---Di mana pun adalah ruang kelas---

Senin, 20 Februari 2023

,


PENDAHULUAN


Pengantar

Dalam beberapa jam terakhir, ada seorang mahasiswa UIN KHAS yang berdiskusi dengan saya secara jarak jauh. Ia mengungkapkan kegelisahan sosial tentang ketidaksetaraan dan feodalisme yang terjadi di masyarakat. Di akhir, saya sampaikan bahwa saya seperti "seorang pendekar tua" yang sudah lama beristirahat dari "dunia persilatan" kampus. Untuk itu, sebagai salah satu bentuk apresiasi, baik kepadanya maupun kepada orang lain yang mengalami kegelisahan sosial yang tidak jauh berbeda, saya sempatkan untuk "coret-coret", menyusun contoh tulisan analisis Marxis terhadap ketimpangan struktural terkini di Kampus UIN KHAS, berdasarkan penuturannya.


PEMBAHASAN

Kondisi intelektual di kampus UIN KHAS Jember saat ini mencerminkan adanya ketimpangan struktural yang terjadi akibat praktik-praktik subordinasi yang dilakukan oleh pihak kampus dan organisasi mahasiswa. Suara-suara mahasiswa yang tertindas dan dilecehkan tidak diakomodasi dengan baik, karena sistem dan struktur kekuasaan yang ada di kampus memihak pada kepentingan birokrasi. Akibatnya, kampus ini sedang dipenuhi dengan manusia-manusia yang cenderung bersifat hedonistik dan mengabaikan iklim intelektual yang ada.


Dalam perspektif Marxis, kondisi di kampus UIN KHAS Jember ini dapat dianalisis sebagai ketimpangan struktural yang muncul akibat adanya hubungan antara mahasiswa dan institusi kekuasaan yang bersifat paternalistik. Dalam teori Marxis, konsep ketimpangan struktural ini berarti adanya ketidakadilan dan ketidaksetaraan yang muncul akibat adanya struktur sosial dan politik yang tidak merata dalam masyarakat. Dalam hal ini, ketimpangan struktural di kampus UIN KHAS Jember muncul akibat adanya hubungan kekuasaan yang tidak merata antara mahasiswa dan birokrasi kampus.


Dalam hubungan ini, birokrasi kampus memiliki kontrol penuh atas kehidupan mahasiswa di kampus, termasuk kebijakan-kebijakan yang mempengaruhi kebebasan berpikir dan bertindak para mahasiswa. Birokrasi kampus yang bersifat paternalistik ini memandang mahasiswa sebagai anak-anak yang perlu diatur dan diawasi secara ketat, sehingga mereka sering kali membatasi kebebasan mahasiswa dalam berorganisasi dan berpendapat. Mahasiswa menjadi hanya fokus pada kegiatan akademik dan kurang berpartisipasi dalam kegiatan yang bersifat kritis dan politis.


Hal ini berdampak pada hilangnya iklim intelektual di kampus, di mana mahasiswa lebih fokus pada pencapaian nilai akademik daripada pada pengembangan pemikiran kritis dan kreatif. Selain itu, depolitisasi yang dilakukan oleh birokrasi kampus juga membuat mahasiswa kurang peduli pada kondisi sosial dan politik di sekitarnya, sehingga mereka tidak mampu menjadi agen perubahan yang kritis dan berpengaruh di masyarakat.


Dalam perspektif Marxis, kondisi seperti ini dapat diatasi dengan melakukan perlawanan terhadap struktur kekuasaan yang ada, yang diwujudkan dalam bentuk gerakan sosial dan politik yang kritis dan radikal. Mahasiswa harus menjadi agen perubahan yang aktif dan militan dalam memperjuangkan kebebasan berpikir dan bertindak, serta menuntut adanya perubahan struktur kekuasaan yang merata dan adil.


Selain itu, mahasiswa juga perlu memperjuangkan iklim intelektual yang kritis dan kreatif di kampus, di mana mereka dapat mengembangkan pemikiran yang lebih luas dan kritis, serta mampu mengaplikasikan pemikiran tersebut dalam kehidupan sosial dan politik di masyarakat. Dalam hal ini, penting bagi mahasiswa untuk membentuk jaringan intelektual yang kritis dan radikal, yang dapat menjadi basis perlawanan dan perubahan di kampus dan masyarakat secara umum.


Gaya hidup mahasiswa saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor budaya yang ada di sekitarnya. Misalnya, budaya kampus yang ada di lingkungan tempat tinggal mahasiswa, seperti kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh kampus, atau budaya masyarakat setempat yang dapat mempengaruhi gaya hidup mahasiswa.


Salah satu contoh faktor budaya yang mempengaruhi gaya hidup mahasiswa adalah teknologi. Mahasiswa saat ini hidup di zaman yang serba teknologi dan informasi, sehingga gaya hidup mereka pun terpengaruh oleh teknologi. Misalnya, mahasiswa dapat menggunakan media sosial untuk berinteraksi dengan teman-temannya, mencari informasi akademik, atau bahkan untuk mempromosikan bisnis atau usaha mereka.


Faktor budaya lain yang mempengaruhi gaya hidup mahasiswa adalah kebiasaan dan perilaku yang dilakukan di lingkungan kampus atau masyarakat setempat. Mahasiswa dapat meniru perilaku yang dianggap populer atau mengikuti tren yang sedang berkembang di lingkungan mereka. 


Selain itu, minat dan hobi juga dapat mempengaruhi gaya hidup mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki minat dalam olahraga, seni, atau kegiatan sosial mungkin memiliki gaya hidup yang berbeda dibandingkan dengan mahasiswa yang lebih menyukai kegiatan yang berhubungan dengan teknologi atau bisnis.


Dengan demikian, faktor budaya memiliki peran yang penting dalam membentuk gaya hidup mahasiswa. Mahasiswa perlu memahami budaya yang ada di sekitar mereka agar dapat mengembangkan gaya hidup yang sehat dan positif, serta dapat berkontribusi dalam masyarakat dengan baik.


PENUTUP


Kesimpulan

Dapat disimpulkan, ketimpangan struktural yang terjadi di kampus UIN KHAS memengaruhi kondisi dan pengalaman mahasiswa secara signifikan. Faktor-faktor seperti ketidakseimbangan dalam sumber daya, pembagian ruang, dan dukungan akademik, dapat menghambat kemampuan mahasiswa dalam mencapai tujuan pendidikan mereka.


Selain itu, faktor-faktor seperti kondisi ekonomi dan budaya juga memengaruhi pengalaman dan keberhasilan mahasiswa di kampus. Mahasiswa yang menghadapi kesulitan ekonomi dapat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, transportasi, dan peralatan belajar. Sedangkan perbedaan budaya dapat memengaruhi persepsi dan tindakan mahasiswa dalam konteks sosial dan akademik.


Rekomendasi

Rekomendasi Marxis untuk mengatasi ketimpangan struktural di kampus UIN KHAS antara lain:

1. Melakukan transformasi sistem kelembagaan kampus secara lebih menyeluruh. Transformasi kelembagaan yang hanya mementingkan infrastruktur tanpa memerhatikan kualitas SDM adalah akar dari ketimpangan struktural di kampus. Oleh karena itu, melakukan transformasi sistem kelembagaan menjadi lebih "sosialis" dapat membantu mengatasi ketimpangan struktural di kampus UIN KHAS.

2. Membentuk solidaritas di antara mahasiswa. Solidaritas di antara mahasiswa dapat membantu mengatasi ketimpangan struktural di kampus UIN KHAS. Solidaritas dapat dibentuk melalui pembentukan kelompok atau organisasi mahasiswa yang memiliki tujuan dan aspirasi yang sama.

3. Mendorong partisipasi aktif mahasiswa dalam pengambilan keputusan. Mahasiswa harus diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan di kampus UIN KHAS. Ini dapat dilakukan melalui pembentukan forum atau wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi mereka.

4. Mengkaji ulang kurikulum dan sistem pembelajaran: Kurikulum dan sistem pembelajaran di kampus UIN KHAS harus dikaji kembali untuk memastikan bahwa mereka tidak menghasilkan ketimpangan struktural di antara mahasiswa. Mungkin perlu dilakukan perubahan dalam kurikulum dan sistem pembelajaran untuk memastikan bahwa hal tersebut adil dan inklusif.

5. Membangun kesadaran kelas. Perlu untuk mendorong pembentukan kesadaran kelas di antara mahasiswa. Mahasiswa harus menyadari bahwa mereka memiliki kepentingan bersama dan bahwa mereka dapat bekerja bersama untuk mencapai tujuan mereka. Kesadaran kelas juga dapat membantu mahasiswa memahami bahwa ketimpangan struktural di kampus UIN KHAS bukanlah masalah individu, tetapi merupakan masalah struktural yang harus diatasi bersama-sama. 

Minggu, 19 Februari 2023

,


Dalam konteks civitas akademika, marxisme dapat diaplikasikan untuk membedah ketimpangan struktural yang terjadi di kalangan dosen dan mahasiswa. Beberapa contoh artikel yang menggunakan marxisme sebagai pisau analisis untuk membedah ketimpangan struktural di kalangan civitas akademika adalah:


1. "The Dialectic of Academic Exploitation: A Marxist Analysis of Adjunct Faculty Labor in Higher Education" oleh Sarah Attfield. Artikel ini membahas bagaimana dosen paruh waktu atau non-tenured faculty di universitas-universitas Amerika Serikat mengalami eksploitasi dan ketidakadilan dalam hal upah dan kondisi kerja. Penulis menggunakan konsep eksploitasi dalam teori marxisme untuk menggambarkan bagaimana universitas-universitas memanfaatkan kebutuhan pekerjaan dosen paruh waktu dan menghasilkan keuntungan dengan mengabaikan hak-hak mereka sebagai pekerja.


2. "The Politics of Academic Precarity: A Marxist Analysis of the Casualisation of Academic Labor in Australia" oleh Tess Lea. Artikel ini membahas bagaimana kebijakan neoliberal di Australia telah memicu peningkatan penggunaan dosen paruh waktu dan kontrak kerja di universitas-universitas, sehingga menciptakan kondisi kerja yang tidak stabil dan tidak adil. Penulis menggunakan konsep kelas pekerja dalam teori marxisme untuk menggambarkan bagaimana para dosen kontrak dianggap sebagai kelas pekerja yang rentan dan tidak memiliki hak yang sama dengan dosen tetap.


3. "The Hidden Curriculum of Academic Capitalism: A Marxist Analysis of Student Debt in Higher Education" oleh Michael Palm. Artikel ini membahas bagaimana sistem pendidikan tinggi di Amerika Serikat telah diubah menjadi sebuah industri yang menghasilkan keuntungan finansial bagi institusi-institusi pendidikan dan bank-bank, dengan merugikan mahasiswa yang terjebak dalam hutang pendidikan yang besar. Penulis menggunakan konsep kelas pemilik modal dalam teori marxisme untuk menggambarkan bagaimana institusi pendidikan dan keuangan memperoleh keuntungan dari pengeluaran mahasiswa dan mempertahankan ketidakadilan sosial dan ekonomi yang ada.



Marxisme dapat digunakan sebagai alat analisis yang kuat untuk membedah ketimpangan struktural di kalangan civitas akademika. Dengan mengenali kelas-kelas sosial dan ekonomi yang ada dalam sistem pendidikan tinggi, kita dapat memahami bagaimana kebijakan dan praktik tertentu menciptakan ketidakadilan dan eksploitasi dalam hal upah, kondisi kerja, dan biaya pendidikan.

Selasa, 07 Februari 2023

,

 LAKON LENGKUNG DADI RATU


Oleh: Muhammad Qurrotul Aynan


"Mengapa Lengkung yang awalnya bukan siapa-siapa, "minoritas", tak dianggap, tetapi sulit ditandingi pada akhirnya?"


Itu adalah pertanyaan utama dari rangkaian lakon ini.


Pertanyaan itu sudah pernah ditanyakan sebelumnya. Kini, pertanyaan itu kembali muncul setelah beberapa saat terakhir terjadi gonjang-ganjing yang cukup dahsyat, yang mengguncang, tidak hanya di dunia persilatan, tetapi juga di kalangan pewayangan, bahkan tembus kabarnya sampai kahyangan.


Bahkan tidak hanya ramai di lingkungan manusia, tetapi juga terdengar oleh makhluk lainnya, termasuk yang mendiami Selat Sunda, Selat Bali, dan Samudra Hindia.


Laut, angin, awan, juga.


Gonjang-ganjing termutakhir dikenal sebagai "JANGJING DURI" atau gonjang-ganjing Dua Februari. Alhasil, pasca peristiwa tersebut, Lengkung yang awalnya mulai terlupakan sebelumnya, selanjutnya kembali diingat, terutama tentang sejarah perjuangan Lengkung di masa lalu. 


Mungkin, Lengkung termasuk figur yang sulit lekang oleh gulungan waktu. Dan, apalagi kini, ia tampaknya masih akan menjadi sosok yang sulit ditandingi, pengaruhnya.


Mengapa Lengkung tampak begitu sangat kuat pengaruhnya? Alasan apa yang membuatnya sangat berbeda dari figur lainnya?


Selain karena nama besar atau reputasi para (dewa)guru-(dewa)gurunya ketika Lengkung belajar di Kadewaguruan yang berlokasi di Lereng Gunung Raung, ia memang sendirinya memiliki sepak terjang yang tidak bisa dianggap sebelah mata.


Karakter kepemimpinannya, terutama dalam memimpin dan mengasuh adik-adik seperguruannya, termasuk karakteristik yang cukup revolusioner pada zamannya. Belum pernah ada yang terpikirkan, bahkan mempraktikannya, sehingga sulit sekali untuk ditiru.


Tidak hanya kesadaran tentang kelebihan diri sendiri, ia menyadari kekurangan dan keterbatasannya. Oleh karena itu, untuk menjadi (nyaris) tak terkalahkan, ia sadar bahwa ia tidak bisa sendirian. Perlu dan penting sekali untuk dikelilingi oleh orang-orang yang cendekia dan prasetya.


Justru karena ia sadar bahwa ia memiliki kelemahan-kelemahan dalam banyak hal, orang-orang yang ia minta untuk membantunya, ia posisikan mereka bukan sebagai bawahan, meskipun secara usia dan pengalaman mereka terbilang di bawah Lengkung, melainkan ia berusaha memosisikan mereka sejajar dan setara.


Jika figur lain memandang bahwa konsepsi "prasetya" adalah dari "bawah" ke "atas", maka Lengkung memandang bahwa "prasetya" termasuk dari "atas" ke "bawah". Baginya, "prasetya" bukan soal siapa yang berada di posisi "atas" atau "bawah" dalam sebuah hierarki atau struktur, melainkan "prasetya" adalah tentang siapa yang lebih "cendekia". Jika yang "bawah" lebih "cendekia" daripada yang "atas", maka yang "atas" mesti "prasetya" kepada yang "bawah".


Besar kemungkinan, itu adalah salah satu alasan utama, mengapa Lengkung yang awalnya bukan siapa-siapa, "minoritas", tak dianggap, tetapi sulit ditandingi pada akhirnya. Meski awalnya seperti itu, ditambah Lengkung yang cenderung tak banyak bicara, tak suka berorasi di depan umum, tetapi kemudian ia menjelma menjadi figur yang "Ratu".


Mengapa "Ratu"? Mengapa bukan "Raja"?

Itu karena Lengkung dianggap ikon yang mewakili atau merepresentasikan "Divine Feminine". Lebih dominan aspek Feminine di dalam jiwa Lengkung, meski secara fisik-biologis jenis kelaminnya laki-laki tulen.


Pada jiwa Lengkung, karakter energi yang dominan adalah energi yang luhur, seimbang, memelihara, bijaksana, penuh kasih, berpusat pada kepentingan umum secara luas, berorientasi pada solusi, menyelaraskan dengan bumi dan benda langit, selaras dengan keberadaan semua kehidupan. Bersiap akan kehampaan, kekosongan, yang tak kenal kekhawatiran dan baik hati.


Selain itu juga seperti membangun sesuatu dengan senantiasa mempertimbangkan dampak jangka panjang dan dampak lingkungan, baik lingkungan hidup yang ditinggali manusia, lingkungan tumbuhan dan hewan, maupun makrokosmos secara lebih luas. Mengutamakan kerjasama daripada persaingan, kerukunan daripada perselisihan, menyebarkan kehangatan daripada menebar ketakutan.


Tak ketinggalan, memancarkan getaran rasa untuk mendukung "kemajuan" dan "kesuksesan".


Dengan kesadaran penuh untuk mengasuh, Lengkung mampu membentuk semacam lingkaran atom sampai partikel subatom, yang tersusun atas orang-orang yang "prasetya" dan "cendekia" yang menopang pengaruhnya.


Apa atau siapa yang merancang Lengkung untuk menjadi figur yang sangat berpengaruh?


Banyak alasan atau argumentasi bisa dikemukakan. Yang jelas, banyak pihak yang menghendaki itu terwujud. Tetapi mungkin jika digali lagi, yang lebih mendalam adalah "dukungan semesta" dan/atau "sambutan momentum". Ini juga termasuk yang sulit ditiru, bahkan sulit dipelajari karena sifatnya yang cenderung "terberi".


Alasan atau argumentasi selanjutnya, yang lebih bisa dirasionalisasi adalah, dibandingkan dengan figur lain, ia lebih peka membaca dan mempraktikkan manajemen sumberdaya (khususnya sumber daya manusia) secara strategis, dari rekrutmen dan seleksi hingga menempatkan sumber daya manusia di masing-masing posisi, di berbagai pos dan lini.


Beragam kesaksian dari banyak "orang-orang Lengkung" menyebutkan bahwa Lengkung tidak meninggalkan mereka, sekalipun mereka mengalami kebuntuan. Bahkan, jika secara hitung-hitungan "daya tampung" Lengkung terasa tidak muat, tetap saja Lengkung tidak meninggalkan mereka, tetap memperjuangkan mereka, memilih untuk berjuang bersama. Pengalaman ini yang mereka rasakan sendiri secara langsung, membuat mereka merasa wajib untuk menjaga keamanan dan keselamatan Lengkung, tanpa ia memerintahkan atau meminta mereka.


Alasan atau argumentasi terakhir adalah, lengkung cerdas dan cerdik, tanpa harus licik, dalam memilih guru, dalam berguru. Kalau mau diperhatikan betul-betul, genealogi, atau sanad, daripada Lengkung, adalah rangkaian yang tersambung kepada jaringan para (dewa)guru yang "tak tersentuh". Ajaran-ajaran, petunjuk, dan panduan para (dewa)guru tersebut sifatnya langka dan rahasia.


Dengan "spectrum" dan "branding" para (dewa)guru yang "standing position" dan "positioning"-nya terarah, kemudian itu "menetes" kepada Lengkung. Sehingga apabila potensi strategis itu menjadi aktual dengan konsolidasi yang matang, maka "persaingan menjadi tidak lagi relevan", dan jalan Lengkung untuk menjadi "Ratu" akan semulus karpet merah. Sepertinya, pengaruh Lengkung, masih belum akan pudar, dalam waktu dekat, di masa mendatang.