---Di mana pun adalah ruang kelas---

Senin, 28 Juni 2021

,

Kepada

Ytp.

Salam Berkah




Selamat menjalankan aktivitas keseharian, Mas. Mungkin ini pesan pertama saya, terutama yang agak panjang. Saya pada dasarnya sungkan sama Mas. Tapi, karena ini tentang Perempuan yang sangat saya sayangi, saya beranikan, atau mungkin bahkan nekat, menulis pesan ini buat Mas.


Entah Mas kenal dengan saya atau tidak. Kalaupun kenal, entah secara langsung atau Perempuan yang sangat saya sayangi bercerita tentang saya kepada Mas. Manapun yang betul, tak perlu terlalu peduli dengan saya, yang lebih penting adalah apa yang hendak saya sampaikan.


Setahu saya, Perempuan yang sekarang bersama dengan Mas adalah salah satu Perempuan yang paling berkesan mendalam bagi saya, salah satu yang terbaik, tentunya termasuk paling istimewa.


Perempuan yang membuat indera penglihatan saya bisa seperti matahari terbit di pagi hari sekaligus seperti awan mendung yang menurunkan hujan. Jika diumpamakan benda langit, ia bisa menjadi matahari sekaligus menjadi bulan dan bintang.


Intinya, meskipun saya bukan siapa-siapa, saya sangat berharap dia dapat berbahagia. Saya pernah dapat kesempatan untuk membahagiakannya, atau bahkan sekedar membuatnya tersenyum, atau membuatnya tertawa terbahak-bahak karena kekonyolan saya. Kalau dihitung-hitung, sayang sekali, lebih sedikit saya menggunakan kesempatan itu. Lebih banyak saya melewatkannya seakan saya menciptakan jurang bagi saya sendiri antara kebodohan dan kesia-siaan.


Pernah suatu ketika, dan saya lupa kapan tepatnya, ia pergi sebentar dari pandangan saya, dan saya merasa ada yang hilang. Saya merasa kehilangan dengan absennya dia. Saat itu juga saya merasa sangat ingin melindunginya lahir dan batin. Perasaan ingin melindungi itu membuat waktu rasanya makin cepat dan makin lambat di saat yang bersamaan. 


Perempuan ini adalah salah satu perempuan paling dewasa yang pernah saya kenal. Tapi, ia tidak selalu mengobrol tentang topik yang berat lagi mendalam. Tak jauh di dalam emosinya, ia menyimpan sosok anak kecil dalam dirinya. Oleh karena itu, ketika biasanya ia terlihat seperti seorang ibu, di saat yang lain ia sangat mirip dengan anak kecil entah gaya bicara, tingkah laku, atau bermain, bercanda, serta bersikap manja.


Saat keibuannya muncul, ia akan sangat penyayang kepada anak-anak. Tak ketinggalan ia akan memberikan apa yang dimilikinya tanpa mengharap kembali. Saat kekanak-kanakannya muncul, ia akan menjadi sangat impulsif. Ia bisa saja mengambil langkah atau keputusan tanpa pikir panjang. Di sini ia sangat membutuhkan arahan.


Sebetulnya banyak yang perlu dan mau saya sampaikan. Tapi lebih banyak yang tidak dapat tersampaikan daripada yang tersampaikan. Intinya, meskipun ada sebagian orang yang mengatakan bahwa kebahagiaan seseorang adalah tanggungjawab ia sendiri, tanggungjawab masing-masing, tetapi karena begitu istimewanya Perempuan ini, maka kebahagiaannya menjadi tanggungjawab Mas yang terpilih.


Hormat saya,

Juni 2021


M. Q. A.  

Sabtu, 19 Juni 2021

,



"Saya, dulu, dik ...." 

"Lambe' Le' ...."


Pernah mendengar atau mengucap ungkapan itu?

Atau bahkan familiar?


Jika kita di posisi generasi pendahulu, ungkapan seperti itu dapat menimbulkan kenikmatan.

Jika kita di posisi generasi pembaharu, ungkapan seperti itu dapat memunculkan penasaran, atau jika dosisnya terlalu tinggi, bisa menjadi kebosanan.


Penting untuk memperoleh gambaran, ingatan, pengetahuan, tentang generasi pendahulu. Jika diumpamakan naik kendaraan yang sedang melesat, maka masa lalu seumpama kaca spion yang berfungsi untuk melihat keadaan atau lalu lintas yang ada di belakang kendaraan, atau pada saat memundurkan kendaraan, ataupun untuk melihat kebelakang pada saat akan membelok/pindah lajur lalu lintas.


Namanya kaca spion, tidak perlu besar. Memandangnya juga tidak perlu lama. Kaca spion ukurannya kecil dan memandangnya sebentar saja. Memandang ke arah depan lebih penting. 


Tidak berhenti hanya sampai ungkapan di atas saja, perlu dilanjutkan dengan pertanyaan, apa dan bagaimana generasi pendahulu keren dan hebat, dan apa yang membuat sebagiannya turun dalam dinamika?


Bagaimanapun, dinamika adalah tentang gerak yang penuh gairah dan semangat dalam berproses di organisasi. Entah naik atau turun, entah lurus atau belok, entah bergairah atau apatis, entah aktif atau pasif.


Berhenti pada ingatan masa lalu pada akhirnya akan menyisakan nostalgia dan romantika sejarah tanpa mampu membaca situasi dan kondisi hari ini serta membaca peluang dan tantangan masa depan.


Mempelajari masa lalu dan mencukupkannya dengan mengenangnya demi masa lalu itu sendiri tak lebih dari stagnasi. Sebab, jangan sampai kemudian aktivis hanya tinggal aktivitas tanpa aktivisme.



Rabu, 09 Juni 2021

,

 


"Guru-guru" "kami", "senior-senior" "kami", khususnya di pergerakan, kebanyakan adalah tipikal orang-orang yang tidak mudah mengajari "junior-junior"nya apalagi jika ditodong "adik-adik" untuk minta ajari. Kenalnya belum begitu kenal, enggan bangun komunikasi intensif, tiba-tiba ada ngomong “ajarin dong, kak?!", minta ajari ini-itu.



Saya sebagai seorang yang nututi generasi sebelum generasi se-leting kami dan nututi juga generasi X, Y, Z, sebetulnya mencari jalan tengah untuk menjembatani perbedaan antara generasi sebelum saya dengan generasi setelah saya. Jadi, bukan seperti kakak-kakak yang tidak mau "ditodong", saya mau, asalkan, syaratnya, harus antusias!



Sekali lagi, harus menunjukkan sikap ANTUSIAS. Percuma di lisan bilangnya ingin belajar, ingin diajari, tapi ternyata sikap dan perilaku menunjukkan sebaliknya, menunjukkan sikap kurang antusias. Antusias merupakan salah satu indikator dari sikap rasa ingin tahu. 



Rasa ingin tahu merupakan salah satu dimensi dari sikap ilmiah yang terbagi menjadi beberapa indikator, diantaranya yaitu: antusias mencari jawaban/bertanya, perhatian pada obyek yang diamati, antusias pada proyek ilmiah dan menanyakan setiap langkah kegiatan.



Lebih dari itu, sikap antusias dapat ditingkatkan menjadi MENGHARGAI karya orang yang telah mengajari, baik itu mengutip perkataan dan ungkapannya, meniru dan meneladani sikap dan tindakan, mengutip dan membagikan artikel tulisannya entah cetak atau tautan (link). Menghargai di era media sosial bisa berteman atau follow akunnya, mention atau pos ulang (repost).



Jaman makin canggih, sikap antusias dan menghargai tidak harus bertemu secara langsung. Jaman serba gampang, bukan berarti menggampangkan kontribusi. Rasa ingin tahu yang indikatornya adalah sikap antusias merupakan jendela awal untuk melihat pencapaian selanjutnya, menghargai di awal akan berkontribusi pada akhirnya.


Kamis, 03 Juni 2021

,

TAK PERLU MENJALIN HUBUNGAN DULU, NANTI SAJA YA


Tundalah untuk ambil keputusan. Tak perlu meminta 'kepastian' dulu. Tak perlu buru-buru mengejar 'komitmen'.


Bukannya tak mau. Bukannya tak menerima. Bukannya tak membalas.


Tahan dulu. Hadapi dulu ujian, godaan, dan bayangan indah.


Ada yang tiba-tiba datang. Ada yang tiba-tiba mengajak jalan. Ada yang tiba-tiba mengajak makan. Ada yang tiba-tiba menampakkan harapan.


Lebih lama, lebih sulit, melihat rasa yang pasti, benar, nyata, daripada melihat rasa yang belum tentu tepat. Rasa yang belum tentu tepat akan mengantarkan kepada pilihan dan keputusan yang belum tentu tepat pula.


Jangan hanya karena tergiur dengan yang enak, nyaman, indah, manis, kemudian terburu-buru, tergesa-gesa, memilih, ambil keputusan, tak peduli, apakah tepat, ataukah keliru.


Berjuang dulu. Nanti juga pasti ada waktunya. 


Semua, setelah selesai urusannya, meski tidak bisa dijanjikan enak, nyaman, indah, manis,tapi nikmat dari pilihan dan keputusan yang tepat, akan mengantarkan kepada tujuan yang lebih pasti, benar, nyata, dan tentunya, insyaallah bukan sesaat, melainkan tahan lama.