---Di mana pun adalah ruang kelas---

Selasa, 01 Mei 2018

Mahasiswa Pintar dan Minoritas


M.Q.Aynan

      Di dalam kelas para mahasiswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang punya kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Mahasiswa yang memiliki kemampuan tinggi minimal telah mampu membedakan part of speech dan peka terhadap tenses dalam grammar, tidak terlalu lama berpikir dalam speaking, dan bisa menulis paragraf yang bagus serta memilih diksi dalam writing. Dengan kemampuan itu, mereka aktif dalam perkuliahan di kelas. Di sisi lain, tidak sedikit mahasiswa yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata. Lalu, mereka mengeluh entah karena dosennya kurang bersahabat atau materi yang dirasa sulit. Hal itu menyebabkan jarak antara mahasiswa yang pintar dengan yang biasa-biasa saja semakin jauh. Padahal, dua pertiga mahasiswa bukan termasuk mahasiswa yang pintar. Mereka mungkin adalah mayoritas secara kuantitas tetapi minoritas secara kualitas.

      Di dalam kehidupan mahasiswa pasti ada perkumpulan baik komunitas maupun organisasi, baik intra maupun ekstra, baik himpunan maupun gerakan. Di beberapa organisasi, kita bisa mengamati komposisi pengurus diisi oleh mahasiswa pintar dengan deretan angka IPK dan predikat lainnya seperti debater, speaker, writer, dll. Dengan komposisi tersebut bisa diprediksi organisasi akan sangat hebat karena dihuni oleh mahasiswa cum laude dan berprestasi di tingkat regional. Namun, kenapa masih ada sebagian mahasiswa yang merasa organisasinya tidak seperti organisasi tetangga? Apa karena terlalu mementingkan IPK? Skor adalah segalanya? Atas nama persaingan?Atau karena tidak punya latar belakang organisasi?

      Tentu saja, ini bukanlah masalah bagi orang yang hanya kuliah D4-S1 (Datang, Duduk, Diam, Dengarkan Saja). Namun, ini adalah masalah bagi mereka yang punya latar belakang organisasi. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana mau menggenjot akreditasi jika program tidak terlaksana dengan baik? Bagaimana kegiatan akan terlaksana jika protokoler tidak bisa mengonsep acara dan humas enggan menyewa alat? Apa karena angka di KHS? Atau karena UKT? Pertanyaan tersebut harus dijawab dengan tindakan, bukan dengan belaian.

      Untungnya, telah banyak mahasiswa yang sadar meski masih berupa pemahaman yang belum utuh. Mahasiswa yang pintar punya tanggung jawab dan peran dalam mengawal perubahan. Perubahan didahului oleh kesadaran. Kesadaran juga harus dibarengi dengan semangat. Tanpa semangat, kesadaran itu hanya akan menjadi kesadaran naif. Semoga di kemudian hari tidak ada mahasiswa yang merasa terpinggirkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar