Oleh: M. Q. Aynan
Tadi malam, pagi sebenarnya, saya menghadiri kajian yang membahas tokoh Yunani Kuno, Aristoteles. Kajian itu tidak formal, santai saja. Kadang juga diselingi pembicaraan lain. Ketika membahas yang umum-yang khusus dan yang universal-yang partikular, pembicaraan juga mengarah kepada "hewan". Yang dimaksud adalah ayam kampus dan anjing kampus.
Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar istilah ayam kampus. Istilah ini mempunyai konotasi yang buruk. Meski begitu, tetap saja hal itu merupakan kenyataan yang terjadi. Sejauh ini, saya belum mendapati orang yang terang-terangan atau yang sembunyi-sembunyi mengaku kepada saya. Karenanya, tak terlalu perlu rasanya untuk menelusuri, cukup menjadi obrolan sehari-hari.
Daripada tidak jelas, ada baiknya Kalau kita memperhatikan "hewan" lainnya, yaitu anjing kampus. Kalau sebagian orang berpikir "bagaimana enaknya", ada yang "bagaimana baiknya", maka mereka berpikir "bagaimana amannya". Untuk yang terakhir, pikiran tersebut sering terlewatkan karena terkadang seseorang berpikir bahwa sudah ada satpam.
Satpam memang bertugas mengamankan, memang sesuai namanya satuan pengamanan. Petugas tersebut layak disebut anjing kampus. Akan tetapi, sifat ke-anjing-an tidak boleh hanya dimiliki satpam. Penglihatan satpam mungkin hanya akan menjangkau pintu gerbang, parkiran, dll. Sedangkan tempat-tempat yang samar kurang dijangkau. Tentu tidak bisa juga diserahkan sepenuhnya.
Di antara sifat ke-anjing-an dalam konteks kampus adalah menjaga toilet agar terjaga kebersihannya, berhati-hati saat mencolokkan kabel proyektor, memarkir kendaraan secara teratur, dan seterusnya. Ini penting karena dana asalnya dari mahasiswa dan akan kembali ke mahasiswa. Artinya, ketika seorang mahasiswa memiliki sifat ke-anjing-an, maka ia adalah anjing bagi dirinya sendiri.
Sahurr
BalasHapus