Berhala tidak lagi berupa patung tapi sudah menjelma menjadi materialisme. Segala sesuatu diukur dengan materi. Pembangunan adalah tentang seberapa tinggi gedungnya. Kesejahteraan adalah seberapa mentereng mobilnya. Bahkan, keshalehan adalah seberapa banyak jumlah sedekah, berapa tempat ibadah yang sudah dibangun walaupun banyaktempat ibadah yang sepi meski tampilan yang instagramable.
Beberapa waktu yang lalu, muncul program baru yakni MTMA. Semua seakan membicarakannya. Jargon-jargon bermunculan dari plesetan hingga kaos bertuliskan My Trip My Adventure. Travelling seakan menjadi tren baru khususnya di kalangan anak muda. Berlomba-lombalah berfoto dengan angle layaknya profesional. Bertebaran aplikasi photo editor agar foto makin kece untuk ditaruh di instagram. Tak peduli butuh berapa bulan untuk menabung yang penting nantinya bisa berkunjung ke tempat yang masih jarang pengunjung.
Salah siapa?
Kita tak bisa menyalahkan siapapun, entah stasiun televisi, pihak pengelola pariwisata, atau Dia sekalipun. Kita mesti bertanya pada diri sendiri. Kita lebih peduli pada followers instagram daripada tetangga. Kita tak tahu sudah berapa hari dapur mereka tak ngebul. Masih banyak
anak yang belum berkesempatan belajar di bangku perkuliahan. Masih banyak janda berumur yang hidup sebatang kara. Jangankan berlibur ke pantai, urusan perut beres pun mereka sudah puji Tuhan.
M. Q. Aynan
Refleksi 10Januari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar