---Di mana pun adalah ruang kelas---

Senin, 19 September 2022

,

 Energizing, Musyarakah: Menyalurkan Energi Kerejekian ke dalam Bisnis dengan Skema Bagi Hasil


Memiliki bisnis, menjalankan usaha, dengan omzet dan profit yang stabil dan terus menerus mengalami peningkatan tentu merupakan harapan banyak orang.


Akan tetapi, pada kenyataannya, memiliki bisnis, menjalankan usaha, seseorang hampir selalu mengalami kendala dan risiko, salah satunya adalah naik-turunnya omzet dan profit.


Berbeda dengan profesi pegawai yang berhadapan dengan kepastian yaitu gajinya relatif stabil perbulannya, profesi sebagai pengusaha atau pebisnis harus siap menghadapi ketidakpastian, pendapatan yang diperoleh baik perhari maupun perbulan sifatnya tidak menentu.


Hal itu dapat dialami, baik oleh pemula maupun bahkan pengusaha atau pebisnis yang sudah berpengalaman.


Ketika suatu usaha atau bisnis mengalami penurunan dalam pemasukannya, maka hal itu biasanya juga berdampak terhadap penurunan kinerja.


Terdapat berbagai macam cara untuk mengantisipasi dan menangani ketidakstabilan kinerja tersebut agar pemasukan yang bersumber dari penjualan dan pendapatan yang diperoleh oleh pengusaha atau pebisnis bisa lebih stabil bahkan cenderung meningkat.


Tentu caranya adalah dengan ikhtiar. Ikhtiar bukan berarti usaha yang ala kadarnya. Ikhtiar berarti berupaya dengan upaya terbaik untuk mendapatkan hasil yang terbaik pula.


Ikhtiar yang paling tampak adalah ikhtiar fisik, yaitu melakukan upaya terbaik untuk meningkatkan kinerja bisnis sehingga menghasilkan peningkatan omzet dan profit bisnis, secara fisik. Ikhtiar fisik antara lain bisa dengan berkeliling untuk menemui calon pembeli atau pelanggan, atau bisa juga dengan menyewa tempat untuk dijadikan lokasi operasional bisnisnya, dan masih terdapat bentuk ikhtiar fisik lainnya.


Selain ikhtiar fisik, di era yang serba canggih dengan segala fasilitas teknologi informasi seperti saat ini, bisa juga dengan ikhtiar digital. Tidak hanya dengan membangun toko fisik saja, saat ini bisa dibangun sebuah toko digital, salah satunya seperti di lokapasar (marketplace). Memasarkan produk atau jasa juga bisa melalui media sosial, serta banyak lagi cara lainnya yang bisa dilakukan.


Akan tetapi, sebetulnya, masih ada pendekatan, metode, strategi, dan teknik lainnya, yaitu ikhtiar supranatural.


Ikhtiar supranatural, diakui atau tidak, pada dasarnya masih banyak dipraktikkan dan diimplementasikan oleh para penjual, pedagang, pengusaha, atau pebisnis. 


Kalau seseorang memiliki kepercayaan tentang ketuhanan dan kepada Tuhan, tentunya ia percaya bahwa selain alam yang bisa dijangkau dengan panca indera, terdapat alam lain yaitu alam gaib yang tidak semua orang bisa menjangkaunya, dan tidak semua bagian dari alam gaib yang bisa dijangkau oleh manusia.


Ikhtiar supranatural ini masih dipraktikkan dan diimplementasikan oleh banyak orang, baik secara terbuka dan terang-terangan meskipun tidak dipublikasikan di media massa, maupun secara tertutup dan sembunyi-sembunyi yang hanya diketahui oleh kalangan terbatas saja.


Seperti dalam ikhtiar fisik dan ikhtiar digital, dalam ikhtiar supranatural juga terdapat berbagai pendekatan, metode, strategi, dan teknik.


Mulai dari yang kompleks sampai yang praktis, mulai dari yang jangka panjang sampai yang jangka pendek, mulai dari mengandalkan kemampuan potensi bawaan di dalam diri manusia sampai mengandalkan bantuan daya yang didapatkan dari luar diri manusia.


Pada dasarnya, mekanisme ikhtiar supranatural untuk menjadikan omzet dan profit menjadi lebih stabil dan mengalami peningkatan adalah dengan menyalurkan energi kerejekian atau yang lebih khususnya dikenal dengan pelarisan, ke dalam sebuah objek, dalam hal ini seperti toko yang menjadi lokasi usaha. 


Mekanismenya mirip seperti perubahan energi gerak menjadi energi bunyi, perubahan energi listrik menjadi energi panas, dan semacamnya.


Prinsipnya sama, yaitu perubahan energi tersebut dihasilkan dari getaran. Dalam konteks penyaluran energi kerejekian ke dalam bisnis, sumber energinya berasal dari sumber supranatural atau gaib, lalu disalurkan sehingga terjadi perubahan energi menjadi energi penarik, yang berfungsi untuk menarik pembeli atau pelanggan.


Layaknya dalam ilmu-ilmu alam (natural sciences) dimana penyaluran dan perubahan energi dapat dirasakan, diamati (observasi) dan diujicoba (eksperimentasi) dengan alat ukur dan alat bantu tertentu seperti alat optik misalnya, maka dalam seni-seni supranatural (supranatural arts), penyaluran dan perubahan energi dapat dirasakan, diamati, dan diujicoba dengan alat ukur dan alat bantu tertentu seperti mata batin.


Bagi praktisi supranatural yang sudah terampil dan ahli, penyaluran energi tersebut tidak hanya bisa dirasakan sebagaimana praktisi supranatural pemula, tetapi juga bisa diamati dengan ketajaman mata batin.


Menyalurkan energi berarti mengaktifkan energi, membekali atau menyuplai energi, menguatkan daya, menyuntikkan tuah, untuk menyebabkan atau mewujudkan reaksi yang dikehendaki.


Bagi sebagian orang yang belum pernah merasakan sendiri, mengalami sendiri, bisa mengamati sendiri, bisa melakukan ujicoba sendiri, mungkin mekanisme tersebut seperti tidak masuk akal, tidak nyata.


Apalagi memang sumber rujukan atau referensi baik itu buku atau jurnal, mengenai hal tersebut terlihat minim, terbatas, atau memang sengaja tidak diedarkan secara luas.


Akan tetapi, bagi orang-orang yang sudah merasakan sendiri, mengalami sendiri, bisa mengamati sendiri, bisa melakukan ujicoba sendiri, maka bisa disaksikan bahwa mekanisme tersebut benar-benar ada, betul-betul bekerja, dan sungguh nyata.


Meskipun ada sumber rujukan atau referensi berupa buku atau catatan mengenai hal itu, tetapi karena mekanisme tersebut lebih cenderung bukan termasuk ilmu pengetahuan atau sains alam, melainkan cenderung dimasukkan ke dalam bentuk seni, maka memang orang-orang yang terlibat di dalamnya bukan lebih banyak ilmuwan, saintis, atau pengamat, melainkan praktisi.


Apabila seseorang ingin menjadikan bisnisnya lebih stabil dan mengalami peningkatan omzet dan profit penjualan tetapi tidak punya banyak waktu luang untuk mempraktikkan cara yang kompleks seperti meminang keilmuan dan menjalani lelakunya, maka ia bisa memilih cara yang lebih praktis dengan meminang medium atau media yang siap guna atau siap pakai. Ada juga cara yang lain yaitu meminang jasa yang siap terima atau terima jadi.


Dalam meminang jasa ikhtiar supranatural untuk menjadikan bisnis lebih stabil dan mengalami peningkatan omzet dan profit penjualan, akad atau skema yang paling umum dijumpai dan diimplementasikan adalah musyarakah atau bagi hasil.


Musyarakah biasanya merupakan suatu akad atau skema yaitu bentuk umum dari kegiatan atau usaha kemitraan yang di dalamnya terdapat bagi hasil di mana dua pihak atau lebih menggabungkan (modal) biaya dan/atau tenaga dalam melakukan usaha, dengan proporsi pembagian profit sesuai porsi tanggungjawab.


Skema pembagian keuntungan jika terjadi peningkatan omzet dan profit penjualan, bagi praktisi supranatural, yang mengoperasikan ikhtiar supranatural, yaitu dengan menyalurkan energi kerejekian ke dalam bisnis, dibagi sesuai kesepakatan dengan para pemilik usaha atau pemilik bisnis.


Sementara jika tidak terjadi peningkatan omzet dan profit penjualan, maka si praktisi supranatural tidak mendapatkan imbalan atau balasan dalam pengerjaan jasanya. Dalam praktiknya, transaksi musyarakah terjadi karena adanya kesepahaman dan kesepakatan antara pemilik usaha atau pemilik yang menghendaki adanya peningkatan omzet dan profit penjualan dengan cara yang praktis, dengan praktisi yang memiliki keistimewaan dalam menyalurkan energi kerejekian, untuk meningkatkan nilai aset yang dimiliki bersama dengan memadukan seluruh sumber daya. Dengan akad musyarakah, kedua pihak yang terlibat memiliki kesepakatan di awal sehingga menghasilkan kerja sama yang adil dan proporsional.


Jika dijabarkan, skema akad musyarakah terjadi ketika terjadi perjanjian penyaluran energi kerejekian berbasis musyarakah oleh praktisi supranatural, lalu si praktisi tersebut mengoperasikan penyaluran energinya sesuai porsi yang sekiranya cukup untuk mendongkrak penjualan. Bagi hasil yang didapat dari jasa tersebut akan dibagikan sesuai hasil peningkatan penjualan, yang besaran presentase jumlahnya berdasarkan kesepakatan antara si praktisi dengan si pemilik usaha.


Di samping itu, musyarakah hanya didasarkan atas unsur kepercayaan (trust) atau saling percaya dan tidak dikenal adanya jaminan. Ada sebagian praktisi supranatural penyedia jasa tersebut yang memberikan garansi apabila ada penurunan penjualan. Tetapi pada dasarnya si pemilik usaha pengguna jasa tersebut apabila percaya dengan praktisi supranatural, maka tidak perlu meminta jaminan.


Mengingat dalam bisnis situasi yang dihadapi adalah ketidakpastian, maka aspek risiko juga tidak hanya dapat dialami oleh si pemilik usaha, tetapi juga dapat dialami oleh si praktisi supranatural. Sebab bagaimanapun, praktisi supranatural yang menyediakan jasa tersebut tentu butuh modal melatih ilmunya, olah batin, mengeluarkan tenaga, dan meluangkan waktu.


Di sinilah sangat pentingnya saling percaya dan saling menghargai antar ketua pihak. Kedua pihak perlu sama-sama mengupayakan yang terbaik untuk saling membantu satu sama lain. 


Selain dapat meminimalisasi risiko, skema atau akad musyarakah ini memiliki banyak manfaat, antara lain seperti balasan atau imbalan yang diterima oleh praktisi supranatural disesuaikan dengan arus kas bisnis pemilik usaha, sehingga tidak memberatkan pemilik usaha, serta tidak ada semacam bunga tetap dimana si pemilik bisnis harus memberikan balasan atau imbalan kepada si praktisi supranatural berapapun keuntungan yang dihasilkan pemilik usaha, bahkan sekalipun mengalami penurunan penjualan atau kerugian.


Kesimpulannya, situasi yang dihadapi dalam menjalankan usaha atau bisnis penuh dengan ketidakpastian. Risiko yang mungkin terjadi adalah tidak stabilnya penjualan. 


Untuk mengantisipasi dan menangani hal itu perlu ikhtiar, ikhtiar fisik atau bisa juga ikhtiar digital. Tidak hanya itu, terdapat ikhtiar lain yang meskipun tampak kuno tetapi masih relevan di tengah kondisi yang serba canggih dengan segala fasilitas teknologi informasi, yaitu ikhtiar supranatural. 


Salah satu ikhtiar supranatural yang praktis adalah dengan meminang jasa si praktisi, cukup menjadi pengguna jasa yang siap terima jadi. Mekanismenya adalah si praktisi yang mengoperasikan penyaluran energi kerejekian ke dalam bisnis pemilik usaha.


Salah satu akad atau skema yang umum diimplementasikan adalah musyarakah. Dengan akad musyarakah, skema yang diimplementasikan tidak memberatkan terhadap pemilik usaha.



Minggu, 18 September 2022

,

 Sanad Keilmuan: Akademik, Strategis, dan Kebatinan 


Salah satu yang perlu diingat adalah bahwa ilmu itu harus ada gurunya. Baik itu ilmu akademik, strategis, apalagi kebatinan. 


Jika suatu ilmu tidak dibimbing oleh guru, maka bisa sangat berbahaya sekali. Kalau kemudian ilmu itu lepas kendali, ia bisa menyakiti orang yang memfungsikannya, dan juga bisa menyakiti orang lain, entah keluarga, teman, atau masyarakat yang lebih luas.


Suatu ilmu, baik akademik, strategis, apalagi kebatinan, tidak sembarangan dibangun, disusun, dan diciptakan. Tentunya ilmu akademik, ilmu strategis, apalagi ilmu kebatinan, dibangun, disusun, dan diciptakan, dengan segenap upaya olah pikir, olah rasa, olah cipta, olah karsa.


Ilmu akademik, ilmu strategis, ilmu kebatinan, tentu ditemukan atau diciptakan oleh orang yang punya otoritas yang diakui, pengalaman yang kaya, latihan yang panjang. Hal itu juga dibarengi dengan pikiran yang jernih, analisis yang matang, dan hati atau perasaan yang tulus.


Selain itu, sebuah ilmu, sepengamatan dan sepengalaman saya, tidak akan turun secara sempurna dari guru kepada murid, apabila murid tersebut, entah satu orang atau banyak orang, merupakan sembarang orang. Hanya murid pilihan, yang terpilih saja, yang akan dituruni ilmu-ilmu tersebut, karena si murid betul-betul layak, patut, pantas, menerimanya. 


Di situlah pentingnya untuk terhubung, terkoneksi, antara murid dengan guru yang membangun, menyusun, menciptakan sebuah ilmu, atau guru yang membawa, memiliki, menyimpan, ilmu tersebut.

Selasa, 13 September 2022

,

 Pertimbangkan 3 Hal Ini Jika Mau Lanjut Studi S2


PEMBUKA

Tulisan ini sebetulnya sudah lama ingin saya tulis dan publikasikan di blog pribadi saya, tapi baru sempat sekarang.


Sebagian mahasiswa S1 tentu ada yang punya rencana untuk lanjut studi S2. Entah alasannya apa, entah pertimbangannya apa, tiap orang berbeda-beda.


Yang pasti, "medan"nya beda. Seperti antara sekolah menengah yang berbeda dengan jenjang strata satu, "medan" S1 dengan S2 jelas berbeda. Karena mereka yang masih kuliah S1 atau yang mau kuliah S2 belum kenal dengan medannya, maka saya merasa perlu membagikan wawasan dan saran, supaya paling tidak, lebih punya persiapan untuk lanjut S2.



PEMBAHASAN UTAMA

Banyak sebetulnya yang bisa dipertimbangkan jika mau lanjut S2, tetapi bagi saya yang paling utama adalah mempertimbangkan 3 hal ini:


1. RENCANA KARIER 

Kita perlu mengetahui tentang profil lulusan sebuah proses pendidikan apabila hendak menempuhnya. Hal ini perlu menjadi orientasi yang tepat. Apabila orientasinya tidak tepat, maka akan terjadi disorientasi dan itu amat sangat fatal menurut saya. Jika seseorang disorientasi sejak dari sebelum menempuh proses pendidikan sampai saat menempuhnya, maka ia akan kehilangan banyak hal dalam perjalanan hidupnya, mulai dari kesempatan, waktu, tenaga, uang, dan seterusnya. Mungkin bisa hal itu menjadi pelajaran berharga baginya. Hanya saja, menurut saya, masih lebih baik ketika kita terlebih dahulu belajar dari kegagalan dan kesuksesan orang lain, daripada ketika kita belajar dari mengalaminya sendiri. Entah kalau ada orang lain yang berkebalikan dari itu ya silakan saja.


Profil lulusan S2 bisa dibilang tidak ada yang memuat praktisi atau teknisi. S2 Pendidikan, misalnya, tidak menghasilkan atau mencetak guru, atau praktisi pendidikan di sekolah atau madrasah. Kalau ada lulusan S1 fakultas pendidikan dan keguruan lanjut S2 pendidikan karena ingin menjadi guru, ini menurut saya orientasinya kurang tepat. Jika ingin menjadi guru yang lebih profesional, bukan S2 pendidikan, tetapi PPG. Profil lulusan S2 Pendidikan, antara lain: Akademisi Pendidikan, Peneliti Pendidikan, Konsultan Pendidikan. Kalau ada lulusan S1 Pendidikan lanjut studi S2 Pendidikan karena ingin meningkatkan kompetensi penelitian pendidikan, punya rencana karier menjadi peneliti pendidikan, maka inilah orientasi yang tepat. 


Sebetulnya, untuk orientasi itu ada program saat seseorang baru masuk kuliah, yaitu program orientasi dan matrikulasi. Dan penyelenggara yaitu pihak kampus, membuka kesempatan bagi mahasiswa baru itu untuk bertanya. Hanya saja, namanya mahasiswa baru, belum tentu tidak mau bertanya, bukannya tidak punya pertanyaan, tapi seringkali tidak tau mau bertanya apa dan bagaimana bertanyanya. Sehingga tidak sedikit mahasiswa, dalam hal ini mahasiswa S2, berdasarkan pengamatan saya, mengalami disorientasi.


Jadi, kalau pembaca adalah mahasiswa S1 atau lulus dari S1, tapi tidak punya rencana karier salah satu dari ketika profil lulusan yang saya sebut itu, sebaiknya pikir-pikir lagi saja.


2. MENTAL

Urusan mental ini bagi saya di dalam proses pendidikan S2 punya porsi yang cukup besar. Mungkin sebagian orang hanya memandang bahwa kuliah S2 tidak seperti kuliah S1. Masuknya rata-rata hanya 2 hari dalam sepekan, tidak seperti S1 yang bisa 5 hari dalam sepekan, mata kuliahnya tidak sebanyak S1, tidak perlu ada PPL dan KKN.


Akan tetapi, di sisi lain, jelas beban atau bobotnya tentu lebih berat daripada S1. Tugas mata kuliah lebih sedikit yang berkelompok, hampir semuanya dikerjakan secara individu. Tuntutan penguasaan bahasa internasional seperti Inggris (dan Arab jika di PTKIN) tentu lebih daripada S1. Serta beban dan bobot lainnya.


Selain itu, berdasarkan pengamatan saya, faktor usia juga berpengaruh kaitannya terhadap mental ini. Sepengamatan saya, mahasiswa S2 yang usianya lebih tua, pokoknya bukan baru lulus atau fresh graduate, atau bahkan yang usianya lebih dari 30 tahun, cenderung tampak lebih siap secara mental daripada yang baru lulus S1 langsung lanjut studi S2.


Masih terkait dengan soal mental ini, saya ingin berbagi bayangan. Coba bayangkan, meskipun kuliahnya hanya hari Jumat (siang) dan Sabtu saja, tetapi dari Hari Senin (pagi-sore) sampai Jumat (pagi) kerja, berada di sekolah (guru), malamnya mengoreksi tugas peserta didik atau memasukkan nilai rapor, apalagi sudah berkeluarga dan punya anak (bahkan mungkin anaknya lebih dari satu), maka kapan waktu untuk mengerjakan tugas kuliah S2? Jelas waktunya makin terbatas. Dan ini tentu berpengaruh terhadap kaitannya soal mental.


Jadi, kalau pembaca adalah mahasiswa S1 atau lulus dari S1, tapi merasa kurang siap secara mental, sebaiknya pikir-pikir lagi saja.


3. FINANSIAL

Urusan biaya, tentu kuliah S2 lebih mahal daripada kuliah S1. Apalagi, sistemnya biasanya berbeda. Kalau S1 itu UKT, kalau S2 itu SPP. Kalau sistem UKT, nyaris semua biaya sudah termasuk di dalamnya. Kalau SPP, berarti masih ada biaya yang tidak termasuk di dalamnya. Orientasi dan matrikulasi bayar lagi, Sempro bayar lagi, ujian atau sidang bayar lagi. Kalau ditaksir bisa lah dikatakan bahwa kuliah S2 itu biayanya 2 kali lipat dibandingkan dengan biaya kuliah S1.


Kalau tidak betul-betul siap secara finansial, bukannya hanya pusing urusan pengerjaan tugas kuliah, malah juga pusing soal pembayaran biayanya. Mahasiswa S1 saja ada yang sampai bingung cari pinjaman untuk bayar UKT, entah dia sendiri atau orang tuanya, apalagi jika ia menghadapi persoalan biaya kuliah S2. 


Jadi, kalau pembaca adalah mahasiswa S1 atau lulus dari S1, tapi merasa kurang siap secara finansial, sebaiknya pikir-pikir lagi saja.


PENUTUP

Mungkin saja ada di antara pembaca yang kemudian muncul kesan bahwa saya menakut-nakuti pembaca. Pada dasarnya, saya bukannya mau membuat pembaca "takut", melainkan mau membuat pembaca "waspada" atau betul-betul siap apabila sudah berada di medan kuliah S2.


Saya pada dasarnya cenderung realistis saja sih. Saya bukan seperti "motivator" yang cenderung mendorong orang lain untuk melakukan atau melanjutkan sesuatu, tanpa peduli dengan posisi, situasi, dan kondisi orang lain tersebut. 


Sebab, ada sebagian orang yang sekedar mendorong secara verbal saja, tidak disertai dengan bantuan konkret. Kalau misalnya ada kakak tingkat, senior, dosen, atau siapapun yang mendorong seseorang untuk lanjut studi S2, memangnya mereka juga akan mendampingi secara mental, akan terus mengarahkan, akan membantu bayar biaya kuliah S2? Kan belum tentu. Kecuali dorongan tersebut datang dari orang tua, atau pihak siapapun yang juga siap membantu urusan bayar biaya kuliah S2, mendampingi secara mental, membantu mengarahkan, oke saja. Intinya, keputusan soal apapun, termasuk untuk lanjut studi S2, kenali medannya terlebih dahulu, pertimbangkan baik-baik.

Minggu, 11 September 2022

,

 Cinta seperti Gelembung Air Sabun


Cinta berada dimana-mana

Jejaknya terlihat seperti asap atau uap

Seringkali juga tampak seperti balon atau gelembung 


Cinta

Bisa untuk menghilangkan hukum jarak

Bisa untuk meledakkan padat cemas

Bisa untuk membersihkan ruang rindu

Bisa untuk memutihkan tabularasa

Bisa untuk memurnikan logam mulia

Bisa untuk meredakan nyeri dada

Bisa untuk mengatasi penggumpalan darah

Bisa untuk menurunkan kolesterol 


Cinta

Bisa seperti salju, molekulnya berbentuk kristal putih

Bisa tidak berbau, menyerap kelembaban udara

Bisa cairan bening, lebih kental dari air


Bisa juga beraroma wangi seperti

Barus

Gaharu

Cendana

Saat dilarutkan dalam air


Lalu lepaskan dan tiuplah Cinta

Tampak seorang anak kecil yang bermain gelembung air sabun