---Di mana pun adalah ruang kelas---

Rabu, 18 September 2019

,

Oleh: M. Q. Aynan


Berdasarkan sanad yang mutawatir, diceritakan bahwa ada dua orang sahabat, Sungai Tenang dan Mutiara Terang. Keduanya sudah bersama tiga tahun lamanya. Tak hanya bersama di beberapa mata kuliah dan organisasi, keduanya juga kadang makan bersama dan beraktivitas lainnya secara bersama.

Sungai Tenang memiliki kepribadian yang sesuai dengan namanya, tenang. Ia juga sosok yang penuh pertimbangan. Dia tidak ingin mengambil sikap apa pun. Dia akan bertanya, memberikan beberapa pengamatannya, tetapi dia tidak akan mengungkapkan pendapatnya sendiri. Ia tak suka memberitahu orang lain tentang dirinya, kecuali dengan penuh pertimbangan.

Di sisi lain, Mutiara Terang memiliki kepribadian yang juga sesuai dengan namanya. Ia bagai mutiara terang yang cukup terang, cukup dikenal dan akrab dengan lingkaran pergaulan mereka. Ia suka mengambil sikap dalam berbagai masalah. Ia akan berinisiatif untuk menyampaikan pendapat apabila berhadapan dengan lawan bicara.

Interaksi mereka sepanjang tiga tahun terakhir ditandai dengan campuran kecurigaan dan kekaguman timbal balik, dan sebagian besar, satu kampus cukup besar untuk mereka berdua. Dalam suatu aksi, misalnya, Mutiara Terang pernah mengajak Sungai Tenang untuk bergabung tapi Sungai Tenang enggan untuk bergabung. 

Hingga pada saat dihadapkan dengan sebuah pesta besar yang menggetarkan jagat kampus, mereka berdua yang biasa berada di dalam ruang sunyi, terusik hatinya untuk keluar dari gua pertapaan. Jagat kampus benar-benar diwarnai dengan gemuruh yang samar-samar bunyinya. Ular Langit, yang saat itu adalah salah satu pelaku utama dalam peristiwa tergetarnya jagat kampus, meminta keduanya untuk bergabung dalam sebuah pasukan yang masih remaja. "Kita diajarkan bahwa semua di bawah satu langit, bukan? Dan aku, Ular Langit, yang akan menyatukan semua di bawah satu langit".

Sungai Tenang dan Mutiara Terang tentu tahu bahwa mereka mendapat panggilan untuk berada dalam barisan. Paling tidak, meski tidak keduanya, salah satu dari mereka harus mengisi barisan. Akhirnya, diputuskanlah bahwa Sungai Tenang yang akan memasuki barisan. Dia taat dan cerdas, dan bersedia membantu. Begitu dia pergi ke dalam barisan, dia harus terbiasa dengan lingkungan politik dan mengikuti aturan. Bukannya dia memiliki nilai-nilainya sendiri.

Sungai Tenang masuk ke dalam barisan dan menjadi tim inti serta karirnya terus melambung hingga akhirnya menjadi anak kesayangan bidang teori dan pemikiran di dalam sistem barisan, menjadi penegak tiang sang Ular Langit. Sedangkan Mutiara Terang malah melompat keluar dari sistem, mengabdikan dirinya di gerakan luar barisan, akhirnya menetap di alam kebebasan sebagai seorang mahasiswa independen.

Ada perbedaan yang lain di antara keduanya. Sungai Tenang mendahulukan hak golongan, keteraturan, dan aturan tidak tertulis, sedangkan Mutiara Terang menjunjung tinggi hak individu, kebebasan pribadi, dan aturan tertulis. Itu juga menjadi salah satu faktor mengapa Sungai Tenang yang masuk ke dalam barisan.

Dua sahabat itu akhirnya mengucapkan dialog perpisahan jalan. "Apa kau merasa tidak masalah dengan masuknya aku di dalam barisan? " tanya Sungai Tenang. " Aku mengenalmu sejak lama. Tak perlu ada yang dipermasalahkan, sahabat. Tak perlu hiraukan kata orang. Biarlah kita berpisah jalan, asal tidak berpisah tujuan. Yang paling penting, kita selalu satu tujuan, di bawah satu langit!" pungkas Mutiara Tenang.

Senin, 18 Maret 2019

,
Dua windu telah berjarak dari
Wajah yang naung ramah
Bukan milikmu tapi
Dahulu itu yang terindah

Ia sebuah peristiwa
Hadir bersama rupa
Yang tak diserupai
Masih dicari

Belum kutemu lagi
Kau tak ada disini
Lama tak kembali
Menindak menutup diri

Kamis, 14 Maret 2019

,
Ada wilayah Cinta dan teritori Benci. Ditengahnya ada syahwat

Jumat, 08 Maret 2019

,
Microteaching adalah mata kuliah berbasis praktik yang termasuk dalam rangkaian profesi keguruan. Dalam rangkaian ini, ada tiga yang harus ditempuh yaitu magang 1, microteaching, dan magang 2. Microteaching ini, dari namanya yang berarti mengajar kecil-kecilan, yaitu praktik mengajar di dalam kampus yang murid-muridnya teman kelas sendiri.

Senin, 04 Maret 2019

,
M. Q. Aynan

Saat mendengar kabar tentang tawaran try out TOEFL saya langsung tertarik untuk ikut. Sebelumnya, saya pernah mendengar kalau try out TOEFL memerlukan biaya 75.000. Lalu, dalam pesan elektronik ada pemberitahuan bahwa try out TOEFL yang saya dan teman-teman kelas ikuti adalah sebuah kerjasama prodi Tadris Bahasa Inggris dan LKP Texas. Saya mengetahui bahwa prodi kami dan LKP Texas pernah menandatangani nota kesepahaman. Saya tidak tau persis tentang apa. Mungkin try out TOEFL ini adalah salah satu wujudnya.

Sebenarnya sudah agak lama saya ingin ikut try out TOEFL ini. Hanya saja ketika saya cari info ongkosnya mahal-mahal. Lebih dari itu, saya tak punya kesempatan untuk keluar sejenak dari kesibukan (atau mungkin pseudo-kesibukan). Akhirnya kesampaian juga ikut try out TOEFL untuk pertama kalinya.

Hari Sabtu tanggal 17 Februari 2019 adalah saat kami menguji coba diri sendiri untuk try out TOEFL. Awalnya, pesertanya ada tiga puluhan. Akan tetapi, disebabkan banyak faktor, seingat saya hanya tinggal sekitar dua puluhan orang. Para peserta dibagi menjadi tiga sesi. Saya termasuk yang memilih sesi terakhir, yakni pukul 13.00. 

Saya sengaja berangkat lebih awal agar lebih santai sesudah sampai di lokasi. Ketika sampai di LKP Texas dan mengisi daftar hadir, saya diberitahu bahwa saya terlambat. Saya terkejut karena saat itu jam menunjukkan pukul 12.42. Setelah saya mengisi daftar hadir tamu, keluar ruangan, saya diberi tahu bahwa ada perubahan jadwal yang awalnya 13.00 menjadi 12.30. Jelas, saya merasa tidak enak.

Pengawas try out langsung mengajak kami untuk memasuki ruangan try out TOEFL. Ternyata pengawasnya Pak Kuntjoro. Saya sudah bertemu dengan beliau dalam rangka wawancara tentang JECC, lembaga kursus yang beliau pimpin. Beliau langsung membacakan panduan dan tata tertib. Kami mulai mengerjakan dengan diawali mengisi identitas. Lembar jawabannya seperti pada UN. Jadi semua diisi dengan menghitamkan bundaran-bundaran.

Di tengah proses pengerjaan, listrik sempat padam, padahal hanya tinggal tiga soal dari total lima puluh soal pada listening section. Saat itu memang sedang musim padam. Akhirnya, kami pindah ruangan untuk sementara dan beralih mengerjakan structure.

Setelah listrik sudah menyala kembali dan structure sudah selesai, kami pindah ke ruangan semula untuk menyelesaikan listening section. Pada saat itu saya sudah mengerjakan beberapa soal reading sehingga begitu listening dan structure section sudah selesai, sisa soal saya lebih sedikit. Saya memang ingin mengerjakan secepat mungkin. Sisa waktu menunjukkan dua puluh menit tersisa, saya sudah menuntaskan semua soal.

Hari berganti, Bu Lucia mengirim pesan elektronik yang isinya kami dipersilakan untuk datang terkait dengan pengumuman nilainya tanggal 23 Februari 2019. Pengumuman nilai bersifat pribadi, jadi tidak bisa diwakilkan. Saya tidak bisa waktu itu, jadi sabtu selanjutnya.

Tanggal 1 Maret 2019 hari Sabtu beberapa hari yang lalu barulah saya sempat mengetahui pengumuman nilainya. Pukul 07.30 saya sampai di lokasi. Saya mengira hal itu tidak akan banyak menghabiskan waktu. Ternyata sebelum pengumuman masih membincangkan perihal TOEFL. Kami juga ditunjukkan seperangkat sertifikat TOEFL ITP yang terdiri dari tiga lembar.

Di tengah perbincangan, Bu Lucia sempat mengatakan kalau saya seperti Japanese (iya kah?). Beliau tanya nama saya, saya jawab Aynan. Tiba-tiba beliau memanggil nama saya. Saya kira ada apa lagi, ternyata nama saya terletak di paling atas pada lembar pengumuman nilai. Itu berarti nilai saya tertinggi.

Saya dipanggil beliau untuk mendekat, melihat lebih dekat berapa tepatnya nilai saya. Untuk nilai orang lain beliau tutupi dengan kertas sehingga tidak terlihat berapa angkanya. Hanya nilai saya yang terlihat. Disana tertulis nilai listening 500, structure 530, reading 500. Berarti rata-ratanya 510. Saya menganggap itu bukan semata-mata hasil kemampuan saya, tetapi keberuntungan memainkan perannya. Bagaimana tidak, sebelum saya ikut try out saya sengaja tidak mempersiapkan diri agar saya tau batas minimal saya jika saya ikut try out TOEFL. Seakan-akan-nol begitu.


Jumat, 01 Maret 2019

,
Engkau mulanya terlihat sebagaimana perempuan lain
Dimilikinya rambut panjang terurai olehmu
Terlihat lazim saja dalam balutan hijab

Ketersingkapan hijabmu yang pertama adalah rangkaian lain
Dirintisnya notasi penemuan sugesti olehmu
Masih lazim saja dalam balutan hijab

Ku palingkan sejenak pandanganku kepada perempuan lain
Dibayanginya wajah mereka olehmu
Beda dan sudah tak lazim saja dalam balutan hijab

Nah, cantikmu!

Minggu, 24 Februari 2019

,
Menjenguk harapan yang betah tinggal dalam sajak seorang pejuang revolusi
Revolusi masih berlangsung di antara tubuh-tubuh yang didatangi demi kemerdekaan
Mereka diselubungi rahasia akan kesucian
Adakah ia ketiadaan noda, atau ia tersimpan di bawah tumpukan lumpur? 

Kamis, 21 Februari 2019

,
Sepertiku
Kepala yang diselamkan ke dalam air
Atau
Burung yang sedang terbang di atas laut
Tiba-tiba kehilangan daya terbangnya
Dan tenggelam dalam asin
Jatuh sejatuh-jatuhnya
Terlempar
Lalu ditarik oleh jurang
Remuk
Akhirnya mengapung
Di antara Yordania dan Palestina

Jumat, 08 Februari 2019

,

Selasa, 05 Februari 2019

,
Ialah mentari, Akulah tumbuhan
Dengan sinarnya, terjadilah fotosintesis
Apa arti diriku tanpanya?

Kamis, 24 Januari 2019

,


M. Q. Aynan

Setelah lulus dari pendidikan tingkat menengah, salah satu pilihannya adalah melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Dalam memilih perguruan tinggi, terdapat banyak pertimbangan. Ada pertimbangan-pertimbangan yang sudah umum diketahui, tetapi ada pula yang baru terpikirkan oleh saya.

Di lingkungan asal saya daerah timur Bondowoso, umumnya perguruan tinggi yang menjadi tujuan adalah kampus yang ada di Jember. Salah satu alasannya tentu karena paling dekat dibanding kota lainnya seperti Malang atau Surabaya. Nah, paling tidak, ada tiga kampus negeri yang ada di Jember yakni POLIJE, UNEJ, dan IAIN Jember.

Kalau memilih kampus berdasarkan besaran UKT-nya, saya pikir setelah tanya-tanya kepada teman-teman, relatif sama, tergantung program studinya. Meski, kalau dilihat secara gamblang, IAIN Jember masih lebih murah dibanding  dua kampus itu. Itu memang karena di IAIN belum terlalu banyak prodi-prodi yang "mahal".

Meski demikian, daya tarik IAIN Jember masih kalah dibanding dua kampus itu. Ini bisa dilihat dari jumlah pendaftar tiap tahunnya dari masing-masing prodi. Faktor lainnya memang karena jumlah prodi yang tidak banyak dan prodi-prodi yang ada adalah umumnya prodi-prodi keagamaan. Tentu, namanya saja sudah IAIN.

Di sisi lain, kurangnya peminat tidak selalu karena prodi-prodinya yang dipandang kurang "favorit", tetapi ada juga alasan-alasan lainnya. Salah satunya karena IAIN Jember dinilai "menyeramkan" oleh sebagian siswa tingkat menengah, sebagaiman yang dituturkan oleh salah satu siswa SMK di kabupaten Bondowoso kepada saya, apalagi kalau misalnya si siswa tidak terlalu lancar membaca Alquran. Bagaimana tidak "menyeramkan" kalau saat seleksi lewat jalur yang terdapat tes, bukan hanya tes ilmu alam, sosial, dan humaniora, melainkan juga ilmu pengetahuan keislaman. Belum lagi komposisi mata kuliahnya, seperti Bahasa Arab baik yang nazhariyah maupun tathbiqiyah, Ulumul Quran, Ulumul Hadits, Ilmu Kalam, dll. Itu yang membuat sebagian siswa lebih memilih POLIJE atau UNEJ. Membuat kita tersenyum, bukan?

Selasa, 08 Januari 2019

,


Oleh: M. Q. Aynan

Isu mengenai pemilihan rektor baru IAIN Jember tahun ini sudah saya dengar, meskipun hanya bisikan-bisikan, sejak sekitar setahun yang lalu. Pemilihan rektor baru tentunya merupakan hal yang sensitif, mengingat  jabatan itu adalah jabatan kelas satu. Meski demikian, dalam menyikapi hal tersebut terdapat beragam tanggapan dari mahasiswa IAIN Jember sendiri.

Ada sebagian kecil mahasiswa yang peduli dengan pemilihan rektor karena menyadari besarnya dampak yang akan ditimbulkan. Meski yang nantinya terpilih hanya satu orang, akan tetapi dari satu orang itulah kemudian jajaran para pejabat sampai ke tingkat bawah sangat ditentukan. Selain itu, tiap calon jelas menyimpan wajah-wajah yang tersembunyi.

Di sudut yang lain, ada pula para mahasiswa yang entah itu tidak peduli atau karena tinggal di gua, tidak tahu-menahu mengenai pemilihan rektor baru. Beberapa yang tidak peduli diketahui mempunyai alasan karena belum selesai dengan urusannya sendiri, entah karena terlalu jenuh disebabkan UAS yang terlalu menumpuk akibat akreditasi, atau karena memiliki aktivitas lain selama liburan. Itu masih lebih baik daripada mengantri kue kekuasaan tapi akhirnya telanjur dilahap. Yang lain, tergilas oleh paradoks yang timbul akibat teknologi informasi. Paradoks itu adalah di satu sisi terdapat kemudahan akses informasi, tetapi di saat yang sama karena terlalu melimpah, akhirnya kebingungan untuk memperoleh informasi yang diperlukan.

Tentu, pemilihan rektor baru adalah hal yang tidak buruk bagi civitas akademika. Kampus jelas diuntungkan sebagai lembaga pendidikan tinggi. Apalagi, kampusnya Islami, berstatus negeri pula. Orang-orang yang berhasrat memimpin dan berkuasa juga memiliki kesempatan untuk mencicipi citarasa rektorat kampus yang konon menjadi pusat kajian dan pengembangan Islam Nusantara. Mereka yang sebelumnya hanya menunggu sambil mengambil ancang-ancang, kini tiba lah tanggal mainnya.

Nah, bagi para mahasiswa yang tidak tahu-menahu serba-serbi pemilihan rektor baru ini, memalingkan wajah adalah gerakan yang jos sekali. Rezim pemilihan jelas punya watak yang oligarkis. Tidak tahu-menahu dalam konteks ini bisa diartikan hilangnya kepercayaan pada produk pemilihan, bahkan pada titik tertentu, pemilihan apapun. Toh, nantinya keputusan tetap berada dalam genggaman Menteri Agama, bukan?

Lalu, apa yang perlu dilakukan? Kalau melihat "zaman", tak perlu lah jauh-jauh ke urusan pemilihan rektor baru, apalagi kalau sampai mengorganisir massa. Sekarang kan zamannya buat start up, buat acara motivasi, buat seminar anti-pacaran, buat seminar nikah muda, atau apalah. Diskusi ideologi, tak perlu. Toh, ideologi sudah mati. Tak perlu bertanya siapa nanti yang akan jadi rektor baru. Kita tonton saja. Bukan menonton pemilihan rektor, tonton saja anime Jepang atau drama Korea. Ngomong-ngomong, Memories of Alhambra ongoing. Sekian.