---Di mana pun adalah ruang kelas---

Kamis, 03 Mei 2018

Don't Judge Book by Its Cover


      Kita mungkin sudah sering mendengar ungkapan don't judge book by its cover. Kalimat itu mempunyai maksud jangan hanya menilai seseorang dari luarnya saja. Sekilas ini kalimat yang membuat kita terbuai dan sering dijadikan "senjata". Kalau kalimat itu diterjemahkan secara harfiah maka hasilnya adalah jangan menilai buku dari luarnya. Itu mungkin benar jika: Pertama, sampul buku itu tidak mencerminkan atau mewakili isi buku. Kedua, pembaca buku itu tidak bisa membaca simbol. Simbol yang dimaksud adalah gambar yang ada pada sampul buku. Kita tidak mungkin menemukan gambar wanita yang mengumbar aurat pada buku tentang pendidikan pesantren. Yang akan kita temukan adalah mungkin seperti gambar beberapa santri yang berkopyah dan membawa kitab kuning.
      Di antara pengalaman saya adalah beberapa hari yang lalu saya dan teman saya pergi ke suatu lokasi untuk menemui seseorang. Dalam perbincangan itu teman saya bertanya tentang bagaimana membaca buku yang baik dan benar. Lalu dijawab oleh seseorang tadi bahwa yang pertama adalah kamu baca gambar yang ada di sampul buku. Seseorang itu mengambil buku yang berjudul "Al-quran dan Kesejahteraan Sosial". Di sampul buku, ada gambar gedung-gedung dan pemukiman kumuh. Gambar gedung-gedung menandakan kekayaan, bersih, kesejahteraan, kota. Sedangkan gambar pemukiman kumuh menunjukkan sebaliknya yaitu kemiskinan, kotor, kesenjangan, ndeso.
      Alquran memuat banyak aspek mulai dari perintah dan larangan, sejarah, hingga sosial. Alquran juga menyinggung tentang fakir, miskin, mustadh'afin. Potongan judul buku tersebut yakni kesejahteraan sosial. Masalah yang dihadapi untuk mewujudkannya adalah kesenjangan sosial.
      Alquran tidak turun di ruang hampa. la turun di tengah masyarakat arab dengan kondisi sosial-politiknya dimana terjadi ketimpangan sosial yang salah satunya adalah perbudakan. Alquran selain wahyu juga merupakan respons untuk mengatasi ketimpangan sosial (fakir,
miskin, dhuafa).
Bagaimana supaya sejahtera?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar