yang ia miliki, bukan siapa dirinya di hadapan Tuhan.

Dalam kondisi ini, dunia berubah menjadi penjara yang halus. Ia tidak terlihat seperti penjara, karena ia menawarkan kenyamanan dan kenikmatan. Namun justru karena itu, ia sulit disadari. Seseorang bisa merasa “bebas”, padahal ia sedang terikat kuat.

Ciri dari keterikatan ini adalah ketidakmampuan untuk merasa cukup, ketakutan berlebihan terhadap kehilangan, dan kecenderungan untuk mengorbankan nilai demi mempertahankan dunia. Pada titik ini, dunia tidak lagi menjadi sarana kebaikan, tetapi justru menjadi penghalang menuju kebaikan.


Ilusi Pencapaian dan Keniscayaan Kehilangan

Salah satu realitas yang sering diabaikan adalah bahwa semua pencapaian duniawi, seberapa pun besar dan gemilangnya, pada akhirnya akan ditinggalkan. Jabatan akan berakhir, kekayaan akan berpindah tangan, tubuh akan menua, dan nama akan perlahan dilupakan.

Ini bukan pandangan pesimis, tetapi kenyataan ontologis dari dunia yang fana. Masalahnya bukan pada kefanaan itu sendiri, tetapi pada cara manusia menyikapinya. Ketika seseorang menggantungkan makna hidupnya sepenuhnya pada sesuatu yang pasti hilang, maka ia sedang membangun rumah di atas pasir.

Sebaliknya, ketika seseorang menyadari sejak awal bahwa dunia akan ditinggalkan, ia bisa menggunakannya dengan lebih bijak. Ia tidak terlalu larut dalam euforia pencapaian, dan tidak terlalu hancur oleh kehilangan. Ia melihat dunia sebagai fase, bukan sebagai finalitas.

Dalam kesadaran ini, muncul pertanyaan yang lebih jernih: jika semua ini akan ditinggalkan, lalu apa yang akan tersisa? Jawabannya adalah makna—jejak kebaikan yang berhasil kita tanamkan melalui dunia yang kita miliki.


Keabadian sebagai Orientasi

Manusia pada dasarnya mencari kebahagiaan yang abadi. Tidak ada orang yang secara sadar ingin bahagia hanya untuk sementara, lalu menderita selamanya. Namun sering kali, tanpa disadari, manusia menukar yang abadi dengan yang sementara.

Ia mengejar kenikmatan sesaat dengan mengorbankan ketenangan jangka panjang. Ia menumpuk dunia yang fana, tetapi mengabaikan nilai yang abadi. Di sinilah terjadi paradoks: semakin ia mengejar kebahagiaan duniawi semata, semakin ia menjauh dari kebahagiaan yang sebenarnya ia inginkan.

Konsep fī ad-dunyā ḥasanah mengarahkan manusia untuk menyelaraskan antara yang sementara dan yang abadi. Dunia tidak ditinggalkan, tetapi digunakan untuk meraih yang lebih langgeng. Dengan demikian, kebahagiaan yang diperoleh tidak berhenti pada kehidupan ini, tetapi berlanjut melampaui kematian.


Belajar Hidup bagi Orang Lain

Salah satu tanda bahwa seseorang telah mulai meng-hasanah-kan dunia adalah ketika ia belajar hidup tidak hanya untuk dirinya sendiri. Ini bukan berarti mengabaikan diri, tetapi menempatkan diri dalam konteks yang lebih luas.

Ia mulai merasakan bahwa kebahagiaannya terhubung dengan kebahagiaan orang lain. Ia tidak lagi puas hanya dengan “aku cukup”, tetapi juga ingin memastikan bahwa orang lain tidak kekurangan. Ia melihat bahwa keberadaannya bisa menjadi sebab kebaikan bagi banyak orang.

Dalam tahap ini, hidup menjadi lebih bermakna. Karena makna tidak lahir dari isolasi, tetapi dari keterhubungan. Seseorang yang hidup hanya untuk dirinya sendiri akan cepat merasa hampa, karena lingkarannya sempit. Sebaliknya, seseorang yang hidup untuk banyak orang akan menemukan keluasan, karena ia terhubung dengan banyak kehidupan.


Pengetahuan Tanpa Transformasi: Sebuah Kekosongan

Ada satu peringatan penting: bahkan pengetahuan spiritual yang tinggi tidak akan bermakna jika tidak diiringi dengan pembebasan dari ḥubb ad-dunyā. Seseorang bisa belajar dari banyak guru, membaca banyak kitab, dan memahami banyak konsep, tetapi tetap terjerat dunia.

Dalam kondisi ini, pengetahuan hanya menjadi ornamen intelektual, bukan transformasi eksistensial. Ia tahu banyak, tetapi tidak berubah. Ia paham, tetapi tidak bergerak. Dan pada akhirnya, semua itu menjadi “omong kosong” dalam arti tidak menghasilkan perubahan nyata dalam hidupnya.

Hal ini menunjukkan bahwa inti dari fī ad-dunyā ḥasanah bukan pada banyaknya pengetahuan, tetapi pada bagaimana pengetahuan itu mengubah cara kita memandang dan menggunakan dunia.


Penutup: Menjadikan Dunia Baik

Pada akhirnya, fī ad-dunyā ḥasanah bukan sekadar doa untuk mendapatkan dunia yang baik, tetapi panggilan untuk menjadikan dunia itu baik melalui diri kita. Ia bukan hanya permintaan, tetapi juga tanggung jawab.

Dunia akan selalu ada dengan segala potensinya—baik dan buruknya. Yang menentukan arah akhirnya adalah manusia yang hidup di dalamnya. Setiap orang diberi bagian dunia masing-masing: waktu, tenaga, harta, relasi, dan kesempatan. Pertanyaannya adalah, apa yang kita lakukan dengan semua itu?

Apakah kita akan membiarkannya menjadi beban yang menjerat, atau mengolahnya menjadi cahaya yang membebaskan?

Di titik inilah, makna ḥasanah menemukan bentuknya yang paling nyata: bukan pada apa yang kita miliki, tetapi pada apa yang kita jadikan dari apa yang kita miliki.

Dan mungkin, ketika seseorang benar-benar menghasanahkan dunia, ia tidak lagi sekadar hidup di dunia—ia menghidupkan dunia dengan kebaikan yang melampaui dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar