---Di mana pun adalah ruang kelas---

Rabu, 13 Juni 2018

Bisakah Benar-benar Menjadi Muslim Moderat?: Sebuah Awal

Oleh: M. Q. Aynan

Ada orang bilang, "Moderat itu berdiri di tengah, tidak miring ke kanan atau ke kiri. Kalau miring, itu moderat gadungan namanya."

Diskusi tentang moderasi dalam Islam sebenarnya bukan hal yang baru. Namun karena berlarinya waktu, terdapat pergeseran-pergeseran baik dalam kenyataan praktis maupun pergeseran makna moderat. Fenomena di abad ini membuat kita perlu untuk menafsirkan ulang apa yang disebut muslim moderat. Isu-isu baru yang tidak terdapat di masa lalu seperti demokrasi, kebebasan beragama, kesetaraan gender, sekularisasi, HAM, dan juga formalisasi syariat, menjadi pembicaraan yang sangat menarik. Isu-isu tersebut tentu sarat dengan kepentingan.
Semenjak pusat-pusat studi Islam dibuka di Barat, ada upaya untuk kategorisasi masyarakat muslim, sehingga kemudian ada yang dikategorikan baik ada yang dikategorikan buruk. Upaya tersebut bisa dilihat sebagai peminggiran masyarakat muslim tertentu sebagai "yang lain". Meski sudah berlalu, sangat mungkin masih tersisa prasangka buruk. Beberapa orang masih menyimpan rasa takut saat mendengar istilah-istilah dalam Islam.

Ketakutan itu bukan tanpa alasan. Tentu kita belum lupa peristiwa pengeboman yang terjadi akibat keliru dalam memahami agama. Parahnya lagi, ada sekelompok orang yang demi kepentingan politik jangka pendek sengaja memeliharanya. Saya sendiri pernah mendengar kabar bawah tanah bahwa kegiatan-kegiatan baik secara umum maupun di kampus-kampus yang menjurus kepada sikap berlebihan dalam agama didanai oleh orang-orang yang punya jabatan di pemerintahan.

Istilah moderat tidak bisa hanya dihadapkan dengan fundamentalisme agama. Lebih dari itu, terdapat fundamentalisme pasar yang dampak buruknya di depan mata meski banyak yang tidak menyadarinya. Pasar bebas telah terbukti merugikan negara-negara yang dianggap berkembang yang notabenenya dihuni oleh mayoritas masyarakat muslim. Pengrusakan lingkungan dan kurangnya perhatian kepada para pekerja adalah dampak nyata dari kebijakan pro pasar bebas. Ekstrem kanan ini yang kemudian sebagian muslim memilih untuk agak miring ke kiri.

Mungkinkah seorang muslim menjadi moderat yang sesungguhnya tanpa sedikit miring ke kanan atau ke kiri? Kalau mungkin, kira-kira satu banding berapa? Hampir tidak mungkin berada di tengah tanpa sedikit miring ke kanan atau ke kiri. Yang jelas, kita hanya bisa berupaya untuk adil dalam memandang persoalan dan tidak memakai standar ganda.

Ada perdebatan serius di kalangan masyarakat muslim sendiri tentang arti menjadi moderat. Sependek pengetahuan saya, saya sendiri masih belum menemukan pengertian moderat yang tidak sesederhana ungkapan sehari-hari. Moderat dalam ucapan atau mengucapkan kata moderat mudah saja. Setiap orang bisa saja mengaku sebagai moderat. Saya sendiri sering bingung ketika berpikir dan bertindak, apakah pemikiran dan tindakan saya sudah moderat. Kebingungan itu muncul seiring saya menghadapi kenyataan. Saya ragu jika ada orang yangl dalam memandang persoalan global, misalnya, dapat dengan mudah mengidentifikasi mana kelompok atau sikap apa yang bisa disebut moderat. Paling tidak, untuk sementara ini adalah bagaimana menarik diskusi masalah moderat ke ranah praktis tanpa menimbulkan perpecahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar