---Di mana pun adalah ruang kelas---

Kamis, 10 Mei 2018

Semua Mahasiswa Adalah Aktivis

    Oleh: M. Q. Aynan
    Meski sebutan "aktivis" sangat "wah" di mata masyarakat dan mahasiswa, namun tidak sedikit yang bernada sinis tatkala bicara tentang aktivis. Tentu hal ini dilatarbelakangi oleh fenomena nyata. Misalnya karena banyak dari kawan "aktivis" yang tidak lulus tepat waktu. Ada juga kejadian lainnya. Kejadiannya adalah ada orang-orang yang mengaku sebagai "aktivis" namun ia tidak percaya diri ketika berbicara di depan umum. Bahkan, menurut beberapa kesaksian ada yang pingsan ketika disuruh berbicara di depan umum. Muncullah sebuah ungkapan, " Katanya aktivis, kalau urusan demo ada di depan. Disuruh begini, pingsan."

      Ada juga sebagian mahasiswa yang berusaha memonopoli istilah "aktivis", seolah yang tidak seperti dia tidak bisa disebut aktivis. Atau ia merasa paling aktivis di antara mahasiswa yang lain. Hal ini kemudian menimbulkan rasa superioritas dalam diri dan otomatis di saat yang sama menganggap orang lain inferior. Jika dibiarkan, ia akan menganggap orang lain sebagai musuh, bukan sebagai mitra.

      Ada sebagian mahasiswa yang dianggap sebagai "mahasiswa kupu-kupu" karena ia tidak bergabung dengan organisasi tertentu. Berdasarkan pengalaman saya, boleh jadi anggapan itu terlalu terburu-buru, padahal orang lain tidak benar-benar melihat aktivitas mereka sehari-hari. Aktivitas mereka dilihat secara parsial saja.

      Penasaran akan hal itu, saya mencoba untuk mengunjungi tempat tinggal mereka. Ada yang tinggal di rumah sendiri karena rumahnya tidak terlalu jauh di kampus, ada yang tinggal di indekos, ada yang tinggal di pesantren. Ternyata, setelah pulang kuliah, mereka tidak benar-benar pulang. Artinya, mereka masih punya kegiatan lain misalnya membantu orang tua, mengajar ngaji, ikut les, dan lain-lain. 

      Dalam suatu "Aktivitas" pun beragam posisi seseorang. Ada yang senang berdiskusi dan nonton film. Ada yang menjadi marbot masjid. Ada yang suka nongkrong dengan gebetannya. Ada yang senang keliling-keliling, meski dia menganggap travelling dan trip adalah hal yang sama. Ada calon mahasiswa dengan nilai tertinggi, yang dia itu rajin dalam kuliah, selalu ingat apa saja tugas yang diberikan, punya catatan lengkap. Ada yang suka memainkan game, baik itu PES, COC, ML, dll. Ada yang jarang ikut kegiatan di luar kuliah tapi sering menyumbang jika ada acara. Ada yang sibuk bazar buku. Ada yang mengurus buletin atau majalah. Intinya adalah tidak pasif.

      Kalau ada yang tidak bergabung dengan suatu organisasi, mereka bukan tidak ingin bergabung dalam suatu organisasi atau komunitas sebenarnya. Akan tetapi, bisa jadi mereka mempunyai kewajiban lain yang tidak bisa ditinggalkan atau diwakilkan. Oleh karenanya, dialog untuk memahami kesibukan layak dibangun agar saling menghormati pilihan masing-masing.

1 komentar: