Oleh : M. Q. Aynan
Nahwu adalah ilmu tentang tata bahasa Arab. Ilmu ini disebut sebagai "bapak". Di pesantren nahwu merupakan materi wajib karena ia adalah "alat". Sepengalaman saya, ada dua model guru nahwu selama saya di pesantren. Pertama, model "yang penting ngerti ". Kedua, model "yang baik dan benar".
Jika guru model pertama menguji saya, tentang kalimah isim, fi'il dan huruf, misalnya, saya cukup menjawab bahwa isim itu nama/kata benda, fi'il itu kata kerja, huruf itu bukan keduanya. Maka saya bisa lulus dengan mulus.
Akan tetapi, jika jawaban saya persis seperti di atas ketika diuji oleh guru model kedua, jawaban seperti itu "kurang baik dan kurang benar". Saya perlu menjawab persis di kitab-kitab syarah bahwa isim itu kalimah (kata) yang menunjukkan kepada makna mandiri dan tidak disertai dengan pengertian zaman (keterangan waktu), fi'il adalah kalimah (kata) yang menunjukkan kejadian suatu peristiwa pada waktu tertentu, huruf adalah partikel atau kata yang tidak mempunyai makna kecuali disandingkan dengan kata lain.
Anda mungkin sudah bisa menebak bahwa saya dan teman-teman saya lebih suka model yang pertama. Alasan kami waktu itu, yang penting bisa baca kitab. Nyatanya, meskipun hingga sekarang kami hampir selalu lupa pada definisi asli seperti yang diajarkan guru model kedua, kami insyaallah bisa membaca buku-buku berbahasa Arab.
Untuk kajian lebih mendalam, saya berpandangan bahwa ada kondisi yang mengharuskan kita untuk tidak sekedar memahami seperti pada pengajaran guru model pertama. Untuk tingkat dasar dan menengah mungkin tidak ada masalah. Akan tetapi, jika dalam kajian kebahasaan secara sangat mendalam, pasti ada dampaknya. Mungkin itu juga yang dirasakan guru model kedua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar