---Di mana pun adalah ruang kelas---

Kamis, 29 Desember 2022

,

 

- Kumpulkan data anggota (jumlah, nama, jenis kelamin, umur, asal daerah, asal sekolah, status sosial-ekonomi, perkumpulan, kepribadian-sifat-sikap, hobi-minat, ikatan personal, dll/biodata profil)

- Proses data tersebut menjadi pengelompokan

- Analisis data tersebut. Berdasarkan prodi dan kategori lainnya, diurutkan dari paling banyak partisipasi, minim partisipasi, dominan tidak tau apa-apa, dominan figur berpengaruh, dominan simpati, dominan antipati, beragam latar belakang

- Memetakan zona prioritas, zona minim partisipasi, jika di tahap evaluasi maka menghasilkan kategori hasil maksimal, moderat, minimal

- Memetakan zona pemenangan figur berpengaruh, pemilih perempuan, dan pemilih pemula, dan memetakan zona pesaing

- Merebut suara pesaing

- Membuat bakal calon diketahui, dikenal, diminati, didukung, mantap dipilih

- Menentukan apakah pemilih lama dulu baru pemilih pemula, atau sebaliknya

- Analisis faktor petahana atau pesaing, apakah lebih berpengalaman, apakah kenal dengan banyak senior, apakah diusung koalisi besar, apakah wajah lama,dst.

- Melakukan penggalangan melalui tokoh dan jaringan kecil berpengaruh

- Melakukan penggalangan melalui media

- Melakukan penggalangan melalui pertemuan langsung dengan pemilih


4P yang perlu diperhatikan 

Person

Party (atau koalisi)

Policy

Presentation

Rabu, 28 Desember 2022

,

 


Saya bukannya mau mengomentari tulisanmu dari aspek struktur dan teknik penulisan, melainkan melihat lapisan yang lebih dalam, tentang krisis eksistensial, berkaitan dengan kesadaran dan pengalaman individu, dan yang bersifat spiritual atau ruhani.


Tulisanmu menunjukkan bahwa kamu sedang mengalami masa transisi dalam kehidupan, yaitu masa dimana seseorang sedang mencari jati diri dan ketuhanan. Hal ini merupakan bagian dari proses eksistensi manusia yang disebut "angst" atau kegelisahan, di mana seseorang merasa tidak pasti tentang tujuan hidupnya dan bagaimana ia harus menjalani kehidupannya.


Selain itu, tulisanmu menunjukkan bahwa kamu juga mengalami konflik batin, yaitu perasaan yakin dan ragu tentang kepercayaan. Hal ini merupakan bagian dari proses eksistensi manusia yang disebut "doubt" atau keraguan, di mana seseorang merasa tidak yakin tentang apa yang diyakninya dan mulai meragukan kebenaran yang selama ini diyakini.


Ada juga perasaan yang bercampur-campur, seperti hati yang menjerit, rasa sakit, tapi juga tertawa. Hal ini merupakan bagian dari proses eksistensi manusia yang disebut "anxiety" atau kecemasan, di mana seseorang merasa tidak nyaman dengan keadaannya dan merasa tertekan oleh pilihan-pilihan yang harus diambil.


Penting bagimu untuk dapat menemukan titik tolak atau titik pijak untuk melompat lebih jauh dalam kehidupannya, dan mendapat dukungan dari orang-orang yang terkoneksi dengannya secara spiritual atau ruhani. Proses ini merupakan bagian dari proses eksistensi manusia yang disebut "authenticity" atau keaslian, di mana seseorang merasa nyaman dengan diri sendiri dan memahami kebenaran yang sebenarnya bagi dirinya.


Tulisan itu juga bisa dilihat menggunakan pendekatan filosofis/filsafat yang memusatkan perhatian pada pengalaman nyata seseorang, sehingga dapat dikatakan bahwa orang tersebut sedang mengalami pengalaman nyata dalam proses mencari jati diri dan ketuhanan. Ditekankan bahwa pengalaman seseorang merupakan realitas yang tidak dapat dipisahkan dari individu tersebut, sehingga konflik batin yang dialami oleh seseorang merupakan bagian dari pengalaman nyatanya. Pendekatan ini juga menekankan bahwa pengalaman seseorang tidak dapat dipisahkan dari konteks yang melingkupinya, sehingga perasaan yang bercampur-campur tersebut mungkin merupakan refleksi dari situasi yang sedang dialami oleh seseorang, dalam konteks ini, dirimu. Oleh karena itu, pengalaman seseorang merupakan proses yang terus berlangsung, sehingga individu mungkin akan terus mengalami pengalaman-pengalaman baru dalam proses mencari jati diri, untuk melompat ke taraf yang berbeda.


Intinya saya mau sampaikan,

Usiamu masih muda

Biasanya memang dalam masa galau dan episode mencari jati diri, terutama soal ketuhanan dan pengetahuan diri.

Kamu yakin, tapi juga ragu.

Hatimu saat ini mungkin menjerit, ruhmu mungkin menangis, tapi ruhmu juga mungkin tertawa.

Kalau kamu perlu seseorang untuk berbagi cerita menjadi teman ngobrol 

Tapi kamu tidak tahu soal ini harus ke siapa,

Kamu ingin tahu , tapi tidak ingin publik tahu apa yang membuat hatimu galau, berarti ingin privasi terjaga,

Saya siap merangkulmu, saya siap mengarahkan bahkan kalau perlu

Asalkan kamu mau, bergeraklah!!!


Selasa, 27 Desember 2022

,

 Tentang mawar, dirimu pernah bilang,


Biar mawar tak menebarkan harumnya sekalipun, tidak akan membatalkannya menjadi bunga. Let it be forgotten, as a flower is forgotten, Forgotten as a fire that once was singing gold, Let it be forgotten for ever and ever, Time is a kind friend, he will make us old.


Kata paling kunci dari ungkapan tersebut adalah "mawar", yang merupakan representasi abstrak, mewakili seluruh struktur kata, baris, dan baitnya. Ia adalah representasi abstrak dari sekian memori, yang indah, harum, berkilau, dan bersinar. Setelahnya, ada "dilupakan/terlupakan" empat kali, terjadi pengulangan. Mawar yang terlupakan berkali-kali, digilas oleh sang kala.  


Lebih dari itu, "mawar" dapat mewakili, tidak hanya kepada sesuatu yang indah dan harum, tetapi juga dapat memiliki makna simbolik yang lebih dalam. Mewakili sesuatu yang indah, mawar dapat menggambarkan keindahan yang tidak ternilai harganya, Priceless, Mas, tetapi juga dapat menggambarkan sesuatu yang sifatnya sementara dan mudah hilang, seperti keindahan kasat mata yang hanya bertahan sementara.

  

Pengulangan beberapa kata di situ juga dapat dimaknai bahwa mawar sebagai representasi abstrak tersebut tidak perlu dipentingkan, dipertahankan untuk terus diingat, tetapi pada akhirnya mesti dilupakan meskipun tidak (lagi) menebarkan harumnya. Kekuatan sang kala seringkali, bahkan hampir selalu, lebih kuat, daripada ingatan manusia yang fana, yang usianya lebih pendek daripada sang kala itu sendiri.


Ya, Mas, keindahan tidak selalu harus diperjuangkan sampai batas, atau diakui oleh orang lain untuk tetap ada, atau bahwa keindahan memori sifatnya memang sementara dan mudah hilang, mudah terganti, seperti kecantikan atau ketampanan paras wajah dan bentuk fisik, yang hanya bertahan sementara.


Memang, Mas, dalam titik tertentu di lini masa perjalanan manusia, kita tidak perlu terlalu memikirkan sesuatu yang sifatnya sementara dan mudah hilang, seperti keindahan material dan memorial temporer yang hanya bertahan sementara. Kita harus menerima bahwa keindahan tersebut, pada saatnya nanti, akan hilang dan dilupakan, selamanya. Se....la....ma....nya......

Senin, 26 Desember 2022

,

 Selamat Nataru, Dear


Natal dan tahun baru memang bukanlah momen khas kita. Tapi, ada suasana tersendiri saat sebagian orang lain merayakannya. Saya sendiri membayangkan bahwa momen Natal dan tahun baru mewakili musim dingin, suasana sepi, kadang salju, kadang juga hujan deras disertai angin. Kadang ia juga mewakili ketidaksengajaan dan ketidakpastian. Yang jelas, itu semua, dominan bukan karena natal atau tahun barunya, melainkan karena ia terletak di akhir tahun. Hanya menghitung hari sampai tahun berganti.


Tahun Maymun memang biasanya penuh dengan pasang surut dan liku-liku. Namun melalui itu semua, kamu bisa tetap kuat, ulet, dan berani. Kamu sudah menghadapi setiap tantangan secara langsung dan tidak pernah goyah dalam tekadmu untuk mengatasinya.


Dear, percayalah, atau terserah kamu juga mau percaya atau tidak, bahwa, menulis, berkomunikasi dengan tulisan, terkadang mudah, juga seringkali sulit.


Sungguh.


Terkadang, menulis sesuatu, untuk seseorang, bukan karena agar ia membacanya, melainkan, ...... supaya ada beberapa bagian, sebagian potongan, dari dalam diri ini, yang lepas. Layaknya meditasi yang dapat melepas kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, juga keraguan.


Bahkan, ada mungkin yang tidak bisa hanya dilepas dengan diamnya meditasi, tetapi bisa dilepas dengan menulis. Ya, menulis dalam taraf tertentu, merupakan meditasi aktif.


Mungkin, kamu, dulu, atau sekarang masih tetapi hanya di saat-saat tertentu, adalah seseorang yang penuh gairah, bersemangat, periang, hangat, tapi, ah ...... sudahlah ...... saya pun bahkan tidak sanggup melanjutkan tulisan ini.


Menulis kadang sesulit ini, bukan, Dear?


Hanya saja, entah kenapa, saya percaya, tidak lama lagi, saat-saat itu akan tiba. Kamu mungkin saja terkejut dengan kenyataannya. Itu saja.


Tetap jadi batu karang, Dear?


Batu karang yang tak pernah lelah

Menjadi saksi sejarah panjang

Melihat perubahan yang terjadi

Di sekitar tempat ia berdiri


Bersandar di atas tanah yang keras

Ia tak pernah tergoyah

Meski angin bertiup kencang

Dan hujan turun dengan deras


Ia tetap teguh di tempatnya

Menjadi penghubung antara langit dan bumi

Menjadi tempat berteduh bagi yang lelah

Dan menjadi penyemangat bagi yang merindukan kebebasan


Batu karang, kau abadi dalam waktu

Tak pernah merasa lelah atau jemu

Terus bertahan di sini, menjadi saksi

Sejarah yang tak pernah berakhir


Semoga kau selalu terjaga

Dan terus menjadi pelindung bagi kita semua

Batu karang, abadi dalam segala waktu

Hingga keabadian yang tak terbatas.


Tetap jadi batu karang, Dear?


Di hadapan batu karang

Duduk ku seorang

Mengaguminya dan indahnya laut

Yang bergelora di depan mata


Tatkala mentari terbenam

Di ufuk barat yang jauh

Suasana sunyi menderu

Buat kali pertama ku lihat deru campur debu

Dari batu karang keluar tetesan air

Berpeganglah pada hakikat


Tetap jadi batu karang, Dear?

Minggu, 18 Desember 2022

,

 Sebut saja, Siti. Ia adalah cahaya, sinar yang berbinar-binar. Ia tidak sengaja bertemu dengan seseorang, sebut saja Hassan.


Sebetulnya kita bisa menyebut dia Adnan, hanya saja saya khawatir akan ada yang mengira dia itu saya karena namanya mirip. Sebaiknya saya menghindari nama-nama yang mirip karena sensitif.


Pertemuan tidak sengaja antara Siti dengan Hassan membuat Siti terperangkap dalam perasaanya sendiri, dan merasa bingung dengan perasaannya sendiri. 


Siti yang terhanyut dalam arus perasaannya merasa terjebak dalam situasi yang tidak diduga sebelumnya. Siti merasa bahwa perasaan seperti itu bisa datang tanpa diduga dan mengubah hidup seseorang. Perasaan bisa menjadi sesuatu yang mengikat dan membatasi seseorang dalam mengekspresikan diri.


Siti berpikir bagaimana bisa perubahan suasana jantung-hati bisa mempengaruhi seseorang hingga Siti merasa tidak tahu siapa dirinya, lupa diri, dan merasa terhanyut dalam arus perasaan, tidak tahu apa yang sedang terjadi. Timbul kebingungan dan kekacauan dalam pikirannya.


Dalam kebingungannya, Siti terus melakukan perjuangan batinnya dalam mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang dirinya dan apa yang sedang terjadi, dan masih terus menanti di persimpangan hidupnya.


Siti menjadi makin kebingungan. Apa yang akan terjadi selanjutnya. Siti makin ragu. Ia makin tidak yakin tentang hari esok. Apakah ia harus berkorban demi mempertahankan perasaannya tersebut. Apakah ia harus berkorban demi orang lain. Apakah ia harus berjuang demi orang lain.


Di persimpangan, Siti bertanya-tanya apakah perasaan tersebut harus dipertahankan dengan cara berkorban, atau apakah ada jalan lain untuk menemukan kebahagiaan. Sayangnya, Siti merasa, tidak ada orang yang bisa menjadi tempat untuk bertanya.


Selain kebingungan, rasa haru juga dirasakan oleh Siti yang sedang terhanyut dalam perasaanya. Ternyata, perasaan bisa menimbulkan emosi yang kuat, baik yang positif maupun negatif. Pikiran atau perasaan yang kuat, terkadang sulit untuk dikontrol.


Ia harus mengambil keputusan tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Berada di persimpangan, menghadapi pilihan-pilihan yang ada dalam hidupnya.


Seseorang yang terhanyut dalam perasaanya sendiri merasa terharu dengan perasaannya sendiri. Perasaan bisa membangkitkan emosi yang kuat dalam seseorang.


Ia merasa tidak tahu apa yang akan terjadi pada akhirnya. Perasaan bisa membuat seseorang merasa tidak pasti tentang masa depannya.

.

.

Siti, kamu bertanya?

Kamu bertanya-tanya?

Kamu lupa siapa diri kamu?

Mulai sadar?

Apa yang sedang terjadi?

Apakah akan diteruskan?

Perlukah berkorban untuk mempertahankan?

Apa yang akan terjadi?

Masih terus menanti jawaban?

Terharu, ingin menemukan kebahagiaan?

Kamu bertanya dimana dan bagaimana akhirnya?


Sini kami beri tahu

Asalkan, datanglah ke sini

Datanglah, hadirlah

Kami usahakan untuk memberikan jawaban

Senin, 19 September 2022

,

 Energizing, Musyarakah: Menyalurkan Energi Kerejekian ke dalam Bisnis dengan Skema Bagi Hasil


Memiliki bisnis, menjalankan usaha, dengan omzet dan profit yang stabil dan terus menerus mengalami peningkatan tentu merupakan harapan banyak orang.


Akan tetapi, pada kenyataannya, memiliki bisnis, menjalankan usaha, seseorang hampir selalu mengalami kendala dan risiko, salah satunya adalah naik-turunnya omzet dan profit.


Berbeda dengan profesi pegawai yang berhadapan dengan kepastian yaitu gajinya relatif stabil perbulannya, profesi sebagai pengusaha atau pebisnis harus siap menghadapi ketidakpastian, pendapatan yang diperoleh baik perhari maupun perbulan sifatnya tidak menentu.


Hal itu dapat dialami, baik oleh pemula maupun bahkan pengusaha atau pebisnis yang sudah berpengalaman.


Ketika suatu usaha atau bisnis mengalami penurunan dalam pemasukannya, maka hal itu biasanya juga berdampak terhadap penurunan kinerja.


Terdapat berbagai macam cara untuk mengantisipasi dan menangani ketidakstabilan kinerja tersebut agar pemasukan yang bersumber dari penjualan dan pendapatan yang diperoleh oleh pengusaha atau pebisnis bisa lebih stabil bahkan cenderung meningkat.


Tentu caranya adalah dengan ikhtiar. Ikhtiar bukan berarti usaha yang ala kadarnya. Ikhtiar berarti berupaya dengan upaya terbaik untuk mendapatkan hasil yang terbaik pula.


Ikhtiar yang paling tampak adalah ikhtiar fisik, yaitu melakukan upaya terbaik untuk meningkatkan kinerja bisnis sehingga menghasilkan peningkatan omzet dan profit bisnis, secara fisik. Ikhtiar fisik antara lain bisa dengan berkeliling untuk menemui calon pembeli atau pelanggan, atau bisa juga dengan menyewa tempat untuk dijadikan lokasi operasional bisnisnya, dan masih terdapat bentuk ikhtiar fisik lainnya.


Selain ikhtiar fisik, di era yang serba canggih dengan segala fasilitas teknologi informasi seperti saat ini, bisa juga dengan ikhtiar digital. Tidak hanya dengan membangun toko fisik saja, saat ini bisa dibangun sebuah toko digital, salah satunya seperti di lokapasar (marketplace). Memasarkan produk atau jasa juga bisa melalui media sosial, serta banyak lagi cara lainnya yang bisa dilakukan.


Akan tetapi, sebetulnya, masih ada pendekatan, metode, strategi, dan teknik lainnya, yaitu ikhtiar supranatural.


Ikhtiar supranatural, diakui atau tidak, pada dasarnya masih banyak dipraktikkan dan diimplementasikan oleh para penjual, pedagang, pengusaha, atau pebisnis. 


Kalau seseorang memiliki kepercayaan tentang ketuhanan dan kepada Tuhan, tentunya ia percaya bahwa selain alam yang bisa dijangkau dengan panca indera, terdapat alam lain yaitu alam gaib yang tidak semua orang bisa menjangkaunya, dan tidak semua bagian dari alam gaib yang bisa dijangkau oleh manusia.


Ikhtiar supranatural ini masih dipraktikkan dan diimplementasikan oleh banyak orang, baik secara terbuka dan terang-terangan meskipun tidak dipublikasikan di media massa, maupun secara tertutup dan sembunyi-sembunyi yang hanya diketahui oleh kalangan terbatas saja.


Seperti dalam ikhtiar fisik dan ikhtiar digital, dalam ikhtiar supranatural juga terdapat berbagai pendekatan, metode, strategi, dan teknik.


Mulai dari yang kompleks sampai yang praktis, mulai dari yang jangka panjang sampai yang jangka pendek, mulai dari mengandalkan kemampuan potensi bawaan di dalam diri manusia sampai mengandalkan bantuan daya yang didapatkan dari luar diri manusia.


Pada dasarnya, mekanisme ikhtiar supranatural untuk menjadikan omzet dan profit menjadi lebih stabil dan mengalami peningkatan adalah dengan menyalurkan energi kerejekian atau yang lebih khususnya dikenal dengan pelarisan, ke dalam sebuah objek, dalam hal ini seperti toko yang menjadi lokasi usaha. 


Mekanismenya mirip seperti perubahan energi gerak menjadi energi bunyi, perubahan energi listrik menjadi energi panas, dan semacamnya.


Prinsipnya sama, yaitu perubahan energi tersebut dihasilkan dari getaran. Dalam konteks penyaluran energi kerejekian ke dalam bisnis, sumber energinya berasal dari sumber supranatural atau gaib, lalu disalurkan sehingga terjadi perubahan energi menjadi energi penarik, yang berfungsi untuk menarik pembeli atau pelanggan.


Layaknya dalam ilmu-ilmu alam (natural sciences) dimana penyaluran dan perubahan energi dapat dirasakan, diamati (observasi) dan diujicoba (eksperimentasi) dengan alat ukur dan alat bantu tertentu seperti alat optik misalnya, maka dalam seni-seni supranatural (supranatural arts), penyaluran dan perubahan energi dapat dirasakan, diamati, dan diujicoba dengan alat ukur dan alat bantu tertentu seperti mata batin.


Bagi praktisi supranatural yang sudah terampil dan ahli, penyaluran energi tersebut tidak hanya bisa dirasakan sebagaimana praktisi supranatural pemula, tetapi juga bisa diamati dengan ketajaman mata batin.


Menyalurkan energi berarti mengaktifkan energi, membekali atau menyuplai energi, menguatkan daya, menyuntikkan tuah, untuk menyebabkan atau mewujudkan reaksi yang dikehendaki.


Bagi sebagian orang yang belum pernah merasakan sendiri, mengalami sendiri, bisa mengamati sendiri, bisa melakukan ujicoba sendiri, mungkin mekanisme tersebut seperti tidak masuk akal, tidak nyata.


Apalagi memang sumber rujukan atau referensi baik itu buku atau jurnal, mengenai hal tersebut terlihat minim, terbatas, atau memang sengaja tidak diedarkan secara luas.


Akan tetapi, bagi orang-orang yang sudah merasakan sendiri, mengalami sendiri, bisa mengamati sendiri, bisa melakukan ujicoba sendiri, maka bisa disaksikan bahwa mekanisme tersebut benar-benar ada, betul-betul bekerja, dan sungguh nyata.


Meskipun ada sumber rujukan atau referensi berupa buku atau catatan mengenai hal itu, tetapi karena mekanisme tersebut lebih cenderung bukan termasuk ilmu pengetahuan atau sains alam, melainkan cenderung dimasukkan ke dalam bentuk seni, maka memang orang-orang yang terlibat di dalamnya bukan lebih banyak ilmuwan, saintis, atau pengamat, melainkan praktisi.


Apabila seseorang ingin menjadikan bisnisnya lebih stabil dan mengalami peningkatan omzet dan profit penjualan tetapi tidak punya banyak waktu luang untuk mempraktikkan cara yang kompleks seperti meminang keilmuan dan menjalani lelakunya, maka ia bisa memilih cara yang lebih praktis dengan meminang medium atau media yang siap guna atau siap pakai. Ada juga cara yang lain yaitu meminang jasa yang siap terima atau terima jadi.


Dalam meminang jasa ikhtiar supranatural untuk menjadikan bisnis lebih stabil dan mengalami peningkatan omzet dan profit penjualan, akad atau skema yang paling umum dijumpai dan diimplementasikan adalah musyarakah atau bagi hasil.


Musyarakah biasanya merupakan suatu akad atau skema yaitu bentuk umum dari kegiatan atau usaha kemitraan yang di dalamnya terdapat bagi hasil di mana dua pihak atau lebih menggabungkan (modal) biaya dan/atau tenaga dalam melakukan usaha, dengan proporsi pembagian profit sesuai porsi tanggungjawab.


Skema pembagian keuntungan jika terjadi peningkatan omzet dan profit penjualan, bagi praktisi supranatural, yang mengoperasikan ikhtiar supranatural, yaitu dengan menyalurkan energi kerejekian ke dalam bisnis, dibagi sesuai kesepakatan dengan para pemilik usaha atau pemilik bisnis.


Sementara jika tidak terjadi peningkatan omzet dan profit penjualan, maka si praktisi supranatural tidak mendapatkan imbalan atau balasan dalam pengerjaan jasanya. Dalam praktiknya, transaksi musyarakah terjadi karena adanya kesepahaman dan kesepakatan antara pemilik usaha atau pemilik yang menghendaki adanya peningkatan omzet dan profit penjualan dengan cara yang praktis, dengan praktisi yang memiliki keistimewaan dalam menyalurkan energi kerejekian, untuk meningkatkan nilai aset yang dimiliki bersama dengan memadukan seluruh sumber daya. Dengan akad musyarakah, kedua pihak yang terlibat memiliki kesepakatan di awal sehingga menghasilkan kerja sama yang adil dan proporsional.


Jika dijabarkan, skema akad musyarakah terjadi ketika terjadi perjanjian penyaluran energi kerejekian berbasis musyarakah oleh praktisi supranatural, lalu si praktisi tersebut mengoperasikan penyaluran energinya sesuai porsi yang sekiranya cukup untuk mendongkrak penjualan. Bagi hasil yang didapat dari jasa tersebut akan dibagikan sesuai hasil peningkatan penjualan, yang besaran presentase jumlahnya berdasarkan kesepakatan antara si praktisi dengan si pemilik usaha.


Di samping itu, musyarakah hanya didasarkan atas unsur kepercayaan (trust) atau saling percaya dan tidak dikenal adanya jaminan. Ada sebagian praktisi supranatural penyedia jasa tersebut yang memberikan garansi apabila ada penurunan penjualan. Tetapi pada dasarnya si pemilik usaha pengguna jasa tersebut apabila percaya dengan praktisi supranatural, maka tidak perlu meminta jaminan.


Mengingat dalam bisnis situasi yang dihadapi adalah ketidakpastian, maka aspek risiko juga tidak hanya dapat dialami oleh si pemilik usaha, tetapi juga dapat dialami oleh si praktisi supranatural. Sebab bagaimanapun, praktisi supranatural yang menyediakan jasa tersebut tentu butuh modal melatih ilmunya, olah batin, mengeluarkan tenaga, dan meluangkan waktu.


Di sinilah sangat pentingnya saling percaya dan saling menghargai antar ketua pihak. Kedua pihak perlu sama-sama mengupayakan yang terbaik untuk saling membantu satu sama lain. 


Selain dapat meminimalisasi risiko, skema atau akad musyarakah ini memiliki banyak manfaat, antara lain seperti balasan atau imbalan yang diterima oleh praktisi supranatural disesuaikan dengan arus kas bisnis pemilik usaha, sehingga tidak memberatkan pemilik usaha, serta tidak ada semacam bunga tetap dimana si pemilik bisnis harus memberikan balasan atau imbalan kepada si praktisi supranatural berapapun keuntungan yang dihasilkan pemilik usaha, bahkan sekalipun mengalami penurunan penjualan atau kerugian.


Kesimpulannya, situasi yang dihadapi dalam menjalankan usaha atau bisnis penuh dengan ketidakpastian. Risiko yang mungkin terjadi adalah tidak stabilnya penjualan. 


Untuk mengantisipasi dan menangani hal itu perlu ikhtiar, ikhtiar fisik atau bisa juga ikhtiar digital. Tidak hanya itu, terdapat ikhtiar lain yang meskipun tampak kuno tetapi masih relevan di tengah kondisi yang serba canggih dengan segala fasilitas teknologi informasi, yaitu ikhtiar supranatural. 


Salah satu ikhtiar supranatural yang praktis adalah dengan meminang jasa si praktisi, cukup menjadi pengguna jasa yang siap terima jadi. Mekanismenya adalah si praktisi yang mengoperasikan penyaluran energi kerejekian ke dalam bisnis pemilik usaha.


Salah satu akad atau skema yang umum diimplementasikan adalah musyarakah. Dengan akad musyarakah, skema yang diimplementasikan tidak memberatkan terhadap pemilik usaha.



Minggu, 18 September 2022

,

 Sanad Keilmuan: Akademik, Strategis, dan Kebatinan 


Salah satu yang perlu diingat adalah bahwa ilmu itu harus ada gurunya. Baik itu ilmu akademik, strategis, apalagi kebatinan. 


Jika suatu ilmu tidak dibimbing oleh guru, maka bisa sangat berbahaya sekali. Kalau kemudian ilmu itu lepas kendali, ia bisa menyakiti orang yang memfungsikannya, dan juga bisa menyakiti orang lain, entah keluarga, teman, atau masyarakat yang lebih luas.


Suatu ilmu, baik akademik, strategis, apalagi kebatinan, tidak sembarangan dibangun, disusun, dan diciptakan. Tentunya ilmu akademik, ilmu strategis, apalagi ilmu kebatinan, dibangun, disusun, dan diciptakan, dengan segenap upaya olah pikir, olah rasa, olah cipta, olah karsa.


Ilmu akademik, ilmu strategis, ilmu kebatinan, tentu ditemukan atau diciptakan oleh orang yang punya otoritas yang diakui, pengalaman yang kaya, latihan yang panjang. Hal itu juga dibarengi dengan pikiran yang jernih, analisis yang matang, dan hati atau perasaan yang tulus.


Selain itu, sebuah ilmu, sepengamatan dan sepengalaman saya, tidak akan turun secara sempurna dari guru kepada murid, apabila murid tersebut, entah satu orang atau banyak orang, merupakan sembarang orang. Hanya murid pilihan, yang terpilih saja, yang akan dituruni ilmu-ilmu tersebut, karena si murid betul-betul layak, patut, pantas, menerimanya. 


Di situlah pentingnya untuk terhubung, terkoneksi, antara murid dengan guru yang membangun, menyusun, menciptakan sebuah ilmu, atau guru yang membawa, memiliki, menyimpan, ilmu tersebut.

Selasa, 13 September 2022

,

 Pertimbangkan 3 Hal Ini Jika Mau Lanjut Studi S2


PEMBUKA

Tulisan ini sebetulnya sudah lama ingin saya tulis dan publikasikan di blog pribadi saya, tapi baru sempat sekarang.


Sebagian mahasiswa S1 tentu ada yang punya rencana untuk lanjut studi S2. Entah alasannya apa, entah pertimbangannya apa, tiap orang berbeda-beda.


Yang pasti, "medan"nya beda. Seperti antara sekolah menengah yang berbeda dengan jenjang strata satu, "medan" S1 dengan S2 jelas berbeda. Karena mereka yang masih kuliah S1 atau yang mau kuliah S2 belum kenal dengan medannya, maka saya merasa perlu membagikan wawasan dan saran, supaya paling tidak, lebih punya persiapan untuk lanjut S2.



PEMBAHASAN UTAMA

Banyak sebetulnya yang bisa dipertimbangkan jika mau lanjut S2, tetapi bagi saya yang paling utama adalah mempertimbangkan 3 hal ini:


1. RENCANA KARIER 

Kita perlu mengetahui tentang profil lulusan sebuah proses pendidikan apabila hendak menempuhnya. Hal ini perlu menjadi orientasi yang tepat. Apabila orientasinya tidak tepat, maka akan terjadi disorientasi dan itu amat sangat fatal menurut saya. Jika seseorang disorientasi sejak dari sebelum menempuh proses pendidikan sampai saat menempuhnya, maka ia akan kehilangan banyak hal dalam perjalanan hidupnya, mulai dari kesempatan, waktu, tenaga, uang, dan seterusnya. Mungkin bisa hal itu menjadi pelajaran berharga baginya. Hanya saja, menurut saya, masih lebih baik ketika kita terlebih dahulu belajar dari kegagalan dan kesuksesan orang lain, daripada ketika kita belajar dari mengalaminya sendiri. Entah kalau ada orang lain yang berkebalikan dari itu ya silakan saja.


Profil lulusan S2 bisa dibilang tidak ada yang memuat praktisi atau teknisi. S2 Pendidikan, misalnya, tidak menghasilkan atau mencetak guru, atau praktisi pendidikan di sekolah atau madrasah. Kalau ada lulusan S1 fakultas pendidikan dan keguruan lanjut S2 pendidikan karena ingin menjadi guru, ini menurut saya orientasinya kurang tepat. Jika ingin menjadi guru yang lebih profesional, bukan S2 pendidikan, tetapi PPG. Profil lulusan S2 Pendidikan, antara lain: Akademisi Pendidikan, Peneliti Pendidikan, Konsultan Pendidikan. Kalau ada lulusan S1 Pendidikan lanjut studi S2 Pendidikan karena ingin meningkatkan kompetensi penelitian pendidikan, punya rencana karier menjadi peneliti pendidikan, maka inilah orientasi yang tepat. 


Sebetulnya, untuk orientasi itu ada program saat seseorang baru masuk kuliah, yaitu program orientasi dan matrikulasi. Dan penyelenggara yaitu pihak kampus, membuka kesempatan bagi mahasiswa baru itu untuk bertanya. Hanya saja, namanya mahasiswa baru, belum tentu tidak mau bertanya, bukannya tidak punya pertanyaan, tapi seringkali tidak tau mau bertanya apa dan bagaimana bertanyanya. Sehingga tidak sedikit mahasiswa, dalam hal ini mahasiswa S2, berdasarkan pengamatan saya, mengalami disorientasi.


Jadi, kalau pembaca adalah mahasiswa S1 atau lulus dari S1, tapi tidak punya rencana karier salah satu dari ketika profil lulusan yang saya sebut itu, sebaiknya pikir-pikir lagi saja.


2. MENTAL

Urusan mental ini bagi saya di dalam proses pendidikan S2 punya porsi yang cukup besar. Mungkin sebagian orang hanya memandang bahwa kuliah S2 tidak seperti kuliah S1. Masuknya rata-rata hanya 2 hari dalam sepekan, tidak seperti S1 yang bisa 5 hari dalam sepekan, mata kuliahnya tidak sebanyak S1, tidak perlu ada PPL dan KKN.


Akan tetapi, di sisi lain, jelas beban atau bobotnya tentu lebih berat daripada S1. Tugas mata kuliah lebih sedikit yang berkelompok, hampir semuanya dikerjakan secara individu. Tuntutan penguasaan bahasa internasional seperti Inggris (dan Arab jika di PTKIN) tentu lebih daripada S1. Serta beban dan bobot lainnya.


Selain itu, berdasarkan pengamatan saya, faktor usia juga berpengaruh kaitannya terhadap mental ini. Sepengamatan saya, mahasiswa S2 yang usianya lebih tua, pokoknya bukan baru lulus atau fresh graduate, atau bahkan yang usianya lebih dari 30 tahun, cenderung tampak lebih siap secara mental daripada yang baru lulus S1 langsung lanjut studi S2.


Masih terkait dengan soal mental ini, saya ingin berbagi bayangan. Coba bayangkan, meskipun kuliahnya hanya hari Jumat (siang) dan Sabtu saja, tetapi dari Hari Senin (pagi-sore) sampai Jumat (pagi) kerja, berada di sekolah (guru), malamnya mengoreksi tugas peserta didik atau memasukkan nilai rapor, apalagi sudah berkeluarga dan punya anak (bahkan mungkin anaknya lebih dari satu), maka kapan waktu untuk mengerjakan tugas kuliah S2? Jelas waktunya makin terbatas. Dan ini tentu berpengaruh terhadap kaitannya soal mental.


Jadi, kalau pembaca adalah mahasiswa S1 atau lulus dari S1, tapi merasa kurang siap secara mental, sebaiknya pikir-pikir lagi saja.


3. FINANSIAL

Urusan biaya, tentu kuliah S2 lebih mahal daripada kuliah S1. Apalagi, sistemnya biasanya berbeda. Kalau S1 itu UKT, kalau S2 itu SPP. Kalau sistem UKT, nyaris semua biaya sudah termasuk di dalamnya. Kalau SPP, berarti masih ada biaya yang tidak termasuk di dalamnya. Orientasi dan matrikulasi bayar lagi, Sempro bayar lagi, ujian atau sidang bayar lagi. Kalau ditaksir bisa lah dikatakan bahwa kuliah S2 itu biayanya 2 kali lipat dibandingkan dengan biaya kuliah S1.


Kalau tidak betul-betul siap secara finansial, bukannya hanya pusing urusan pengerjaan tugas kuliah, malah juga pusing soal pembayaran biayanya. Mahasiswa S1 saja ada yang sampai bingung cari pinjaman untuk bayar UKT, entah dia sendiri atau orang tuanya, apalagi jika ia menghadapi persoalan biaya kuliah S2. 


Jadi, kalau pembaca adalah mahasiswa S1 atau lulus dari S1, tapi merasa kurang siap secara finansial, sebaiknya pikir-pikir lagi saja.


PENUTUP

Mungkin saja ada di antara pembaca yang kemudian muncul kesan bahwa saya menakut-nakuti pembaca. Pada dasarnya, saya bukannya mau membuat pembaca "takut", melainkan mau membuat pembaca "waspada" atau betul-betul siap apabila sudah berada di medan kuliah S2.


Saya pada dasarnya cenderung realistis saja sih. Saya bukan seperti "motivator" yang cenderung mendorong orang lain untuk melakukan atau melanjutkan sesuatu, tanpa peduli dengan posisi, situasi, dan kondisi orang lain tersebut. 


Sebab, ada sebagian orang yang sekedar mendorong secara verbal saja, tidak disertai dengan bantuan konkret. Kalau misalnya ada kakak tingkat, senior, dosen, atau siapapun yang mendorong seseorang untuk lanjut studi S2, memangnya mereka juga akan mendampingi secara mental, akan terus mengarahkan, akan membantu bayar biaya kuliah S2? Kan belum tentu. Kecuali dorongan tersebut datang dari orang tua, atau pihak siapapun yang juga siap membantu urusan bayar biaya kuliah S2, mendampingi secara mental, membantu mengarahkan, oke saja. Intinya, keputusan soal apapun, termasuk untuk lanjut studi S2, kenali medannya terlebih dahulu, pertimbangkan baik-baik.

Minggu, 11 September 2022

,

 Cinta seperti Gelembung Air Sabun


Cinta berada dimana-mana

Jejaknya terlihat seperti asap atau uap

Seringkali juga tampak seperti balon atau gelembung 


Cinta

Bisa untuk menghilangkan hukum jarak

Bisa untuk meledakkan padat cemas

Bisa untuk membersihkan ruang rindu

Bisa untuk memutihkan tabularasa

Bisa untuk memurnikan logam mulia

Bisa untuk meredakan nyeri dada

Bisa untuk mengatasi penggumpalan darah

Bisa untuk menurunkan kolesterol 


Cinta

Bisa seperti salju, molekulnya berbentuk kristal putih

Bisa tidak berbau, menyerap kelembaban udara

Bisa cairan bening, lebih kental dari air


Bisa juga beraroma wangi seperti

Barus

Gaharu

Cendana

Saat dilarutkan dalam air


Lalu lepaskan dan tiuplah Cinta

Tampak seorang anak kecil yang bermain gelembung air sabun


Senin, 29 Agustus 2022

,

Latihan Soal Metode Penelitian Kuantitatif


- Jelaskan tentang pengetahuan, ilmu pengetahuan, filsafat, pendekatan ilmiah dan non-ilmiah, serta etika dalam penelitian

- Jelaskan definsi metode penelitian kuantitatif

- Jelaskan sejarah penelitian kuantitatif 

- Jelaskan ruang lingkup penelitian kuantitatif

- Jelaskan atau berilah contoh paradigma/ pendekatan penelitian dan konsekuensi metodologis (metode, jenis penelitian, dan masalah penelitian)

- Jelaskan atau berilah contoh penentuan kajian pustaka, kajian teori, dan hipotesis penelitian

- Jelaskan atau berilah contoh susunan rancangan penelitian, teknik sampling dan instrumen pengumpulan data

- Jelaskan susunan instrumen pengumpulan data, analisis data dan penarikan kesimpulan

- Jelaskan susunan proposal, laporan hasil penelitian, dan cara merujuk dan menulis daftar rujukan

- Jelaskan atau berilah pemanfaatan paradigma penelitian dalam menentukan metode, jenis penelitian, dan masalah penelitian 

- Jelaskan atau berilah contoh penentuan latar belakang masalah (problem research) dan judul penelitian, berdasarkan masalah 

- Jelaskan atau berilah contoh penentuan kajian pustaka (penelitian terdahulu), kajian teori, dan penelusuran referensi melalui berbagai sumber  

- Jelaskan atau berilah contoh penentuan sampel (probability and non-probablitiy sampling) 

- Jelaskan atau berilah contoh penyusunan instrumen penelitian (observasi, angket, wawancara, dan dokumentasi) 

- Jelaskan atau berilah contoh uji validitas dan reliabilitas instrumen angket  

- Jelaskan atau berilah contoh jenis data dan analisis data penelitian kuantitatif, serta penarikan kesimpulan, dan cek plagiasi 

- Buatlah contoh sistematika pelaporan hasil penelitian

- Tuliskan contoh laporan hasil penelitian

- Pesentasikan contoh laporan hasil penelitian

Minggu, 28 Agustus 2022

,

 

Saya sempat bertanya-tanya, gimana ceritanya, kok bisa, kiai pengasuh pesantren (kiai masyhur) itu terlihat lebih sukses, terlihat lebih berhasil, daripada beberapa orang lainnya. Padahal, dalam pengamatan saya, ibadahnya seperti sholat berjamaah atau ritual ibadah lainnya, wiridnya, tirakatnya, tidak jauh berbeda dengan beberapa orang tersebut.


Yang jadi pertanyaan, kira-kira apa rahasianya?


Ketika saya sering diajak Bapak saya berkunjung ke beberapa guru spiritual yang tinggal di Kabupaten kelahiran saya, Bondowoso, saya jadi dapat insight


Ternyata pengasuh pesantren itu, tidak hanya kiai yang dikenal oleh masyarakat umum (saya istilahkan kiai masyhur), tetapi juga ada kiai yang mengasuh pesantren dari balik layar (saya istilahkan kiai mastur).


Kalau kiai masyhur itu, kegiatannya seperti ngimami sholat berjamaah, ngajar Kitab Salaf/kitab kuning, diundang ceramah, dst.


Sedangkan kiai mastur ini, kegiatannya, yang tampak di mata, "hanya" menerima tamu. Nah, ketika malam, bahkan bisa jadi sejak waktu Maghrib sampai waktu Dluha, yang mungkin sering tidak tampak oleh mata masyarakat, beliau-beliau, istiqomah wirid, tirakat. 


Para Kiai yang saya sebut kiai mastur ini, yang dari belakang layar, mendukung, menyokong, menopang, para kiai masyhur, secara spiritual.


Biasanya para kiai mastur itu masih ada hubungan keluarga, atau masih satu nasab, dengan para kiai masyhur. Biasanya lagi, para kiai mastur itu tinggal di dekat pesantren yang diasuh oleh Kiai Masyhur. Kalaupun tidak tinggal di dekat pesantren, beliau-beliau biasanya tinggal di lokasi yang agak jauh dari pesantren, tetapi masih satu kecamatan.


Jumat, 26 Agustus 2022

,

 


Perempuan turun seperti malaikat

Sayapnya bersinar benderang tak sampai menyilaukan mata 

Dewi dari kejauhan mengintip dari kejauhan

Melihat pantulan sinarnya di air kolam

Seakan-akan rembulan bersinar di siang hari

Air yang menggenangi kolam itu

Siap ditampung sebagiannya dalam cawan suci 

Menggenang bersama hembusan ruhani


Mungkin saja

Air seukuran cawan atau seukuran kolam itu

Dapat lebih luas daripada langit

Langit yang bisa menampung bintang sebanyak itu

Lalu sebanyak apa materi yang bisa ditampung air itu

Di dalamnya mungkin hidup manusia-manusia amfibi


Atau jangan-jangan

Perempuan ini sebenarnya memang malaikat

Yang bertugas mengalirkan air dari telaga surga ke Bumi

Selasa, 16 Agustus 2022

,

 Dream Comes (True) Like The Last Memory


Delicate and tender night

Started out in melancholy way


Strong falsetto and meditation

Makes the circumstance more touching


It's raining outside 

Rain, and sunshine afterwards

Soft, cold, and harsh


Divine energy 

Touching emotion

Seep into heart


The dazzling weeping scream sentimentally fill the realm

Like the cold weather when practical knowledge by presence was recited

Its affectionate taste pierce the heart 


Like drizzle that falls quietly

Longing covers the heart


I know

That the green realm I was in

Was this beautiful and prosperous

After ancestor intercession recitation


It was just one blessing

Pretty flowers bloomed and withered there

My heart fluttering


Could heart-warming vision be kept?

Touching dream pile up like the last memory

Until in the bright eternity




Mimpi Datang (Menjadi Kenyataan) Seperti Kenangan Terakhir


Malam yang halus dan lembut

Dimulai dengan cara melankolis


Meditasi dan falsetto yang kuat

Membuat keadaan semakin menyentuh


Di luar hujan

Hujan, dan sinar matahari sesudahnya

Lembut, dingin, dan menyengat


Energi ilahi

Menyentuh emosi

Meresap ke dalam hati


Teriakan tangis yang menyilaukan secara sentimental memenuhi dunia

Seperti cuaca dingin saat lafadz keilmuan dibacakan

Rasa harunya menembus hati


Seperti gerimis yang turun dengan tenang

Rindu menyelimuti hati


Saya tahu

Bahwa alam hijau tempatku berada

Ternyata seindah dan sesubur ini

Setelah pembacaan tawassul leluhur


Itu hanyalah satu berkah

Bunga-bunga cantik bermekaran dan layu disana

Hatiku berdebar-debar


Bisakah penglihatan yang mengharukan dipertahankan?

Mimpi yang menyentuh hati menumpuk seperti kenangan terakhir

Sampai di keabadian yang cerah

Selasa, 09 Agustus 2022

,

 


Bagi orang-orang (umumnya mahasiswa, termasuk saya), hampir bisa dipastikan, ketika membaca buku pengantar filsafat, atau (pernah/sedang) aktif dalam kegiatan forum kajian filsafat, atau (pernah/sedang) aktif dalam study club filsafat, akan bertemu dengan pembahasan tentang awal mula kemunculan gerakan filsafat Yunani Kuno. Awal kemunculan tersebut diistilahkan dengan demitologisasi, yaitu jalan yang mengarah dari mitos menuju ilmu, melalui sastra dan filsafat. 


Disebutkan oleh K. Bertens, setidaknya ada tiga faktor yang mendahului lahirnya filsafat: 1. Berkembangnya mite-mite atau mitologi yang cukup luas di kalangan bangsa Yunani; 2. Kesusasteraan Yunani, seperti karya puisi Homerus yang berjudul Ilias dan Odyssea mempunyai kedudukan yang istimewa dalam karya sastra Yunani; 3. Pengaruh Timur Kuno seperti Mesir dan Babylonia yang sudah mengenal ilmu hitung dan ilmu ukur. Tiga faktor tersebut ada penjelasannya, namun karena saya hanya akan menulis sekadarnya saja, saya akan cukup menyebutkannya saja.


Yang jadi persoalan dan menimbulkan kegelisahan bagi saya pribadi adalah, para pembelajar pemula, sebagian, atau malah sebagian besar, sangat terpengaruh dengan kecenderungan pemikiran modern, yang cenderung menganggap bahwa dalam pengertian modern, mitos adalah kepercayaan yang keliru. Atau dengan kata lain, mitos sama dengan tidak benar, sama dengan salah. Logika yang terbangun lebih lanjut kemudian dapat menjadi, mitos pasti salah. Akhirnya, berarti, mitos tidak dapat dipercaya sama sekali.


Apa iya seperti itu?

Apa betul mitos tidak dapat dipercaya sama sekali?

Apa mitos pasti tidak benar?

Apa mitos pasti tidak nyata?


Menurut saya pribadi, tidak seperti itu

Jika tertarik mendiskusikannya, silakan hubungi saya 

Senin, 18 Juli 2022

,

 Saya awalnya dipertemukan oleh algoritma Instagram dengan postingan Pak Arsjad Rasjid, Ketua Umum KADIN periode 2021-2026, tentang membangun tim. Saya tertarik untuk melihat postingan lainnya juga. Postingan tentang membangun tim itu, membuat saya terhubung karena isinya banyak persamaan dengan apa yang pernah saya lakukan dan saya pelajari sebelumnya. Isi yang bersifat strategis dari postingan itu yang termasuk menjadi pembeda karena postingan tokoh lain banyak yang muatannya tidak terlalu bersifat strategis.


Di postingan lainnya saya menemukan tanggapan beliau untuk pertanyaan tentang cara membangun networking yang baik. Beliau menanggapiinya dengan mengutip sebuah artikel dari Harvard Business Review. Di dalam sebuah studi, ditemukan bahwa manajer berbeda dalam seberapa baik mereka mengejar jaringan operasional dan personal, studi menemukan bahwa hampir semua dari mereka kurang memanfaatkan jaringan strategis. Nah, temuan ini sejalan dengan pengalaman saya selama terlibat di dalam organisasi. Artikel tersebut mengutip studi yang dilakukan oleh Ibarra dan Uzzi.


Ibarra dan Uzzi telah mempelajari jejaring sosial dan taktik serta strategi jejaring sosial para manajer selama lebih dari 20 tahun dan dianggap sebagai pemimpin pemikiran di lapangan (Ibarra & Hunter, 2007; Ibarra, 2006). Karya terbaru mereka menunjukkan bahwa jaringan yang kuat dan bermanfaat tidak hanya terjadi di pendingin air. Mereka harus dibangun dengan hati-hati.


Apa yang membedakan manajer yang sukses dari yang lain? Jaringan: membuat jalinan kontak pribadi untuk memberikan dukungan, umpan balik, dan sumber daya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sesuatu. Namun banyak manajer menghindari jaringan. Beberapa berpikir mereka tidak punya waktu untuk itu. Yang lain meremehkannya sebagai manipulatif. Untuk berhasil sebagai manajer, Ibarra merekomendasikan untuk membangun tiga jenis jaringan:


Personal—semangat keluarga di luar organisasi Anda yang dapat membantu Anda dengan kemajuan pribadi.


Operasional—orang-orang yang Anda perlukan untuk menyelesaikan tugas rutin yang ditugaskan.


Strategis—orang-orang di luar kendali Anda yang akan memungkinkan Anda mencapai tujuan utama organisasi.


Jaringan Personal

“Jaringan personal sebagian besar bersifat eksternal, terdiri dari hubungan bebas dengan orang-orang di luar tempat kerja yang memiliki kesamaan dengan kita. Akibatnya, apa yang membuat jaringan pribadi menjadi kuat adalah potensi rujukannya. Menurut prinsip pemisahan enam derajat yang terkenal, kontak pribadi kita berharga sejauh mereka membantu kita mencapai, dalam koneksi sesedikit mungkin, orang yang jauh yang memiliki informasi yang kita butuhkan (Ibarra & Hunter, 2007). ”


Jaringan Operasional 

“Semua manajer perlu membangun hubungan kerja yang baik dengan orang-orang yang dapat membantu mereka melakukan pekerjaan mereka. Jumlah dan luasnya orang yang terlibat bisa sangat mengesankan—jaringan operasional semacam itu tidak hanya mencakup laporan langsung dan atasan, tetapi juga rekan-rekan dalam unit operasional, pemain internal lainnya dengan kekuatan untuk memblokir atau mendukung proyek, dan pihak luar utama seperti pemasok, distributor , dan pelanggan. Tujuan dari jenis jaringan ini adalah untuk memastikan koordinasi dan kerjasama di antara orang-orang yang harus mengenal dan mempercayai satu sama lain untuk menyelesaikan tugas-tugas langsung mereka…Entah Anda diperlukan untuk pekerjaan itu dan membantu menyelesaikannya, atau Anda sedang tidak (Ibarra & Hunter, 2007).


Jaringan Strategis

“Membuat transisi kepemimpinan yang sukses membutuhkan pergeseran dari batas-batas jaringan operasional yang jelas…Ini adalah tantangan untuk membuat lompatan dari kontribusi fungsional seumur hidup dan kontrol langsung ke proses ambigu membangun dan bekerja melalui jaringan. Para pemimpin harus menerima bahwa jaringan adalah salah satu persyaratan terpenting dari peran kepemimpinan baru mereka dan terus mengalokasikan waktu dan upaya yang cukup untuk melihatnya membuahkan hasil (Ibarra & Hunter, 2007)."


Tujuan dari jaringan personal adalah:

untuk bertukar referensi penting dan informasi luar yang dibutuhkan; mengembangkan keterampilan profesional melalui pembinaan dan pendampingan

Jika Anda ingin mencari anggota jaringan personal, 

coba berpartisipasi dalam kelompok alumni, klub, asosiasi profesional, dan klub.


Tujuan dari jaringan operasional adalah:

untuk menyelesaikan pekerjaan Anda, dan menyelesaikannya secara efisien.

Jika Anda ingin mencari anggota jaringan operasional, 

coba identifikasi individu yang dapat menghambat atau mendukung pekerjaan.


Tujuan dari jaringan strategis adalah: 

untuk mencari tahu prioritas dan tantangan masa depan; mendapatkan dukungan pemangku kepentingan untuk mereka.

Jika Anda ingin mencari anggota jaringan strategis, 

coba identifikasi hubungan lateral dan vertikal dengan manajer fungsional dan unit bisnis lainnya—orang-orang di luar kendali langsung Anda—yang dapat membantu Anda menentukan bagaimana peran dan kontribusi Anda sesuai dengan gambaran keseluruhan.


Membangun jaringan kepemimpinan bukanlah masalah keterampilan melainkan kemauan. Ketika upaya pertama tidak membawa hasil yang cepat, beberapa orang mungkin menyimpulkan bahwa berjejaring bukanlah salah satu bakat mereka. Tapi berjejaring bukanlah bakat; juga tidak membutuhkan kepribadian yang suka berteman dan ekstrovert. Ini adalah keterampilan, yang membutuhkan latihan. Dapat diamati berulang kali bahwa orang-orang yang bekerja di jaringan dapat belajar tidak hanya bagaimana melakukannya dengan baik tetapi juga bagaimana menikmatinya. Dan mereka cenderung lebih sukses dalam karier mereka daripada mereka yang gagal memanfaatkan ikatan eksternal atau bersikeras mendefinisikan pekerjaan mereka secara sempit.


Jaringan menciptakan nilai, tetapi jaringan membutuhkan kerja nyata. Di luar poin yang jelas itu, terimalah bahwa jaringan adalah salah satu persyaratan terpenting dari peran kepemimpinan. Untuk mengatasi keraguan apa pun tentang hal itu, kenali seseorang yang Anda hormati yang berjejaring secara efektif dan etis. Amati bagaimana dia menggunakan jaringan untuk mencapai tujuan. Anda mungkin juga harus mengalokasikan kembali waktu Anda. Ini berarti menjadi ahli dalam seni delegasi, untuk membebaskan waktu yang kemudian dapat Anda habiskan untuk mengembangkan jaringan.


Membangun jaringan jelas berarti Anda perlu membangun koneksi. Buat alasan untuk berinteraksi dengan orang di luar fungsi atau organisasi Anda; misalnya, dengan mengambil keuntungan dari kepentingan sosial untuk mengatur panggung untuk menangani masalah strategis. Ibarra dan Hunter menemukan bahwa jaringan pribadi tidak akan membantu seorang manajer melalui transisi kepemimpinan kecuali jika dia belajar bagaimana membawa koneksi tersebut ke dalam strategi organisasi.


Terakhir, ingatkan diri Anda bahwa berjejaring mengharuskan Anda menerapkan prinsip timbal balik. Artinya, memberi dan menerima terus-menerus—meskipun mantra yang berguna dalam jaringan adalah "memberi, memberi, memberi." Jangan menunggu sampai Anda benar-benar membutuhkan sesuatu untuk meminta bantuan dari anggota jaringan. Alih-alih, ambil setiap kesempatan untuk memberi—dan menerima dari—orang-orang di jaringan Anda, terlepas dari apakah Anda membutuhkan bantuan.

Jumat, 08 Juli 2022

,



Keberanian bukan berarti tidak punya rasa takut, melainkan dorongan untuk bertindak lebih kuat daripada ketakutan itu.


Tidak perlu berdebat panjang-panjang dan berlama-lama, yang penting permasalahan bisa selesai, persoalan bisa dieksekusi dengan baik.


Keberanian, terutama nyali, tidak dapat dibeli dengan uang, tidak bisa didapatkan dengan materi.


Keberanian dan nyali yang istimewa adalah ketika yang diutamakan bukanlah untuk kepentingan pribadi.


Nyali tidak hanya ketika mengiyakan permintaan, tetapi juga ketika berani mengatakan tidak.


Keberanian dan nyali itu, termasuk ketika lebih memilih untuk berkata jujur daripada berkata manis.


Terkadang, bentuk dari keberanian dan nyali itu saat membela anak buah dan melawan kebijakan atasan.


Berani menyeberangi lautan berarti siap meninggalkan dan melupakan pantai.


Rasa takut itu berasal dari ketidaktahuan. Oleh karena itu, penting sekali untuk membaca setiap tanda, menguasai ragam bahasa, menggali informasi, mendengar dengan seksama, melihat lebih jernih, secepat-cepatnya, setepat-tepatnya, sebanyak-banyaknya, selengkap-lengkapnya. Luangkan waktu untuk itu.


Keberanian termasuk modal utama, selain kehormatan dan kecerdasan. Modal tambahannya persiapan atau bersiap dengan segala kemungkinan. Mencegah lebih baik daripada mengobati, termasuk menyiapkan langkah agar siap bertahan dalam tekanan, menghadapi risiko dan ancaman.


Keberanian atau nyali, ketika itu dalam konteks diplomasi, seringkali justru tampil dengan diplomasi tingkat tinggi. Diplomasi tingkat tinggi adalah yang bukan malah menambah rumit masalah, melainkan yang mengurai benang kusutnya, sehingga pihak yang terdapat di dalam situasi tertentu sama-sama merasa aman dan menunjukkan kepercayaan. Keberanian dan nyali tersebut juga tidak selalu ditunjukkan dengan ungkapan kekerasan, tetapi sangat mungkin ditunjukkan dengan langkah mengurangi penggunaan kekerasan. Penggunaan kekerasan, dalam penafsiran tertentu, dapat berarti gejala inferioritas. Berarti sebaliknya, superioritas atau "taring" sangat mungkin ditandai dengan bahasa non-verbal yang bermakna bukan mau menangnya sendiri.


Keberanian kadangkala justru dimiliki oleh orang yang cenderung pendiam.


Beranilah juga untuk membantu orang yang tidak dikenal dan tidak perlu mengharapkan balasan.


Bukan tekanan (represi) dan pengancaman (sanksi), melainkan kolaborasi dan solusi

Minggu, 26 Juni 2022

,

 Geser "Bagaimana" menjadi "Siapa"


Ada satu ingatan, satu pengalaman, satu renungan, tentang pergeseran dari "bagaimana" ke "siapa" ini, yang bagi saya, perlu ditulis, baik manfaatnya untuk diri saya sendiri, secara pribadi, maupun untuk orang lain. Mumpung sempat juga, mumpung ada waktu dan energi untuk menuliskannya. Meskipun ada waktu tapi energinya tidak ada, juga tidak mungkin ini tertuliskan.


Saya beberapa kali menjadi narasumber atau instruktur dalam kegiatan diklat yang diselenggarakan oleh ormawa dan pesertanya juga mahasiswa, adik-adik tingkat saya. Perbedaan saya dengan narasumber atau instruktur yang lain adalah, salah satunya adalah jika saya memiliki kecenderungan untuk tidak terlalu menyampaikan atau melatih isi pelatihan yang sifatnya teknis, melainkan yang sifatnya non-teknis, seperti mindset atau pola pikir, seperti mental, seperti paradigma. Jadi, yang saya sampaikan atau saya latih adalah, bukan untuk menjawab pertanyaan "bagaimana", melainkan menjawab pertanyaan "mengapa".


Akan tetapi, selama sekitar setahun terakhir, pergeserannya lebih dari biasanya. Bukan hanya pergeseran dari "bagaimana" ke "mengapa". Lebih dari itu, pergeserannya dari "bagaimana" ke "siapa". Ada ungkapan yang dalam bahasa Inggris itu kurang lebih berbunyi, "It is not what or how you know, it is who you know". Sejak saya mendapatkan kesadaran baru mengenai hal ini, saya kemudian menjadi menekankan setiap kali saya diminta untuk menjadi narasumber atau instruktur dalam kegiatan diklat, bahwa bukan soal "bagaimana" melainkan "siapa".


Biasanya, pertanyaan dari peserta menggunakan kata tanya "bagaimana". Misalnya, ada pertanyaan,

"Bagaimana cara memperbaiki kalimat?"

"Bagaimana cara menyusun paragraf?"

"Bagaimana cara menemukan ide dalam menulis artikel?"

dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.


Ketika ada beberapa peserta yang bertanya, dan pertanyaannya sama-sama menggunakan kata tanya "bagaimana", saya memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu satu persatu. Saya memilih untuk menjawab semua pertanyaan sekaligus dengan satu jawaban,

"Bukan tentang bagaimana, melainkan siapa"

Sebelum saya masuk ke pembahasan teknik menulis atau teknik apapun itu, saya hendak menggeser pola pikir atau mindset, menggeser mental, menggeser paradigma, terlebih dahulu.


Begini,


Daripada beberapa pertanyaan yang dimulai dengan kata tanya "bagaimana" tadi, masih lebih powerful ketika pertanyaannya, 


"siapa yang bisa saya 'tempel' tiap hari untuk menjadi seorang jurnalis atau penulis artikel ilmiah yang kompeten?"


Sebab bagi saya, menemukan satu orang yang bisa saya tempel, menjadi mursyid saya dalam suluk akademik atau suluk apapun itu, jauh lebih berharga dan powerful daripada menemukan tulisan panduan hasil browsing, atau menemukan video tutorial di YouTube, atau membaca banyak buku bertema kesuksesan dalam bidang tertentu.


Dalam manajemen, faktor manusia (Man) atau sumber daya manusia (human resource/human capital) selalu lebih penting daripada money atau machine. Dalam pendidikan, thoriqoh lebih penting daripada maddah, tetapi mudarris lebih penting daripada thoriqoh.


Meskipun, misalnya, seseorang tiap hari membaca banyak buku, membaca banyak artikel panduan di browser, menonton banyak video di YouTube, tentang bagaimana cara menjadi penulis andal, tetapi, tiap hari ngumpulnya dengan orang-orang, yang baca buku saja, malas, apalagi menulis, tambah malas. Ketika konteksnya seperti itu, maka menurut saya, akan sulit untuk mencapai target.


Saya ada cerita, dan ini kisah nyata, bukan hasil imajinasi karangan saya. Saya betul-betul menemukan di dalam kenyataan. 


Ada 2 perempuan. sebut saja Mawar dan Melati.


Mawar, sejak semester 1 sampai 4, dia rajin baca buku, rajin nulis juga. Bahkan dia pernah menjuarai lomba menulis esai. Mau mulai semester 5, dia dekat dengan seorang laki-laki yang menurut saya "nggak banget". Saya amati tampaknya laki-laki itu tidak akan mau dan bisa mendukung bakat dan minat menulis Mawar. Lalu saya prediksi, si Mawar bakal 'redup'. Dan betul, sejak semester 5 sampai semester 8, Mawar mulai jarang baca buku, mulai jarang posting tulisan, tidak pernah ikut lomba menulis lagi. Semakin 'hilang' dari 'peradaban'. 


Berbeda dengan Mawar, si Melati lain ceritanya.


Melati, sejak semester 1 sampai 4, seperti orang 'linglung' kalau dalam istilah saya. Malas gerak, tidak tau atau tidak mengerti arah dan tujuan hidupnya, bingung soal banyak hal dalam hidupnya, pokoknya hari-harinya seperti 'suram' ke depannya. Mau masuk semester 5, dia mulai dekat dengan seorang laki-laki. Si laki-laki ini, meskipun ya bukan berasal dari latar belakang keluarga yang kaya raya dan berkuasa istimewa, tetapi laki-laki ini, ganteng, cerdas, pintar, rajin, pekerja keras. Sejak semester 5 sampai semester 8, Melati makin hari, makin meningkat rasa ingin tahunya, makin rajin baca buku, makin sering lihat postingan tentang akun-akun akademik dan lomba, makin sering nonton video inspiratif di YouTube.


Artinya, tetap, bahwa bukan tentang "bagaimana", melainkan tentang "siapa". Meskipun begitu banyak "bagaimana" yang bisa terjawab, tetapi sehari-hari berteman atau berpasangan dengan orang yang justru menghambat tujuan, target, atau impian, ya kemungkinan besar sulit sekali tercapai.


Coba sudah dipikir dan direnungkan,


Antara "orang yang kuliah 4 tahun di prodi Pendidikan Bahasa Arab atau Pendidikan Bahasa Inggris" dengan "orang yang belajar 2 tahun di asrama Bahasa Arab atau Asrama Bahasa Inggris", mana yang cenderung lebih menguasai keterampilan berbahasa Arab atau Inggris?


Antara "orang yang 6 tahun kuliah S3 Ilmu Politik" dengan "orang yang 3 tahun menjadi istri Bupati", mana yang lebih berpeluang untuk dicalonkan dan kemudia terpilih untuk menjadi bupati di periode setelahnya?


Lagi, bukan tentang "bagaimana" melainkan tentang "siapa"


Tapi memang, ada beberapa kasus, meski sudah terjawab kata tanya "siapa", tetapi nihil peningkatan kompetensi. Saya menyebutnya, "nempel tapi ndak nular"

Ada yang tiap hari ketemu, atau bahkan tinggal bersama di sebuah bangunan, tapi tidak ada korelasi positif. Misalnya, tinggal bareng seorang penulis selama setahun, tapi sekedar nulis paragraf saja ndak bisa. Tidak menular kan istilah saya. 


Jadi, pertanyaan, "mengapa tidak ada peningkatan kompetensi?" Jawabannya, "karena sekedar nempel tapi ndak nular"

Kalau ada pertanyaan lagi, "mengapa sudah nempel tapi ndak nular?" Jawabannya, "karena tidak memanfaatkan atau memfungsikan fasilitas"

Fasilitas yang saya maksud bukanlah sarana alat atau bangunan. Fasilitas yang saya maksud adalah kesempatan untuk sesi konsultasi, coaching, mentoring, yang seperti itu. Meskipun selama setahun tinggal sekontrakan dengan seorang jurnalis atau dosen, tetapi tidak pernah ngobrol atau konsultasi tentang penulisan, ya jadinya menulis satu paragraf saja kesulitan. Bahkan, ada kemungkinan, ketika "siapa" itu sudah ditemukan, fasilitas yang bisa tersedia, sampai "full back up". Full back up ini, setidaknya ada beberapa arti, 2 di antaranya, sampai tujuan atau target atau impian itu betul-betul terwujud, atau arti lainnya adalah yang biasa diistilahkan dengan "orang dalam". Full back up juga berarti termasuk full trust atau kepercayaan penuh.


Apa lagi ya, yang mungkin bisa menjadi penjelasan? Mungkin segini saja dulu.


It is not what you know

It is who you know


It is not what you do

It is who you do with


It is not what you get

It is who you get





Minggu, 05 Juni 2022

,

 tak ada yang lebih lega

dari bujang bulan Juni

dipublikasikannya kebiasaannya

kepada publik yang menaruh atensi itu


tak ada yang lebih bijak

dari bujang bulan Juni

tak dihapusnya kenangan-kenangan indahnya

yang diambil sebagai pelajaran itu


tak ada yang lebih berhasil

dari bujang bulan Juni

dibiarkannya transaksi jasa dan barang

terus mengalir di arus kas itu

Selasa, 24 Mei 2022

,

 Senja: Mentari Aram & Awan Mendung


Pemandangan, salah satu yang terindah

Lucu tapi kasihan juga

Te(ntang)diri dari 2 (dua) orang

Perempuannya bernama Mentari Aram

Laki-lakinya bernama Awan Mendung


Masyaallah, kalian berdua, sungguh menakjubkan


Mentari dan Awan

Sudah lama saling mengenal

Sempat dekat

Pernah sering bersama


Tabarakallah, kalian berdua, sungguh menyadarkan


Mentari sering lupa

Awan sering hanyut

Mentari terlalu lambat berspekulasi

Awan terlalu cepat berasumsi


Subhanallah, kalian berdua, sungguh menggemaskan


Tampak sebagai dua orang sahabat

Sahabat terbaik malah, kok terlalu dekat

Disebut hanya teman biasa, kok terlalu rapat

Dibilang sedikit lebih istimewa dari sahabat terbaik, kok belum ada yang pernah menyatakan


Alhamdulillah, kalian berdua, sama-sama kuat


Kalian ini mantan apa gimana sih?

Kalian ini alumni apa gimana sih?

Kalian ini mau lanjut apa gimana sih?

Kalian ini mau terus apa gimana sih?


Illa hu, kalian berdua, sama-sama tahan


Tetap saja dulu

Jalani saja dulu

Mengalir saja dulu

Nikmati saja dulu


Allahuakbar, kalian berdua, sama-sama masih


Tinggal kekaburan

Yakin, tak perlu kejelasan?

Tersisa kemungkinan

Percaya, tak butuh kepastian?


Senja

Sen,,,ja

Sen......ja

Senja Nasi Kucing


La hawla wa la quwwata illa bihi

Kamis, 12 Mei 2022

,

 

Saya menulis ingatan ini, mumpung ingatannya belum terlalu terkikis habis oleh zaman. Karena bisa jadi semakin lama akan semakin terlupakan dan tidak bisa dipanggil lagi


Sedih rasanya, seperti ada yang kurang lengkap, ada yang kurang sempurna. Reuni teman kelas saat MA yang "resmi" tidak bisa dilaksanakan tahun ini. Biasanya tahun-tahun sebelumnya, selalu bisa terlaksana. Saya sebut "resmi" artinya reuni yang dilaksanakan di satu tempat yang luasnya bisa menampung 40-60 orang, dan dihadiri oleh semua atau paling tidak sebagian besar anggota "mantan" teman sekelas saat MA dulu.


Tulisan ini ditulis terutama untuk saya sendiri, saya pribadi. Bukan untuk pembaca, bukan untuk orang lain. Jadi saya tidak akan menjelaskan istilah yang mungkin tidak dimengerti oleh sebagian pembaca, seperti MAK itu apa artinya dan kenapa istilahnya seperti itu, bagaimana asal usulnya, kok bisa IAI, kok bukan IAGA atau PK. Pokoknya istilah yang macam itu, saya tidak perlu jelaskan di tulisan ini. Tulisan ini fokus pada ingatan saya tentang nama kelasnya.


Seingat saya, kelas yang ada namanya itu, 3 kali. Saat MTs, MA, dan kuliah S1. MTs kan ada 2 jurusan atau program tuh, Full Day yang masuknya dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore sama Reguler yang masuknya dari jam 7 sampai jam 1 siang. Saya kelas Full Day, dan nama kelasnya itu "The Brilliant Boys"


Kalau MA, sebelum saya masuk, pernah ada 4 jurusan atau program yaitu IAI atau Keagamaan, IPA, IPS, dan Bahasa. Hanya saja, pas saya masuk tahun 2013, jurusan Bahasa sudah tidak ada, hanya tinggal 3 jurusan atau program. Saya masuk di IAI atau Keagamaan itu. Kalau di sekolah lain setau saya bukan menggunakan istilah IAI, melainkan PK (karena dulu-atau sampai sekarang-ada istilahnya MAPK) atau IAGA. Nama kelasnya itu "El-Rumi"


Kalau kuliah S1, prodinya TBI. Ada 2 kelas di angkatan saya, TBI 1 dan TBI 2. Saya di kelas TBI 1. Berbeda dengan kelas saat MTs sama MA yang semua anggota kelasnya itu laki-laki, di kuliah S1, anggota kelasnya laki-laki dan perempuan. Jelas lebih sedikit laki-lakinya. Perbandingan antara laki-laki dan perempuan itu 1:3. Nama Kelasnya itu "Extraordinary Class".


Di antara ketiganya, yang paling berkesan bagi saya secara pribadi adalah nama kelas saat MA, El-Rumi. Kalau "The Brilliant Boys" sama "Extraordinary Class", sudah banyak lupanya. Saya bahkan hampir lupa semuanya tentang nama kelas saat MTs karena sudah terlalu lama. Kalau nama kelas Extraordinary Class di S1 TBI, saya lupa siapa yang usul. Saya hanya terlibat memberikan usulan, nama Extraordinary meskipun artinya luar biasa tapi rasanya kurang istimewa, gimana kalau Extraordinary itu diberikan versi lain yaitu ExOrd. Untungnya diterima usulannya. Saya rasa saat mendengarnya, Exord itu, biar kedengarannya mirip sama Oxford gitu. Juga, kalau Exord kan cuma dua suku kata jadi lebih pendek.


Kembali ke nama kelas saat MA. Setidaknya, ada 2 alasan kuat kenapa seperti itu. Pertama, di antara ketiganya, saya paling banyak terlibat di penamaan El-Rumi dibandingkan dengan dua lainnya. Kedua, saya merasakan kekompakan Anggota kelas saat MA dibandingkan dengan MTs dan S1. Untuk penjelasan lebih lanjut soal kekompakannya bagaimana, tidak akan saya jelaskan di tulisan ini, tapi di tulisan atau kesempatan lain saja. Saya fokus cerita atau jelaskan alasan pertama saja.


Jadi, pada zaman dahulu.......


Lambe' nika......


(Kok kayak orang yang sudah tua ceritanya ini hehehehe)


Lanjut......


Saya lupa persisnya gimana awalnya proses penamaan kelas pas MA itu. 


Yang jelas, saat musyawarah untuk menentukan nama kelas, semua anggota kelas dipersilakan untuk memberikan ide atau usulannya. Tapi, ya, jelas, ndak akan mungkin semua orang akan mengusulkan lah. Paling-paling hanya sebagian kecil.


Saya agak lupa berapa lama prosesnya. 


Yang saya ingat sedikit itu, saya tidak langsung ikut memberikan usulan saya. Setidaknya ada dua alasan. 


Kok mirip ya sama yang di atas, sama-sama dua alasan hehehehe


Lanjut lagi Mas......


Alasan pertama, saya nunggu sampai ketika kelas itu benar-benar kompak, sebab saya dari dulu, sebelum itu, kurang bisa percaya kalau pertemanan atau persahabatan itu bisa benar-benar kompak.


Alasan kedua, saya belum punya ide, ndak langsung kepikiran wkwkwkwk. Ya maap, namanya ide munculnya butuh waktu, butuh Ilham, butuh inspirasi gitu. Jadi, la budda, dari permenungan yang filosofis 


Jangan keliru, gini-gini saya (kakak-kakak kelas sama adik-adik kelas saya juga sih) sudah baca-baca filsafat lho. Bacaan Filsafat, ilmu Kalam, sama Tasawuf sudah dibaca sejak saat itu. Ya, di samping memang ada mapel muloknya yang diajar sama Pak Abdillah Lutfi. Bukan manggil Pak, sih, kalau dulu, melainkan Ustadz.


Nah, setelah dua alasan tadi saya kira sudah siap, sudah terpenuhi, anak-anak kelasnya sudah kompak secara keseluruhan, sama saya dapat ilham, baru saya usulkan.


Usulan saya, berasal dari dua sumber (kan dua lagi xixixixixi), yaitu membaca buku atau literatur (jaman MTs sampai MA selain baca buku juga dari browsing di internet, kan hampir tiap hari saya main di warnet) sama membaca pengalaman.


Kebetulan, saya saat itu, sedang gandrung baca-baca kutipan-kutipan atau aforismenya Maulana Jalaluddin (ar-)Rumi. Saya terkesan, saya terpesona sekali dengan kalimat-kalimatnya, dengan ungkapan-ungkapannya. Bagi saya yang saat itu usia Peserta Didik MA, dapat pelajaran ilmu alat yang macam-macam seperti Ushul Fikih dan Kaidahnya, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, mapel pemikiran, pokoknya yang canggih gitu, ungkapannya Rumi bagi saya sangat puitis, sederhana, tapi sangat mendalam. Itu yang berkaitan dengan membaca buku atau literatur.


Yang berkaitan dengan membaca pengalaman adalah, saya amati nama-nama kelas dari kakak-kakak kelas kami, dari lulusan tahun 2012 sampai tahun 2015. Lulusan 2012 misalnya, nama kelasnya yang salah satu versinya, itu seperti nama salah satu album Slank, PLUR. PLUR itu kan album Slank yang ke berapa gitu, lanjutan dari album-album sebelumnya. PLUR itu singkatan dari Peace, Love, Unity, Respect. Itu kan bahasa Inggris. Nama kelas dari kakak kelas yang lain, sama nama kelas dari adik kelas, itu biasanya menggunakan bahasa Arab. Namanya juga jurusan atau program keagamaan kan.


Nah, saya mikir, gimana penamaan kelas itu, bisa punya arti bahasa Arab dan bahasa Inggris sekaligus. Dan, usulan saya, RUMI itu.


Nama RUMI bisa merujuk kepada dua arti (kok serba dua ya mulai tadi LOL), yaitu merujuk pada nama Maulana Jalaluddin Rumi tadi, itu yang bahasa Arab. Yang bahasa Inggris? Bisa juga dong. RUMI bisa diartikan sebagai singkatan dari "Respect & Unity, Manifestation of IAI" yang terjemahan Indonesianya berarti, saling menghormati dan menjunjung persatuan adalah perwujudan atau pengejawantahan dari Ilmu Agama Islam yang dipelajari. Jadi mu dari arti nama yang bahasa Arab atau Bahasa Inggris sama-sama bisa.


Bagus kan namanya?


Bagus lah


Siapa dulu yang ngusulkan nama, saya gitu


Hahahaha


Nostalgia dulu Mas


Apa lagi ya yang perlu ditulis. Sementara ini dulu sudah. Kalau muncul ingatan lagi nanti, saya revisi, saya edit tulisan ini.


Jumat, 29 April 2022

,

 


- Kepercayaan, saling percaya, harus sepenuhnya, 100 persen.


- Penentu kebijakan utama adalah para petugas lapangan yang paling mampu memetakan medan, bukan elit atau atasan di ruang kendali utama. Petugas lapangan punya otonomi besar untuk bermanuver di lapangan tanpa harus nunggu komando dari pusat.


- Petugas lapangan melakukan percobaan banyak teknik dan menggunakan otonominya untuk bergerak ke segala arah, dari segala penjuru, lewat segala jalur.


- Para personel tim dilarang asumtif, spekulatif, dan gengsi dalam menggunakan informasi sebagai bahan perumusan strategi.


- Petugas, baik di ruang kendali, maupun di lapangan, harus terdiri dari ahli lintas disiplin.


- Data dan informasi yang dianggap paling berharga adalah yang dikumpulkan dan didapatkan oleh para petugas lapangan. Data itu kemudian dianalisis oleh para analis, elit, atau atasan dan disajikan, dikembalikan, diterjemahkan kembali, kepada petugas lapangan.


- Semua pihak yang dianggap punya potensi untuk menjadi mitra di medan dikontak dan diajak kerjasama. Berbagai teknik untuk mendekati bila perlu digunakan semua: provokasi; menggoda; merayu; mengancam; belah bambu; testimoni; dll.


- Periksa unsur atau elemen penyebaran pesan yakni sumber atau komunikator, pesan, saluran atau media, penerima atau komunikan, akibat atau pengaruh, umpan balik, serta lingkungan.


- Periksa kekuatan legitimasi: siapa saja, seberapa kuat, seberapa luas.


- Periksa biaya dan sarana.


- Periksa loyalitas dan keteguhan petugas lapangan dalam menjalankan tugas, apapun disiplin, bagian, dan tugasnya, serta konsekuensinya. Dilarang mengeluh.


- Bawahan terbuka untuk diajari teknologi oleh atasan (begitu juga sebaliknya).


- Periksa rasio jumlah personel, luas medan, alat komunikasi, alat transportasi, teknik mobilisasi atau tingkat mobilitas, hitung seberapa realistis.


- Saling melindungi dan mengamankan, bukan menyalahkan. Hanya pengawas yang berwenang untuk menilai kesalahan.


- Tidak ada salah satu yang lebih berjasa daripada yang lainnya.


Minggu, 24 April 2022

,

 Dalam terjaga, 

aku tidak pernah betul-betul bertemu denganmu.

Kau hanya sempat singgah,

hanya terlihat dari kejauhan.

Berkelebat seumpama bayangan


Masa depan adalah arah dan tujuan,

bukan jalan,

bukan pula kendaraan.


Tidak ada?

Tidak mungkin ada?

Tidak pernah ada?

Mungkin tidak ada?

Pernah tidak ada?

Ada, tidak?


Di sepohon kota,

Yang jauh di sini,

Tampak dekat di sana,

Tumbuh bibit masa lalu.

Berbunga ingatan,

Berbuah pengabadian.


Bahkan di setumbuh kabupaten,

Justru tidak terjamah,

Makin tak terjangkau.

Tambah lewat.

Dikali lalu.


Suhu hangat,

Intensitas terang cahaya,

Berapa banyak molekulnya?


Sedikit di laboratorium,

Tak banyak di kelas,

Tidak ada di kampus.


Moga seperti unsur kimia

Nomor 22 dalam tabel periodik

Lebih kuat dari baja

Dengan transisi yang

ringan,

kuat,

berkilau,

dan tahan korosi

Minggu, 13 Februari 2022

,


Membangun relasi, dalam hal ini bukan hubungan atau relationship antara laki-laki dan perempuan untuk kepentingan asmara, melainkan untuk kepentingan seperti pekerjaan, bisnis, organisasi, dan lainnya, kemungkinan besar tidak diajarkan di kelas akademik. Selain itu, saya sering mendapat nasehat, saran, masukan, soal pentingnya membangun relasi, entah secara lisan atau dari artikel-artikel di internet.


Yang jadi persoalan bagi saya adalah, nasihat, saran, masukan, tips, atau apapun itu, bisa dibilang cenderung normatif, cenderung tidak aplikatif, atau semacam bukan panduan strategis atau teknis begitu. Salah satu yang menurut saya lebih bisa menggambarkan adalah hubungan kekeluargaan atau kekerabatan, hubungan alumni atau almamater, dan seperti MoU di dinas pemerintah atau perusahaan.


Hanya saja, sebelum yang bersifat teknis itu, tentu ada yang sifatnya lebih mendasar, seperti pertanyaan relasi seperti apa yang mau dibangun? Relasi untuk kepentingan apa? Bagaimana membangunnya secara strategis dan teknis?


Tulisan ini bisa dibilang hanya akan menyentuh soal konsep dasar, atau pola pikir dasar, soal membangun relasi. Itupun hanya sebatas kegelisahan, pengalaman, dan renungan pribadi. Sebab bagaimanapun, saya belum bisa dikatakan sebagai orang yang sudah betul-betul hebat.


Saya menggunakan istilah relasi untuk menyebut hubungan secara umum, hubungan apapun itu. Soal bagaimana yang sedikit lebih rinci, saya membagi relasi tersebut, setidaknya, menjadi network (jejaring/jaringan) dan connection (koneksi/keterhubungan). 


Relasi menurut saya, sudah bisa dibilang relasi, apabila 2 orang saling kenal. Lebih dari itu, pertemanan misalnya, juga termasuk relasi. Entah itu atas nama pribadi, mewakili individu secara personal, atau atas nama posisi, mewakili kelompok secara kolektif.


Soal apa saja, berapa banyak, seberapa sering, 2 orang itu dipertemukan, dipersatukan, tunggu dulu. Perlu pembahasan lebih dari relasi. Perlu dibahas, setidaknya, apakah relasi atau relation itu merupakan network atau connection. Kalau sekedar relation tanpa network atau connection, bisa saja hubungan itu sekedar "ada", tapi tidak "hidup" atau tidak "bekerja".


Saya melakukan penelusuran soal network dan connection ini dalam bahasa Indonesia, tetapi saya rasa kurang memuaskan. Jadi saya melakukan penelusuran dalam bahasa Inggris, dan berikut rangkuman dari hasil penelusuran saya


Network: lebih aktif

Connection: lebih pasif


Network: cenderung bekerja

Connection: cenderung tidur


Network: lebih sedikit

Connection: lebih banyak


Network: cenderung mendalam

Connection: cenderung permukaan


Network: lebih sempit

Connection: lebih luas


Network: lebih sering

Connection: lebih jarang


Network: Interaksi-Transaksi

Connection: Interaksi-Asosiasi


Network: Profesional

Connection: Personal


Network: Terarah

Connection: Acak


Network: waktu kerja

Connection: waktu santai


Network: bertugas

Connection: berlibur


Antara lain seperti itu perbandingan yang saya dapatkan dari sumber bacaan dalam bahasa Inggris. 


Membangun relasi, sekedarnya saja, bisa dengan semua orang, tanpa terkecuali. Hanya saja, menurut saya pribadi, dari relasi ala kadarnya menjadi jejaring yang terhubung, perlu perencanaan sampai evaluasi, karena bagaimanapun manusia memiliki keterbatasan. 


Kalau misalnya ditambah lagi dengan kata kunci, saya sementara ini menemukan dua kata kunci, selain soal strategi dan teknik dalam networking atau connecting, yaitu "kepercayaan" dan "keberuntungan". Kepercayaan bukan tentang seberapa hitungan orangnya, tetapi makna dan kualitas dari suatu hubungan. Selain itu, seringkali, hubungan itu berjejaring dan terhubung, "tiba-tiba" saja, bukan aneh, melainkan berarti itu adalah keberuntungan.

 

,



Untuk alumni saya

Dari saya, sekolahmu



Pernahkah kamu merasa bahwa aroma, dan suasana, dari sudut sekolah, itu mirip-mirip, bahkan nyaris sama? Jika tidak atau belum pernah, maka lupakan saja, abaikan saja. Jika pernah, beberapa kali, atau sering, atau bahkan hampir setiap hari, maka itu berarti saya tidak sendirian.


Ya, memang saya jarang sendirian, apabila itu berkaitan dengan kamu. Hampir sulit menemukan sesuatu, entah ingatan atau apalah itu, yang hanya saya, orang yang memiliki atau mengalaminya. Kita, maksud saya adalah kamu dan saya, hampir tidak pernah menghabiskan waktu bersama, hanya berdua saja. Kebersamaan kita yang hanya berdua saja, dan itu terekam, sepertinya hanya berjumlah satu saja, saat tiba-tiba muncul inisiatif untuk ambil gambar bersama.


Selain kamu dan saya seringnya menghabiskan waktu dengan teman-teman lainnya, kebersamaan kamu dan saya, bukan dipenuhi oleh kepastian-kepastian dan kejelasan-kejelasan yang sudah terjadwal, melainkan dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan dan kebetulan-kebetulan.


Sekolah, dan peserta didiknya, bersifat akademik, ilmiah atau saintifik, sekaligus sendu, sedu sedan, haru, dan melankolis. Bagaimanapun sulitnya mata pelajaran dan konflik antar individu, tetap akan menyisakan romantisme-romantisme, seromantik narasi heroik prosa atau puitis yang berasal dari sastra Abad Pertengahan dan Romantik, atau revolusioner romantik dengan kegetiran skala besar seperti seratus bunga mekar yang melompat jauh ke depan.


Sekolah adalah tempat terjadinya peristiwa-peristiwa, dimana para pelakunya mengaku rindu, tapi enggan kembali bertemu. Entah kamu atau saya yang lebih mirip sekolah. Tapi, mungkin yang lebih mirip sekolah itu saya, kamu peserta didiknya. Meski begitu, saya lah yang mungkin lebih banyak mendapatkan pelajaran dari kamu. Dan ya, kamu sudah lama lulus, sekarang jadi alumni. Jadi alumni saya, sekolahmu.


Karena saya adalah sekolahmu, bukan rumahmu, saya memang tempat untuk kamu belajar, bukan tempat kamu untuk pulang. Bisa belajar bareng, tapi tidak bisa pulang ke rumah yang sama. Bisa terhubung, tapi tidak bisa terikat dengan perjanjian hidup yang sama. Bisa bertemu, tapi tidak bisa bersatu. Saya bukan rumah, adalah sekolah, yang pernah, untuk singgah. 


Terkadang dalam pelepasan, pisah kenang, ada pelajaran-pelajaran perih yang mesti dilakukan untuk jadi dewasa. Kelulusan, mungkin adalah salah satu perpisahan yang dirayakan. Termasuk kelulusanmu, yang berarti saya berpisah dengan kamu, malah saya merayakannya. Barangkali, itulah kedewasaan, kedewasaan adalah bersukacita merayakan perpisahan karena kelulusan. Kamu adalah kata benda, sekaligus kata kerja, juga kata sifat, yang berarti semakin jauh. Selamat, ya, alumni. Setelah ini hanya ada kelanjutan-kelanjutan, dari perjalanan, dari petualangan. 

Kamis, 10 Februari 2022

,



Kepada yang pernah berjasa

Salam keajaiban


Tadi malam itu, saya kan barengi sahabat saya di lokasi jualan. Saya barengi sampai selesai, sampai pulang lah. Sahabat saya yang saya barengi itu, kalau ikut lomba penataan, kayaknya kandidat kuat juara 1. Gimana ndak gitu, kalau urusan beres-beres, bersih-bersih, rapi-rapi, top banget dah. Saya jadi ingat sama kamu. Itu satu.


Selain itu, kami juga ngobrol-ngobrol, ada beberapa lah. Cuma di tulisan ini, saya mau berbagi soal kisah salah seorang ulama' yang diceritakan oleh sahabat saya itu, namanya Muhammad Ismail al-Bukhari, Ulama Hadits terkenal itu yang nulis kitab Shahih Bukhari, atau di dalam riwayat lain yang saya terima, ulama yang dikisahkan itu adalah Imam Ahmad bin Hanbal, Ulama Hadits juga, dikenal sebagai pendiri Madzhab Hanbali juga. Yang inti dari cerita itu adalah, Alim tersebut tiba-tiba ingin sekali pergi ke suatu kota, dan akhirnya diketahui bahwa keinginan yang tiba-tiba muncul itu disebabkan oleh doa yang terus-menerus dipanjatkan oleh seorang penjual Roti yang ingin sekali bertemu dengan beliau. Kata kuncinya di sini salah satunya adalah keajaiban.


Jadi, ada dua kata kunci di surat ini, pertama kamu, kedua keajaiban.


Nah, dalam perjalanan pulang, kan masih ada sisa gerimis tuh. Secara, di atas motor, ada sisa gerimis, di jalan banyak genangan, muncul dong ingatan soal kenangan. Bukan kenangan soal mantan tapi ya. Kamu kan bukan mantan saya. Kamu kan saya anggap "alumni". Ngomong-ngomong, kapan nih kita bisa reuni? Skip dulu ya.


Kita kembali ke dua kata kunci tadi.


Kalau diingat-ingat, lima sampai tiga tahun lalu, mungkin saya termasuk manusia yang paling cuek ya di hidup kamu. Cuek bebek kayak es batu. Eh, tunggu bentar. Bebek kan unggas, kok nyampe ke es batu? Garing ya? Ya intinya itu dah.


Sambil ngingat itu, dan untungnya saya ndak pernah hapus pesan, saya cari tuh pesan-pesanmu di tahun-tahun segitu. Saat kamu sering nanya-nanya, dari nanya tugas sampai remeh-temeh. Kalau dipikir-pikir, kamu lumayan perhatian juga ya ke saya. Cuma ya kok saya dulu kurang peka, atau ndak peka sama sekali. Saya bahkan curiga, jangan-jangan pas dulu kamu sering curhat juga ke saya, entah lewat pesan elektronik atau pas ketemu di warung kopi, respon saya terlalu datar. Jadinya kurang menarik.


Kayaknya dulu itu, selain mungkin karena saya terlihat cerdas nan pintar, ndak ada lagi kelebihan yang tampak. Sudah rambutnya gondrong jarang disisir, kurang peduli juga sama penampilan. Kalau sekarang kan sudah agak beda.


Saya juga, entah buruk sangka atau baik sangka ini, bisa saja pas kamu dapat respons yang datar gitu saja dari saya, kamu sempat berdoa buat saya. Siapa yang tau kan, kalau keajaiban-keajaiban yang saya alami sekarang, sebagiannya berasal dari doa kamu yang dulu, yang baru terkabul sekarang.


Doa penjual roti saja bisa membuat seorang 'Alim tiba-tiba ingin pergi ke suatu kota. Dan, kalau benar kamu sempat berdoa buat saya, dan baru terkabul sekarang, berarti bisa dong saya berdoa sekarang, biar kapan-kapan bisa ketemu sama kamu lagi.


Pokoknya terima kasih banyak atas jasa-jasamu yang dulu. Beruntung sempat ketemu sama kamu. Semoga kita bisa ketemu lagi. Sudah itu dulu sementara sekarang. Besok-besok sambung lagi. Tunggu saja keajaiban datang ke kamu. 

Jumat, 21 Januari 2022

,

 Rahasiakan (Kearifan) Wilayahmu, Sampai Lewat Retensi


Wilayah adalah ruang.

Retensi adalah waktu.


dari Kenyataan,

menuju Kebenaran,

di samping Keindahan,

juga Kebutuhan,

lalu Kenyamanan,

terus Kecukupan,

di sini Kemestian,

di sana Keperluan,

ada Kebaikan,

sampai Kepentingan,

Berakhir Kesempurnaan.


Waktu kita tidak banyak.

Ruang kita tidak luas.


Maka dari itu,

dengar,

lihat,


dekati,

akui,

hargai,

temukan,


sadarkan,

hadirkan,

hitung-timbangkan,

ubah-suaikan,

gabung-padukan,


gejala,

fenomena,

benda,

jasa,

nama,

cahaya,


Tidak ada apapun.

Tiada siapapun.

Hanya Seakan-akan Ada.

Ada yang Mungkin Ada.

Ada yang Niscaya Ada.

Ada yang Mutlak Ada.


Untukmu, kamuku

Dariku, akumu

Asal kami buat kita


Kemana dia?

Kemana mereka?


Dia di luar wilayah

Mereka lepas dari retensi

Senin, 17 Januari 2022

,

 "Jangan serang dulu,

jangan buat dia menyerang,

lebih baik TUNGGU dulu, amati dulu dengan seksama"


"Membeli makanan penting,

memasaknya penting juga,

MEMAKANnnya lebih penting"

Selasa, 04 Januari 2022

,

 Kepada Yang Menggetarkan Jantung

Salam Rasa


Terima kasih sudah mengangkat telpon saya. Mohon maaf sebelumnya, apabila kamu kaget, terkejut, heran, atau sejenisnya, dengan ucapan, tindakan, dan sikap saya.


Seperti yang kamu tau, dari awal, saya tidak ada niatan untuk ada urusan pribadi denganmu. Seperti biasa saya lakukan dengan teman-teman saya, saya terbiasa membicarakan tentang akademik dan karier, kadang-kadang membicarakan tentang hal-hal yang sifatnya strategis. Jadi, memang hanya itu niat saya di awal.


Mungkin kamu masih ingat, atau bahkan kemungkinan besar justru lupa ya. Saya pertama kali dengar namamu, dapat nomermu, dan momen-momen pertama lainnya. Nah, setelah itu, saya sempat tanya-tanya, dan pembicaraannya memang murni cuma soal akademik, organisasi, dan hal lainnya selayaknya apa yang ada di kehidupan orang-orang usia dua puluhan. 


Makanya, kalau ditanya, entah olehmu atau orang lain, gimana ceritanya kok sampai seperti sekarang, maka saya mau jawab kalau memang alurnya aneh. Aneh karena memang jarang terjadi, jarang sekali. Pertemuan saya denganmu, juga, saya tidak menyangka apa-apa yang lebih sebelumnya. Kenapa tiba-tiba saat saya bertemu denganmu, mulai dari jabat tangan, duduk berdekatan, sampai kamu pamit pulang, ada 'getaran', beda sekali dari biasanya, dan getaran itu, terakhir kali muncul, sudah agak lama seingat saya.


Seingat saya, getaran itu, sekitar setahun, atau dua tahun, terakhir kali muncul. Dan munculnya itu, sebelum yang sekarang, baru muncul ketika sudah agak lama, di pertemuan ke sekian kalinya. Bukan seperti yang sekarang ketika getaran itu muncul di saat pertemuan pertama. Aneh tapi sekaligus mungkin tidak aneh juga alias wajar saja. Aneh karena peristiwa itu adalah kejadian yang bisa dibilang nyaris langka. Bagaimana tidak, masih pertemuan pertama bisa memunculkan getaran. Padahal biasanya getaran itu baru muncul setelah pertemuan yang ke sekian kali. Sempat terpikirkan bahwa getaran itu pasti berasal dari sesuatu yang istimewa, yang luar biasa. Di situlah yang saya sebut sebagai hal yang tidak aneh atau wajar. Meskipun kamu sendiri, dan beberapa orang, merasa, bahwa biasa saja, tidak ada yang istimewa, tapi sebagian orang lainnya, menuturkan bahwa ada keistimewaan darimu, meski mereka tidak bisa menggambarkan dan menjelaskan persisnya seperti apa. Yang jelas begitu.


Saya tentu pernah merasakan penyesalan dan kehilangan. Salah satunya, dalam hal ini, menyesal kehilangan kesempatan, menyesal karena kurang menghargai kesempatan, untuk mengucapkan, atau melakukan tindakan, menghargai kesempatan karena sudah diberi anugerah bertemu dengan beberapa orang. Oleh karenanya, saya hanya tidak mau kehilangan kesempatan itu untuk ke sekian kalinya, sekarang. Mungkin kamu juga pernah merasa menyesal atas kehilangan kesempatan bersama seseorang atau beberapa orang. Seperti itu kurang lebih, kira-kira. Makanya saya harap kamu bisa memakluminya.


Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih banyak, atas getarannya. Saya tidak tau, entah bagaimana selanjutnya, setelah ini. Yang jelas, untuk sekarang, saat ini, getaran itu sangat berharga, berharga sekali, karena kelangkaannya. Mohon maaf juga, sekali lagi, kalau kamu merasa terganggu dengan ucapan, tindakan, atau sikap saya. Saya tidak bermaksud demikian. Harap dimaklumi.


Januari 2022

M.Q.A.